Di ruang tamu yang luas itu, seorang pria dengan kacamata yang bertengger di wajahnya, yang sedang duduk tenang di atas sofa, terlihat begitu serius menatap laptop dalam pangkuannya. Mungkin dia sedang bekerja.
Ingin sekali aku mendatanginya. Ingin menjelaskan sesuatu dan ingin meminta sesuatu.
Baru saja aku akan melangkah masuk ruang tamu, tiba-tiba gadis yang bernama Briana sudah mendatanginya lebih dulu dan duduk di sebelahnya.
Briana memang gadis paling berani diantara kami berlima, para calon istri tuan Barra. Dengan rambut di cat dua warna, atau biasa disebut highlight, kombinasi dari warna biru dan teal kehijauan, serta pakaian yang selalu terbuka, gadis itu memang terlihat agak menantang. Apalagi cara bicaranya yang mendayu-dayu sejak tahu bahwa, pria yang duduk di sofa itu adalah tuan Barra. Tuan Barra yang asli.
"Jadi, anda menipu kami?" Alia, gadis yang paling terlihat elegan dan cerdas -menurutku sih- langsung menuduh keras ketika si ganteng ramah bilang kalau yang bernama Barra adalah si ganteng songong.
"Bagaimana bisa anda menuduh saya menipu anda, nona? Apakah ketika saya mendatangi anda semua waktu kencan buta, saya bilang kalau nama saya adalah Barra?" balas si ganteng ramah. Dia menatap satu persatu para gadis. Mulai dari Alia, Delia, Briana dan gadis berkaus hijau. Pria itu tidak menatapku. Mungkin karena yang mendatangiku ketika kencan buta bukanlah dia. Melainkan ibu Gessa.
"Apakah ada diantara kalian, ketika kita bertemu di kencan buta, saya memperkenalkan diri sebagai Barra?"
"Tidak! Tapi jika anda menemui kami disaat kami janjian dengan tuan Barra, tentu saja kami menganggap anda tuan Barra!"
Wow ... kakak berkaus hijau pintar banget.
"Terima kasih atas anggapannya, nona. Betul apa yang dikatakan nona Vivian," si ganteng ramah membenarkan argumen si gadis berkaus hijau tersebut.
Oh jadi kakak berkaus hijau itu namanya Vivian.
"Tapi ketika kita bertemu, dan saya mengkonfirmasi nama anda semua, mengapa anda tidak mengkonfirmasi balik nama saya?"
Si ganteng ramah betul juga sih. Pada sebuah acara kencan buta, yang begitu minim informasi tentang pasangan kencan kita, mengkonfirmasi nama adalah langkah yang sangat penting. Karena apa? Karena hanya itu informasi yang kita dapat jika mengikuti acara tersebut. Jika tidak mengkonfirmasi nama, bagaimana bisa mengenali pasangan kencan buta kita?
"Bisa saja anda berbohong!" sahut Delia. Gadis yang ini, selain cantik dan energik, ternyata juga ceplas ceplos.
Pemikiran gadis inipun nggak salah sebenarnya, cuma terlalu lemah.
Jikapun si gadis mengkonfirmasi nama si ganteng ramah ketika kencan buta, aku yakin, menilik dari karakternya, pria itu pasti hanya memberikan jawaban yang ambigu.
"Apa saya terlihat seperti pembohong, nona?" tanya si ganteng ramah sarkas. Mungkin dia agak tersinggung disebut pembohong.
"Saya yakin anda tidak akan bohong, tapi saya juga yakin, anda tidak akan memberikan jawaban pasti," sanggahku. Aku memang bukan psikolog, tapi aku suka memperhatikan seseorang ketika dalam situasi dan kondisi tertentu, kemudian menggambarkan karakternya sesuai pemikiranku. "Bisa saja anda memberikan jawaban yang ambigu. Yang jawaban itu, nantinya, pasti membuat para kakak kakak ini beranggapan bahwa anda adalah tuan Barra."
Kini semua menatapku.
"Saya tidak tahu, apa sebenarnya niat anda. Kenapa ingin membuat para kakak ini, menganggap anda sebagai tuan Barra. Apa itu murni dari anda sendiri atau dari orang lain." Lanjutku sambil melirik seseorang. Yang dilirik balas menatapku tajam. Membuatku mengkeret. Mampus aku.
"Coba lanjutkan spekulasimu sayang!" perintah ibu Gessa.Wanita cantik itu menatapku dengan tersenyum senang. Memberiku dukungan.
Semua tetap memandangku. Menunggu.
"Anda, tuan ... ?" Kutatap si ganteng ramah dengan kepala sedikit meneleng. Memberi isyarat agar dia melanjutkan kata-kataku.
"Nathan!"
Oooo namanya Nathan. Ganteng juga namanya kayak orangnya. Hehehe. Oleng lagi dah aku.
"Oke, tuan Nathan! Apa sebenarnya niat anda melakukan itu?"
"Menurut anda?"
"Nah kan, anda bukan menjawab tapi malah balik memberi pertanyaan. Kalau tidak begitu, aku yakin, anda pasti memberi jawaban yang ambigu. Anda membuat lawan bicara anda, berpikir sesuai keinginan anda tanpa memberikan penjelasan."
"Boleh juga pemikiran anda, Gadis Cilik." Kulihat cowok ganteng ramah yang ternyata bernama Nathan itu, tersenyum simpul tanpa memberikan bantahan apapun. Tapi malah meledekku cilik. Kenapa mereka suka banget ngatain aku cilik kecil sih. Heran aku.
Kini aku beralih pada tuan Barra yang asli.
"Dan anda tuan Barra. Apa anda tahu apa yang dilakukan tuan Nathan ini?"
"Tahu."
""Apakah itu inisiatif tuan Nathan sendiri, atau instruksi dari anda?"
"Bukan urusan anda!"
Yes, aku dapat satu point. Lihat saja tuan Barra itu, mulai kebakaran jenggot. Hihihi.
"Lalu apa niat anda membiarkan tuan Nathan berbuat seakan-akan dia adalah anda?" aku diam,. sedikit memberi jeda. "Apa anda ingin mengetes calon istri anda? Atau anda hanya tidak percaya diri pada diri sendiri?"
Semua orang di ruang makan itu, menahan napas, kaget mendengar kalimat terakhirku.
"Kamu ... " desis si ganteng songong, alias tuan Barra.
Ups! Apa aku keterlaluan?
Itulah mengapa, hari ini, dari tadi aku terus mengikuti kemanapun pria itu pergi. Ke ruang makan, ke ruang tamu, ke kolam renang, ke ruang santai. Ke kamar mandi? Tidaklah! Aku tidak sehoror itu. Aku terus mengikutinya tanpa berani mendekatinya. Aku benar-benar takut dia marah dan tersinggung atas ucapanku ketika sarapan pagi bersama tadi
Tiba-tiba aku melihat sekelebat bayangan tuan Barra berjalan di dekat kolam ikan di samping rumah. Segera aku menyusul dan berlari mengejarnya.
Loh kok nggak ada? Kok hilang?
"Hoi!" panggil seseorang.
Oh ternyata dia sembunyi di balik tembok.
Pria itu melambaikan tangan menyuruhku mendekat. Takut-takut aku mulai melangkah mendekatinya.
"Ke sini atau aku yang ke sana?" ancamnya, karena aku hanya maju dua langkah untuk mendekatinya.
Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian yang tersisa, aku benar-benar mendekati pria yang sore ini begitu terlihat tampan memakai kaus hitam dan celana yang senada. Kulitnya yang bersih semakin terlihat cerah dengan balutan kaos hitam yang membungkus tubuhnya. Eh, tapi, kok kita samaan pakai kaos hitam ya. Padahal kan nggak janjian.
"Ada apa?" tanyanya ketika aku sudah berada tepat di depannya. "Kenapa seharian ini anda terus mengikuti saya? Menguntit saya? Apa anda paparazi?"
Eh, ternyata dia sadar aku selalu mengikutinya.
"Ada apa? Bilang saja!" tanyanya lagi ketika aku masih saja diam.
""Ada yang ingin saya bicarakan dengan anda."
"Tentang apa itu?"
"Apa kita harus bicara di sini?" tanyaku ragu melihat kanan kiri.
Ayolah, masak di sini? Di ruangan terbuka gini? Masak iya aku ngomong sesuatu yang malu-maluin, minta maaf di tempat seperti ini? Kalau ada yang lewat gimana? Ketahuan dong! Kan malu.
Tuan Barra mengerutkan alis melihat tingkahku.
"Oke!"
Setelah bilang gitu, dia langsung menangkap pergelangan tanganku. Menuntunku mengikuti langkahnya, masuk ke dalam rumah kemudian menuju tangga.
Lho mau kemana ini?
Lalu tetap menarik tanganku ketika naik tangga.
Ngapain ngajak ke lantai dua? Di sana kan hanya ada kamar tidur para tamu dan tuan rumah.
Berhenti di depan pintu kamarku. Tanpa segan, pria ini membuka pintu kamar, melangkah masuk dengan tetap menarikku mengikutinya. Menutup pintu kamar lalu menguncinya.
Seketika aku ngebleng.
Mendorong tubuhku ke belakang sampai punggungku melekat di pintu. Diangkatnya kedua tangannya di samping kanan kiri ku. Memerangkapku di dalam jangkauannya.
"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?"
"Tu-tunggu, tuan! Bukan begini maksud saya!" Gugupku. Tanpa sadar aku malah meletakkan tanganku di dadanya. Mencengkeram kaosnya.
"Bukan?" tanyanya, "Lalu, apakah begini?" Dia malah mencondongkan wajahnya ke wajahku.
Lho? Lho?
Kok begini?
Kok jadi kayak gini?
Ini cowok gila mau apa?
Oh, Tuhan! Salah apa aku sampai gini amat nasibku?
Huwaaaaaaaaaa ...