Chapter 4 - Sebuah Hari yang Sibuk

1279 Words
Wanita yang dipanggil “Nona Suiren” oleh Mingyue ini beralih untuk menatap Mingyue dengan mata hitam keperakkannya. Saat matanya bertemu dengan mata Mingyue, sebuah senyuman ceria merekah di wajahnya, terlihat sangat manis.  “Akhem,” Asra terbatuk -entah sengaja atau tidak. Suiren mengalihkan pandangannya dari Mingyue ke Asra, kemudian memasang wajah terkejut. “Oh, Tuan Asra. Kau juga di sini?” Suiren meletakkan topi bambunya yang sedari tadi ia pegang di atas sebuah meja. “Kebetulan sekali,” lanjutnya. Asra mendengus kecil mendengar ucapan Suiren. Suiren kemudian mengalihkan pandangannya pada Athira yang masih mencengkram baju Hara. Ia mengangkat tangan kanannya untuk mengelus kepala Athira, sebuah cincin terselip di antara jari telunjuknya. Athira awalnya sedikit tegang, tetapi setelah beberapa saat, ia mulai tenang. Suiren tersenyum melihatnya. “Aku bawa camilan,” telinga Athira yang awalnya menunduk menjadi tegak saat mendengarnya. Di sisi lain, Mingyue meletakkan kotak kayu yang ia bawa ke atas meja. Asra membuka kotak kayu tersebut untuk melihat isinya, mengangguk puas setelah melihat isinya. Ia mengeluarkan sebuah kantung berwarna biru tua, meletakkannya di atas meja dengan suara koin yang berdentingan.  Mingyue mengbil kantung tersebut, menyimpannya di suatu tempat di bawah meja. Ia tersenyum lembut kepada Asra, “Apakah Tuan Rajendra rajin menggunakan obatnya?” “Tuan Muda mulai rajin menggunakannya setelah kau membuatnya bisa diisap dengan pipa,” Lixue menghela nafas saat mengucapkannya,, wajahnya terlihat sedikit lelah.  “Dia masih tidak bisa menghilangkan kebiasaan merokoknya ya?” Mingyue menunduk untuk melihat kotak kayu di tangan Asra sambil tersenyum kecil. Mingyue kemudian mengeluarkan sebuah buku dengan sampul berwarna buru. Ia juga memberikan sebuah pena dan tinta, menunjuk sebuah kolom kosong. “Tolong isi nama Tuan di sini, kalau anda ingin menggunakan nama Tuan Rajendra juga silahkan. Tulis keperluan anda di—” “Iya, iya. Saya sudah tahu,” ucap Asra. Ia kemudian mengisi buku yang diberikan oleh Mingyue. Mingyue yang melihatnya tersenyum puas, kemudian menengok kepada Suiren. “Obatnya yang seperti biasa, Nona?” Suiren menganggukkan kepalanya, tidak mengalihkan pandangannya dari Athira. “Tolong tambahkan obat penghilang rasa sakit juga ya,” ucap Suiren dengan nada yang sangat tenang. Wajah Mingyue terlihat sedikit suram saat mendengar Suiren meminta tambahan obat. Untuk apa Suiren meminta tambahan obat penghilang rasa sakit? Apakah untuk digunakan pada dirinya sendiri, atau untuk orang lain? “Obat penghilang rasa sakit untuk apa? Apakah Nona terluka?” Mingyue menggunakan nada yang lembut saat menanyakannya, walaupun kekhawatirannya bisa terdengar.  “Hanya untuk jaga-jaga. Aku tidak apa-apa,” Suiren kali ini menatap Mingyue dengan senyum lembut. Untuk suatu alasan, Mingyue merasa rambut-tambut  di lehernya naik. Orang yang mengatakan mereka “tidak apa-apa”, biasanya memiliki masalah yang tidak ingin mereka ceritakan ke orang lain. Tapi apa yang bisa ia lakukan, ia tidak bisa memaksa Suiren untuk mengatakan masalahnya. “Urusanku di sini sudah selesai. Aku harus cepat-cepat kembali ke ibu kota sebelum Tuan Muda membuat sesuatu yang aneh,” Asra membungkukkan badannya, kemudian berjalan keluar dari klinik dengan langkah ringan. Setelah Asra keluar, Athira melepaskan cengkramannya dari lengan baju Hara. Lengan baju Hara yang awalnya mulus sekarang menjadi berkerut. Athira berusaha merapihkannya dengan telapak tangannya, walaupun tidak membuahkan hasil yang signifikan.  Athira sedikit cemberut melihat usahanya tidak membuahkan hasil, dan memperkuat gosokan tangannya, berharap setidaknya akan sedikit membuat kerutan di lengan baju Hara sedikit lebih rapih. Hara meletakkan tangannya di atas tangan Athira yang sedang “merapihkan” bajunya, dengan perlahan mencoba untuk menghentikan Athira. Bukannya ia tidak menghargai usaha Athira untuk merapihkan bajunya, tapi wajah cemberut Athira terlalu imut untuknya. Athira mengangkat wajahnya, menatap Hara dengan wajah khawatir. “Maaf...” ucapnya dengan nada lirih. Wajah itu. Wajah yang ia buat saat ia menyalahkan dirinya sendiri. Hara selalu menyalahkan dirinya untuk wajah itu. Salahnya karena tidak melindunginya saat itu.  “Ngga apa-apa, bukan salah Athira kok,” ucapnya dengan nada lirih. Mingyue mendekatkan diri pada Suiren, kemudian berbisik di telinganya, “Nona, kau punya waktu sebentar?” bisikannya membuat Suiren sedikit terkejut, ia bahkan menggosok telinganya beberapa kali.  Mingyue menuntun Suiren menuju sebuah pintu yang terletak di bagian belakang klinik. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, mengisyaratkan pada Suiren untuk tidak membuat banyak suara. Pintu belakang tersebut membawa mereka pada sebuah kebun tanaman obat. Hanya terlihat beberapa tanaman yang masih hijau, jenis tanaman obat yang hanya tumbuh di musim dingin. Mereka berjalan memutar agar sampai di depan klinik.  Suiren akhirnya berhenti menggosok telinganya, telinganya agak kemerahan setelah digosok begitu lama. Ia menatap Mingyue yang sedang mengelus kepala kuda yang selalu digunakannya untuk berpergian. Ia kemudian bertanya “Mereka masih separah dulu?” Mingyue diam untuk sementara, hanya terdengar suara ringikan kuda yang ia elus. “Mereka bertahap membaik. Perkembangan Hara yang paling signifikan,” Mingyue jeda sebentar sebelum melajutkan dengan nada suara yang sedikit lebih lemah. “Athira membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk membaik.” Suiren menatap pria yang berdiri memunggunginya, yang kebetulan sedang asyik mengelus-elus kudanya. Walaupun tertutup oleh rambut bergelombangnya dan -entah berapa lapis- pakaian tebal, Suiren masih dapat melihat punggung Mingyue yang ramping. Dilihat dari segi manapun, Mingyue bukanlah pria dengan fisik kecil.  Jika berdiri di antara keramaian, ia akan sangat mudah ditemukan karena tingginya yang menjulang, ditambah dengan cahaya berpendar dari kalung amethyst yang tergantung di dahinya, dengan lembut menarik perhatian orang-orang untuk mengamati kecantikan ini. Saat bertemu dengan miliknya, ia akan memasang sebuah senyum manis, menampilkan lesung pipinya yang dalam. Lesung pipi itu terkena cahaya dari anting-anting sapphirenya yang berpendar lemah. Suiren sering dibuat bingung oleh pria ini. Terkadang ia akan menatapnya dengan mata sedih, bercampur rindu. Terkadang dengan tatapan marah, yang akan segera ditutupi oleh tatapan lembutnya segera setelah Suiren mulai mencoba membaca ekspresinya. Mengapa dia menatapnya seperti itu? Apakah Suiren pernah melakukan hal yang salah padanya? Ketika Suiren bertanya apakah dia pernah melakukan hal yang menyindirnya, Mingyue hanya akan menjawab dengan “Nona tidak pernah salah,” dengan senyum manis yang biasa ia tunjukkan. Justru hal tersebut membuat Suiren semakin curiga jika dia sudah melakukan hal yang benar-benar menyindirnya. Sampai-sampai ia tidak mau membicarakannya dan dengan lembut menyiratkan Suiren untuk memikirkannya sendiri. Tapi apa? Apakah karena ia pernah membawa ikan asin sebagai oleh-oleh? Suiren masih ingat dengan jelas ekspresi jijiknya saat ia memberikan sekotak penuh ikan asin. Walaupun ia masih menerimanya, wajahnya terlihat tidak tulus. Atau mungkin saat ia tidak sengaja-- Ini tidak baik. Kebiasaan berpikir berlebihannya mulai muncul. Ia pikir ia sudah menghilangkan kebiasaan itu sejak bertahun-tahun yang lalu.  “Tuan Mingyue!” Lamunan Suiren buyar saat ia mendengar suara teriakan seorang pria dari kejauhan. Ia menengok ke arah suara berasal, mendapati seorang pria yang berlari kearahnya dengan wajah panik. Ia berhenti berlari setelah sampai di depan Mingyue, terengah-engah dan terlihat berusaha keras mengatur nafasnya. Asap putih mengepul di wajahnya setiap kali ia menghembuskan nafas. Mingyue mengerutkan alisnya, berhenti bermain dengan kuda di hadapannya, dan menghadap pria tersebut dengan serius. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada khawatir. Pria di hadapannya membuka mulutnya, namun yang keluar adalah kepulan asap putih. Mingyue mengambil sebuah botol kecil dari dalam jubahnya, memberikan botol kecil tersebut kepada pria yang tersengah-engah dihadapannya.  Sang pria mengambil botol tersebut, menghabiskan isinya dengan terburu-buru, bahkan beberapa tetes air menetes membasahi dagunya. Mingyue mengelus punggung pria tersebut perlahan, berharap ia bisa menenangkan sang pria. Ia menjauhkan botol yang kemungkinan sudah kosong dari mulutnya. “Jadi, apa yang terjadi?” tanya Mingyue dengan nada lembut. Wajah si pria kembali menjadi linglung. “Ah- itu, keluarga Anjana, di- di sekeliling dahi mereka, ada seperti lingkaran merah yang menggeliat-liat ... aku tidak tahu apa itu, mungkin lebih baik kalau aku memberitahu Tuan Mingyue ...” ucapnya terputus-putus.  “Lingkaran merah menggeliat di sekeliling dahi?” ulang Mingyue dengan nada terkejut.  “I- iya. Memangnya kenapa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD