“Kalian sedang apa?” tanya si pria saat melihat kekacauan yang terjadi di depan pintunya. Ia mengalihkan pandangannya menuju buah-buahan yang berserakan, dan mulai memungutinya. Beberapa helai rambutnya yang bergelombang jatuh ke wajahnya, walaupun sudah diikat dengan rapih menjadi setengah ekor kuda, terlihat sangat indah walaupun ia sedang memunguti buah-buahan yang berserakan di jalanan.
“Athira yang mulai,” ucap Hara, walaupun suaranya teredam oleh salju. Athira mendesis mendengarnya, dan kembali menampar lembut kepala Hara dengan cakar besarnya. “Jelas-jelas kamu yang menerkamku duluan,” Hara membela dirinya sendiri, dan dibalas olah geraman rendah dari Athira.
“Baiklah, kalian jangan bertengkar di tengah jalan, itu akan mengganggu orang lain,” pria tersebut sudah selesai memunguti buah-buahan yang berserakan, kemudian membuka pintu di belakangnya. “Ayo, masuk dulu”
Athira dengan patuh turun dari punggung Hara, dan duduk manis di sebelah Hara. Hara bangkit dari posisi telungkup, melihat Athira yang duduk manis sepertinya tidak akan masuk. Ia mengalihkan pandangannya ke kambing gunung yang digigit oleh Athira, baru kemudian ia mengerti mengapa Athira duduk diam. Bangunan di belakangnya memiliki sebuah plakat besar dengan tulisan “Klinik Nahua” di atasnya. Akan sangat aneh jika membawa sebuah mayat kambing ke dalam klinik.
“Maaf aku hampir lupa. Athira tolong berikan kambingnya, akan aku siapkan untuk makan malam,” si pria tadi tiba-tiba saja keluar. Athira dengan tenang meletakkan kambing gunung yang sedari tadi ia gigit ke tanah. Setelah meletakkannya, ia mundur perlahan dari dari mayat si kambing. Pria itu melangkah maju untuk mengambil kambing yang tergeletak di tanah, terlihat tidak terlalu terganggu dengan perilaku Athira yang sedikit menjaga jarak darinya. “Terima kasih Athira. Hara tolong ambilkan baju untuk Athira.”
Hara langsung saja masuk ke dalam klinik untuk mencarikan pakaian untuk kucing besar ini. Sementara ia mencari pakaian untuk Athira, pria tadi pergi menuju sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari klinik dengan kambing gunung tangkapan Athira. Athira yang ditinggal sendiri hanya bisa duduk manis sambil menunggu. Ia m******t darah dari kambing gunung yang melekat di bulu sekitar bibirnya.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar jalanan dan atap-atap rumah yang tertutup oleh salju. Kota tempat mereka tinggal tidak terlalu besar dan jumlah penduduknya tidak terlalu banyak, sehingga antara satu rumah dengan rumah yang lain memiliki jarak yang lumayan jauh. Tetapi, dikarenakan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak, para penduduk lebih dekat dengan satu sama lain.
“Kak Athira! Itu Kak Athira!” terdengar suara teriakan seorang anak laki-laki dari kejauhan, diikuti dengan teriakan dari teman-temannya. Athira menengok ke arah suara teriakan dan melihat segerombolan anak-anak berlari ke arahnya, beberapa bahkan hampir tersandung saat berlari. Tubuh kecil mereka dibalut dengan pakaian tebal untuk menghalang dingin, walaupun hidung dan telinga mereka terlihat sedikit kemerahan. Senyuman ceria terlukis di wajah kecil dan bulat mereka, senyuman yang sangat tulus dan manis, belum ternodai oleh berbagai macam dosa.
Mungkin banyak orang dewasa yang membenci anak-anak karena mereka berisik, cengeng, tidak bisa melakukan semua hal sendiri, dan hanya melihat mereka sebagai beban. Tetapi itulah bagian terbaik dari anak-anak. Mereka berisik, mengatakan apa yang ingin mereka katakan tanpa menahan diri. Orang-orang tidak akan melawan, dan hanya akan mengatakan “Mereka hanya anak kecil, belum mengerti apa yang mereka katakan,”. Mereka cengeng, menangis saat mereka ingin menangis, dan tidak akan mendapat perkataan “Kau bukan anak-anak, berhenti menangis,”.
Masih sangat polos dan suci, seperti bunga yang baru mekar. Warnanya yang cantik membuat orang-orang tersenyum, baunya yang harum menarik serangga-serangga. Walaupun begitu, ada beberapa orang yang alergi terhadap bunga tersebut, dan akan cenderung menghindar tiap kali melihatnya.
Seiring waktu berlalu, bunga tersebut akan mulai berlubang dimakan oleh ulat, akan mulai layu dan merunduk, tidak lagi dengan bangga memamerkan keindahannya. Daya tariknya akan hilang, pada akhirnya akan mati dan membusuk. Tidak ada yang menginginkan bunga yang busuk. Mereka akan selalu mencari yang baru untuk mengganti yang sudah busuk.
Athira selalu suka melihat bunga-bunga kecil yang bermekaran ini. Ia tidak pernah tahu apa rasanya menjadi bunga yang polos dan suci.
“Kak Athira! Apa yang sedang kakak pikirkan?” tanya seorang anak dengan suara agak keras, membuyarkan lamunan Athira. Athira membuat suara mengeong kecil sebagai balasan. Anak tersebut memiringkan kepalanya, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku tidak mengerti sama sekali.”
Athira kembali mengeong sebagai balasan. Segerombolan anak-anak tersebut kini mulai memainkan ekor Athira yang tebal dan panjang. Athira menggoyangkan ekornya, dan anak-anak tersebut mengejarnya. Setelah tertangkap, mereka akan menggunakannya sebagai syal, atau hanya memainkannya. Ada juga yang menarik-narik kumisnya, dan Athira membiarkan mereka bermain dengannya.
“Baiklah anak-anak, sudah cukup bermain dengan Kak Athira. Kak Athira baru saja pulang berburu, dia harus istirahat,” Hara yang baru saja keluar mengusir anak-anak tersebut dengan lembut, karena jika dibiarkan saja, Athira akan membiarkan anak-anak tersebut bermain tanpa menyuruh mereka berhenti, bahkan jika ia sudah sangat kelelahan.
“Aa... Kak Hara nggak seru...” seorang anak perempuan kini mengeluh.
“Kak Hara juga berubah jadi serigala dong!” kini anak laki-laki yang menarik-narik kumis Athira yang angkat suara. Segerombolan anak-anak itu kini menginginkan Hara untuk berubah menjadi bentuk serigalanya.
“Ada apa ini?” pria yang tadi mengambil hasil buruan Athira sudah kembali. Ia tidak menyangka akan disambut dengan sebuah keributan kecil yang terjadi di depan kliniknya.
“Paman Mingyue!” anak-anak tersebut kini berkumpul di sekitar Mingyue yang baru datang. “Begini paman, tadi kita sedang bermain dengan Kak Athira, tapi Kak Hara menyuruh kita berhenti karena Kak Athira harus istirahat. Jadi kita minta Kak Hara buat jadi serigala, tapi Kak Hara nggak mau.”
“Aku tidak pernah bilang aku tidak mau,” Hara membela dirinya sendiri, dan dihadiahi tatapan sinis dari anak-anak. Hara langsung bungkam melihat tatapan tersebut. Athira membuat suara mengeong yang sangat kecil, mungkin hanya bisa didengar olehnya. Tetapi telinga Hara lebih tajam dari manusia biasa, sehingga dia masih bisa mendengar Athira mengeong. Hara tersenyum kecil saat melihat Athira. “Ini bajumu,” ucapnya sambil memberikan satu set pakaian untuk Athira, dan dibalas dengan suara mengeong kecil. Anak-anak yang melihat Athira akan pergi menjadi sedikit panik.
“Kak Athira jangan pergi...” segerombolan anak-anak tersebut kini menarik-narik ekor, bahkan ada yang menggantungkan diri di keempat kaki Athira.
“Anak-anak, Kakak Athira hanya akan istirahat, dia tidak akan pergi ke mana-mana,” Mingyue berusaha menenangkan anak-anak tersebut. Nada suaranya terdengar sangat lembut, dan dengan ajaib berhasil membuat anak-anak tersebut sedikit lebih tenang. Mingyue tersenyum kecil, mengambil kesempatan kecil ini untuk membujuk anak-anak tersebut. “Malam ini kita akan makan malam dengan kambing gunung tangkapan Kakak Athira. Bagaimana kalau kalian ikut?” tanya Mingyue dengan nada yang sangat lembut, mungkin sedikit terlalu lembut, sampai membuat Hara sedikit merinding.
“Wah, sungguh? Terima kasih Paman Mingyue,” seru seorang anak laki-laki dengan ceria. “Paman Mingyue sangat baik,” ucapnya sambil berlari, diikuti denga teman-temannya.
“Jangan lupa untuk memberi tahu orang tua kalian ya,” Mingyue berteriak kepada anak-anak yang mulai berlarian menuju rumah mereka. Mingyue tersenyum kecil melihat anak-anak yang berlari kacil menuju rumah mereka masing-masing.
“Paman Mingyue sangat baik,” itu adalah Hara. Ia mengikuti nada bicara kekanak-kanakan milik anak laki-laki barusan. Mingyue menengok ke arah Hara yang sedang bersandar di depan pintu masuk klinik. Ia sedang tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat kekanak-kanakan.
“Kamu sedang mengejekku?” tanya Mingyue, masih dengan nada yang lembut.
“Tidak, aku hanya menganggapnya imut,” ucap Hara sambil membukakan pintu klinik, membiarkan Mingyue masuk terlebih dahulu. “Lagipula, tidak mungkin aku mengejek orang yang menyelamatkanku saat aku sekarat,” tambah Hara. Senyum di wajah Mingyue makin mengembang, menunjukkan sebuah lesung pipi yang dalam di pipi kanannya. Anting amethyst yang tergantung di telinga kanannya berpendar lemah, menyinari lesung pipinya seperti lampu sorot, seakan menyuruh orang-orang untuk lebih memperhatikannya.
Mingyue mengangkat tangannya untuk mengelus kepala Hara. Hara sedikit terkejut saat tangan Mingyue mendarat di atas kepalanya, gerakan pria ini sangat lembut, ia hampir tidak menyadarinya. Gerakan Athira mungkin sudah sangat pelan dan lembut, -Athira adalah tipe yang menyerang dengan penyergapan- tetapi gerakan pria di hadapannya ini jauh lebih lembut dari Athira. Lagipula ia bukan anak anjing lagi! Dielus seperti ini sangat memalukan!
Hara menurunkan tangan Mingyue yang berada di kepalanya dengan perlahan, kemudian memberikan Mingyue tatapan ganas. Mingyue tertawa kecil melihat tatapan ganas Hara. Ia mengancungkan jari telunjuknya ke arah belakang Hara. Ketika Hara berbalik untuk melihat apa yang ditunjuk oleh pria yang lebih tinggi darinya ini, ia melihat ekornya sendiri yang berkibas. Ini bahkan lebih memalukan daripada dielus oleh pria indah di depannya.
Telinga Hara yang awalnya tegak menunduk seketika. “Berhenti menggodaku...” rengek Hara dengan suara lemah. Kini Mingyue menepuk kepala Hara menggunakan kipas lipat yang entah ia dapatkan dari mana.
Pintu masuk klinik tiba-tiba terbuka, menunjukkan seorang gadis berambut putih dengan beberapa bagian hitam yang sangat tebal. Ia bahkan terlihat tenggelam dalam rambutnya sendiri. Diantara rambutnya yang sangat tebal, terdapat sepasang telinga bulat kecil dengan warna senada dengan rambutnya. Saat ia berjalan masuk, ia menyeret ekornya yang panjang. Terlihat sedikit merepotkan, tetapi ia tidak terlihat keberatan dengan itu. Sebuah tangan kecil terlihat menggenggam jubah panjang yang dikenakan oleh gadis itu.
“Astra, ayo, yang berani. Kamu sudah sering bertemu dengannya sebelumnya,” ucapnya dengan nada yang terdengar sedikit mengantuk, tetapi sangat lembut. Dari balik jubah abu-abunya, keluar seorang gadis kecil dengan pakaian tebal. Gadis kecil tersebut menggenggam erat jubah yang dipakai oleh gadis yang lebih tinggi di hadapannya.