Suiren mengoleskan obat penutup luka kepada luka di pelipis seorang gadis. Secara perlahan, luka tersebut mulai menutup, tidak meninggalkan bekas sama sekali. Gadis tersebut memegang pelipisnya, tersenyum lebar saat ia tidak merasakan bekas lukanya. Suiren sendiri ikut tersenyum saat melihatnya. Gadis tersebut mengucapkan terima kasih kepada Mingyue dan Suiren, kemudian diantar oleh Suiren keluar dari ruang ruangan tersebut. Langit di luar sudah mulai menggelap, ternyata mereka memakan waktu yang cukup lama.
“Itu adalah yang terakhir,” ucap Suiren. Mingyue sedikit menghela nafas, punggungnya perlahan menjadi rileks. Suiren tertawa kecil melihatnya, kemudian duduk di kursi di sebelah Mingyue. Untuk sesaat, tidak ada yang mengatakan apa-apa di antara mereka, hingga Suiren memutuskan untuk memecah keheningan dengan mengangkat tangannya, dan menatap bekas-bekas lukanya. Cincin yang terselip di jari telunjuknya berkilau sedikit. “Sayang sekali tidak ada obat untuk menghilangkan luka yang sudah membekas.”
“Obat penutup luka cair seharusnya bisa menutup hampir semua jenis luka hingga tidak berbekas. Tentu saja, itu tidak akan terlalu berguna kalau lukanya terlalu besar, terlalu dalam, atau tidak segera ditangani,” ucap Mingyue sambil membersihkan tangannya dengan air mancur kecil yang baru saja ia ciptakan. Suiren mengulurkan tangannya setelah Mingyue selesai, membersihkan tangannya dari obat-obatan. “Jangan lupa gunakan sabun,” ucap Mingyue sambil memberikan sebatang sabun kepada Suiren.
Suiren memperhatikan batang sabun yang diberikan oleh Mingyue. Ini batang sabun yang berbeda dengan yang digunakan oleh Mingyue untuk membersihkan tangannya tadi. Ia membolak-balikkan batang sabun tersebut beberapa kali sebelum menggunakannya. Ia berusaha untuk meniru gerakan tangan Mingyue saat ia mencuci tangannya tadi. Disisi lain, Mingyue memperhatikan tiap gerakan tangan Suiren, mungkin ia menatap bekas-bekas luka yang terdapat di tangan Suiren. yang dapat dipastikan oleh Suiren adalah, amethyst yang tergantung di dahi Mingyue berpendar dengan lebih cepat dari biasanya.
“Kecuali kalau Nona menggunakan obat salep. Obat salep tidak seefektif obat cair,”
“Yah, sayangnya aku menggunakan obat salep.” Mingyue meminta tangan Suiren setelah ia selesai membersihkannya. Suiren mengira Mingyue akan memeriksa bekas-bekas lukanya, tetapi Mingyue mengipasi tangan Suiren dengan kipas lipatnya. Angin yang keluar tidak terlalu kencang, cukup untuk mengeringkan tangan Suiren yang basah.
Suiren terkadang bingung, sebenarnya Mingyue itu apa? Ia bisa mengendalikan berbagai elemen, mungkin semua. Ia tidak mungkin seorang siluman, Suiren tidak pernah melihat siluman yang dapat mengendalikan elemen sebelumnya. Lagipula siluman pasti selalu memiliki ciri-ciri hewan meskipun mereka dalam bentuk manusia. Seperti Hara dan Athira yang masih memiliki telinga serigala dan macan tutul salju. Sebetulnya ada obat yang dapat digunakan untuk menyamar.
Seorang siluman yang menggunakan obat tersebut dapat kehilangan ciri-ciri hewannya selama beberapa hari. Tetapi bahan untuk membuat obat tersebut sangat sulit untuk ditemukan. Bahan utamanya adalah air mata dari makhluk yang bernama “Rakshasa”. Mereka adalah makhluk yang bisa mengubah bentuk tubuh sesuka hati mereka, yang biasa mereka gunakan untuk menipu manusia. Entah itu untuk memangsa, atau hanya untuk berbaur dengan mereka.
Jumlah mereka sudah banyak berkurang, untuk itulah obat tersebut sangat dihargai sangat mahal. Walaupun Suiren tidak akan kaget kalau orang di hadapannya ini tiba-tiba mengatakan kalau ia menemukan pengganti air mata Rakshasa sebagai bahan utama.
“Nona, bisa tolong aku membersihkan semua ini?” tanya Mingyue menunjuk botol-botol kosong, dan kain-kain yang berserakan. “Kita juga harus membakar ini,” Mingyue mengangkat tiga Kotak Mahkota Merah ditangannya.
“Tentu saja,” Suiren mengambil sebuah kotak kayu kosong, dan mulai memasukkan botol-botol obat kosong ke dalamnya. Mingyue sendiri mengumpulkan kain-kain yang memiliki bercak darah. Setelah ruangan sudah rapi, mereka berniat membawa botol-botol dan kain-kain tersebut ke bagian belakang klinik untuk dibuang. Mungkin hanya membuang kain-kainnya, botol-botolnya akan dibersihkan dan digunakan kembali.
Bersamaan dengan keluarnya mereka dari ruang operasi, Hara dan Athira memasuki klinik. Mereka terlihat lebih parah dibandingkan dengan Suiren dan Mingyue. Hara memiliki bau asap di tubuhnya, sementara baju Athira terlihat sangat berantakan. Rambut mereka yang biasanya rapi dan terlihat halus sekarang sangat berantakan. Mingyue tertawa kecil melihat keduanya.
“Kalian mau mandi atau makan dulu?”
“Hngh ...” jawab Athira.
“Tidak, kalian tidak boleh langsung tidur. Setidaknya bersihkan diri kalian terlebih dahulu,”
“Nhh ...” kali ini Hara.
“Baiklah, kalian boleh tidur dulu sebentar. Nanti akan aku bangunkan saat airnya sudah hangat,” ucap Mingyue. Sekali lagi, Suiren dibuat kagum oleh penghuni Desa Eira. Bagaimana Mingyue bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Hara dan Athira, saat apa yang dikatakan mereka hanya suara-suara yang akan dikatakan oleh orang kelelahan? Apakah ini karena mereka sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun?
Hara dan Athira berjalan menuju sofa yang tersedia untuk pelanggan yang menunggu. Hara terjatuh ke sofa dan tertidur terlebih dahulu, diikuti oleh Athira yang tertidur di atas perut Hara. Pemandangannya terlihat seperti ini; Athira dengan baju, rambut, dan bulu ekor berantakan, tertidur di atas perut Hara yang memiliki bau asap yang pekat pada tubuhnya pada tubuhnya, dengan rambut tebal panjang Athira yang menyelimuti mereka berdua.
“Oh iya Nona. Bukankah Nona biasanya terburu-buru? Apakah tidak apa-apa Nona tetap disini sampai malam?” tanya Mingyue. Suiren berhenti melakukan seluruh kegiatannya. Ia kemudian menengok ke arah Mingyue dengan pandangan serius.
“Bolehkah aku minta kertas dan alat tulis?” tanya Suiren. Mingyue menganggukkan kepalanya, kemudian memberikan sebuah kertas, pena bulu, dan sebotol tinta. Suiren memperhatikan pena yang diberikan oleh Mingyue untuk sesaat, sebelum mencelupkan pena yang ia pegang ke dalam tinta. Ia mulai menulis di kertas yang diberikan oleh Mingyue.
Tiap kali Mingyue berusaha melihat apa yang ditulis olehnya, Suiren akan menutupinya dengan punggungnya. Saat Mingyue berpindah posisi lain untuk mengintip, maka Suiren akan menutupinya dengan punggungnya kembali.
Hal tersebu berlanjut sampai Suiren selesai menulis suratnya, dan pada akhirnya Mingyue tidak sempat melihat apa yang ditulis Suiren. Suiren melepas cincin yang ia gunakan, menggunakannya untuk membuat segel pada suratnya. Segel tersebut berbentuk bunga teratai, sesuai dengan nama Suiren. Suiren kembali menggunakan cincinnya, kemudian meletakkan surat yang sudah ia segel di atas cincinnya. Perlahan, surat tersebut menjadi asap, kemudian menghilang ke dalam cincin.
“Nah, sambil menunggu respon, mari buang ini semua. Tuan Mingyue juga ingin menyiapkan mandi untuk Hara dan Athira kan?” Suiren berjalan keluar dari klinik terlebih dahulu, Mingyue mengikutinya dari belakang. Saat di luar, Mingyue melihat Suiren sedang berdiri di bawah hujan salju ringan. Rambut hitamnya terlihat sangat kontras dengan putihnya salju, sementara helaian rambut peraknya membuatnya tampak mencolok, memberikan aura bahwa ia adalah wanita dengan pengalaman hidup bertahun-tahun, sudah mengalami banyak hal.
Kulitnya terlihat sangat pucat, seperti ia tidak pernah terkena matahari selama bertahun-tahun. Berdiri di tengah hujan salju seperti ini, membuatnya terlihat sangat cantik. Tidak heran banyak pemuda yang sangat menyukainya. Mingyue berjalan mendekati Suiren, membersihkan rambut Suiren yang dipenuhi oleh kepingan salju. Suiren mengangkat kepalanya untuk menatap Mingyue.
“Apa yang Nona lakukan berdiri di tengah hujan salju seperti ini? Nanti Nona sakit.” Suiren tersenyum malu saat mendengar perkataan Mingyue. Ia benar-benar terlihat sangat cantik. Suiren mengambil beberapa langkah mundur untuk menjauh dari Mingyue, bahkan hampir terjatuh karena ia kurang hati-hati. Untung saja refleks Mingyue bagus, ia sempat menangkap Suiren sebelum ia mencium salju. Ia kemudian sedikit menjaga jarak dengan Suiren, “Tolong hati-hati Nona.”
“Ah, iya ... terima kasih,” Suiren membenarkan kotak kayu yang ia bawa. “Uh, aku jauh lebih suka suhu dingin daripada hangat. Lagi pula, aku tidak mudah sakit kok,” ucap Suiren dengan usaha untuk menyembunyikan rasa malunya. Setelah diam beberapa saat, ia memutuskan untuk melihat langit, menikmati kepingan salju yang jatuh ke wajahnya. Tiba-tiba saja, cincin yang ia gunakan mengeluarkan cahaya berpendar.
Ia meletakkan kotak kayu yang ia bawa ke jalan bersalju, menyentuh cincinnya, yang kemudian mengeluarkan asap. Asap tersebut perlahan menampilkan sebuah surat. Mingyue hanya melihatnya sekilas, tetapi ia yakin kalau surat tersebut juga memiliki segel. Suiren membacanya sekilas, kemudian menatap Mingyue dengan wajah senang.
“Aku tiba-tiba saja diberi libur selama dua hari. Syukurlah, aku kira aku akan dipecat. Yah, walaupun yang paling jauh pangkatku akan diturunkan,” ucapnya dengan wajah yang terlihat seperti seorang anak yang baru mendapat izin untuk bermain dengan teman-temannya dari ibunya. “Dengan ini aku bisa membatu kalian selama dua hari kedepan.”