7. Ayo Nikah

1460 Words
"Apa kamu yakin mau datang beneran, Ra?" "Ya mau gimana lagi, emangnya kamu mau gantiin aku datang." Kulirik Emma yang kini diam meriasku. Fokus meratakan primer ke seluruh wajah. Katanya kegunaan primer ini bisa membuat make-up terlihat lebih halus, menyamarkan pori-pori. Primer membuat hasil riasan seakan bertekstur bak beludru. Halus, lembut dan sempurna. Katanya sih. "Maaf ya, Ra, aku nggak nyangka kalau masalahnya jadi serumit ini." ada nada penyesalan yang teramat sangat dalam suaranya. Aku tahu Emma juga nggak akan menduga kalau kejadiannya akan jadi seruwet ini. Aku juga tahu dia nggak akan berniat jahat padaku ketika minta tolong padaku dulu. Jadi aku juga nggak bisa menyalahkannya. Sekali lagi, mungkin ini memang sudah nasibku. "Kau tahu, Em? Entah kenapa aku nggak menyesal dengan kejadian ini." Tangan Emma terhenti saat akan mengambil beauty blender di meja rias dan beralih menatapku. Ayolah, kami hanyalah gadis yang baru beranjak dua puluh tahun. Semua pikiran kami pastinya masih didominasi dengan 'main-main'. Belum ada keseriusan. Begitupun Emma. Aku yakin ketika dia minta tolong padaku soal kencan buta, diapun juga nggak ada niat menjerumuskan ku ke dalamnya. Ingat! Diawal rencana dulu, kami sepakat untuk menggagalkan kencan buta. Lalu siapa yang menduga malah jadi lolos berkali-kali. Padahal ujian tahap pertama itu adalah calon ibu mertua. Seharusnya bagi orang normal pasti gagal dengan konsep famale fatale- ku itu. Tapi malah lolos. "Jangan becanda kamu, Ra!" "Nggak! Sungguh! Aku nggak menyesal Emma. Well, walau diawal aku gondok sih, tapi jika dipikir-pikir lagi mungkin ini sudah jalannya. Aku sudah berkali-kali berusaha menggagalkan tapi tetap lolos terus. See!" Emma mengangguk-angguk. Mungkin mengingat ceritaku dari mulai kencan sampai diinterview si ganteng ramah. Bye the way aku sudah menceritakan semuanya ke Emma, kecuali soal hadiah tambahan rumah itu. Kenapa? Aku hanya nggak mau mengorek luka lama. "Tapi Ra, kamu nggak merasa keluarga nyonya Gessa itu aneh ya?" "Nah itu!" Aku menjentikkan jari setuju, "anehkan? Kamu yang cuma denger cerita dari bibirku aja ngerasa aneh, apalagi aku yang ngelakuin." Emma lagi-lagi mengangguk-angguk. "Yang paling aneh menurutku adalah nyonya Gessa. Padahal nyonya Gessa itu dulu pernah ... " Emma berhenti. Aku menatapnya serius, "pernah apa?" "Eh. Nggak. Nggak papa kok." Mulai ngeles dia. Aku menatapnya tajam. "Aku tadi hanya keceplosan, Fara sayang, hehehe." tawanya canggung. Bohong. Bocah ini bohong. Aku tahu itu. Tapi aku nggak mau menuntut penjelasan lebih. Aku diam saja. Aku yakin pasti nih anak punya alasan kuat kenapa sampai membohongiku. Memang sih, kalau menilik kembali sikap ibu Gessa ketika bertemu di restoran dulu, beliau terlihat agak aneh. Seorang calon ibu mertua biasanya pasti langsung menolak ketika melihat calon mantunya berdandan kayak gadis penggoda. Tapi kenapa dia malah menerimaku ya. Bahkan mengirimkan sekretaris pribadinya, lengkap dengan tukang rias dan seorang penata busana. Selain itu yang lebih aneh lagi adalah hadiah tambahannya. Rumahku dulu. Istanaku waktu kecil. Seingatku ketika tumbangnya perusahaan ayah, PT GOLDEN ABADI JAYA bukanlah termasuk salah satu perusahaan yang ikutan menikung ayah. Tapi kenapa rumahku yang dulu bisa berada di tangan perusahaan ibu Gessa? Apa beliau membelinya ketika dilelang bank? "Fara!' panggil Emma membuyarkan lamunanku. Aku yang masih merem karena si tukang kepo masih merias kelopak mataku dengan eye shadow, hanya bisa mendengarkan, "jadi apa rencanamu selanjutnya di sana?" "Aku tetap akan berusaha agar aku gagal. Bagaimanapun caranya." tekadku. "Katanya kalau lolos ditahap ini kamu akan berada di White House selama sebulan?" "Iya. Makanya aku juga lagi mikir caranya gagal gimana." Terdengar gadis itu terkikik, "lucu ya, Ra. Disaat semua wanita di sana berharap lolos tapi kita malah merencanakan kegagalan." "Ya iyalah. Lagipula siapa juga yang mau menyandang nama kamu terus. Ogah! Aku juga ogah jadi anaknya mama Litha!" Gerakan Emma di wajahku tiba-tiba terhenti mendengar aku menyebut nama mamanya. Ups. Aku keceplosan. Segera kubuka mataku. "Maaf!" Kurengkuh Emma dalam dekapanku. "Maaf, Em! Maaf! Maaf aku nggak bermaksud begitu" Emma mendorongku dari tubuhnya, melepas pelukan, menatapku lalu tersenyum pedih. "Nggak papa, Ra. Bahkan jika u*****n itu jujur keluar dari lubuk hatimu, akupun mengerti. Aku paham." "Tidak, Emma! Bukan begitu maksudku. Maaf!" Aku menunduk dalam. Merasa bersalah. Aku tahu aku keterlaluan. Walau keluarga Emma berpaling dariku tapi mereka bukanlah salah satu perusahaan yang ikut andil dalam menghancurkan perusahaan ayah. Mereka hanya berpaling karena keadaan. Karena sudah tidak mendapat keuntungan dalam menjadi relasi kerja. Dan dalam bisnis itu wajar. Walau kejam. Setidaknya begitulah yang aku yakini. "Hei!" Emma mengangkat wajahku, "jangan sedih kayak gitu. Entar mewek. Terus entar luntur dech hasil karyaku. Hehehe." "Cih. Dasar!" Kami kembali tertawa. Sama-sama berpura-pura kalau percakapan tadi bukanlah apa-apa, walau aku tahu itu sedikit membuka luka lama kami. Dan begitulah persahabatan kami terjalin. Suka yang sesuka-sukanya. Sedih yang sesedih-sedihnya. Sakit yang sesakit-sakitnya sudah pernah kami lewati bersama. Emma mulai meriasku lagi. Kali ini dia lebih fokus dan nggak ngajak ngobrol. Dan aku hanya diam memahami kondisinya. "Done!" teriaknya puas. Kulihat pantulan wajahku di kaca rias. Perfect! Riasan yang sangat cocok dengan umurku. Makeup natural dengan lipstik warna nude, yang diombre warna merah di bibir dalam. Cantik, segar, cerah dan alami. Sungguh sempurna. Emma berdiri dan beranjak. Memilih dan memilah baju-baju di atas ranjang. Baju-baju dan gaun-gaun dari kamar ganti, diusung dan dilemparkan begitu saja ke ranjang. "Yang ini ... " Diambilnya satu setelan rok pendek warna merah menyala, blus putih dengan blazer senada dengan warna rok. "Jangan ah terlalu mencolok." Dilemparnya kembali setelan itu. "Yang ini ... " Satu baju overall warna biru. "Jangan ah terlalu kekanak-kanakan." Dilempar lagi. "Yang ini ... " "Emma!" peringatku ketika kulihat tangannya mencomot slip dress warna hitam. Gaun itu adalah salah satu gaun yang mengerikan bagiku. Tentu saja karena gaun itu berdada rendah. Sudah cukup sekali saja aku berakting jadi Famme fatale. Nggak mau yang kedua kali. "Ups sorry!" Lihatlah mimik wajahnya yang menyebalkan itu. Kata 'sorry' itu hanyalah bualannya saja. Dia hanya ingin meledekku karena pernah menjadi gadis penggoda. Hellow, itu kan gara-gara kamu. Dan setelah tiga jam berkutat di apartemen Emma, akhirnya aku sampai di sini. Di depan gedung white house. Rumah yang akan digunakan untuk persinggahan sementara para calon istri tuan Barra untuk penyeleksian lebih lanjut. Dan seperti biasa, aku pasti dijemput sekretaris Han. Kalau dipikir-pikir, apa semua calon istri dijemput sama dia ya. "Sek Han!" Panggilku ketika pria ini memegangiku, membantuku keluar dari mobil. "Sekretaris Handoko nona! Se-kre-ta-ris Han-do-ko!" peringatnya. Aku yakin pasti laki-laki ini sebal sampai ubun-ubun. Tapi aku sih bodo amat. Kami mulai berjalan menuju rumah beriringan. "Apa semua calon istri tuan Barra dijemput olehmu?" "Apa aku terlihat seperti orang yang tidak punya kesibukan nona?" Dih. Nyolot dia. "Iya," jawabku menantang, "bukankah kerjaanmu hanya antar jemput aku? Aku nggak pernah lihat kamu punya kesibukan lain tuh." Ketika sekretaris Han membuka mulut ingin membantah, tiba-tiba terdengar suara tawa yang begitu keras. "Bwahahaha" Aku celingak celinguk kanan kiri. Nggak ada orang. "Bwahahahahahahaaha" Dan semakin keras. Sekertaris Han memegang kepalaku lalu mendongakkannya ke atas. Terlihat si pria ganteng ramah tertawa terbahak-bahak dengan berdiri melongok melewati pagar lantai dua. Issshhhh ... nggak takut jatuh apa. "Oeeeee, sek Han!" panggil si ganteng ramah, "boleh juga nama barumu," dia kembali tertawa. Kulihat sekretaris Han hanya diam tak merespon. "Kamu punya musuh baru kayaknya selain aku. Mulai sekarang aku juga akan panggil kamu 'sek han' kayak gadis itu." Dia mengerling padaku. "Makasih cantik atas idenya . Hahaha" Dia tertawa lagi sambil menarik tubuhnya dari pagar. Mungkin masuk ke dalam rumah. Kuamati tubuh sekretaris Han sedikit bergetar. Apa dia marah? Sekretaris yang sudah tercoreng namanya itu gara-gara aku, berjalan kaku menuju pintu. Membukakannya untukku. Kami berjalan dalam diam. Melihat situasi dan kondisinya sekretaris Han aku nggak berani bertanya macam-macam lagi. Padahal aku ingin sekali ke kamar mandi. Sampai di bawah tangga, segera aku menarik lengan jas sekretaris Han. Dia menatapku, "ada apa?" "Kamar mandi," jawabku takut-takut. Dia mendesah lelah, "jalanlah ke sana. Lalu belok kiri. Nanti ada tulisan 'toilet wanita'" Aku mengangguk dan segera melesat mencari toilet. Toilet kali ini tidak serumit toilet di pesta dulu. Setelah aku selesai menuntaskan hajat dan keluar, aku dikagetkan oleh seorang pria. Pria ganteng songong yang berdiri menyandar tembok di depan pintu toilet wanita. Apa pria ini menungguku? Sarap kali ya. "Hai, bocah!" panggilnya. Aku sudah mulai greget-greget gemes. Ditariknya tubuhnya dari tembok dan berjalan ke arahku. "Bagaimana bocil sepertimu bisa lolos seleksi sampai sini?" Aku masih diam. "Emangnya apa yang bisa dilihat dari anak kecil berdada rata kayak kamu?" Aku mendelik, menutup dadaku dengan kedua lengan. "Kamu tutup pun juga nggak akan berubah jadi besar," sinisnya, "dah pulang sana! Ngapain di sini? Nggak ada juga yang bakalan mau nikahin anak kecil kayak kamu. Hus! Hus!" Dan lagi-lagi dia mengusirku seperti mengusir ayam. Kemudian berbalik hendak pergi. "Oi, pak tua!" panggilku menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadapku. "Jika nggak bakalan ada yang mau nikahin anak kecil kayak aku, maka ... " Greb. Kuraih dasinya. Menariknya lebih dekat padaku. Dengan tampang serius aku melanjutkan, "nikahi aku! Ayo nikah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD