Chapter 1- Kucing Besar yang Diam-diam Suka Elusan Lembut

1012 Words
    Seekor macan tutul salju duduk di atas sebuah pohon dengan seekor kambing gunung di mulutnya dengan nafas masih terengah-engah setelah mengejar mangsanya. Kucing besar tersebut mengedarkan pandangannya ke sekitar manusia-manusia yang lalu-lalang di bawahnya, sepertinya mencari seseorang. Mengbaikan fakta bahwa kucing besar ini sedang menggigit seekor kambing gunung di mulutnya, orang-orang tidak akan menyadari bahwa ada seekor macan tutul salju yang sedang mengintai mereka dari ketinggian.     Macan tutul salju tersebut menemukan orang yang dicarinya. Seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam keabuan panjang yang diikat menjadi sebuah ekor kuda tinggi -rambutnya terlihat terlalu tebal untuk seorang manusia biasa. Jika dilihat dengan seksama, pemuda tersebut memiliki sepasang telinga serigala di atas kepalanya, dan di belakangnya terdapat sebuah ekor dengang warna senada dengan rambutnya. Pemuda tersebut sedang mengobrol santai dengan gadis-gadis dari toko buah dengan sebuah keranjang penuh buah-buahan ditangannya. Gadis-gadis tersebut mengelilingi sang pemuda, mengobrol dengan dengan penuh semangar, mengabaikan telinga dan ekor sang pemuda, dan cuaca yang dingin.     Macan tutul salju yang sedari tadi mengamati dari ketinggian membuat suara menggeram kecil, suaranya sedikit teredam oleh kambing gunung yang digigitnya. Kucing besar tersebut mengambil ancang-ancang untuk melompat turun, sama sekali tidak terlihat terganggu oleh kambing yang ia gigit. Kucing besar tersebut melompat dari pohon tempat ia bertengger sedari tadi menuju pemuda jangkung yang masih dikelilingi oleh sekumpulan gadis. Sang pemuda sepertinya merasakan sesuatu sesuatu, ia menengok ke arah si kucing besar dan membelalakkan matanya.       Si kucing besar yang dimaksud mendarat dengan sempurnya di bahu sang pemuda, membuat sang pemuda dan sekumpulan gadis yang mengelilinya terkejut. Sang pemuda kehilangan keseimbangannya -dikarenakan tambahan beban yang terlalu tiba-tiba- dan terjatuh dengan wajahnya mencium jalan yang bersalju, menimbulkan suara gedebuk yang sedikit teredam.      Si kucing besar duduk di punggung pemuda tersebut -masih menggigit kambing gunung- dengan perasaan bangga karena berhasil menjatuhkan "mangsanya". Kejadian yang baru saja terjadi menarik perhatian banyak pejalan kaki yang sedang lalu-lalang. Si kucing besar menatap mereka satu-persatu. Pemuda yang ia duduki tiba-tiba membuat suara mengerang kecil.      “Athira ... tolong turun ... kau agak berat ...” ucap sang pemuda dengan suara lemah. Mendengar perkataannya, Athira menampar pelan kepala pemuda yang didudukinya dengan cakar besarnya, dan disambut dengan erangan pelan. Barulah Athira melompat turun dari dari punggung pemuda tersebut dan duduk dengan manis di sebelahnya. Pemuda tersebut bangkit dari posisi telungkupnya, kemudian membersihkan salju yang menempel di baju tipisnya. Gadis-gadis yang tadi mengelilinya mengambil inisiatif untuk membantu pemuda tersebut memunguti buah-buahan malang yang tergeletak di salju.       “Ini Hara, buah-buahannya,” ucap seorang gadis sambil menyerahkan keranjang penuh buah-buahan yang mungkin sekarang sudah beku.       “Ah, terima kasih. Maaf merepotkan,” Hara tersenyum manis saat menerima sekeranjang penuh buah-buahan dari sang gadis. Athira mengamati Hara berinteraksi dengan gadis-gadis tersebut, bahkan menunjukkan senyum manis kepada mereka. Tujuan awal Athira menerkam Hara adalah untuk mengalihkan perhatiannya dari gadis-gadis yang mengelilinya, tapi sepertinya gagal.       Athira mengeluarkan suara menggeram yang cukup keras untuk didengar Hara dan para gadis di sekitarnya. Hara dan para gadis menatap Athira yang duduk manis dengan kambing gunung di mulutnya. Walaupun Athira duduk dengan manis, mata birunya terlihat seperti akan menerkam siapapun pada saat ini. Hara tersenyum kecil melihat tatapan ganas dari Athira, bahkan ekornya mulai melambai-lambai.       “Maaf ya Nona-Nona, tapi aku harus kembali,” Hara pamit dengan nada yang lembut. Para gadis membalas pamitan Hara dengan mengeluarkan suara-suara kecewa dan berusaha membuatnya untuk tinggal lebih lama. Athira kembali membuat suara menggeram, kali ini lebih keras. Hara sedikit panik, walaupun ekornya melambai lebih cepat mendengar geraman Athira. Hara akhirnya berhasil lolos dari cengkraman para gadis dan berlari kecil untuk menyusul Athira. Athira membuat suara mengeong kecil, merasa puas akhirnya mendapatkan perhatian serigala jadi-jadian ini.       “Hasil tangkapanmu hari ini besar juga,” Hara memuji kambing malang yang sedari tadi digigit oleh Athira, bahkan sedikit menyodoknya untuk merasakan daging tebal dan lembutnya. Athira kembali mengeong kecil mendengar pujian Hara sangat senang karena akhirnya ada yang memuji hasil tangkapannya. Hara tersenyum kecil mendengar Athira mengeong, kucing besar yang satu ini terlihat sangat imut.      Hara tiba-tiba merasakan keinginan untuk mengelus kepala kucing besar di sampingnya. Walaupun ia tahu kalau Athira sangat tidak suka disentuh dan akan selalu mendesis bahkan mencakar jika ada yang menyentuhnya, anehnya macan tutul putih disampingnya ini tidak pernah mencakarnya ketika ia menyentuhnya, bahkan mungkin sedikit menikmatinya. Memikirkannya, rasa keinginan Hara untuk mengelus kepala putih dengan totol-totol hitam milik kucing besar di sebelahnya ini semakin besar.      Hara memelankan kecepatan jalannya, tidak terlalu pelan hingga Athira menyadarinya. Dengan sangat hati-hati, Hara mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala berbulu lebat milik Athira. Tangannya mendarat dengan sukses di atas kepala Athira. Athira seketika berhenti berjalan, bahkan mata birunya sedikit membelalak dan pupilnya menyusut. Sebelum ia bisa membuat suara sebagai bentuk protes, tangan Hara mulai bergerak mengelus kepalanya. Gerakannya sangat perlahan, takut akan melukai kepala Athira dengan cakarnya jika gerakannya terlalu keras. Hara samar-samar mendengar kucing besar di sampingnya mendengkur pelan.     “Ini pembalasan untuk yang tadi,” ucap Hara, kemudian berlari dengan kecepatan penuh, meninggalkan Athira yang masih mendengkur puas. Melihat serigala jadi-jadian yang mengelusnya kabur, Athira mengejarnya walaupun dengan kambing gunung yang masih berada di dalam mulutnya. Kecepatan lari Hara memang jauh lebih cepat dari manusia biasa, dan jarak yang tercipta di antara mereka sangat jauh. Melihat jarak di antara mereka, Athira mengambil ancang-ancang untuk melompat.       Dengan bantuan kakinya yang panjang dan kuat, Athira melompat untuk menerkam Hara yang berada jauh di depannya. Untuk kedua kalinya, ia dengan sukses mendarat di atas bahu Hara. Untuk kedua kalinya juga, Hara terjatuh dengan wajah mencium jalanan bersalju yang kembali menimbulkan suara gedebuk yang teredam. Yang mencium jalanan mengeluarkan suara erangan kesakitan, sementara yang menduduki mengeluarkan suara mengeong puas.      Pintu bangunan yang berada di sebelah mereka tiba-tiba saja terbuka, menampilkan seorang pria jangkung dengan jubah lebar. Sebuah amethyst berbentuk air mata tergantung di dahinya dan sebuah anting-anting sapphire dengan bentuk yang sama miliknya berpendar lemah, membuat wajahnya terlihat pucat. Ia menundukkan kepalanya untuk melihat Hara yang masih mencium tanah, dan Athira yang duduk manis di atasnya dengan mulut masih menggigit seekor kambing gunung. Ia membuka dan menutup mulutnya untuk sementara waktu, sebelum akhirnya bertanya,     “Kalian sedang apa?”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD