Setelah melewati hari berat menuju ujian ternyata Arjuna tak lantas berleha-leha. Kini ia tengah sibuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Walaupun ia masih berharap banyak dengan hasil jalur undangan yang akan diumumkan dalam satu minggu lagi, Arjuna masih terus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
"Kak, jalan yuk mumpung minggu nih." Kala yang tiba-tiba saja muncul di kamar Arjuna hingga membuat pemuda itu terlonjak kaget.
"Heh! Ngagetin aja."
Kala tertawa ketika melihat wajah kaget milik Arjuna. Ia jarang sekali melihat wajah terkejut milik kakaknya itu. "Hehe, maaf kak. Yuk jalan yuk, masa nggak sumpek sih baca buku terus?"
Arjuna memandang setumpuk buku soal miliknya yang sudah selesai ia kerjakan. Ia tersenyum dan mengangguk setelahnya. Pemuda itu mengambil jaket dan topi untuk segera keluar menuruti keinginan Kala.
"Mau kemana?" tanyanya setelah mereka berdua duduk di dalam mobil.
Kala tampak berpikir dan mengelus dagunya. "Pengen banget makan burger sama ayam goreng plus kentang goreng. Udah lama banget nggak makan itu. Mau es krim juga!"
Sejujurnya Arjuna tidak mau menuruti keinginan Kala untuk membeli es krim siang hari ini karena Kala sendiri harus membatasi makanan dan minuman yang ia konsumsi. Karena odapus seperti Kala akan mudah terserang penyakit lainnya jika tidak benar-benar menjaga pola hidup. Belum lagi semua yang diinginkan Kala adalah junkfood, mata Arjuna melebar ketika mendengar Kala memohon.
"Kakak nggak mau, kamu sendiri tahu kan kalau nggak boleh makan yang aneh-aneh? Lebih-lebih junkfood."
Kala kemudian mengerucutkan bibirnya, ia sedikit kesal tetapi Arjuna tak lantas membiarkan adiknya bersedih. Ia lantas mengamit lengan Kala dan mengambil kunci mobil serta dompetnya. Arjuna kini tahu, gadis itu begitu suka jika diajak pergi ke toko buku. Berdiri diantara rak penuh dengan buku pun membuat hati Kala menjadi tenang. Walaupun sepanjang perjalanan gadis itu tak mau menjawab pertanyaan Arjuna sedikit pun.
"Kak, mau ini ya? Sama ini juga!" Kala berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia sudah menginjakkan di toko buku. Arjuna tertawa ia menyanggupi semua permintaan Kala.
"Mana lagi? Udah belum?" tanya Arjuna saat melihat Kala terdiam dan tidak heboh seperti sebelumnya.
Gadis itu dengan cepat menyimpan ponselnya, kemudian menatap Arjuna dengan tatapan yang bahkan lelaki itu tak mudah pahami. "Udah! Ayo bayarin aku." Ia dengan cepat mendorong pemuda itu dan membiarkan Arjuna membayar buku-buku fiksi pilihannya.
"Laper nggak?" tanya Arjuna ketika melihat Kala yang kembali diam.
"Eh, iya kak?" sedetik kemudian gadis itu tersadar jika ia salah menanggapi pertanyaan Arjuna. "Iya, laper banget."
Arjuna memilih tempat makan yang tentu saja jauh dari keinginan Kala. Tempat ini bertema retro tetapi isi makanannya seratus persen terbuat dari bahan organik dan makanan yang disajikan bernuansa nusantara. Walaupun Kala tidak mendapatkan keinginannya, ia tetap menghargai usaha Arjuna untuk menyenangkan hatinya. Terkadang Kala merasa sedih dan bosan karena begitu banyak pantangan yang tak bisa ia lewati begitu saja. Gadis itu masih ingin memakan junkfood juga masih ingin bebas memakan apapun tanpa pantangan seperti ini.
Raut sedih Kala terbaca oleh Arjuna, lelaki itu dengan cepat mengalihkan fokus Kala yang sempat terdistrak, ia paham sekali jika Kala merasa sedih karena hari ini. "Kal, kalau kakak lulus jalur undangan kamu mau apa?"
"Hah?" Kala seperti tertarik kembali dalam kenyataan. "Mau apa, ya? Mau Kak Juna seneng sama pilihan Kakak sekarang."
Arjuna diam, kemudian ia tersenyum menanggapi. "Pasti seneng dong! Kan kakak nggak perlu repot belajar buat UM lagi." Kala mengangguk senang, ia memakan makanannya dan meyakinkan Arjuna jika ia menikmati makanan sore ini.
***
Kala tahu jika ia membuat semua orang menderita, gadis itu begitu paham jika semua orang di rumah ini pasti merindukan kebebasan. Entah bebas dalam artian bisa membeli dan menikmati junkfood atau sekedar membeli minuman yang kiosnya banyak di mall yang biasa mereka datangi. Senin sore itu, Kala menemukan fakta baru. Jian diam-diam memesan burger keju kesukaannya juga dengan dua gelas minuman bersoda sebagai pelengkap dan mata Kala juga menangkap adanya bungkusan lain yang gadis itu sangka isinya adalah kentang goreng. Kala tak sengaja melihat Jian yang mengendap-endap dari balik jendela kamarnya.
"Nggak apa-apa dong, Kal. Jian masih kecil pasti pengen jajan," ucapnya sebagai upaya membesarkan hatinya. Walaupun pesanan Jian sama sekali bukan kesukaannya, tetapi gadis itu cukup iri saat melihat adiknya membawa kantong plastik bertuliskan restoran cepat saji favoritnya.
Tak berselang lama, rupanya ada lagi kurir yang berhenti di depan rumahnya, kali ini ia melihat Mama yang tengah mengambil pesanan. Dalam sekali lihat gadis itu tahu jika kali ini adalah pizza yang baru saja mendarat di rumahnya, Kala tersenyum getir. "Kalian semua capek ya ngurus Kala?"
Sengaja Kala tidak keluar dari kamar sejak pukul lima sore tadi, sejak kejadian ia memergoki keluarganya yang diam-diam memesan makanan cepat saji. Gadis itu seakan tahu jika tidak keluarnya dari kamar adalah hal yang sangat diinginkan oleh keluarganya. Ia mengunci pintu dan memainkan gawainya, berselancar di aplikasi ojek online melihat-lihat menu makanan yang sudah lama tak pernah menyapanya. Otaknya berputar dan memikirkan ide gila yang bahkan selama ini tidak pernah ia lakukan.
"Kan Kak Juna udah sering nggak masuk sekolah, artinya di sekolah bebas mau makan apa aja. Besok pesen deh sekali."
Matanya berbinar, seakan menemukan kebahagiaan yang tak kunjung datang. Gadis itu mengambil obat ketika bunyi pengingat di ponselnya sudah berdering. Ia meminum obat-obatannya dengan riang, seakan tidak memiliki beban seperti sebelumnya.
***
Waktu istirahat di sekolah pun tiba. Kala dengan cepat memesan beberapa menu di restoran cepat saji dekat sekolahnya. Tak membutuhkan waktu lama, driver yang membawa pesanannya sudah tiba. Diandra dan Chandra tengah sibuk mempersiapkan tugas kelompok tak menghiraukan Kala hari ini. Omar pun tak terlihat karena sedang mengikuti perlombaan.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Kala tak lantas berjalan masuk ke kelas. Ia kini tengah berada di belakang ruang osis, ada tempat duduk dan tidak terlalu panas karena banyak pohon rindang di sekitarnya. Tak banyak siswa maupun siswi yang lewat dan duduk disini, berkat Arjuna lah, gadis itu mengetahui tempat persembunyian di sekolahnya yang terlalu luas. Ia membuka burger dan kentang, aroma yang begitu Kala rindukan setelah berbulan-bulan ia harus mengidap penyakit yang membuatnya nyaris kehilangan semangat hidup.
"Hmm, enak banget." Kala memejamkan matanya ketika ia selesai menggigit roti lapis itu, kemudian ia meneguk minuman bersoda warna hitam favoritnya. Walaupun ia sendirian, rasanya tidak apa-apa. Cukup dengan makanan dan minuman ini membuat perasaan Kala membaik.
Setelah lima belas menit berlangsung, Kala membersihkan seluruh sampah yang ia bawa. Kemudian berjalan menuju toilet sebelum masuk ke kelasnya. Waktu masih menunjukkan pukul 10.55 artinya, masih ada lima menit lagi sebelum bel masuk berbunyi. Tanpa membuang waktu, dengan langkah riang Kala berjalan menuju toilet dan membersihkan mulutnya. Ia meminimalisir kemungkinan orang terdekatnya tahu akan kenakalannya hari ini. Hari ini, Kala pun sadar jika ia sudah melewati batas yang sudah dibuat oleh penyakitnya belakangan ini.