Chapter 5 - Sebuah Hari yang Sangat-sangat Sibuk

1413 Words
TW Darah   Dahi Minyue sekarang berkerut, menggantikan wajah terkejutnya. Ia berkata kepada Suiren, “Nona, tolong katakan kepada Hara dan Athira untuk menutup klinik, kemudian bawa Kotak Mahkota Merah ke rumah keluarga Anjana, mengerti?”   Suiren menganggukkan kepalannya dengan tegas, tidak menunjukkan tanda-tanda kebingungan sama sekali. Ia tidak pernah melihat Mingyue sepanik ini, sehingga ia tidak ingin meremehkan situasi.   “Bagus. Sekarang kamu, ikut aku ke rumah keluarga Anjana,” ucap Mingyue setelah menganggukkan kepalanya kepada Suiren. Ia langsung berlari ke arah pria tadi berasal, sementara Suiren berlari ke arah klinik. Ia membuka pintu klinik dengan sedikit terburu-buru, membuat suara “brak” yang keras, mendapati Athira yang sedang memegang sebuah kotak kayu berukuran sedang di tangannya. Kotak kayu yang dibawa oleh Athira terlihat seperti kotak kayu yang biasa digunakan untuk menyimpan perhiasan, tetapi lingkaran merah yang mengelilingi penutupnya membedakan kotak tersebut dari kotak biasa.   “Kotak Mahkota Merah, rumah keluarga Anjana?” tanya Hara dengan wajah serius. Suiren tidak menduga Hara akan mengatakan hal tersebut, sehingga ia agak terkejut. “Jangan remehkan pendengaran kucing,” ucapnya sambil menepuk punggung Athira.   Mereka berlari dengan kecepatan penuh menuju kediaman keluarga Anjana. Langkah kaki Hara dan Athira sangat ringan, hampir tidak meninggalkan jejak kaki di atas tumpukan salju yang lembut. Saat mereka sampai, mereka melihat kumpulan orang yang mengelilingi sebuah rumah besar. Dengan susah payah, mereka menerobos kerumunan tersebut untuk sampai ke depan rumah. Bersamaan dengan sampainya mereka di depan rumah, Mingyue keluar dengan ekspresi wajah masam.    Saat ia melihat kotak kayu yang dipegang oleh Athira, ia langsung menghela nafasnya. Ia membuat gerakan seperti memanggil dengan kipas lipatnya, menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah bersamanya. Suiren lah yang berjalan terlebh dahulu, diikuti dengan Hara dan Athira yang memeluk kotak kayu tersebut lebih erat.    Baru saja melewati pintu masuk, mereka langsung dapat merasakan udara dingin yang berasal dari bagian dalam rumah. Walaupun saat ini sedang musim dingin, keluarga Anjana adalah keluarga yang kaya, mereka pasti dapat membeli kristal penghangat untuk menghangatkan seluruh rumah. Mereka mengikuti Minyue yang berjalan menuju ruang makan, dan mereka langsung melihat sumber udara dingin dari dalam rumah.   Di dalam ruang makan, terdapat sebuah bola es raksasa. Terletak di dalam bola es tersebut adalah lima orang anggota keluarga Anjana, dan seluruh perabotan makan mereka. Suiren menyipitkan matanya, berusaha melihat apa yang terjadi pada kelima anggota keluarga. Ia melihat ada sebuah garis yang melingkari dahi dan kepala mereka, dan saat ia berjalan mendekati bola es tersebut, ia melihat kalau garis tersebut bergeliat, seperti apa yang digambarkan oleh pria tadi.   Suiren pernah membaca tentang ini sebelumnya. Saat ia sedang melihat-lihat buku yang diobral, sebuah buku menarik perhatiannya. Buku ensiklopedia makhluk hidup, ia bahkan membelinya, siapa tahu akan berguna. Garis merah yang melingkar di kepala mereka adalah parasit yang disebut dengan ‘Cacing Mahkota Merah’, karena mereka akan melingkar di sekitar kepala, menciptakan bentuk seperti mahkota. Jika cacing-cacing tersebut sudah membuat “mahkota”, maka dapat dipastikan inangnya sudah tidak bernyawa.   “Hati-hati, Nona,” Suiren disadarkan dari lamunannya dengan tangan Mingyue yang menarik Suiren untuk menjauh dari bola es. Suiren sudah berkali-kali melihat tangan Mingyue sebelumnya, tetapi ia tidak pernah melihatnya dari dekat. Jari-jarinya panjang dan lentik, walaupun begitu terlihat kasar dan dipenuhi bekas luka. Suiren meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Mingyue, membandingkan ukuran keduanya. Keduanya sama-sama dipenuhi dengan bekas luka, tetapi tangan milik Suiren terlihat lebih kecil.  Saat Suiren sedang membandingkan keduanya, tiba-tiba saja Mingyue menengok ke arah Suiren dan bertanya, “Apakah ada yang salah dengan tanganku, Nona?” Sontak Suiren langsung mengangkat kepalanya, menatap mata Mingyue secara langsung. Suiren dapat melihat kristal amethyst yang tergantung di dahi Mingyue berpendar lebih cepat.   “Ah, ehm, tidak ada apa-apa kok,” jawab Suiren dengan sebuah senyuman untuk menyembunyikan rasa malunya. Ia benar-benar hanya ingin membandingkan ukuran tangan mereka, tidak ada alasan lain. Tapi saat ia menyentuh tangannya, ia merasa sangat familier.    Ia bisa merasakan tangan tersebut mengelus kepalanya dengan lembut, merasakan tangan tersebut membelai pipinya. Semuanya terasa sangat nyata, padahal Mingyue belum pernah menyentuhnya sebelumnya. Suiren merasakan pipinya menghangat. Bagaimana ia bisa memiliki pemikiran seperti ini terhadap orang lain?   “Nona tidak apa-apa? Pipimu sedikit merah,” tanya Mingyue dengan nada sedikit khawatir. Ia mengulurkan tangannya, berniat untuk menyentuh dahi Suiren, tapi Suiren dengan gesit menghindar.   “Aku tidak apa-apa kok. Sungguh,” Suiren kembali memasang senyum. Ia mengambil beberapa langkah mundur dari Mingyue.   “Baiklah kalau Nona bilang begitu,” Mingyue menarik tangannya, kemudian tersenyum lembut kepada Suiren, memamerkan lesung pipinya. Siapa yang memberi orang ini hak untuk menjadi sangat tampan? Suiren membalasnya dengan tersenyum.   Mingyue berbalik untuk melihat Hara dan Athira yang sedari tadi memperhatikan mereka. Mereka menatap satu sama lain, sebelum Athira memberikan kotak yang ia pegang kepada Hara, kemudian mendorong Hara ke arah Mingyue. Mingyue tertawa saat menerima kotak yang sekarang dipegang oleh Hara. Ia berjalan menuju bola es, mengetuk permukaan bola es dengan kipas lipatnya. Bagian es yang diketuk oleh kipas Mingyue meleleh, membuat sebuah pintu masuk untuk satu orang.   Ia masuk ke dalam bola es, dan pintu yang dilewatinya langsung menutup kembali. Suiren mendengus kecil. Ia tidak diperbolehkan untuk mendekati bola es oleh Mingyue, tetapi Mingyue sendiri malah memasukinya. Ini tidak adil.   Di dalam bola es, Mingyue mengangkat tangannya untuk menyamai pelipis sang ayah. Dari telapak tangannya, muncul sebuah pisau kecil yang terbuat dari es. Ia menggunakannya untuk dengan hati-hati mengiris pelipis sang ayah, darah langsung mengalir keluar dari irisan yang dibuat oleh Mingyue. Menyimpan pisau kecil yang ia pegang, ia menyelipkan jarinya ke dalam lukanya. Jarinya menggeliat di dalam luka, menyebabkan lebih banyak darah mengalir keluar. Setelah beberapa saat, jarinya menarik sesuatu keluar dari lukanya.   Terlihat seperti tali penjang berwarna merah, tetapi bergeliat-liat saat ditarik. Walaupun bagian kepalanya dijepit oleh Mingyue, Suiren dapat melihat bentuk kepala cacing tersebut. Mulutnya berbentuk melingkar, dan dipenuhi dengan gigi tajam. Mingyue dengan perlahan meletakkannya kedalam kotak kayu yang ia bawa. Ia melakukan hal yang sama kepada empat orang yang lain.    Setelah itu, ia mengelilingi beberapa tempat di dalam bola es, mengambil cacing yang sama, tetapi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan cacing-cacing yang ia ambil dari kepala kelima anggota keluarga. Saat ia sudah yakin tidak meninggalkan satupun cacing, ia meletakkan kotak kayu yang sedari tadi ia pegang, dan mengeluarkan kipas lipatnya. Saat ia mendekatkannya ke bajunya dan tangannya yang ternodai oleh darah, air keluar dari ujung kipas lipatnya. Air tersebut membasuh dengan bersih noda darah dari bajunya dan tangannya. Ia kemudian membuka kipas lipatnya, mengibaskannya beberapa kali ke bajunya yang basah.   Ia mengambil kotak kayu yang ia letakkan, kemudian mengetukkan kipas lipatnya beberapa kali ke permukaan bola es. Bola es tersebut menghilang dengan perlahan. Kini Suiren dapat melihat Mingyue dengan jelas. Bajunya terlihat kering, tidak terlihat seperti baru saja terkena darah dan air.    “Aku sudah memastikan tidak ada cacing yang tersisa. Aku akan meminta kepala desa untuk mengatur pemakaman untuk mereka. Untuk rumah ini, walaupun aku sudah yakin untuk tidak meninggalkan satupun cacing, aku ragu kalau akan ada yang mau menjadi penghuni selanjutnya. Oh iya, hampir lupa,” Mingyue memberikan kotak kayu yang ia pegang kepada Hara.   Ia berjalan mendekati kelima mayat anggota keluarga, membuka kipas lipatnya, kemudian mengayunkannya perlahan. Dari antara lantai kayu, keluar tanaman rambat yang dengan perlahan membungkus kelima anggota keluarga. Tanaman rambat tersebut dengan perlahan memindahkan kelima mayat anggota keluarga dari posisi duduk menjadi berbaring di lantai kayu. Setelah memastikan mayat-mayat tersebut tergeletak, tanaman rambat tersebut membuka bungkusan mereka, kemudian perlahan menghilang kembali ke dalam lantai kayu.   Mingyue membuat lima bauh kupu-kupu es dengan telapak tangannya, kemudian memberikannya kepada mayat tersebut satu-persatu. Dengan perlahan menyelipkannya di antara rambut mereka, menutupi bekas luka sayatan yang ia buat tadi. Setelah memastikan ia puas dengan hasilnya, ia berjalan ke arah Suiren, Hara, dan Athira. Ia mengambil kotak kayu yang dipegang oleh Hara, menatapnya sebentar, kemudian berjalan menuju pintu keluar yang diikuti oleh Suiren, Hara, dan Athira.   “Aku sangat menyayangkan kematian mereka, mereka adalah orang-orang yang baik,” ucapnya sambil berjalan. Ia tidak mengangkat pandangannya dari kotak kayu yang ia bawa. “Untuk sekarang, mari kembali ke klinik untuk bicara.” Mingyue mengucapkannya tanpa menengok ke arah belakang untuk menatap mereka, masih menatap kotak kayu tersebut.   Saat mereka keluar dari rumah, kumpulan orang tadi masih hadir, tidak berkurang satu orang pun, tetapi malah bertambah satu orang. Orang tersebut berjalan menghampiri Mingyue dengan wajah khawatir. Wajahnya terlihat seperti orang yang berwibawa. Apakah itu karena janggutnya yang tebal dan kerutan-kerutan di wajahnya? Tentu saja. Itulah alasan pertama yang dipikirkan oleh Suiren.   “Mingyue, apa yang terjadi?”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD