9. Drupadi

1227 Words
"Hai, aku Emma!" Hening. Nggak ada sahutan sama sekali. Setelah olahraga yang mengerikan tadi pagi, -tentu saja tanpa olahraga yang di kamar- kami, para calon istri tuan Barra, harus berkumpul dan ikut sarapan bersama. Ada empat gadis cantik yang sudah duduk de tempat masing-masing. Para gadis yang kulihat nge-gym tadi pagi. Canggung, aku berjalan dan memilih duduk agak jauh dari mereka. Kenapa seperti ada hawa-hawa persaingan yang kental banget ya? Hiiiyyyyyyy ...! "Hai, cantik!" Si ganteng ramah yang tiba-tiba muncul di ruang makan langsung mencolek daguku. Keik! Kaget aku. Kenapa sih nih cowok? Dan tiba-tiba aku merasa seperti ada beberapa tatapan anak panah yang tajam yang melesat padaku dari empat arah. Suiiiiuuuuuiing. Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Ini pasti hujaman tatapan empat cewek-cewek lain, calon istri tuan Barra Oh Tuhan, tolonglah selamatkan nyawaku. Hiiks! Setelah si ganteng ramah duduk, menyusullah ibu Gessa dan satu lagi anaknya. Siapa lagi kalau bukan si songong m***m. By the way, aku belum tahu nama si songong m***m itu. Kalau si ganteng ramah -katanya kakak yang bergaun pink di pesta dulu- dialah Barra yang di temuinya di kencan buta. Setelah semua berkumpul, para pelayan mulai membuka piring kami yang semula menelungkup. Lalu meletakkan serbet di pangkuan kami. "Terima kasih," ucapku tulus pada pelayan yang melayaniku. Krik krik krik Ternyata hanya aku seorang yang mengucapkan terima kasih pada pelayan. Dan semuanya memandangku dengan aneh. Tatapan mereka seperti punya arti 'ngapain berterima kasih pada pelayan? Aneh!' Aku pun hanya bisa tertunduk. Semua hidangan satu persatu mulai disiapkan. Ada omelet keju, oatmeal, salad buah, pancake, beraneka ragam jus buah, roti panggang beraneka rasa dan masih banyak yang lainnya yang berserak di meja panjang yang besar ini. Tapi entah kenapa aku malah kangen nasi pecelnya mbok Sarni. Penjual sarapan di dekat area rumahnya bu Diah. Hiks! Ketika pelayan yang melayaniku menanyaiku ingin sarapan apa ... "Oatmeal, 3 roti panggang, salad buah dan dua jus apokat gelas besar!" jawabku bersemangat. Laper gaes! Laper banget aku! Mana tadi habis diajak joging lama banget. Makan satu menu saja mana cukup? "Hahahahaha!" Aku tahu, si ganteng ramah itu menertawaiku. Bodo amatlah. Jika dia tahu aku tukang makan banyak, pasti nanti aku langsung dieliminasi jadi calon istrinya. Orang kaya mana yang mau nikah sama tukang makan. "Anda sungguh unik sekali. Aku suka!" Ucap si ganteng ramah menatapku penuh binar. Nah kan! s***p dia. Yang ada tuh laki-laki macam dia, sukanya ya kayak para gadis empat sainganku ini. Sarapan cuma satu menu saja dengan air putih. Kalem, santai dan elegan. Nah aku? Boro-boro makan dengan elegan. Ngabisin makanan, iya. Dan lagi-lagi seperti ada tatapan menusuk langsung ke jantungku. Alamak, nggak akan bisa pulang dengan selamat kalau kayak gini. Haishhhh ...! Disela-sela sarapan yang tenang, ibu Gessa memulai pembicaraan yang santai. "Nona Alia!" panggilnya pada gadis berkemeja krem yang duduk paling dekat dengannya, "katanya anda mempunyai butik pribadi. Butik Zilia yang terkenal itu. Bahkan sampai punya cabang di luar negeri. Jika seumpama anda lolos sampai akhir lalu menikah, kemudian mempunyai anak, apa yang akan anda lakukan dengan butik anda?" "Saya akan tetap menjalankan butik. Tentu saja tidak lupa mengurus anak dan suami juga." "Terima kasih atas jawaban anda, nona!" "Nona Delia, anda adalah anak dari direktur perusahaan Rajawali, yang bergerak di bidang jasa. Dan kudengar, sebelum ke sini, anda sedang bekerja dengan perusahaan ayah anda. Lalu apa yang membuat anda meninggalkan perusahaan dan datang memenuhi undangan kami?" Kali ini si pria ganteng ramah yang bertanya. "Aku seorang wanita, dan aku membutuhkan seorang pendamping untuk hidup. Kalau masalah kerjaan masih bisa didapat lagi. Tapi kalau pendamping hidup belum tentu datang untuk kedua kali. Apalagi pendampingnya yang sesempurna anda." Gadis yang memakai blush warna orange mengerling pada si ganteng ramah. Tipe-tipe gadis centil. Si ganteng ramah tersenyum manis, "anda terlalu memuji nona." Tapi aku tahu dari rona wajahnya, sebenarnya dia bangga sekali di bilang sempurna. Dasar laki-laki buaya darat. "Anda nona Briana," kali ini ibu Gessa lagi yang berbicara. Dia menatap gadis dengan penampilan paling berani di antara kita semua, karena tanktop-nya yang sebagian besar memperlihatkan pundak hingga daddanya yang terbuka. "Bisakah anda memperkenalkan diri anda pada kami?" Si gadis tersenyum girang, "terima kasih nyonya. Aku hanyalah gadis biasa, anak dari papa Gerald, yang punya perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Aku hanya ingin menjadi istri yang lebih baik bagi putra anda. Dan tentu saja menjadi mantu yang berbakti pada ibunda." Tipe gadis yang penuh rayuan gombal dan tipu muslihat. Aku hapal dengan gadis seperti itu. "Terima kasih nona, niat anda sungguh mulai sekali." Ibu Gessa tersenyum. Jangan mau tertipu sama ular kayak gitu bu. Rugi. Umpatku dalam hati. Terlihat si ganteng ramah menyenggol si songong m***m. Barulah si songong m***m mendongak, mengangkat wajah dari piringnya. Karena sedari tadi pria itu bahkan tampak tak terlalu perduli dengan yang terjadi disekitarnya. Si ganteng ramah seakan memberi kode pada si ganteng m***m sambil melirik cewek keempat. Aku tahu artinya itu. Dia pasti menyuruh di ganteng songong untuk menyapa cewek keempat itu. Tampak, awalnya si ganteng songong seperti keberatan tapi mata si ganteng ramah menatapnya tajam dan seakan penuh kecaman, membuat si ganteng songong m***m tak bisa menolak. "Eh, hallo, nona berkaus hijau. Terima kasih sudah mau datang atas undangan kami. Semoga anda suka dengan menu sarapannya." Deng dong ... Semua menatapnya melongo. Apa maksudnya itu? Kenapa dia lebih seperti kayak tukang customer servis dari pada tuan rumah. Dan yang ditatap heran, hanya cuek dan melanjutkan sarapannya lagi. "Ehem ehem." Si ganteng ramah berdehem untuk menetralkan suasana yang sempat dirusak si ganteng songong itu tadi. "Oke, berarti sekarang tinggal nona Emma. Sila ...." "Tunggu!" Aku segera berdiri dan menghentikan kalimat si ganteng ramah yang akan ditujukan padaku. "Maaf aku tidak bisa melanjutkan pemilihan ini." Aku menatap si ganteng ramah dengan serius. "Aku sudah punya tambatan hati. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Dan aku hanya ingin menikah dengannya saja." bohongku penuh tekad. Sungguh, aku harus melakukan apapun agar segera keluar dari sini. "Benarkah?" tanya ibu Gessa kaget. "Ma-maafkan aku ibu," Aku menunduk. Merasa bersalah karena sudah membohongi ibu yang baik itu. "Lalu siapa dia?" tantang si ganteng ramah. "Dia!" Tunjukku pada pria songong m***m. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" yang ditunjuk kaget bukan main sampai tersedak hingga terbatuk. "Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama!" sudah terlanjur bohong, sekalian aja dituntaskan. Dan si songong m***m menepuk dahinya frustasi. "Lalu apa masalahnya?" Kali ini aku yang kaget dengan pertanyaan si ganteng ramah. Dengan santai dia bilang 'lalu apa masalahnya?'. "A-apa maksud anda?" Tanyaku tergagap. "Memang kenapa kalau anda jatuh cinta padanya?" Si ganteng ramah menatapku tersenyum lucu. "Aku tak masalah." Ha? Apa cowok ini gila? Tak masalah katanya? Aku kan calon istrinya. Bagaimana bisa dia bilang kalau dia tak masalah jika calon istrinya jatuh cinta pada pria lain? "Aku bisa berbagi dengan pria ini." Si ganteng ramah menepuk pundak si ganteng songong. Dan aku syok! A-apa? Ber-berbagi? Dia bisa berbagi aku dengan pria lain? Jangan-jangan .... Apa iya aku harus jadi istrinya sekaligus istrinya si songong m***m juga? Apa iya aku mengikuti jejaknya Drupadi, istrinya para Pandawa lima? Apa iya aku akan punya dua suami? "Toh nanti kamu juga akan menikah dengannya juga kalau kamu lolos seleksi semua." Nah kan! Bener! Tapi aku mana sanggup mengatasi dua sekaligus. Eh. Ayolah Fara! Jangan ngawur! "Dia kan Barra! Calon suamimu dan juga calon suami kalian." lanjut si ganteng ramah membuat kami syok. "Apa?" Alia. "Apa?" Delia. "Apa?" Briana. "Apa?" Si kaus hijau. "APAAAAAA?" aku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD