5. Tolong ...!

1222 Words
Busyeeet ... ajegileee ... cakep banget. Sumpah! Sungguh pria di atas panggung itu begitu menawan. Wajah bersih bersinar. Hidung mancung. Bibir menggoda dengan mata yang tajam. Dan senyumnya. Oh my God. Bikin klepek-klepek. Semua wanita terhipnotis dengan ketampanan pria itu. Aku yang awalnya menolak mentah-mentah ketika mau kencan buta, sekarang malah jadi pengen langsung nikah aja. Hihihi. Eh, ada yang keluar lagi dari dalam ruangan. Seorang wanita. Ibu Gessa? Tak heran jika ibu Gessa ikut naik ke panggung. Secara beliau kan ibunya tuan Barra. Lho? Lho? Kok ada yang masuk lagi? Loh bukannya itu pria yang songong tadi. Kenapa dia ada di atas panggung juga. "Maaf kak, pria yang menemui kakak waktu kencan buta yang mana ya?" tanyaku pada gadis bergaun pink penasaran. Dan juga ingin memastikan kalau pria yang seharusnya datang ke kencan buta bukanlah pria songong yang kutemui tadi. "Yang masuk pertama kali itu. Yang ganteng banget!" "Oh, syukurlah!" "Lho kenapa emang?" Aku tersenyum canggung, "hehehe gak papa kok kak. Cuma tanya aja." Kami diam kembali, mendengarkan Raffi Ahmad mengajak berbincang dengan ibu Gessa dan dua pria di samping kiri dan kanannya. Ibu Gessa mengaku kalau dua pria ini adalah anak-anaknya, tanpa menjelaskan nama masing-masing. Kupandangi pria songong di atas panggung. Sebenarnya pria itu juga tampan, bahkan ada manis-manisnya, tapi bukan le mineral lho ya. Cuma wajahnya selalu terlihat ditekuk masam. Seperti enggan berada di sana. Berbeda dengan pria yang satunya. Pria itu selalu tersenyum hangat dan berwajah ramah. Ditambah dengan kepribadian yang humble semakin menambah daya tariknya. Lagian siapa sih yang nggak bakalan terpikat dengan pria seperti itu.? Tiba-tiba saja pria songong itu melihat balik padaku dengan tatapan yang tajam hingga matanya menyipit. Lalu tangannya terangkat. Jari telunjuk dan jari tengah menunjuk ke matanya sendiri, lalu menunjukku. Seperti isyarat ancaman 'aku mengawasimu'. Kheeerrrrr. Merinding aku. Aku celingak celinguk lihat kanan kiri. Takut ada yang memperhatikan. Tapi kurasa ketakutanku tidak terjadi. Hampir semua wanita ini melihat si ganteng ramah. Bukan si ganteng songong. Jadi pasti tidak akan ada yang menyadari gerakan si songong. Aku diam, duduk dengan gelisah. Padahal si ganteng songong udah nggak lihatin aku, tapi entah kenapa aku merasa seperti masih ada saja yang mengawasi. Mana kali ini ada hawa-hawa dinginnya lagi. Aku kembali celingak celinguk kayak maling takut ketahuan. Lah ternyata dia. Si sekretaris Han. Berdiri diam dalam temaramnya lampu samping panggung. Laki-laki itu terus saja menatapku, seperti memberi sinyal peringatan, 'awas kalau bikin ulah'. Haiisshhhhh, emangnya aku bocah! Aku sebal. Seluruh keluarga PT GOLDEN ABADI JAYA semua menyebalkan. Terutama si sekretaris Han itu. Kayak bapak-bapak yang lagi ngawasi anak perempuan nakalnya. Di panggung, acara bincang-bincang sudah selesai. Ibu Gessa dan kedua anaknya sudah turun dari panggung. Entah apa yang mereka perbincangkan. Sama sekali nggak ada yang nyampek ke otakku. "Oke. Sekarang kita memasuki acara yang terakhir. Acara terakhir adalah puncak dari seluruh acara ini. Semua calon istri, masing-masing akan di interview secara pribadi." "Oleh siapa?" pancing Raffi Ahmad. Diam sebentar menunggu respon. "Rahasia. Hahaha." Garing. "Sebelum itu ada satu pengumuman lagi yang tak kalah mengejutkan. Siapapun yang nanti berhasil menjadi nyonya barra, selain mendapat saham 10 persen perusahaan, akan mendapat tambahan hadiah lain." Wahhhhh fantastik juga nanti nih kalau jadi istrinya tuan Barra. Dapat suami ganteng, dapat duit banyak juga. Hoki dah. "Apa itu?" Sebuah layar besar di belakang panggung menyala, menampakkan sebuah bangunan rumah yang begitu mewah dan indah. Deg! Itu kan ... "Yap betul. Hadiah tambahannya adalah rumah seharga saru milyar rupiah!" Heboh Raffi. Dan aku secara tak sadar langsung mematung, membeku. Tubuhku terasa kaku. I-itu ... "Nona!" Aku melompat kaget mendengar suara bariton sekretaris Han. Loh sejak kapan sekretaris dingin ini sudah ada di dekatku. Bukannya tadi dia di deket panggung. "Ayo ikut aku!" Tak banyak tanya, aku langsung mengekori langkah sekretaris Han. "Silahkan masuk nona. Setelah selesai interview, nanti saya akan mengantar pulang nona kembali." "Boleh saya pulang sekarang aja sek Han?" melasku memajang wajah sok cute. "Sekretaris Handoko, nona!'' greget sek Han. Mungkin dia kesel banget sama aku karena nama panggilannya aku pungkas lagi. Dari pada sekretaris Han, yang bagiku masih kepanjangan, kayaknya enakan sek Han aja dech. Lebih singkat padat dan jelas. Paket komplit. "Tapi ..." Sebelum protesanku selesai, Sek Han sudah mendorongku memasuki ruangan. Setelah memastikan aku masuk, sek Han menutup pintu kembali, membiarkan seorang wanita sendirian bersama seorang pria yang duduk membelakangi balik meja. Siapa dia? Apa dia Tuan Barra? Dan ketika dia berbalik ,,, oh si ganteng ramah. "Selamat malam! dengan nona siapa?" "Emma." "Emma?" "Ya" "Emma Jayendra?" Aku diam. Mulai mendapat firasat nggak bagus. Serasa kayak dejavu. Kenapa nadanya seperti ketika aku pertama kali bertemu dengan ibu Gessa ya? Seperti sangat tidak percaya kalau aku adalah Emma. "Ternyata anda berbeda sekali dengan waktu masih kecil." Dia tertawa sopan. Waktu masih kecil? Apa dia pernah bertemu dengan Emma sebelumnya? "Berbeda dari segi apa tuan?" tantangku, biar dia nggak terlalu berfokus pada cerita masa kecil. Aku kuatir jika sebelum ini dia pernah ketemu Emma. Kalau memang benar iya, maka bocah itu perlu kubunuh sudah mengirimku kemari. "Apa lebih cantik?" Dia kembali tertawa. Kali ini lebih lepas. "Ya itu juga. Cuma lebih cantik dari dugaanku." pria ini mulai mengontrol tawanya, "anda lebih mirip dengan anak kecil lain yang pernah aku temui." Jleb. Jangan-jangan aku juga pernah bertemu dengannya dulu. Tapi kapan? Aku kok nggak ingat? "Jadi nona? Apa anda sudah siap menikah?" Gawat. Ini gawat. Kalau benar dulu aku pernah bertemu dengannya, pasti rahasiaku akan segera terbongkar. Aku harus segera dieliminasi dari acara ini. Harus. Sebelum benar-benar ketahuan. Ayo mikir Fa! Mikir. Bagaimana caranya agar cepet dikeluarkan dari sini. Apa? Apa? Ah ... aku tahu! "Maaf tuan. Tapi aku sudah punya kekasih." jawabku dengan tampang patah hati. "Benarkah?" Aku menggangguk-angguk dengan tampang aku bikin se-melas mungkin. "Kalau gitu coba tolong telpon kekasih anda!" Eh "Apa?" "Tolong telpon kekasih anda nona!" ulangnya. MATI AKU "Se-sebenarnya kami belum jadi kekasih. Kami baru mulai saling menyukai." kilahku. "Sejak kapan? Sejak kapan kalian mulai saling suka?" Aku ngebleng. "Sejak tadi" "??????" "Maksudku, baru saja. Hehehe," aku tersenyum gugup. "Maksudku, baru aja kami bertemu dan kami langsung saling jatuh cinta pada pandangan pertama." Pria di depanku iniengerutkan dahi. Meragukanku. "Bener. Aku nggak bohong. Tadi aku bertemu dengan seorang pria ganteng di lorong. Dan langsung jatuh cinta padanya." Bohongku. Pria ganteng ramah di depanku ini menatapku tajam. Mungkin menelisik ekspresi wajahku, apa benar aku berbohong atau tidak. Ayolah!!!! Percaya saja padaku dan lepaskanlah aku. Rintihku dalam hati. "Namanya siapa?" Eh, apa? "A-aku nggak tahu," gugupku. Kenapa pria ini malah tanya namanya. "Aku hanya tiba-tiba langsung suka padanya. Dan aku hanya mau menikah dengannya." "Bagaimana ciri-cirinya?" Ya ampuuuunnnnn. Pria ini bener-bener sesuatu banget dech. "Dia ganteng tapi songong," eh. Segera kuturunkan nada suaraku yang menggebu-gebu. Menggebu karena greget, bukan menggebu karena senang sudah bertemu pria songong itu. "Maksudku dia sungguh ganteng memakai kemeja warna putih dengan jas warna coklat, senada dengan celananya." Pak tua! Maafkan aku pinjam visualmu. Hiks. "Oh begitu." "Bagaimana tuan? Apa aku gagal?" tanyaku penuh harap. "Anda lolos. Selamat!" Si pria ramah tersenyum puas. Nih orang s***p ya? "Tapi kan aku suka dengan orang lain tuan?" protesku. "Benarkah? Apakah kamu yakin akan tetap menyukainya jika melihat pesonaku," tantangnya, "tunggu dan nantikan. Aku yakin akan segera menggantikan posisi pria yang baru saja kamu sukai itu di hatimu." senyumnya jumawa. Dan aku langsung ngebleng seketika. Bu Diah ... Emmaaaaaa ... Siapapun .... TOLOOOOONG ... !!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD