07 Inspeksi Dadakan

1531 Words
Sudah satu bulan lebih sandiwara pernikahan ini dijalankan. Keduanya sangat mahir berakting layaknya pemain film profesional. Namun karena tingkat kesibukan yang tinggi akhir-akhir ini, mereka tidak seniat sebelumnya. Tidak sulit untuk mempertahankan hubungan antar bos dan pegawai karena mereka tidak perlu berakting. Namun tidak begitu di rumah. Kemesraan di antara pasangan suami istri baru pada umumnya yang mereka seharusnya tunjukkan pada akhirnya terlupakan. Mereka terlalu lelah untuk bersandiwara setelah pulang bekerja. Jika sebelumnya Fandy selalu menunggu Zhao Wei di luar perumahan agar mereka terkesan pulang bersama, kini keduanya langsung pulang ke rumah. Fandy dengan mobilnya dan Zhao Wei dengan taksi online. Setelah mandi, Fandy berbaring di atas ranjang sambil membaca buku di dalam kamarnya. Sementara itu, Zhao Wei berada di dapur untuk menghangatkan makanan yang ia buat pagi ini sebelum dimakannya. Tidak mencampuri urusan satu sama lain adalah hal yang biasa bagi mereka. Tengah mencicipi sup jagung yang nikmat itu, suara bel rumah berbunyi. Zhao Wei pun meninggalkan dapur. Sambil berjalan ke arah depan rumah ia bertanya-tanya siapa yang datang. Selama ini tidak pernah ada tamu yang datang. Dari lubang pintu Zhao Wei melihat tamunya. Alangkah terkejutnya dia mendapati suruhan papanya ada di depan pintu. Terburu-buru ia berlari menuju ke kamar Fandy. "Pak Fandy!" seru Zhao Wei dengan nada rendah sambil mengetuk-ngetuk pintu. "Pak Fandy, cepat keluar. Ini gawat!" Setelah beberapa lama mengetuk tidak ada jawaban yang diberi, Zhao Wei mencoba untuk membuka pintu dan rupanya tidak dikunci. Dibukanya lebih lebar lagi tapi sedetik kemudian menyesalinya. "Ah!" erang Zhao Wei terkejut mendapati Fandy setengah telanjang di atas ranjangnya. Fandy pun melemparkan bukunya dan beranjak dari ranjang. "Ngapain kamu di sini? Kenapa sembarangan masuk?" "S-saya nggak sembarangan. Saya sudah ketuk-ketuk pintu tapi Bapak yang nggak jawab." Zhao berpaling ke arah lain, tidak ingin melihat Fandy. "Terus kenapa kamu di sini? Mau ngintipin saya?" "Nggak! Ngapain juga?" Zhao Wei tidak terima hingga ia sontak membalik badan pada Fandy. "Tuh, tuh! Kamu mau lihat saya nggak pakai baju." Fandy menunjuk pada Zhao Wei yang langsung berbalik lagi. "Ih! Bukan. Masalahnya ada di depan rumah." "Apaan di depan rumah?" "Suruhan papa. Dia datang." Akhirnya Zhao Wei mengatakan kejadian yang sebenarnya. Begitu mendengarnya, Fandy jadi kelabakan. "Kenapa nggak bilang langsung sih dari tadi?" "Kan saya juga bingung, Pak." Zhao Wei membela diri. "Ya udah, Bapak cepat pakai baju. Kita harus segera buka pintu." Ia merasa panik seperti cacing kepanasan, terlebih karena bel bertubi-tubi dibunyikan. Ide liar datang ke kepala Fandy. Ia datang mendekat pada Zhao Wei masih tanpa atasan. "Ayo bukain pintu sama-sama." Ia menggandeng pergelangan tangan Zhao Wei. "Kenapa nggak pakai pakaian?" Zhao Wei masih menghindari untuk melihat Fandy yang bertelanjang d**a itu. Fandy meletakkan kedua tangannya di bahu Zhao Wei dan membuat gadis itu berdiri menghadapnya. "Buka mata, lihat saya," perintahnya. Zhao Wei membuka matanya dengan enggan. "Kamu harus inget kalau kamu berperan jadi istri saya. Jadi jangan tunjukin ekspresi aneh ini." Telunjuk Fandy mengarah pada wajah Zhao Wei. "Senyum. Bertingkah santai. Dan lebih baik lagi, mesra." Ditariknya gadis itu mendekat padanya. Menempel pada laki-laki ini saja Zhao Wei tidak mau, apalagi jika tanpa pakaian. Namun ini bukan waktunya untuk memilih, maka ia berusaha sebaik mungkin untuk melakukan apa yang Fandy arahkan sambil berjalan ke arah pintu. "Bapak Fandy, Bu Zhao Wei. Kalian ada di dalam kan?" Suara wanita paruh baya yang berkewarganegaraan Indonesia itu terdengar tidak sabaran. Di belakang pintu, Fandy melingkarkan lengannya di pinggang Zhao Wei. "Siap ya? Ini pasti berhasil kok," bisiknya. Zhao Wei mengangguk. Tangan Fandy meraih gagang pintu dan membukanya. "Oh? Bu Natalia. Maaf, kami lama sekali bukain pintu ya. Yah, Ibu pastinya tahu pasangan muda seperti apa ya." Dengan lihai mulutnya mengeluarkan dialog seperti sudah tertulis di skrip. Namun apa yang diharapkan oleh Fandy dan Zhao Wei tidak terjadi. Natalia menunjukkan ekspresi datar seolah tidak percaya akan kemesraan yang sedang dipertontonkan itu. "Sedang apa Pak Fandy dan Bu Zhao Wei?" tanyanya mengabaikan apa yang sudah Fandy jelaskan sebelumnya. Ia pun masuk ke dalam rumah sebelum dipersilakan. Zhao Wei mencuri pandang pada Fandy, bertanya tentang apa yang harus dilakukan melalui matanya. Sama sekali tidak ada ide di dalam kepalanya. "Masa saya harus menjelaskan dengan rinci apa yang kami barusan lakukan?" Suara kekehan Fandy terdengar dipaksakan. "Boleh. Jelaskan saja. Nggak masalah. Toh saya sudah menikah dan bukan suatu hal yang tabu bagi saya untuk mendengarnya." Natalia menjawab dengan cuek. Zhao Wei tidak merasa nyaman dengan situasi ini. Ia memukul tangan Fandy agar melepaskan pinggangnya saat Natalia memandang ke arah lain. "Ah, Bu Natalia sudah makan malam? Saya barusan menghangatkan makanan," katanya. Ia berdiri di depan wanita itu. "Sejauh yang saya tahu, ada dua kamar di sini ya? Dimana kalian tidur?" Natalia tidak mengindahkan perkataan basa-basi Zhao Wei. Ia rupanya benar-benar menjalankan tugasnya sebagai inspektor bayaran. Fandy berpindah dari belakang Natalia ke hadapannya. "Wah, kamar kami berantakan sekali. Tahu lah ya, Bu, karena apa." Ia berdalih agar wanita itu tidak memeriksa ruangannya. Zhao Wei mendekatkan kepalanya pada Fandy lalu berbisik padanya, "Kamar saya rapi sekali. Nanti ketahuan." Bertingkah seolah-olah mencium pipi istrinya, Fandy membalas dengan bisikan juga. "Kamu kira kamar saya berantakan? Saya orangnya juga rapi." Natalia berdehem keras. "Tolong jangan menghabiskan waktu saya," ujarnya. Ia menerobos keduanya lalu berjalan lebih dulu ke kamar Zhao Wei. "Bapak cepat lari ke kamar Bapak dan buat ranjangnya berantakan." Zhao Wei memberi perintah pada Fandy dalam bisikan yang langsung dilaksanakan oleh pria itu. Lah? Kenapa aku nurut sama dia? Fandy hendak berbalik dan menyuruh Zhao Wei, tetapi kemudian teringat bahwa ia tidak boleh membuang waktu. Terburu-buru ia masuk ke dalam kamarnya dan berlari ke ranjang. Dibuatnya selimut dan bantal berserakan lalu kembali lagi keluar menyusul Zhao Wei yang ada di dalam kamarnya. Natalia memperhatikan kamar Zhao Wei dari sudut ke sudut. Memang benar kamar tersebut begitu rapi, menunjukkan kepribadian pemiliknya. Ia memperhatikan meja dengan laptop dan buku di atasnya lalu membuka lemari yang penuh berisi pakaian. Kepalanya menggeleng-geleng menanggapi apa yang dilihatnya. Wanita itu kemudian membalik badannya kepada pasangan suami istri palsu yang cepat-cepat bergeser saling mendekat. Namun karena melakukannya secara bersamaan, keduanya justru saling menabrak. Rasa nyeri sejenak yang ditimbulkanpun ditahan agar tidak ketahuan. "Kenapa kamar ini kelihatannya dipakai? Kalian nggak tidur di satu kamar? Ada apa ini?" Natalia melemparkan kesimpulan yang mengejutkan. "Ah, istri saya ini barangnya banyak sekali. Orangnya juga ribet. Jadi semuanya ditaruh di sini supaya kamar kami nggak penuh." Alibi yang Fandy berikan justru menyinggung Zhao Wei. Tidak terima dikatai seperti itu, Zhao Wei pun memberi pernyataan dukungan yang ditujukan untuk menyerang balik. "Dan suami saya cerewet sekali. Wah, saya sampai merasa tidak tahan kalau dia sudah buka mulut. Karena itu saya memilih untuk bekerja di sini." "Lalu kenapa ada ranjang di sini?" Natalia belum menyerah. Ia mengorek lebih dalam lagi. Zhao Wei kebingungan kali ini. Ia menepuk punggung Fandy sedikit keras, mengisyaratkan bahwa ia membutuhkan bantuan. "Ah ... Itu sih karena, uh, Zhao Wei suka kecapekan kalau kerja. Dia punya kebiasaan untuk istirahat dan nggak memforsir diri di kerjaan. Makanya ada ranjang di sini. Dengan gitu dia bisa tidur sebelum lanjut kerja lagi." Fandy dengan cepat menjawab. Zhao Wei tidak menyangka bahwa pria itu tahu kebiasaannya. Sudah dari dulu ia mempertahankan kesehatan yang baginya adalah nomor satu. Itulah yang menjadikannya senantiasa memiliki stamina baik. Natalia mengangguk-angguk. "Kalau begitu kita sekarang ke kamar kalian berdua." Ia lagi-lagi berjalan lebih dulu seakan merupakan pemilik rumah. "Sudah beres kan?" Zhao Wei berbisik pada Fandy untuk memastikan keadaan kamarnya. Fandy mengangguk. "Tenang aja. Nggak akan ketahuan," bisiknya juga. Ketiganya masuk ke dalam kamar Fandy yang sudah berbeda dari sebelumnya. Natalia memandang sekelilingnya lalu lanjut mendekati ranjang. Tanpa disangka ia justru menyentuh permukaan ranjang yang ada di bawah selimut. "Dingin," ucap Natalia. "A-apa, Bu?" tanya Fandy lalu saling bertukar pandang dengan Zhao Wei. "Katanya kalian barusan begituan. Tapi kenapa ini dingin?" Natalia menyatakan maksudnya. Ia mengambil remote AC yang menempel di dinding dekat ranjang. "Temperatur juga dipasang hanya dua puluh empat derajat. Seharusnya masih terasa hangat." Buat apa pakai AC kalau temperaturnya hanya dua puluh empat? Orang aneh. Zhao Wei membatin kesal. Ia cemas jika sandiwara mereka bisa terbongkar. Fandy pun melingkarkan lengan kirinya di pinggang Zhao Wei dan menariknya. Ia berdehem dan berkata, "Kami kadang bisa liar sekali sampai nggak pakai ranjang, Bu. Tadi bahkan sampai di lantai. Karpetnya juga tebal dan empuk sih. Jadi enak-enak aja." Diciumnyalah pipi gadis itu. Sontak Zhao Wei menoleh pada Fandy lalu mencubit punggungnya dari belakang. Alasan macam apa itu? Memalukan sekali. Bahkan Natalia yang mendengarnya menunjukkan ekspresi berbeda kali ini. Ia seperti merasa jijik karena hal itu. "Anak muda jaman sekarang benar-benar mengerikan," komentarnya. "Ya, mengerikan sekali," bisik Zhao Wei pada Fandy. Reaksi Fandy hanyalah sebuah senyuman seolah tak berdosa. "Oke. Penyelidikan saya sementara sampai di sini. Saya mau istirahat. Kamar sebelah juga sudah siap pakai ya." Natalia membalik badan dan berjalan pergi. "A-apa, Bu? Maksudnya apa?" Zhao Wei berjalan menyusul wanita itu. Tanpa berhenti Natalia menyahut, "Saya akan menginap malam ini. Saya harus benar-benar yakin akan laporan saya." Langkah Zhao Wei terhenti di depan pintu kamar, lalu ia berpaling pada Fandy. Ia memimikkan kebingungannya pada suami palsunya. "Bagaimana ini?" Fandy hanya mengangkat kedua bahunya dan menggaruk belakang kepalanya. Ia pun kehabisan ide untuk mengatasi Natalia. Rasanya ia lelah sekali dan hanya ingin beristirahat. [MWB]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD