"Tuan, sudah malam. Apa kita tidak pulang?" tanyaku agak khawatir. Sudah jam 19.00 WIB dan kami masih berkendara mengelilingi jalan di luar rumah sejak pagi tadi. Bagaimana kalau ada yang mencari kami? Bagaimana kalau tuan Barra memcariku? Duuuuhhhh kenapa aku malah kepikiran pak tua itu sih? "Kenapa? Takut jika kak Barra mencari anda?" Loh, sejak kapan tuan Nathan bisa baca pikiran orang? "Ti-tidak! Buat apa tuan Barra mencari saya. Hehehe!" Aku tertawa canggung. "Benar juga!" sahut tuan Nathan. "Lagipula kak Barra punya banyak calon selain anda. Mungkin aja dia sekarang lagi membangun hubungan lebih dekat dengan calon yang lain.'' Nyuuuuut Cekiiitttt. Kenapa terasa ada yang mencubit hatiku ya mendengar perkataan tuan Nathan? Tapi tuan Nathan juga tidak salah. Tuan Barra berhak de

