6. Ibu

1078 Words
"Nona! Nona tidak apa-apa?" "Eh apa?" aku tergagap. Tersadar dari lamunan. "Nona tidak apa-apa?" tanya sekretaris Han lagi. "Tidak apa-apa sek Han. Terimakasih." "Benarkah, Nona? Anda tidak apa-apa? Anda terlihat pucat." tanyanya memastikan. Kuberikan senyum terbaikku. Ternyata si sekretaris dingin ini pun juga bisa sangat perhatian. "Tidak apa Sek Han. Maaf jika dari tadi aku diam. Hanya ...," aku terdiam sebentar. Memikirkan kata-kata yang pas. "Ada sesuatu yang menggangu pikiranku sedikit." Sek Han menatapku menyipit, mungkin hanya untuk mencari kebenaran dari kalimatku. Lalu pria ini menghela napas. "Syukurlah. Tapi ngomong-ngomong kita sudah sampai di depan gedung apartemen Nona." "Apa iya?" kulihat gedung apartemen di depanku. "Sudah 15 menit kita di sini Nona. Tapi sepertinya Nona nggak sadar. Apa Nona benar-benar nggak papa?" Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan Sek Han. Tanganku meraih handle pintu, membukanya lalu keluar mobil. Sekretaris Han melakukan hal yang sama. "terima kasih sek Han sudah mengantar aku pulang dengan selamat. Hati-hati pulangnya!" Kubungkukkan badanku sedikit ke arah Sek Han. Memberi salam perpisahan dengan hormat dan sopan. Sekretaris Han hanya mengangguk. Baru beberapa langkah aku meninggalkan sekretaris Han, terdengar suara sekretaris Han memanggil. Aku berhenti dan menoleh. "Aku nggak tahu apa yang terjadi pada nona, aku juga nggak tahu apa yang mengganjal di hati dan pikiran nona. Apapun itu, aku percaya nona adalah gadis yang kuat." Aku tersenyum mendengar wejangan sekretaris dingin itu. Kulambaikan tanganku dadah-dadah, kemudian memberikan bentuk hati dari jari jempol dan jari telunjuk. Dia tertawa. Setelah itu aku kembali meneruskan langkahku pulang ke rumah Emma. "Jadi?" tanya Emma ketika aku kembali ke apartemen dan langsung melempar tubuhku ke ranjang besarnya. Anak itu berdiri di ambang pintu kamar. Menunggu. Dia nggak berani mendekat. Pasti takut nanti kalau aku damprat. Kupandangi dia. Ingin sekali aku mengamuk level 30 pada bocah ini. Melemparinya dengan berbagai macam barang sebagai pelampiasan. Mengumpatnya, mengeluarkan sumpah serapah yang seharian aku pendam. Ingin menyalahkannya. Tapi semua itu nggak bisa aku lakukan. Aku nggak bisa. Dibalik semua emosi yang meluap-luap, masih ada sedikit kesadaran kalau semua itu adalah takdir Tuhan. Akhirnya aku hanya mendesah lelah. Pengen ngeluhpun juga percuma. Nggak bakalan bisa merubah apa yang sudah terjadi. Emang sudah nasib. Tapi Ya Gusti, kok gini amat ya nasibku. "Sini!" Perintahku melambaikan tangan pada si bocah perusuh. "A-apa?" Gugupnya masih takut. "Bicara dari situ saja!" Nah, bisa takut juga nih anak. ""Sini aku bilang!" Dia maju dua langkah. Aku bangkit, duduk di pinggir ranjang. "Sini!" Aku menepuk-nepuk ranjang di sampingku. Dia maju tiga langkah. Greb. Nggak sabar, segera kuraih tangannya dan menariknya duduk disampingku. Kelamaan. Kebanyakan drama. Kusandarkan kepalaku di pundaknya. Kami saling diam beberapa saat. "Ada apa Ra?" tanyanya perhatian. Rasa takut akan dimarahi yang sempat terselip tadi, kini berganti rasa cemas. Aku tahu itu dari nada suaranya. "Nggak papa." "Tapi kamu kok aneh? Aku kira kamu bakalan marah tadi?" "Iya, aku mau marah tadi. Tapi nggak jadi." "Kok bisa?" "Cereweeeetttt! Bisa diem nggak sih?" Bocah ini malah menarik pundaknya dan menangkup pipiku dalam telapak tangan. Memaksaku memandangnya. "Ada apa Ra? Apa mereka menyakitimu? Apa mereka membulymu? Apa mereka mendiskriminasimu?" "Nggak ada yang kayak gitu. Kebanyakan nonton drama dech kamu." "Terus kenapa kamu jadi kayak gini?" "Capek Emma. Aku hanya capek saja." "Yakin?" Gadis ini menatapku tajam. Mencari kebenaran dalam kata-kataku. "Yakin!" Aku mengangguk mantap meyakinkan, dan tersenyum. "Jadi malam ini ranjangmu milikku." Godaku. Kulepaskan telapak tangannya dari pipi. Lalu menghambur tidur tengkurap bdi ranjang. "Malam ini aku nginep di sini ya?" suaraku terendam bantal, menyamarkan kalimat yang mulai tercekat. Mendengar nada khawatirnya membuat perasaanku seperti mau tumpah. Kurasakan dari ranjang ada yang bergerak, aku yakin Emma sedang beranjak berdiri. "Oke istirahatlah! Tidurlah dulu! Kalau ada apa-apa dan kamu butuh sesuatu, panggil aku." "Hmmmm" Aku yakin, Emma pasti berjalan keluar lalu menutup pintu, terdengar dari suara langkahnya dan pintu yang berderit. Dan aku yakin, Emma, anak itu juga nggak akan kemana-mana. Seperti yang sudah-sudah, dia pasti berdiri dibalik pintu. Menungguku. Berjaga-jaga jika aku membutuhkannya. Memang begitulah Emma. Sebesar itulah kekhawatiran dan kepeduliannya padaku. Tapi yang seperti yang sudah-sudah juga. Aku tidak akan memanggilnya. Aku lebih suka meresapi rasa sakitku sendiri. Kuambil guling disebelahku. Mendekapnya. Membayangkan sosok yang begitu kurindukan kehadirannya. Membayangkan belaian kasih sayangnya. Membayangkan hangatnya pelukannya. Satu tetes air mata meluncur turun, disusul tetes-tetes berikutnya. Ibu ... Ibu ... Menyebutnya makin membuat hatiku semakin sakit dan seperti tersayat. Fara kangen ... Fara kangen Bu ... Ibu ... Kugigit guling sekuat tenaga, agar isak tangisku tak sampai terdengar Emma yang tetap setia menemani di balik pintu. Maukah ibu datang ke mimpi Fara ... Memeluk Fara ... Mencium Fara ... Membelai Fara ... Menemani Fara ... Walau sebentar ... Ibu ... Kupejamkan mataku. Berusaha membayangkan sosok ibu yang begitu aku rindukan. "Fara! Fara! Sini!" Masih terdengar begitu jelas suara lembut ibu. Wajahnya yang tersenyum hangat menyambutku di sebuah taman. Tampak aku yang baru keluar dari sebuah rumah yang begitu indah dan nyaman. Rumah yang sekarang akan menjadi hadiah bagi calon istri tuan Barra kelak. Rumah yang dilelang bagi pemenang hati seorang Barra. Rumah yang berhasil memporak-porandakan hatiku ketika aku kembali melihatnya. Ya. Itu rumahku. Rumah keluargaku. Rumah naunganku ketika aku masih kecil sampai remaja. Dulu itu adalah rumahku. Rumah kenangan ku. "Fara sayang ibu," kukecup pipi wanita cantik itu. "Fara nggak sayang ayah?" rajuk ayah. Lelaki terhebatku. Aku beranjak mendekati ayah dan duduk di pangkuannya. "Fara juga sayaaang ayah. Tapi lebih banyak ibu," kekehku menggoda. Ibu tertawa dan mencubit pipiku gemas. Kenangan itu begitu melekat kuat di ingatanku. "Fara sayang, maukah Fara berjanji satu hal pada ibu?" tanya ibu ketika beliau terbaring di ranjang rumah sakit. Aku menggeleng. Entah kenapa aku seperti merasakan firasat buruk mengenai permintaan ibu. Ibu meraih tanganku. "Sayang ..." "Apa ibu mau meninggalkanku?" "Tidak! Tentu tidak!" Ibu tersenyum, "ibu akan selalu berada di hati Fara." Itu cuma kata-kata penghiburan. Aku tahu itu. Tapi kata-kata itupun rasanya juga sudah cukup untuk memberitahuku tentang kondisi ibu. "Bagaimana? Maukan Fara berjanji?" Aku mengangguk dan ibu tersenyum lega. Ibu meraih kepalaku. Membenamkannya di dadanya yang hangat. Mengelus lembut kepalaku. Menepuk-nepuk punggungku sayang. "Berjanjilah sayang. Fara akan selalu bahagia. Bahkan jika suatu hari nanti takdir membuatmu sakit, ibu mohon, tetaplah bahagia sayang. Anakku Fara. Berbahagialah!" Di sini. Di ranjang Emma. Aku menangis sesenggukan. "Ibu ...!!!" jeritku tak tahan. "Ibu ... !!!" "IBUUUUU ...!" Emma segera membuka pintu dan menghambur memelukku. Dia pun juga menangis tak kalah hebat sepertiku. Dia tahu betapa sakitnya aku. Dia pun juga pasti merasakan betapa nelangsanya hatiku. Dan aku masih meraung memanggil ibu. Ibuku yang telah meninggalkanku. "IBU ...!' "IBUUUUUUUU...!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD