Pagi haripun tiba... Kiara terbangun sembari memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit dan pusing. "Shhh, kenapa sih ini?" gumam Kiara sembari memegangi kepalanya. Ia lalu mengingat beberapa hal yang sempat membuatnya jatuh pingsan. "Aku memang bodoh." gumam Kiara, tapi ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Ia menangis, karena rasa takut, dan memanjatkan doa karena rindu. Masih ada harapan besar dalam hatinya, tapi tidak dapat dipungkiri, ia juga merasakan semua itu cukup mustahil juga. Kiara lantas bersiap-siap untuk berangkat bekerja, ia membersihkan tubuhnya dan bersiap jalan kaki ke kantor tempatnya bekerja. Tanpa ia sadari, segala gerak-geriknya kini benar-benar di awasi oleh seseorang. Seorang pria menghela nafas panjang sembari menatap Kiara yang tampak mengenakan

