“Mingyue, apa yang terjadi?” tanyanya saat sudah berdiri di depan Mingyue. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kotak kayu yang dipegan oleh Mingyue. Setelah menatapnya beberapa saat dan mengenalinya, raut wajahnya yang khawatir berubah menjadi kaget dan panik, mungkin sedikit ketakutan. “Apakah seluruh keluarga Anjana terjangkit?”
“Kepala Desa,” sapa Mingyue sambil sedikit menundukkan kepalanya. Mingyue ikut menatap kotak kayu di tangannya. “Mereka semua terjangkit. Aku berharap Kepala Desa dapat mengaturkan pemakaman untuk mereka. Untuk orang-orang yang masih berdiri disini, apakah ada yang merasakan sakit di sekitar pelipis selama satu bulan terakhir?” Beberapa jumlah orang mengangkatkan tangan mereka saat mendengar pertanyaan Mingyue. Mingyue menganggukkan kepalanya, “Baiklah, tolong ikut aku ke klinik. Tolong buang semua makanan yang ada di rumah kalian. Semua. Hara dan Athira akan membantu mengisi kembali persediaan makanan kalian.”
“Baiklah, untuk para pria, tolong ikut aku ke belakang gunung. Kita akan menggali lubang untuk membakar makanan-makanan yang dikumpulkan,” teriak Hara dengan nada tegas. Ia tidak terlihat panik sama sekali walaupun Mingyue menyuruhnya secara tiba-tiba.
“Untuk para perempuan, tolong kumpulkan semua persediaan makanan kalian ya. Saat mengambilnya, sebisa mungkin jangan membuat kontak langsung dengan makanannya, tolong buang juga sarapan kalian tadi pagi. Dan tolong jauhkan anak-anak kalian dari makanannya ya. Aku akan menyiapkan gerobak kayu untuk meletakkannya,” itu adalah suara Athira. Nada bicaranya masih terdengar mengantuk, tetapi juga lebih tegas.
Suiren berjalan mengikuti Mingyue ke arah klinik, diikuti dengan sekelompok orang yang mengeluh bahwa pelipis mereka sakit. Suiren sebenarnya sedikit kaget. Ia tidak mengira bahwa seluruh warga desa akan sangat kompak, dan sangat mudah untuk diajak kerja sama seperti ini. Ia diam-diam berharap kalau para penghuni kotanya mudah diajak kerja sama seperti ini. Saat ia melihat Athira mengumpulkan makanan dari para perempuan, ia tiba-tiba teringat sesuat. Ia berjalan sedikit lebih cepat untuk berada di sebelah Mingyue. Ia perlu berjalan sambil berjinjit agar tingginya setidaknya sama dengan bahu Mingyue.
“Tadi aku dengar Hara bilang ‘membakar makanan yang dikumpulkan’, memangnya cacing-cacing ini bisa mati hanya dengan dibakar? Kalau iya, kenapa Tuan Mingyue harus meletakkan mereka di kotak khusus dulu? Kenapa ngga langsung dibakar?” tanya Suiren kepada Mingyue bertubi-tubi. Jangan salahkan dia, dia sangat penasaran. Mingyue mengeluarkan tawa kecil saat mendengar pertanyaan beruntun Suiren. Ia sedikit menundukkan kepalanya untuk menjawab Suiren.
“Kalau masih dalam bentuk telur, mereka dapat mati hanya dengan dibakar. Tapi kalau sudah dalam bentuk cacing dewasa, butuh cara khusus untuk membunuh mereka. Sebetulnya cara membunuh mereka sedikit rumit, untuk itulah kotak ini dibuat,” Mingyue mengangkat kotak kayu yang pegang agar Suiren dapat melihatnya dengan lebih jelas. “Kotak ini dibuat dengan tujuan agar membunuh mereka menjadi lebih mudah. Tinggal masukkan cacing-cacingnya ke dalam kotak, kemudian bakar bersama dengan kotaknya. Mudah kan? Yah, walaupun harga kotak ini sedikit mahal sih,” Mingyue tersenyum malu saat ia mengucapkan kalimat terakhir.
“Kenapa Tuan Mingyue bisa punya? Tuan Mingyue biasanya sangat anti dengan barang-barang mahal,” Suiren mengatakannya dengan nada tidak bersalah. Ia sama sekali tidak memiliki niat untuk menyindir Mingyue, ia hanya mengatakan apa adanya. Mingyue terlihat sedikit tertusuk dengan perkataan Suiren.
“Nona, kau sangat jujur. Pengahasilanku digunakan untuk membeli bahan untuk membuat obat, jadinya aku sedikit anti dengan barang sehari-hari yang mahal. Dan untuk pertanyaan Nona yang kenapa aku bisa punya kotak ini, karena aku yang menciptakannya.” Tentu saja. Suiren tidak akan kaget jika suatu saat orang ini mengatakan, “Nona, lihat ini. Aku membuat obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Hanya dengan satu tetes obat ini, semua penyakit yang ada di dalam tubuh akan sembuh.”
Mereka akhirnya sampai di depan Klinik Nahua. Mingyue membuka pintu masuknya, dan Suiren dapat dengan langsung mencium bau obat-obatan kuat yang berasal dari dalam. Suiren mengarahkan orang-orang tersebut untuk duduk dengan rapi dan tenang, sementara Mingyue pergi ke ruang lain. Setelah memastikan orang-orang tersebut tenang, Suiren pergi ke ruangan yang dimasuki oleh Mingyue. Ia melihat Mingyue sedang menyiapkan berbagai macam piasu kecil, yang ia kenali sebagai pisau bedah, beberapa botol obat anestesi, dan beberapa botol obat lain yang kemungkinan adalah obat untuk menutup luka.
“Nona sedang apa?” tanya Mingyue tanpa menengok ke arah Suiren, masih sibuk meletakkan obat-obatan.
“Aku ingin membantu,” ucap Suiren dengan wajah yakin. “Walaupun itu hanya mengoleskan obat penutup luka, aku ingin membantu,” Mingyue menatap Suiren, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Suiren mulai mengira bahwa ia tidak akan diperbolehkan membantu. Tapi walaupun ia tidak diperbolehkan membantu saat pengambilan cacing, ia tetap akan membantu dengan memberikan dorongan emosional kepada pasien yang masih anak-anak.
“Tentu saja boleh,” ucap Mingyue pada akhirnya. Suiren tidak menduga bahwa ia tidak akan diperbolehkan, tetapi ia sangat senang. “Nona bisa membantu menyuntikkan obat anestesi dan mengoleskan obat penutup luka. Apakah Nona bisa melakukannya?” tanya Mingyue saat Suiren merapatkan diri padanya.
“Tentu saja. Kalau seperti itu saja aku sering melakukannya,” jawab Suiren dengan wajah penuh keyakinan. “Langsung buang jarumnya setelah digunakan kan?” tanya Suiren saat ia mengambil sebuah jarum suntikan. Suntikan tersebut memiliki jarum yang terbuat dari besi, dengan tabung yang terbuat dari kayu khusus yang transaparan.
“Untuk dosisnya-”
“Segini kan?” Mingyue belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tetapi sudah dipotong oleh Suiren yang mengangkat jarum suntikan yang sudah berisi dengan cairan. Tidak terlalu banyak yang dapat menyebabkan pasien mati rasa untuk waktu yang lama, tetapi tidak terlalu sedikit yang dapat menyebabkan saraf pasien tersadar saat sedang disayat. Mingyue mengangukkan kepalanya, tersenyum kagum kepada Suiren. Suiren merasa bangga, padahal Mingyue tidak mengatakan apa-apa. Dan ini adalah hal kecil yang biasa ia lakukan, mengapa ia tiba-tiba merasa bangga saat diberikan sebuah anggukan kecil?
Mingyue mendudukkan dirinya di sebuah kursi, dengan sebuah kursi lain di depannya. Pisau-pisau kecil, jarum-jarum untuk menyuntikkan obat anestesi, obat penutup luka, pembersih, dan sebuah kotak Mahkota Merah kosong sudah berjajar dengan rapi di sebelahnya. Ia menganggukkan kepala kepada Suiren, tanda bahwa ia sudah siap. Suiren membukan pintu, salah satu orang berjalan masuk. Orang tersebut adalah seorang pria berumur sekitar 30 tahun. Ia berjalan dengan pelan menuju kursi kosong di depan Mingyue, kemudian duduk dengan rapi.
“Oh, Tuan Radeva ya. Sudah berapa hari pelipis anda sakit?” tanya Mingyue dengan senyum hangatnya yang biasa. Orang yang dipanggil Tuan Radeva oleh Mingyue itu sedikit menundukkan kepalanya.
“Panggil saya Radeva saja, tidak usah terlalu sopan. Pelipis saya sudah sakit selama dua minggu terakhir,” Radeva menunjuk pelipisnya.
“Coba saya lihat ya,” Mingyue meraba-raba pelipis Radeva. Ia menemukan bagian yang sedikit menonjol. Radeva sedikit tersentak saat Mingyue menekan bagian yang sedikit menonjol.
“Apakah parah?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Kalau ini saja masih bisa diangkat, tidak perlu khawatir. Nona, tolong ya,” Suiren menanggukkan kepalanya, kemudian berjalan mendekati Radeva. Ia mengangkat jarum suntiknya mendekati pelipis Radeva, menyuntikkan dengan gesit, tetapi juga sangat akurat. Ia terlihat sangat terampil.
“Ngomong-ngomong, saya sering melihatmu. Nona Suiren kan? Gadis yang kedatangannya selalu ditunggu-tunggu oleh para lelaki muda yang ingin mencari pasangan hidup di desa kecil ini.” Untung saja Suiren sudah menarik jarumnya keluar, karena ia sempat sedikit tersentak saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Radeva.
“Benarkah? Saya jarang memperhatikannya,”
“Tumben sekali Mingyue, kamu biasanya sangat perhatian dengan sekitar,”
“Saya terlalu sibuk memperhatikan Nona Suiren, sehingga tidak sadar. Sepertinya anestesinya mulai bekerja, langsung saya mulai ya.” Mingyue mengangkat pisau kecilnya, dan mulai menyayat pelipis Radeva dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, Radeva tidak tersentak.
“Benarkah? Wah ini berita baru. Mingyue mulai membuka hati kepada orang lain,”
“Bukankah saya selalu membuka hati kepada semua orang?”
“Ini berbeda. Senyum yang biasa Mingyue tunjukkan kepada Nona Suiren juga sangat berbeda dengan yang biasa ditunjukkan kepada orang lain. Saya pernah melihatnya. Walaupun jarak saya dengan Mingyue dan Nona Suiren sedikit jauh, saya dapat merasakan aura hangat yang dipancarkan mata Mingyue,” ucap Radeva, yang direspon hanya dengan tawa kecil dari Mingyue.
Percakapan seperti ini biasanya terjadi saat pagi hari di pasar, atau sore hari saat sedang kumpul-kumpul. Terlebih lagi, pelakunya biasanya adalah ibu-ibu. Tetapi adegan ini terjadi di depan mata Suiren di dalam sebuah klinik, dan pelakunya adalah seorang dokter dengan pasiennya. Mengapa mereka harus membicarakan topik ini?
Suiren selalu dibuat kagum oleh penduduk Desa Eira.