Arjuna sudah tak lagi menjabat sebagai ketua OSIS, kini ia hanya siswa biasa yang tengah sibuk mengejar cita-cita. Belakangan, Arjuna sering memikirkan apakah benar ini adalah cita-citanya. Menjadi seorang dokter dan mendedikasikan seluruh waktunya untuk pasien. Bukan Arjuna tidak senang, melainkan ia semakin ragu dengan langkahnya yang belum seberapa ini.
Lelaki itu merasa tengkuknya cukup tegang karena terhitung sudah tiga jam ia menekuri buku soal. Matanya perih dan panas, kepalanya pening belum lagi semakin ia memaksakan semakin ia merasa tulisan-tulisan pada buku itu mengabur. Arjuna menghela napas berat, ia menyerah. Kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi belajar mengusap kasar rambutnya yang mulai memanjang. Tangannya membuka laci meja yang sudah lama sekali tidak pernah ia sentuh. Matanya menatap buku sketsa yang usang.
Ia mengambil buku itu, kemudian berjalan menuju tempat tidurnya yang masih rapi dan terasa begitu dingin. Arjuna mengusap buku yang penuh dengan kenangan itu, lembar demi lembar ia buka dan menemukan banyak sekali goresan yang tak pernah ia ulang kembali dalam beberapa waktu ke belakang.
"Sudah lama, ya."
Racauan lelaki itu hanya seperti angin lalu, tidak ada satu orang pun yang mengetahui jika ia meninggalkan banyak cita-citanya. Tidak ada yang memahami dirinya, hingga sekarang ia merasa terseok sendiri di jalan yang belum tentu membawanya dalam kebahagiaan. Jika boleh Arjuna meminta untuk mampu melihat apakah pilihannya saat ini tepat? Apa benar ia mampu menyenangkan hati orang tuanya dengan cara seperti ini?
Arjuna kembali meletakkan buku sketsa itu pada laci lemari, kemudian menguncinya dan berharap ia tidak pernah mengingat bahwa jauh dari lubuk hatinya sejak dulu ingin sekali melanjutkan mimpinya. Dulu, Arjuna selalu bermimpi membangun rumah dengan gambar yang ia ciptakan sendiri. Ia selalu berambisi menjadi seorang arsitek. Tetapi, Mamanya selalu meminta agar ia mengusahakan untuk lolos di kedokteran. Mungkin Arjuna bisa menolak jika itu adalah keinginan Papanya, tetapi permintaan itu bahkan keluar dari mulut ibunya sendiri. Seumur hidup, Arjuna belum pernah membuat Ariana bangga. Menurutnya, ia selalu berada di bawah Jian dan ia tidak suka itu.
"Usaha nggak pernah menghianati hasil, kan?" tanyanya ragu pada diri sendiri.
***
Pagi ini Arjuna merasa sangat buruk, berkali-kali ia meninggalkan barang yang seharusnya dibawa ke sekolah. Awalnya ia meninggalkan dasi, kemudian topi juga ikat pinggangnya. Ariana pun menggeleng melihat betapa kacaunya Arjuna pagi ini.
"Di cek dulu coba peralatan sekolahnya, atribut sudah semua atau belum?"
Arjuna sibuk memperhatikan dirinya dan melihat ke dalam tas untuk memastikan tidak meninggalkan satu dari sekian banyak buku yang harus ia bawa hari ini. "Sudah, Ma."
Kala melihat Arjuna yang tampak lesu, matanya terlihat sekali jika lelaki itu lelah. Setelah melepas jabatan OSIS rupanya tak lantas membuat Arjuna bersantai.
"Kak, sehat kan?" tanya Kala ragu, pertanyaannya bahkan mengundang perhatian tiga orang lainnya.
Ariana berjalan cepat membawa satu piring roti bakar selai cokelat kesukaan ketiga anaknya. Tangannya dengan cekatan menempel pada dahi Arjuna setelah menaruh piring di hadapannya. "Hangat. Nggak usah sekolah, Kak."
Lelaki itu dengan cepat menghindar, ia sangat sadar jika tubuhnya begitu lelah dan ingin beristirahat. Tetapi, melihat ini adalah awal minggu dan ujian sudah berada di depan mata tidak mungkin jika ia bersantai.
"Aku oke kok."
Dhika memperhatikan gerak gerik anak sulungnya dengan seksama. "Kak, kalau capek boleh istirahat kok. Nanti Papa bantu ijin ke wali kelas kamu."
Arjuna menggeleng sembari menggigit roti dan meminum segelas s**u yang sudah tersedia. "Nggak Pa, Juna hari ini ada ulangan."
"Berarti Kak Juna nggak boleh bawa mobil. Kalau tiba-tiba pusing di jalan kan bahaya." Jian yang sejak tadi hanya menjadi pengamat, kini mengemukakan pendapat.
"Iya, bener. Dianter Papa aja yuk hari ini" Ada sebersit perasaan senang dari Kala karena sudah lama ia tidak diantar oleh Dhika ke sekolah.
"Iya, diantar Papa hari ini. Semuanya."
"Ck. Aku nggak apa-apa, Pa. Ini tuh biasa, nanti juga normal lagi kok suhunya. Lagian aku nggak pusing sama sekali."
Penolakan Arjuna tidak lantas membuat semua orang setuju. Hingga pada akhirnya pemuda itu mengalah dan duduk di kursi penumpang bersama Jian. Kala sudah memonopoli kursi depan karena ia bilang sudah lama tidak duduk di samping Papanya.
"Kalau mau tidur dulu nggak apa-apa kak." Jian berucap saat melihat Arjuna yang tengah menyandarkan kepalanya pda sandaran kursi.
"Nggak lah, lagian masih pagi."
Dhika fokus dan tidak begitu memperhatikan pembicaraan anak-anaknya. Untung saja, sekolah Jian dan kedua kakaknya searah jadi ia sendiri tidak perlu khawatir jika ketiganya terlambat.
"Kalau mau pulang nanti tunggu Papa ya, kalau ada jam tambahan jangan lupa bilang."
Selepas Dhika memberi arahan, ketiganya hanya mengangguk tanpa mau mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kala, sudah bawa obat?" Dhika memastikan putrinya untuk tidak lupa minum obat tepat waktu.
"Sudah, Pa. Aman kok."
Tangannya menyentuh puncak kepala gadis itu. "Jangan panas-panas ya, jangan repotin Kak Juna."
"Iya."
Kemudian lelaki paruh baya itu menatap cermin dan melihat ke arah Jian dan Juna yang masing-masing sibuk dengan gawainya.
"Juna, kalau nanti ngerasa nggak enak badan kasih tau Papa ya."
Arjuna mengangguk, kemudian menjawab. "Iya Pa."
"Jian-"
"Aku hari ini nggak kenapa-kenapa, sudah bawa semua peralatan dan bekal. Bawa uang saku juga, nggak lupa minum s**u. Nanti aku juga nggak ada jam tambahan Pa." Potong Jian jauh lebih cepat dari Dhika.
"Heh! Papa belum kelar ngomong sudah nyerocos duluan aja. Nanti Papa potong uang sakunya baru tau loh."
Jian bukannya takut malah tertawa ringan. "Ya abis, Papa tuh tiap hari nganter Jian yang diomongin itu terus."
Jawaban Jian justru mengundang tawa Dhika dan Kala. Arjuna hanya tersenyum tipis, memperhatikan saudaranya yang tengah bercengkrama dengan Papanya.
***
Kala tidak bisa tenang di bangkunya. Ia merasa harus melihat keadaan Arjuna secepatnya. Setelah pesan yang ia kirimkan ketika jam pelajaran berganti itu tak kunjung mendapat balasan. Waktu berjalan cukup lambat bagi Kala yang sudah tidak sabar untuk mengecek keadaan kakaknya.
"Lama banget sih istirahatnya," keluh Kala pada Diandra yang masih mencatat materi. Sedangkan ia sudah meletakkan kepalanya di atas meja.
"Ya emang belum waktunya, lo kenapa deh dari tadi gue perhatiin kayak khawatir banget."
Kala mengusap kasar wajahnya. "Kak Juna tadi pagi kayak sakit gitu deh, gue khawatir."
Diandra mengangguk paham. "Lo juga inget sama diri lo sendiri, jangan sampai khawatir sama orang justru buat orang lain repot sama lo."
Kala terdiam dan tidak menjawab omongan Diandra. Entah mengapa perasaannya mulai sedih ketika orang sekitarnya menganggap bahwa dirinya merepotkan. Namun suara bel istirahat membuat perasaannya yang tadinya sedih berubah seketika menjadi senang.
"Gue duluan."
Bahkan Kala tidak membereskan kekacauan setelah dua mata pelajaran berlangsung. Gadis itu berlari dengan cepat menuju ruang kelas Arjuna yang berada di lantai satu. Matanya memindai seluruh siswa yang berada di dalam kelas itu. Hingga netranya menangkap siluet Arjuna yang tengah bercengkrama dengan teman-temannya. Rasa khawatir Kala menguap begitu saja, ia tidak ingin mengganggu Arjuna dan lantas berbalik menuju kelas.