"Ngomong-ngomong kalian udah mikirin mau kuliah apa?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Diandra membuat Kala terdiam. Semenjak ia divonis penyakit auto imun, tak sedetik pun ia memikirkan tentang masa depan. Sepertinya Kala sudah memendam semua cita-citanya.
Seharian ini ia tak berminat untuk melakukan apapun, ketika sampai di rumah pun ia tak menutup mata sedetik pun. Pikirannya terus menerus berusaha untuk menjatuhkan dirinya. Ia mengusap gusar wajahnya, kemudian memilih untuk duduk di atas tempat tidurnya. Ia lantas melangkahkan kaki ke kamar yang berada tepat di sampingnya. Kamar Arjuna. Sudah berhari-hari pintu pelitur cokelat itu tertutup rapat. Kala tahu jika ujian memang sudah di depan mata dan kakaknya itu selalu berusaha menjadi yang terbaik.
Ia mengetuk pelan pintu kamar Arjuna. Hingga tiga kali ketukan, akhirnya pemuda dengan kacamata yang bertengger manis di hidungnya itu membuka pintu sembari memberikan senyum padanya.
"Kenapa?"
"Mau main, di kamar kakak boleh?" tanya Kala setelah ia menerobos masuk kamar Arjuna.
Lelaki itu menggeleng, ia tidak keberatan sama sekali. Hanya saja, heran pada Kala yang baru meminta ijin tetapi sudah menerobos masuk kamarnya. Arjuna memilih duduk di kursi belajarnya, sedangkan Kala ia sudah memonopoli tempat tidur Arjuna yang sebelumnya terlihat rapi.
"Kak... kira-kira aku bisa jadi apa ya?" pertanyaan yang sudah mengganggunya sejak tadi akhirnya terlontar begitu saja.
Sembari menatap langi-langit kamar Arjuna matanya mengawang. Lelaki itu menatap Kala, menyingkirkan setumpuk buku yang membuatnya muak. "Kamu bisa jadi apa aja, yang sesuai sama mau kamu."
"Kakak keren banget, mau masuk kedokteran."
Arjuna tersenyum miris, tanpa terlihat oleh Kala. "Kan belum pengumuman."
"Tapi, Kala yakin kakak bakal lulus."
Ia mengacak pelan rambut Kala, kemudian menatap manik mata cokelat milik gadis itu. "Kenapa tiba-tiba tanya gitu?"
Kala mengembuskan napasnya, ia merasa tidak akan bisa melanjutkan hidup ke depannya. "Aku sakit kak, jadi apa mungkin punya cita-cita?"
"Mungkin aja. Semua orang berhak punya cita-cita, kan? Kata pepatah, gantungkan cita-citamu setinggi langit."
"Kalau jatuh sakit kak, lagian aku bukan bidadari yang jatuh dari langit."
Senyum Arjuna terbit begitu saja. "Ya bukan begitu maksudnya, kamu berhak punya cita-cita yang setinggi langit. Cara mencapainya itu usaha, setiap usaha kita bagaikan tangga supaya kita bisa mencapai cita-cita itu. Kalau misal kita gagal, kita nggak jatuh sampai bawah. Kita masih jatuh ditangga-tangga yang kita buat. Kita nggak akan terpuruk."
Mata Kala kini berganti menelisik pada wajah Arjuna yang justru terlihat suram. "Kak... tapi jatuh di tangga bisa buat cedera loh."
Arjuna sedikit terhibur karena pertanyaan Kala yang tidak pernah ia duga sebelumnya. "Ya nggak apa-apa cedera sedikit yang penting nggak langsung pasrah kalau kamu bakal gagal."
"Aku tadi ditanyain sama Diandra, udah mikir tentang kuliah atau belum. Sampai hari ini, aku cuma mikir apa besok masih bisa buka mata? Apa besok aku masih bisa lihat keluarga aku? Atau... justru besok adalah hari terakhir aku hidup?"
Mata Arjuna melebar, ia merasa sedih atas pemikiran adiknya itu. "Kenapa kamu nggak pikirin yang baik-baik aja?"
"Karena pikiran baik cuma jadi harapan buat aku kak."
Lelaki itu lantas mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di mesin pencarian otomatis. "Nih, kamu pasti tau kan dia siapa?"
Kala mengangguk ketika melihat wajah Selena Gomez ditampilkan pada ponsel kakaknya itu. "Tau."
"Dia salah satu artis yang harus mengidap penyakit yang sama kayak kamu. Tapi dia buktikan ke dunia kalau mimpinya itu tidak akan berhenti begitu aja. Mungkin nanti ke depannya pasti bakal lebih banyak cobaan, lebih berat dan beberapa kali malah ngebuat kamu mau berhenti. Tapi, coba dilihat lagi. Mimpi kamu dan mimpi dia itu sama-sama terhalang, tapi dia bisa buktikan kalau itu bukan penghalang."
Kini gadis itu sudah mengubah posisinya menjadi duduk. "Kak... jangan pergi kemana-mana ya, bantu Kala sampai nanti bisa berhasil."
Arjuna terdiam, ia lantas mengangguk dan memberikan senyum tulis pada adiknya itu. "Iya, kakak nggak kemana-mana."
***
Makan malam hari ini didominasi oleh Jian yang bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Ia yang kini juga berada di kelas 3 SMP juga tengah sibuk mempersiapkan ujian, selain olimpiade yang minggu lalu baru saja ia selesaikan.
"Jian udah pensiun olim di tingkat SMP." Dhika dan Ariana yang menyimak pun tertawa dengan pernyataan Jian.
"Udah kayak aki-aki aja, pakai pensiun. Iya nggak apa-apa Jian kan emang harus fokus buat ujian, emang mau masuk kemana nanti?" Ariana membuka suara.
"Sekolah kakak-kakak aja. Mau ambil akselerasi boleh nggak?" Mata Kala membelalak, ia tidak pernah memikirkan untuk melalui masa SMA dengan akselerasi tapi adiknya memang berbeda.
Dhika menatap Jian, kemudian mengangguk. "Kalau Jian sanggup, Papa nggak masalah."
"Berarti nanti Jian lulusnya beda setahun sama aku ya?" tanya Kala, Arjuna menyadari perubahan suara Kala. Ia yakin jika gadis itu sebenarnya menyimpan sedikit rasa iri pada Jian.
"Iya, kak!" seru Jian bersemangat. "Seneng banget, mau cepet-cepet kuliah."
Ariana tertawa. "SMA juga belum." Senyuman yang terpatri pada wajah Kala terasa palsu di mata Arjuna. Tak berbeda dengannya, anak sulung keluarga itu pun merasa begitu juga.
"Pa, Ma." Kala memanggil kedua orang tuanya. "Kala nanti pengen kuliah di jurusan seni."
Arjuna mengalihkan pandangannya yang sebelumnya terfokus pada piring makannya. "Tapi prospek ke depannya gimana? Kala mau buka sanggar tari?"
Gelengan dari kepala Kala menjadi jawaban. Jujur saja, ia belum memikirkan sejauh itu. Ia hanya merindukan ibunya, dahulu ibunya adalah penari balet profesional. Mata Dhika tidak beralih dari putrinya. "Pikirin dulu aja, lagi pula masih ada waktu buat Kala cari potensi lainnya." Dhika menengahi ketika putrinya tak lagi memiliki jawaban atas pertanyaan Ariana.
"Betul itu, pikirin dulu. Biar nggak menyesal ke depannya. Kak Juna udah mau masuk kedokteran. Emang Kala nggak mau coba juga? Jadi hakim? Pengacara?"
Kala terdiam, tidak menjawab bahkan dengan bahasa tubuh sekali pun. "Oh iya, kemarin Jian bilang dia pengen lanjut ke MIT." Ariana kembali berujar dengan semangat.
Dhika tersenyum cerah menatap putranya kemudian mengelus pelan puncak kepala pemuda itu. "Wah keren!"
Mata Kala berkaca-kaca. Ia hanya ingin mengejar mimpinya, tetapi rupanya halangan itu tidak berasal dari dirinya sendiri, melainkan keluarganya pun sama. Gadis itu kembali menyimak pembicaraan 'seru' yang bahkan tidak memerlukan eksistensi dirinya. Waktu terasa sangat lambat untuk gadis itu, air matanya nyaris tumpah tetapi terus ia tahan. Tangannya mengepal dengan kuat di bawah meja.
Setelah selesai makan malam gadis itu tidak bergabung dengan Jian dan orang tuanya di ruang tv, ia mengatakan jika ada tugas yang harus di selesaikan. Sedangkan Arjuna sudah kembali bercengkrama dengan tumpukan buku soal. Sesampainya di kamar, Kala mengunci pintu dan kemudian tubuhnya meluruh.
"Emang kenapa sih sama jurusan yang Kala mau? Kenapa harus dipandang sebelah mata?"
Gadis itu menangis, sedikit bersyukur karena kamarnya memiliki peredam suara. Ia hanya ingin sendirian malam ini. Mengabaikan ponselnya yang bergetar sejak tadi. Ia tidak berminat melihatnya barang sebentar.
Arjuna mulai merasa khawatir pada adiknya yang tak kunjung membalas pesannya. Tetapi lelaki itu berhenti untuk membobardir Kala. Ia yakin sebenarnya gadis itu hanya butuh sedikit ketenangan. Arjuna hanya berharap semua akan baik-baik saja.