Tujuh : Rasa Sakit

1030 Words
Kala merasa malam ini berlalu begitu lama, tubuhnya sakit tak karuan. Ia bahkan hanya mampu merintih, seluruh tubuhnya terasa kaku. Gadis itu berusaha untuk mengeluarkan suara gaduh agar Juna dapat mengetahui keadaannya. Matanya memberat, tubuhnya kemudian menggigil disertai rasa tidak nyaman. Suara pintu terbuka dan raut khawatir Juna yang mampu Kala lihat sebelum pandangannya menggelap. Entah sudah berapa lama ia tertidur, matanya mengerjap pelan. Kala menatap bergantian ruangan tempatnya tertidur kali ini, sedikit bersyukur karena ia masih berada di dalam kamarnya. Terasa handuk yang sudah mengering berada di dahinya. Retinanya menangkap sosok yang tertidur lelap di sampingnya, sembari menggenggam jemari Kala dengan kuat. "Kak...," panggil Kala dengan suaranya yang terdengar serak. Juna mengerjap kemudian dengan cepat melihat keadaan Kala. Ia meraba dahi Kala dan kemudian mengembuskan napas lega. "Syukur lo udah nggak demam lagi." Kala tersenyum. "Makasih kak," "Lo nyaris bikin gue mati berdiri semalam, demam, ngigo juga." Mata lelah Juna membuat perasaan Kala menjadi tak menentu. Rasa bersalah karena merepotkan kakaknya itu, padahal ia harus mempersiapkan banyak hal untuk ujian akhir dan ujian masuk universitas. "Maaf ya kak, selalu buat repot." Tidak ada jawaban, Juna hanya memperhatikan Kala dari atas ke bawah, memastikan bahwa adiknya sudah baik-baik saja. Perasaannya lebih tenang, walaupun ia harus terjaga semalaman. Tapi, ia sudah berjanji untuk menjaga Kala selama orang tuanya belum kembali ke rumah. *** "Lo kalau emang belum kuat mending nggak usah sekolah dulu aja." Suara Juna menginterupsi telinga Kala yang baru saja menutup pintu kamarnya. "Aku nggak apa-apa kak." Kala hanya berusaha meyakinkan, ia tidak ingin membuat Juna khawatir dan mengganggu pelajarannya di sekolah. "Nanti pulang sekolah harus pergi ke dokter ya, gue hari ini nggak ada rapat dan nggak ada jam tambahan." Mau tidak mau, Kala mengangguk. Ia pun tidak mau terus menerus membiarkan tubuhnya seperti ini dan membuat Juna kerepotan. Matanya berbinar ketika tangan Juna menyodorkan saru bungkus sandwich ekstra telur favoritnya. Senyumnya mengembang, dan memakan dengan lahap rotinya itu. Omar dan Diandra sengaja menunggunya di depan kelas, mereka menggandeng tangan Kala yang terasa dingin itu kemudian membimbingnya duduk di tempat yang sudah mereka sediakan. "Lo oke?" Diandra bertanya tapi dengan sigap lengannya sudah menempel di dahi Kala. "Gue, oke. Selalu oke." Wajah Omar terlihat khawatir, ia menatap lekat Kala di hadapannya. Kemudian duduk di sampingnya. "Lo sakit sampai tiga hari, tumben banget." Kala mengangguk, "iya kan gue nggak tau kapan bakal sakit." "Gue kepo deh, Kak Juna ngerawat lo nggak?" Perempuan itu terkikik setelah melontarkan pertanyaan yang membuat Omar terbelalak. "Iyalah, dia kan kakak gue." Chandra yang baru saja memasuki ruang kelas, tak kalah heboh melihat Kala sudah duduk di kursinya. "Wah! Akhirnya lo masuk juga. Capek gue bergaul sama dua alien ini." Laki-laki itu berbicara kemudian memeluk erat Kala. "Yeee! Seenaknya ya lo kalau ngomong." Diandra tidak terima. Kemudian memukul lengan Chandra dengan semangat. "Buset! Lo abis makan apaan sih? Sakit Di." Kala mendengar celetukan dari temannya merasa ingin tertawa. Tapi bibirnya terlalu berat untuk bisa menyunggingkan senyum. Dari semua hal berat yang pernah Kala lalui, hari ini adalah salah satu yang terberat. Semua hal tidak berjalan dengan semestinya. Mencoba fokus untuk mengikuti pelajaran dan berkali-kali ia hampir menyerah karena kepalanya pening. "Lo masih kuat? Ini masih ada satu mapel lagi, gue bisa bantu panggilin kakak lo kok." Diandra yang sejak jam pelajaran kedua sudah mewanti-wanti Kala untuk pulang saja, masih tidak menyerah. Sedangkan Kala masih tetap yakin jika ia bisa melewati hari ini dengan baik-baik saja. "Gue masih kuat kok, Di. Jangan kasih tau kak Juna. Dia harus fokus buat ujian." Wajah Diandra memelas ketika mendengar kata yang terurai dari bibir ranum Kala. "Yaudah, lo cepet sembuh ya. Nih, makan dulu lo tadi nggak ikut ke kantin, nggak nitip juga." Gadis itu menyodorkan satu bungkus roti berselai strawberry kesukaan Kala, beserta air mineral dan s**u rasa cokelat dalam kantong kresek. "Makasih, Di." Kala memakan rotinya lamat-lamat, sembari menunggu guru yang akan masuk di jam selanjutnya. Tidak sengaja, lidahnya tergigit dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tetapi gadis itu hanya diam saja, berharap segera berhenti. Kenyataannya salah, selama jam pelajaran berlangsung entah sudah berapa kali ia meneguk air mineral untuk menetralkan rasa anyir darah di mulutnya. Ketika Juna datang membawa mobil, Kala dengan sigap masuk dan duduk di tempat penumpang. "Ke rumah sakit ya, udah Kakak daftarin." Kala hanya mengangguk karena merasa lemas. "Pucet banget, tadi makan nggak?" tanyanya sembari menatap Kala yang nyaris memejamkan mata. "Makan kok, kak nanti bangunin ya. Aku ngantuk banget." Tanpa menunggu persetujuan Juna, gadis itu memejamkan mata dan beralih ke alam mimpi. *** Juna kalang kabut ketika Kala tidak merespon panggilannya. Gadis itu hanya memejamkan mata setelah ia ijin untuk tidur. Lelaki itu membopong tubuh kurus Kala untuk segera membawa masuk ke UGD. "Sus tolong adek saya." Napasnya tersengal dan entah setan dari mana ia sangat ketakutan. Melihat Kala tidak berdaya dan jatuh pingsan membuat seluruh tubuhnya gemetaran. Detik waktu seakan berjalan sangat lambat, ia menatap pintu UGD dengan takut. Dokter dan suster yang lalu lalang membuat jantung Juna berdegup semakin kencang. Lima belas menit kemudian, dokter yang menangani Kala keluar. "Dengan keluarga Kala?" ucapan sang dokter membuat Juna kebingungan. Ada indikasi penyakit auto imun karena banyak gejala yang tampak pada diri Kala. "Kami harus melakukan tes darah secara lengkap." Juna mengangguk, ia menyetujui semua asalnya adiknya baik-baik saja. "Dok lakukan semuanya dok, lakukan yang terbaik." Lelaki itu hanya pasrah karena melihat Kala yang terbaring lemah saat ini. Mukanya penuh ruam merah dan baru ia sadari ternyata lengan juga kakinya dipenuhi lebam biru. Ketika ia mengingat kedua orang tuanya yang tidak berada di samping mereka membuat emosi Juna meledak. Air matanya menetes, menggenggam tangan Kala untuk pertama kalinya. "Maafin kakak, kalau selama ini nggak peduli sama kamu." Ponsel Arjuna berdering dan menampakkan kontak Papanya yang ternyata sudah memanggil dua kali. "Halo? Juna gimana Kala?" Juna baru saja membasuh muka dan ia mulai mengatur suaranya agar tidak bergetar ketika bicara. "Pa, diagnosa sementara Kala mengidap auto imun." Tidak ada jawaban dari Papanya, namun tidak lama terdengar isak tangis yang menyayat hati Juna. Selama hidupnya, ia tidak pernah sekali pun mendengar Papanya menangis. "Jaga Kala dulu ya, Juna. Hari ini Papa pulang. Kamu jaga kesehatan juga, jangan lupa makan. Terima kasih ya, nak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD