Hosh! Hosh! Hosh!
Siaaaaaaal. Kenapa aku bisa jadi sial gini sih? Sejak mulai ikut kencan buta sampai sekarang sekarang, sepagi inipun nasib sial masih terus berlanjut.
"Hoi, bocil! Cepat!" teriak laki-laki yang sudah merusak mood-ku sejak pagi buta tadi.
"Iya! Iya!" sahutku kesal. Segera kupercepat lagi laju langkah lariku.
Gila apa? Memangnya aku bisa menyusul laki-laki sialan itu. Lihat saja kaki-kaki panjangnya, dan bandingkan dengan kaki-kaki pendekku. Mana imbang? Mau lari mengejar secepat apapun juga nggak bakalan tersusul. Mana langkahnya lebar-lebar lagi.
Dia menengok ke belakang lagi. "Cepat, pendek!"
"Iya ... !" teriakku.
Oh ya, sekarang aku berada di White House. Kalian masih ingat? Rumah persinggahan sementara para calon istri tuan Barra.
Semalam ketika aku sampai di sini dengan sekretaris Han, aku kira akan langsung ada interviu lanjutan. Dan aku bisa segera kembali pulang dengan segala rencana gagalku. Nggak tanggung-tanggung, aku bikin 10 konsep yang pasti gagal untuk masuk ke tahap berikutnya.
Tapi kata sekretaris Han interviu ditunda dan akan dilanjutkan besok. Sedangkan para calon istri tuan Barra diharuskan menginap di white house.
Siapa saja calon istrinya? Entah. Aku juga nggak tahu.
Sejak sampai di white house, sekretaris Han membawaku ke sebuah ruangan yang seperti ruangan santai. Yang hanya ada televisi kabel dengan sofa panjang di depannya. Tak lupa beberapa cemilan dan segelas minuman s**u coklat hangat di meja. Aku sendirian di ruangan itu. Mengenai segelas s**u coklat hangat, entah mengapa, dari banyaknya jenis minuman, justru minuman itu yang dihidangkannya untukku. Aku malah seperti diperlakukan kayak bocah TK saja.
Setelah hampir satu jam aku dianggurkan sendirian di ruang santai, akhirnya sekretaris Han menemuiku kembali dengan membawa kabar buruk. Ya itu kabar buruknya, interviu ditunda dan aku harus menginap dengan alasan sudah terlalu malam.
Aneh nggak? Kalau ditilik kembali sesuai kebiasaan, walau seumpama interviu berlangsung sampai pagipun, bukannya ada sekretaris Han yang mengantarku pulang? Apa ada alasan lain?
Aku yang nggak ada persiapan sama sekali soal menginap, tentu saja kelimpungan. Karena aku nggak bawa baju ganti. Masak iya tidur dengan gaun? Mana nyaman?
Tapi kata sekretaris Han, semua kekhawatiranku tidak perlu dikhawatirkan. Karena apa? Karena semua kebutuhan akan segera dipersiapkan oleh tuan rumah.
Dan yang paling mengejutkan adalah ketika aku diantar sekretaris Han ke kamar tamu, di atas ranjang sudah disiapkan jubah mandi, piyama tidur dan juga underwear. Apa UNDERWEAR? Daleman perempuan.
Oh God ... !
Benar-benar dech. Nggak ada yang bisa mengalahkan sultan. CK ck ck ck.
Dan di malam itupun aku bisa tidur dengan nyaman tapi tidak bisa nyenyak, karena ...
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
Siapa sih yang ganggu pagi-pagi buta begini. Ayam jago aja belum berkokok lho.
Tok! Tok! Tok!
Aku masih ngantuuuuukkkk banget. Gara-gara semalam nggak bisa tidur-tidur karena di tempat asing, akhirnya kuputuskan untuk nonton Drakor di handphone sampai jam 02.00 dini hari.
Tok! Tok! Tok!
"Iya! Iya! Sebentar!" Walau malas tapi aku tetap beranjak dari ranjang nyamanku dan membuka pintu.
Krieeeet ...
Lho?
"Usap dulu tuh jigongmu!"
Walau selalu sebal setiap bertemu dengan nih laki-laki, tapi malu juga jika bertemu dengan keadaan begini.
Mana rambut acak-acakan kayak gerandong, mata masih belekan, dan yang paling parah, jigong yang belum kuusap. Tapi aku tetep pura-pura pede donk dan keras kepala nggak mau ngusap jigong. Fara gitu!
"Bukan urusanmu! Jigong, jigongku juga!" nyolotku.
"Kalau malu bilang aja malu. Nggak usah sok nggak punya malu!'
Mak jleb rasanya sindirannya. Ngena banget dihatiku. Hiks.
"Bodo amat!" tapi aku tetap pada pendirian pertamaku. Pantang menyerah.
Laki-laki ini menatapku tajam. Kemudian, "terserah dech!" pasrahnya. "Cepat cuci muka sana!"
"Mau ngapain?"
"Olahraga."
"Buat apa?"
"Biar sehat lah!"
"Aku udah sehat!"
"Ya biar tambah sehat!"
Balasannya mulai sedikit nggak masuk akal buatku.
"Ogah!" putusku akhirnya.
"Katanya mau jadi istriku?"
Aku mendelik, "Siapa?"
"Kamulah. Bukannya kamu semalam melamarku, ngajak nikah?"
Pipiku menghangat mengingat kejadian semalam ketika aku menarik dasinya dan mengajak nikah. Oke aku akui, itu memang tindakan bodoh.
"Bukan nikah beneran?" aku ngeles.
"Emang ada nikah mainan?"
"Bukan begitu, maksudku ... "
Cowok songong itu mendorong kuat kepalaku ke belakang sampai tubuhku terhuyung mundur.
"Cerewet. Dah cepet cuci muka sana! Nggak usah mandi! Nggak usah dandan. Langsung ganti baju dengan ini! Aku tunggu di bawah!"
Setelah melemparkan satu stel pakaian olahraga padaku -untung aku sigap menangkapnya-, dan memproklamirkan perintah, laki-laki songong nggak ketulungan itu langsung berbalik pergi meninggalkanku.
"Hei!" panggilku nggak terima ditinggal begitu saja.
"Oh ya," cowok songong itu berhenti melangkah. "kancing piyamamu kebuka sampai perut tuh." tambahnya tanpa menoleh ke arahku lagi.
Horor, aku segera melihat ke bawah bagian tubuhku sendiri. Dan benar saja. Dari leher sampai perut, kulit tubuhku terekspos, walau hanya sebagian kecil tengahnya saja kayak garis vertikal yang lumayan lebar. Lima senti. Dan kedua buah dadaku terlihat sedikit menyembul keluar.
Apa dia lihat?
Apa dia .... ?
AAAAAAAAAAAAAAAAAA ....
TIDAAAAAAAAAAKKKKKKK ....
Setelah drama pagi buta itu, kini aku berada di lapangan bersamanya. Berlari mengelilingi halaman luas di belakang rumahnya. Entah sudah ke berapa kali putaran aku berlari. Sudah nggak sanggup menghitung lagi.
Kesepakatannya adalah ketika aku bisa menyusulnya maka, olahraga siksaan inipun akan terhenti dengan sendirinya. Tapi pertanyaannya adalah mana bisa aku menyusul laki-laki tinggi itu?
Ketika matahari mulai nampak sinarnya, aku merasa sudah nggak sanggup lagi berlari. Ingin menyerah takut dihukum. Dan apa kau tahu hukumannya? Jika menyerah maka harus cium bibir dia.
Hellow ... aku masih terlalu muda tahu. Dan ciuman itu seharusnya dengan orang yang kita cinta. Apalagi ini ciuman pertama. Dia sih enak. Udah berumur ditambah kaya pula. Pasti orang kayak gitu sudah biasa berciuman dengan wanita manapun yang diinginkannya.
Lah aku? Masih ting-ting tahu! Untung di dia, rugi di aku dong. Ogah!
Tiba-tiba saja langkah lariku terhenti ketika mataku menangkap pemandangan yang membuatku sebal setengah mati.
Tadi waktu awal lari, suasana masih gelap. Hanya ada penerangan dari lampu halaman. Tapi kini, ketika matahari mulai terbit, lampu dimatikan, dan gorden-gorden rumah mulai dibuka para pelayan, terlihat di sana, dari kaca bening di salah satu ruangan white house, ada empat gadis cantik dengan pakaian olahraga yang seksi sedang nge-gym di ruangan khusus gym. Mereka pasti para calon istri lain tuan Barra.
Jika emang ada ruangan untuk gym, kenapa aku malah di ajak olahraga lari kayak gini? Padahal di sana ada tempat yang bagus buat olahraga. Aku kan calon istri juga. Kenapa di anak tirikan? Nggak adil. Ini nggak adil. Apa ini cuma akal-akalan si laki-laki songong buat ngerjain aku ya?
"Hei, kenapa berhenti?" teriaknya ketika menoleh ke belakang dan mendapatiku tidak berlari lagi.
Aku diam. Dongkol.
Dia berjalan mendekatiku.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Tuh liat!" Aku mengendikkan dagu ke arah gadis-gadis cantik yang lagi nge-gym, "kenapa mereka bisa olahraga di tempat yang bagus? Sedangkan aku di tempat seperti ini? Hanya lari di halaman belakang!" protesku.
"Jadi kamu ingin olahraga di tempat bagus?'
"Ya iyalah!"
"Oke, ayo kita ke kamar!"
Aku kaget, "ngapain?"
"Olahraga lah, sekalian ngasih hukuman!"
APAAAAAA ... ?
DASAR LAKI-LAKI SONGONG MESUUUUUUUUMMMMMMM ... !