Arthur menatap lelaki tua yang ada di hadapannya dengan tatapan tajam, namun tetap terlihat tenang. Tapi, jauh di lubuk hatinya, ia seakan masih mencoba untuk menahan diri saat hendak memaki-maki lelaki tersebut. Arthur sama sekali tidak mempersilahkan lelaki itu duduk. Kedatangannya yang tanpa janji temu dengannya saja membuatnya kesal dan marah. Ia tidak mungkin akan berbaik hati lagi untuk saat itu. "Dan apa-apaan kamu ini?! Kamu membiarkan seorang yang lebih tua darimu – berdiri tanpa berniat mempersilahkannya duduk?!" tekannya lagi. Arthur menatap dingin ke arah orang itu, dan hal itu menciptakan perang dingin antara mereka berdua. Edo sampai menelan ludah pada saat melihat apa yang terjadi pada kedua orang itu sekarang. "Anda bahkan tidak beda menuruti segala hal yang aku ter

