"Tuan, tunggu! Bukan begini maksudku!" gugupku. Tanpa sadar aku malah meletakkan tanganku di dadanya, mencengkeram kaosnya. "Bukan?" tanyanya, "lalu, apakah begini?" Dia malah mencondongkan wajahnya ke wajahku. Harum. Aroma tubuhnya sungguh harum di indra penciumanku. Berdekatan sedekat ini dengannya membuatku menyadari bahwa pria ini begitu tampan. Mata yang tajam dengan rahang yang keras. Bulu mata yang lentik dengan alis yang tebal. Simetris dengan hidungnya yang mancung. Kulit wajah yang bersih dan cerah. Entah mengapa tanganku rasanya gatal ingin menyentuh wajah tampan itu. Tidak! Tidak! Sadar Fara! Sadaaaaarrrrrr ... ! Aku mendorong tubuhnya menjauh. "Bukan! Bukan begini maksud saya, Tuan!" "Lalu?" "Saya hanya mau bicara, tuan! Bukan mau ciuman!" kesalku. "Ciuman?" Lah, dia m

