4. Wow Raffi Ahmad

1439 Words
"Silahkan, Nona!" Sekretaris Han membukakan pintu mobil untukku dan memberikan lengannya untuk kugandeng. Kusambut uluran tangan sekertaris Han, dia memegangiku dengan hati-hati ketika aku menginjak tanah, keluar dari mobil. Aku berdiri di atas karpet merah yang digelar sepanjang jalan. Seperti ketika aku melihat acara penobatan artis di tv. Cuma bedanya tidak ada reporter di sini. Yang ada hanya para pelayan laki-laki dan perempuan, yang berdiri berjejer sepanjang karpet merah. "Selamat datang nona!" semua serempak menyambut kedatanganku sambil membungkuk. Kemudian mereka kembali berdiri dengan senyum secerah senyum pepsodent. Aku dan sekretaris Han berjalan bersisian melewati para pelayan. "Sekretaris Han!" "Nama saya Handoko, nona!" Ya sekretaris kaku ini memang terus saja protes ketika aku panggil sekretaris Han sejak dari apartemen tadi. Tapi aku bodo amat, nggak peduli. Sama seperti tidak pedulinya dia, yang langsung masuk rumah Emma dengan membawa masuk juga seorang juru rias dan seorang desainer. Kedua orang suruhan sekretaris berwajah dingin itu, langsung saja mengacak-acak wajah dan seluruh badanku. Merias wajah dan mengganti baju seksi dengan baju yang anggun dan elegan. Membuatku seperti seorang Cinderella satu malam. Dan mencuriku dengan kereta mobilnya untuk datang ke sebuah pesta. Layaknya seekor peri di dongeng. Sayangnya periku yang ini tidaklah seramah peri yang diceritakan kepada anak-anak TK jaman dulu. "Ini audisi calon istri apa audisi calon artis?" "Kelak yang terpilih menjadi istri tuan Barra pasti akan lebih terkenal daripada artis papan atas sekalipun, nona." Ooohhhh. Sekarang aku mulai sedikit mengerti arti dari karpet merah ini. Ketika kami sampai si sebuah pintu kayu besar berukiran PT GOLDEN ABADI JAYA, ada dua penjaga laki-laki tampan yang sigap membukakan pintu untuk kami, "Silahkan masuk nona!" tak lupa senyum pepsodent juga tercipta dikedua penjaga tadi. "Wow ... " takjubku setelah masuk ke dalam aula acara. Bukan. Bukan karena dekorasinya yang mewah dan cantik. Bukan pula karena keanekaragaman ornamen yang unik. Tapi karena banyaknya wanita di aula yang luas ini. Wanita-wanita yang sangat banyak untuk sebuah audisi cari istri. "Sekretaris Han, apa semua wanita ini ikut audisi," tanyaku masih dengan rasa takjub. "Tentu tidak nona. Semua wanita di sini kebanyakan karena ingin melihat wajah tuan Barra." "Memangnya seberapa tampan tuan Barra itu?" Kali ini sekretaris Han tidak menjawab, malah menarikkan kursi untuk kududuki di salah satu meja bundar yang tersedia. "Silahkan duduk nona!" Aku patuh. "Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!" perintahnya lalu meninggalkanku. Aku merengut sebal. Memangnya aku bisa kemana dengan adanya wanita sebanyak ini. "Apa kamu langsung di datangi olehnya?" terdengar suara wanita di sebelahku. "Iya, dia benar-benar ganteeeeeng banget." jawab wanita satunya histeris. Dua wanita yang duduk semeja denganku begitu cantik-cantik dan terlihat dewasa. Keduanya memakai gaun terusan tanpa lengan yang begitu indah. Yang satu warna pink lembut dan yang satu berwarna hijau tosca. "Kayak Suho?" cecar wanita bergaun tosca. "Suho mah lewat." Keduanya histeris. "Xiao Zhan?" "Kurang gentle?' "Crist Hemsworth?" "Perpaduan antara Suho yang ganteng, imutnya Xiao Zhan, dan kekarnya Crist Hemsworth." Mereka kembali histeris. "Wah beruntung banget sih kamu," puji wanita yang bergaun tosca. Yang dipuji tersenyum bangga. Aku menggeser tempat dudukku mendekati mereka. Penasaran juga sama cowok yang katanya ganteng itu. "Siapa kamu?" tanya si gaun hijau tosca sinis. Aku tersenyum manis, "maaf kakak-kakak yang cantik. Saya hanya adek kecil manis yang penasaran dengan kakak-kakak yang anggun ini," gombalku. Kedua wanita cantik itu tersenyum jumawa. "Kakak cantik, boleh nggak aku tanya?" "Mau tanya apa?" yang merespon adalah wanita bergaun pink. "Apa semua kandidat wanita di sini ditemui langsung oleh tuan Barra?" "Kebanyakan sih iya," jawab si gaun pink, "lihat wanita yang berada di tengah itu." Tunjuknya pada wanita bergaun perak, yang berdiri di tengah aula, ngobrol bersama beberapa wanita lain. "Tadi aku tanya wanita itu. Katanya yang menemuinya juga tuan Barra langsung." "Kamu tahu wanita yang duduk sendirian di pojok kanan itu?" Sekarang ganti si gaun tosca yang menunjuk wanita bergaun coklat muda yang sangat elegan. "Wanita itu juga sama. Ditemui langsung oleh tuan Barra." "Apa kakak juga langsung didatangi oleh tuan Barra?" "Aku?" Si gaun tosca menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk. "Tidak," wanita itu menggeleng, "aku bukan salah satu kandidat yang terpilih. Aku ke sini hanya ingin melihat wajah tuan Barra." "Apa acara ini bisa untuk umum?" kejarku. "Tentu saja tidak." Si gaun tosca tertawa. "Harus ada undangan dari pihak PT GOLDEN ABADI JAYA. Kalau tidak ya tidak bisa masuk." "Tapi kak, bukankah setiap pengusaha terkenal itu wajahnya pasti berseliweran di majalah dan berita?" "Tidak. Tuan Barra termasuk pengusaha yang unik," kali ini yang menjawab si gaun pink, "keluarga tuan Barra tidak ada yang mau privasinya terganggu. Bahkan ibu dari tuan Barra pun tidak ada yang tahu wajahnya seperti apa. Tentu saja kecuali jajaran para direksi perusahaan itu sendiri." Ibu Gessa? "Lalu karyawannya?" jiwa ke-kepo-an ku melonjak. "Tak terkecuali para karyawan. Tuan Barra mempunyai basemen pribadi untuk memarkir mobilnya. Dan dari basemen itu, ada lift yang langsung menuju kantornya. Jadi bisa dipastikan, karyawan di perusahaannya pun nggak ada yang tahu tuan Barra seperti apa, tentu saja kecuali sekretarisnya." Sekretaris Han? Sungguh perpaduan antara bos dan anak buah yang sangat cocok. Ckckckck. "Kok bisa sampai segitunya ya kak?" heranku. "Bisa. Apapun bagi tuan Barra, semua bisa," jawab si gaun pink menggebu-gebu, "dulu pernah ada paparazi yang berhasil mencuri foto tuan Barra. Tapi sehari kemudian, si paparazi itu hilang tak ada rimbanya. Bahkan perusahaan berita ditempatnya bekerjapun langsung lenyap." Aku takjub. Tuan Barra ini benar-benar tipe cowok yang komplek dan kejam. Tapi anehnya kenapa para wanita ini justru malah tergila-gila padanya. "Kak toiletnya di mana ya?" mendengar cerita dua wanita ini, tiba-tiba saja membuatku gemetar panas dingin, pengen ke toilet. "Di sebelah sana." Si gadis pink menunjuk salah satu lorong. "Setelah sampai di lorong itu belok kiri. Ada pertigaan belok kanan. Setelah itu belok kiri lagi." Aku menatap lorong itu malas. Ribet amat ya kamar mandinya. Tapi ya mau gimana lagi. Setelah mengucapkan terima kasih, aku segera pergi menuju lorong lalu belok kiri. Berjalan lagi, ada pertigaan jalan tiga cabang. Kanan, lurus dan kiri. Tadi si kakak bilang apa ya? Kanan atau kiri? Kiri aja dech. Baru berjalan beberapa langkah, aku berpapasan dengan seorang pria. Tiba-tiba saja pria itu menghadang jalanku. "Hei anak kecil. Mau ke mana?" tanyanya songong. Anak kecil? Dia bilang aku anak kecil? "Kalau mau nyari pembantumu, dia nggak ada di sini. Sana! Sana! Pergi! Hus! Hus!" Dia melambai-lambaikan tangannya mengusirku. Yang bikin naik darah itu, cara ngusirnya, kayak lagi ngusir ayam aja. Anjir kan! "Hai pak tua!" Dia mengerutkan dahi mendengar panggilanku. Bodo amatlah dikata nggak sopan. Salah sendiri jadi orang dewasa belagu. "Aku nggak lagi nyari pembantu tuh. Aku lagi nyari calon suami." "Cih, anak kecil sok-sokan nyari suami." "Memang situ sudah menikah?" "Ngapain anak kecil tanya menikah segala?" "Berarti anda belum menikah dong!" Dia diam gregetan. Dan aku menang satu poin. Asyeeeeekkkkk. "Makanya pak tua, jangan sok-sokan ngeledek yang lebih muda. Noh, situ tua tapi belum nikah-nikah juga " Si pria memandangku dengan tajam. Mulai emosi kayaknya. "Dan satu lagi. Aku udah dua puluh tahun dan bukan anak kecil lagi. Paham?" "Kamu ... " desisnya menahan gejolak amarah. Dengan elegan dan sombong, aku berbalik, melangkah pelan meninggalkan pria itu. Biarlah nggak jadi ke kamar mandi juga nggak papa. Yang penting kan udah keliatan elegan kayak wanita dewasa. Eaaaakkkkk. Akhirnya aku kembali ke tempat dudukku yang semula. Dua wanita bergaun pink dan tosca juga masih di sana. "Anda dari mana nona?" tanya sekretaris Han ketika aku sampai di kursiku, dengan tatapan menyalahkan. Di balik tatapan matanya itu seakan ada kalimat 'sudah kubilang kan jangan kemana-mana' yang tak terucap. Dia berdiri di dekat kursiku. Sepertinya dia menungguku. "Maaf," hanya itu yang bisa kukatakan. Nggak mungkin kan aku bilang kalau tadi mau ke toilet tapi gagal gara-gara pria songong tapi ganteng. Eh. "Ya sudah. Silahkan anda kembali duduk dengan tenang. Sebentar lagi acara akan dimulai." Aku hanya diam menurut. Aku tahu, aku salah. "Selamat malam nona-nona cantik," seorang pembawa acara naik ke panggung penuh dengan percaya diri. Loh itu bukannya Raffi Ahmad? "Ha!!!! Raffi Ahmad!" "Raffi!!!" "Raffi!!!' "Raffiiiiiiii!!!!" Semua histeris. Seluruh wanita se-aula semua histeris. Tak terkecuali aku. "Wow sambutan yang begitu hangat. Terima kasih. Terima kasih." Raffi tersenyum dan membungkuk hormat. "Tapi sayang, bintang yang bersinar malam ini bukanlah saya," dia terkikik, "simpan dulu rasa kagum kalian untuk pemeran utama malam ini." "Sambutlah ... " "Calon suami kalian ... " Semua diam. Menanti. "Dan keluarlah ... " Deg. Deg. Deg. "Keluarga PT GOLDEN ABADI JAYA !!!" teriak Raffi Ahmad lantang. Semua wanita seakan menahan nafas, menunggu. Sebuah kaki keluar dari ruangan. Disusul kaki yang satunya. Di bawah sinar terang di atas panggung. Muncullah seorang laki-laki yang begitu teramat tampan denga balutan kemeja warna krem dengan jas yang senada. Laki-laki itu berhasil membius seluruh wanita dalam aula. Dia ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD