Delapan : Cita-cita

1051 Words
Kala sadar dan menemukan dirinya sudah berbalut pakaian khusus pasien, lengan kirinya sudah tertancap selang infus. Matanya masih cukup berat untuk bisa terbuka seperti biasanya. Tapi ia merasakan dimana lengan kanannya seperti mendapat beban berat. Ia menemukan Juna tengah terlelap, wajahnya terlihat lelah tetapi Kala memilih untuk tidak mengganggunya dan gadis itu memejamkan matanya kembali. Bau antiseptik menusuk indera penciuman Kala yang sepertinya baru berfungsi secara normal. Siluet tubuh ayahnya yang begitu ia hapal membuatnya menangis. Juna yang sadar terlebih dahulu lantas berlari menuju dirinya. "Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Juna kemudian, wajahnya masih sangat terlihat lelah. Lingkaran hitam yang tiba-tiba saja menghias wajah tampannya. Dhika pun berlari mendatangi putri semata wayangnya. "Kenapa?" "Maaf aku buat kalian susah." Usapan tangan Dhika pada kepala Kala semakin terasa. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke dahi putrinya. "Nggak, kamu nggak pernah ngerepotin Papa." Juna mengangguk juga, ia masih iba melihat keadaan adiknya yang berubah drastis dalam semalam. Kali ini ruam di pipinya terlihat jelas, tidak ada rona bahagia yang sering terpancar di wajahnya. Juna hanya mampu memperhatikan. "Kak... sekolah." Lelaki itu masih menggenggam tangan Kala, ia seakan tidak mau melewatkan satu detik pun dengan adik tirinya ini. "Kakak udah ijin." Kala tertawa, belakangan ia selalu mendengar Juna menyebut kata 'Kakak'. Alih-alih lo. "Kala seneng banget, kak Juna udah mau sayang sama Kala." Sejujurnya Juna pun tidak pernah merasa membenci Kala. Hanya saja, ia tidak tahu bagaimana cara berekspresi dihadapan orang asing. Ia tidak pernah terganggu dengan kehadiran gadis itu. Hanya saja, ia selalu gengsi untuk memperlihatkannya. "Kalau seneng, cepat sembuh ya." *** Dhika terduduk lemas di kursi yang ada di depan ruangan Kala. Mendengar perkataan dokter membuat seluruh tulang di tubuhnya terasa tidak lagi mampu menopang dirinya. Satu-satunya yang tersisa dari mendiang istrinya. Anaknya. Darah dagingnya yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, kini tengah menderita. Kelainan sistem kekebalan tubuh membuat ia tidak bisa seperti gadis normal pada umumnya. Lupus. Penyakit yang entah darimana asalnya hingga membuat gadis kecilnya menderita. Air matanya menetes, ia segera berlari menuju toilet dan berkali-kali memukul dadanya. Rasa sesak itu tiba-tiba saja membuncah. Tapi ia tidak bisa memperlihatkan hal itu di depan anak-anaknya. Ia harus menjadi seseorang yang kuat, agar semua orang dapat bersandar di bahunya. Dhika mengembuskan napas berat, kemudian mencuci mukanya yang terlihat lelah. Ia menatap anak rambut yang tidak terlihat rapi seperti biasanya. Semuanya terlalu berantakan, ia tidak pernah membayangkan hidupnya pun akan seberantakan ini dalam semalam. "Kak, nanti kalau sudah pulang. Kala boleh main ke kamar kakak?" tanya gadis itu sembari melihat ke arah pintu menunggu Papanya tiba. "Boleh." Juna masih sibuk membolak-balik lembar soal yang ia baru saja ambil dari rumah. Gadis itu sadar bahwa Juna bukannya tidak suka dengan dirinya, tetapi memang terlalu dingin untuk menghangatkan dirinya. "Cita-cita kakak apa?" pertanyaan yang entah bagaimana membuat relung hati Juna menjadi hampa. Lelaki itu lupa. Ia tidak pernah menempatkan cita-citanya diurutan pertama. Tidak seperti Jian yang bisa memilih banyak cita-cita. Tidak seperti temannya yang lain. Ia tidak pernah menanyakan itu pada dirinya, selama ini Juna hanya fokus untuk membuat kedua orang tuanya melihat dirinya. Tidak untuk mencapai cita-citanya. "Ehm, apa ya? Dokter mungkin." Kala mendengar kejanggalan dari jawaban kakaknya. "Kakak tau nggak, aku dari dulu pengen banget jadi balerina." Untuk pertama kalinya, Kala membuka diri untuk orang lain. "Tapi, Mama sama Papa lebih suka kalau aku pintar di akademik... kayak Kak Juna, kayak Jian." Hati Juna tertohok, seberapa banyak ia sudah menyakiti adiknya. Tapi ia juga terjebak dalam bayang-bayang yang sama. "Kenapa kamu nggak perjuangin cita-citamu?" "Karena... Papa selalu ingat Mama tiap aku balet. Papa selalu sedih, jadi Kala lebih memilih untuk berhenti. Kala nggak suka lihat Papa sedih. Tapi sekarang Kala punya cita-cita lain, semoga Papa suka sih." Kertas soal yang sebelumnya Juna bolak-balik kini hanya menjadi saksi bisu dalam pembicaraan mereka. "Memangnya kamu nggak sedih?" Kala tersenyum sumir. "Sedihnya aku nggak ada apa-apanya dari Papa. Jadi nggak apa kalau cita-citaku berhenti sampai disitu aja." "Setiap orang berhak punya cita-cita dan berhak untuk mewujudkannya." Kala mengangguk setuju dengan pernyataan yang lelaki itu katakan. "Itu berlaku juga buat kakak." Hening menyapa ketika Kala menyelesaikan kalimatnya. "Gimana kalau kita saling bantu setelah ini?" *** Langkah Dhika terhenti di depan pintu rawat Kala. Ia mendengar sayup-satup percakapan dari kedua anaknya. Bagaimana mungkin, dirinya adalah penyebab Kala berhenti untuk merengek minta baju balet baru. Bagaimana ia adalah alasan bagi Kala untuk tidak melanjutkan cita-citanya. Setelah ini, apakah ia harus menghentikan cita-cita Kala secara permanen? Lama Dhika hanya berdiam diri di kursi depan ruangan anaknya. Ia hanya ingin mengusir pikiran yang selalu mengganggunya. Berkali-kali embusan napas berat ia keluarkan. Banyak orang berlalu lalang tak mengganggunya. Namun ia dikejutkan dengan suara daun pintu yang terbuka. Matanya menangkap sosok lelaki yang begitu mirip dengan istrinya saat ini. Juna melihat Dhika dengan tatapan bertanya. "Papa kenapa nggak masuk?" tanyanya kemudian duduk disamping Dhika. Tangan besar Dhika kemudian mengelus puncak kepala Juna. "Maaf kalau Papa dan Mama banyak menuntut kamu ya." Kerutan di wajah Juna terpancar jelas. Tetapi ia hanya mengangguk untuk meresponnya. "Kala ngapain?" Dhika berusaha mengalihkan pikiran Juna. "Tidur, barusan banget. Habis ngobrol dia bilang capek jadi mau tidur." Pelukan Dhika yang selama ini sangat jarang Juna rasakan tiba-tiba saja membuat dirinya terkejut. "Pa..." "Sebentar aja, Papa mau peluk kamu." Dhika hanya diam ketika Juna bertanya tentang adiknya. Lelaki itu seakan belum sanggup untuk memberitahu Kala yang sebenarnya. Walaupun pesan dokter, ia tetap harus menyampaikan pada gadis itu. Karena odapus* sendiri yang bisa mengetahui seberapa kapasitas maksimal tubuhnya. Hatinya tidak sekuat itu, hal buruk seakan menari di kepalanya. Ia takut Kala dengan cepat menyusul mendiang istrinya. Ia hanya takut. Dering ponsel menyadarkan lamunannya. Setelah setengah jam ia hanya melamun disamping Juna yang masih sibuk dengan soal-soalnya. "Halo, Ma." "Pa, kita baru sampai bandara. Ini mau langsung ke rumah sakit ya, Jian rewel banget mau lihat Kala." "Perlu Papa jemput?" "Nggak usah, ini sudah dapat taksi. Kirimi ruangannya, ya. Biar nggak perlu tanya lagi." "Oke, hati-hati." Sambungan telepon terputus kemudian. Ponselnya menggelap, jika semua sudah berkumpul ia harus menyiapkan hati untuk berkata jujur. Helaan napas berat berkali-kali Juna dengar dan ia tidak ingin banyak bertanya. Arjuna tahu jika ini pasti berita buruk. Ia hanya perlu menyiapkan hatinya agar tidak membebani orang tuanya. Ia hanya harus bersiap dengan banyak kemungkinan. Matanya menatap Kala yang masih tertidur, bagaimana pun mereka sudah berjanji untuk saling membantu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD