Gadis yang lebih tinggi sudah jelas adalah Athira. Banyak bagian dari wujud manusia Athira yang sama dengan wujud macan tutulnya. Rambut yang sangat tebal, ekor panjang dengan bulu tebal, kaki yang panjang, dan yang terpenting, sepasang mata birunya yang tajam.
Ia dengan lembut membujuk gadis kecil yang bersembunyi di balik jubahnya untuk keluar. Sang gadis kecil, yang dipanggil Astra olehnya, dengan malu berjalan keluar dari tempat persembunyiannya di balik jubah Athira. Wajah kecilnya memerah karena cuaca yang dingin, tetapi matanya hitam bulatnya terlihat sangat cerah. Ia memegagang sebuah buku catatan kecil di tangan yang sama kecilnya.
“Oh Astra ya. Tugas yang kuberikan kemarin sudah selesai?” tanya Mingyue sambil berjalan perlahan menuju Astra. Melihat Mingyue berjalan mendekat, ia kembali bersembunyi di balik jubah Athira, yang kembali dibujuk dengan lembut oleh Athira. Mingyue berlutut untuk menyamai tingginya dengan Astra -walaupun ia masih harus menunduk untuk melihatnya. Astra dengan sangat perlahan keluar dari balik jubah Athira. Ia menganggukkan kepala kecilnya, kemudian memberikan buku catatan kecil yang sedari tadi ia genggam kepada Mingyue. “Terima kasih,” ucap Mingyue dengan senyum kecil.
Masih berlutut di hadapan Athira dan Astra, ia membolak-balik buku kecil di tangannya. Sambil membacanya, senyum kecil terlukis di wajah tampan Mingyue, -dan beberapa kali menganggukkan kepalanya- membuat Astra kembali bersembunyi di balik jubah Athira. Puas membolak-balik buku catatan kecil di tangannya, ia menutup buku tersebut kemudian tersenyum kecil.
“Ini sudah baik. Aku akan menyimpan bukunya untuk mengoreksi dan memberikan tugas baru. Walaupun ada beberapa jawaban yang kurang sempurna, tapi ini sudah baik, lebih baik dari yang kemarin,” ucap Mingyue masih berlutut di depan Athira, dan Astra. Astra yang mendengar pujian Mingyue, dengan perlahan keluar dari persembunyiannya.
“Sungguh?” suaranya sangat pelan saat menanyakannya.
“Sungguh. Nanti malam kalau aku tidak sibuk akan aku ajarkan bagian-bagian yang kamu tidak mengerti,” mata Astra berkilat-kilat penuh antusias saat mendengar perkataan Mingyue. Ia kemudian menganggukkan kepalanya dengan antusias yang sama.
Mingyue mengulurkan telapak tangannya yang besar ke depan Astra, Astra mendekat dengan perlahan. Beberapa kepingan salju bermunculan di telapak tangannya, bahkan mulai terasa udara dingin berasal darinya. Kepingan-kepingan salju tersebut mulai berkumpulan untuk membuat sebuah kupu-kupu es. Bentuk sayap kupu-kupu tersebut sangat indah, dengan ekor panjang seperti seekor phoenix.
Mingyue memasang kupu-kupu tersebut di antara rambut hitam Astra. Warna kupu-kupu tersebut perak dengan sedikit kebiruan, tampak kontras dengan rambut hitam legam miliknya. Astra terlihat sangat senang menerima kupu-kupu tersebut, tapi beberapa saat kemudian menundukkan kepalanya sambil membuat ekspresi suram.
“Astra tidak suka kupu-kupunya?” tanya Minyue saat melihat wajahnya yang suram. “Aku bisa buatkan yang lain kalau Astra tidak suka,” Astra menggelengkan kepalanya dengan keras saat mendengar perkataan Mingyue.
“Tidak! Tidak kok, Astra sangat suka kupu-kupunya...” suaranya makin mengecil tiap mengatakan sebuah kalimat. Ia melanjutkan dengan suara yang makin mengecil. “Tapi... kemarin Paman Mingyue membuat bunga untuk Astra... kata bunda, Astra tidak boleh meminta terlalu banyak...” Astra kembali bersembunyi di balik jubah panjang Athira, dengan usaha untuk menyembunyikan rasa malunya. Athira merasa gadis kecil ini sangat imut, kemudian dengan lembut mengelus bagian belakang kepala kecil Astra. Sungguh sebuah bunga kecil yang sama sekali belum ternodai.
Mingyue juga merasa sedikit kaget, ia tidak menduga jawaban Astra sama sekali. “Itu hadiah untuk Astra karena Astra sudah menjadi gadis yang pintar. Jadi jangan merasa bersalah,” ucap Mingyue dengan nada yang sangat lembut.
“Baiklah...” ucap Astra dengan nada yang sama lembutnya. Ia kemudian mengangkat kepalanya untuk menatap Mingyue, sebuah senyum manis merekah di wajah kecilnya, matanya berbinar dengan penuh antusias. “Paman, aku harus pulang sekarang, bundaku menunggu di rumah.”
“Perlu aku antar?” kali ini Athira yang buka suara. Ia sedari tadi memegangi bagian belakang kepala Astra. Aruna menggelengkan kepalanya kepada Athira.
“Nggak usah kak, Astra bisa sendiri,” Athira menghela nafas kecil, kemudian membukakan pintu untuk Astra. “Terima kasih Kakak Athira. Terima kasih Paman Mingyue untuk kupu-kupunya,” ucap Astra dengan nada lembut. Hara yang tidak disebutkan menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bingung. “Terima kasih juga Kakak Hara,” Astra tersenyum kecil saat mengucapkannya, sebelum berlari melewati tumpukan salju.
“Manisnya,” ucap Hara dengan senyum kecil. Athira memberikan tatapan tajam kepada Hara, mata biru terangnya menatam mata Hara yang sama birunya.
“Kubunuh kau kalau berani menyentuhnya,” ucap Athira masih mempertahankan tatapan tajamnya. Hara tersenyum masam melihat tatapan tajam Athira, kemudian membuat sebuah “maafkan aku” dengan mulutnya. Mingyue mengetuk kepala kedua manusia jadi-jadian ini dengan kipas lipatnya, telinga mereka menunduk bersamaan. Saat Mingyue akan tertawa melihat kelakuan kedua siluman di hadapannya, pintu masuk klinik terbuka, menunjukkan seorang pria dengan mata jingga terang.
Ia berjalan memasuki klinik, menunjukkan sayap berwarna putih dengan beberapa bintik hitam yang terlipat di punggungnya. Ia membersihkan salju yang bertumpuk di kepala dan bahunya dengan tangan bercakar tajamnya. Rambutnya berwana putih, sehingga sebelum dan setelah salju dari kepalanya dibersihkan, perbedaannya tidak terlalu terlihat.
“Tuan Asra,” Mingyue menyambut pria dengan bersayap tersebut dengan senyuman lembut. “Apa yang membawa Tuan ke kota kecil ini?”
“Apa lagi, tentu saja untuk membeli obat. Obatmu jauh lebih bagus dari yang ada di ibu kota,” Asra memutar kepalanya untuk menatap Mingyue, kemudian memutar kepalanya lagi untuk menatap Hara dan Athira bergantian. Pupil matanya mengecil saat menatap mereka. “Mereka sudah lebih besar sejak aku terakhir kemari.”
“Mereka masih kecil untuk ukuran siluman,” ucap Mingyue sembari pergi ke ruang lain. Asra kembali menengok untuk menatap Hara dan Athira bergantian. Hara dengan sengaja merapatkan dirinya pada Athira agar Asra tidak perlu memutar kepalanya berkali-kali. Walaupun Asra adalah siluman burung hantu yang bisa memutar lehernya sebesar 180o, Hara yang hanya melihat saja merasakan lehernya sendiri pegal.
“Berapa umur kalian?” tanya Asra kepada keduanya.
“Kami berdua 37,” jawab Hara dengan singkat
“Bayi,” Asra megangguk-anggukkan kepalanya, mata lebarnya kembali menatap pintu yang dimasuki Mingyue. Keheningan terjadi di antara ketiga siluman tersebut, sama sekali tidak ada yang membuat suara. Athira sedikit menarik ujung jubah Hara, sembari membuat suara merengek kecil, terdengar sedikit tidak nyaman. Asra memutar kepalanya untuk menatap Hara dan Athira, gerakannya yang tiba-tiba membuat Athira sedikit terkejut.
“Sepertinya Nona Athira masih tidak nyaman dengan pria lain, selain Tuan Hara,” Asra mengucapkannya dengan nada yang lembut. Walaupun begitu, ketika mendengar ucapannya, Athira mengencangkan cengkramannya di baju Hara, bahkan sedikit gemetaran. Hara menepuk-nepuk punggungnya perlahan, selalu tahu bahwa hal kecil tersebut dapat sedikit menenangkan kucing besar yang gemetar di sebelahnya. “Tidak ada yang menyalahkanmu jika kau memang takut,” ucapnya saat melihat tangan Athira yang gemetaran. Tangannya mencengkram lengan baju Hara dengan sangat erat, bahkan hampir membuatnya sobek karena cakarnya yang tajam.
Pintu masuk klinik tiba-tiba saja terbuka, bersamaan dengan Mingyue yang keluar yang membawa sebuah kotak kayu. Berdiri di antara pintu masuk adalah seorang wanita yang menggunakan sebuah topi bambu. Saat berjalan masuk, ia melepas topi bambu yang ia pakai, menampilkan rambut hitam panjangnya dengan beberapa helai berwarna perak. Mata almondnya mengedarkan padangannya ke sekeliling klinik, terlihat lembut tetapi anehnya juga terlihat kejam.
Cengkraman Athira pada baju Hara sedikit mengendur saat melihat wanita tersebut, Hara menghela nafas lega melihat Athira sudah sedikit lebih tenang. Sementara untuk Mingyue, gerakannya terhenti sebentar saat melihat wanita tersebut, amethyst yang tergantung di dahinya berpendar dengan lebih cepat. Setelah diam saja selama beberapa detik, Mingyue akhirnya membuat sebuah senyuman lembut, terlihat sangat tulus.
“Nona Suiren.”