Hari Minggu bagi Kala adalah waktu yang paling tepat untuk bermalas-malasan. Ia tidak ingin dihadapkan oleh realita jika hari Minggu hanya ada sekali dalam susunan hari. Betapa Kala membayangkan setiap hari adalah Minggu. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Kala sudah bersiap untuk lari pagi. mengambil celana training, jaket juga sepatu kemudian ia tak lupa membawa ponselnya. Sebenarnya, jika boleh memilih Kala tidak akan pergi sepagi ini untuk melaksanakan olahraga, tetapi ia sudah kepalang berjanji dengan Diandra walau dengan berat hati, gadis itu tetap menemani sahabatnya yang ingin berolahraga pagi.
"Wah, tumben nih anak Papa hari Minggu nggak tidur sampai siang." Langkah Kala terhenti, ketika ia mendengar suara bariton Papanya ketika ia melewati dapur.
"Hehe, iya Pa. Sudah janjian sama Diandra."
Dhika mengangguk setelah ia meneguk segelas air mineral. Matanya terlihat lelah, Kala menyadari hal itu. "Yasudah, hati-hati ya."
Gadis itu mengangguk, kemudian mencium punggung tangan Dhika. "Papa jangan lupa istirahat ya," ucapnya setelah itu mengecup pipi kanan lelaki paruh baya yang kini menatap Kala dengan tatapan senang.
Perasaan Dhika kini campur aduk, dulu ketika Kala masih kecil ia selalu menggendongnya kemana pun gadis itu inginkan. Kini, gadis kecilnya sudah berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia begitu cantik dan sangat mirip dengan ibu kandungnya. Air mata Dhika terurai, ia meraba hatinya yang kini masih saja terasa kosong walaupun sudah mengarungi bahtera rumah tangga yang baru dengan Ariana. Rupanya, rasa itu masih tersimpan rapat, saking rapatnya Dhika tak bisa menemukan celah untuk mengeluarkan perasaan yang sudah ia pendam selama ini.
***
Diandra sudah sampai terlebih dahulu di taman tempat mereka janji untuk bertemu. Ponsel di tangannya bahkan tak luput dari indera penglihatannya, beberapa kali ia mengirimkan pesan pada Kala agar gadis itu segera sampai menemuinya. Dari kejauhan, dapat Diandra tangkap siluet Kala yang sedikit berlari, beberapa kali ia memperhatikan jam tangan yang melingkar pada lengan kirinya.
"Duh, maaf Di gue telat ya?" tanya Kala sembari menyunggingkan senyum dari bibirnya.
Diandra sedikit berdecak. "Ah, sudah biasa sih lo mah emang tukang telat."
Kala hanya tertawa kemudian menggaruk kepalanya yg tidak gatal. Beberapa helai rambut yang terikut di jemarinya.
"Loh, sekarang rambut lo rontok ya?" tanya Diandra ketika ia melihat helaian rambut Kala yang tertinggal di pakaiannya.
"Iya kayaknya gue nggak cocok sama shampoo nya deh."
Kala tidak memikirkan lagi perihal rambutnya yang rontok. Kini ia dan Diandra berlari mengelilingi taman, beberapa orang juga mengabadikan momen mingguan ini. Kala terlalu lama tidak pernah merenggangkan tubuhnya, selain pada jam olahraga di sekolah. Rasanya kini ia cukup lelah.
"Bubur yuk!" Diandra yang melihat Kala kelelahan mulai menghentikan larinya. Kebetulan sekali, perutnya juga terasa lapar.
"Yuk, mang Ujang ya?" Anggukan dari Diandra membuat senyum Kala menjadi cerah.
Warung bubur yang cukup melegenda di daerah sekolah mereka ini ramai, bahkan ketika hari sekolah tiba pun warung bubur ini tak pernah sepi pengunjung. Kala dan Diandra duduk di tengah, ia memperhatikan beberapa pengunjung yang kebanyakan juga melepas lelah setelah berolahraga. Tak lama mereka menunggu, dua porsi bubur ayam serta es teh terhidang di hadapannya. Aroma gurih serta wanginya bumbu juga bawang goreng memenuhu indera penciuman mereka.
"Foto dulu, pamer ke Omar sama Chandra." Diandra segera mengeluarkan ponselnya kemudian memoto beberapa kali, dan mengirimkannya ke grup obrolan.
Diandra
/sent picture/
ADUK JANGAN?
@.Omar @.Chandra
Chandra
ADUK!
Kala
JANGAN LAH
YAKALI DIADUK
Omar
Yang tim aduk psikopat
Chandra
Yang tim aduk ganteng banget 😎
Diandra
Mau diaduk atau nggak, yang penting mang ujang punya ya nggak? @.you
Kala
Yoilah, yakali ahahaha
Chandra
Nggak ajak-ajak!
Diandra dan Kala tertawa melihat kekonyolan teman-temannya. Setelah menjelaskan beberapa hal, akhirnya Omar memutuskan untuk segera datang ke warung tenda milik mang Ujang. Ia menggunakan setelan santai, dengan topi putih yang Kala tidak tahu ada berapa banyak.
"Udah kelar kalian?" tanyanya sesaat setelah duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Kala.
"Udah nih, tenang deh Mar kita pasti tungguin kok."
Omar menyantap pesanannya dengan tenang, mengabaikan Kala dan Diandra yang tengah berbincang dengan heboh. Sesekali ia menimpali dengan candaan, tatapannya tak luput dari wajah Kala yang kelihatan mengantuk dan sedikit lelah.
"Lo begadang, Kal?" Gadis yang ditanya hanya mengangguk lalu menyesap kembali es tehnya.
"Gue ngedrama kemarin, sampai jam satu. Keliatan banget ya gue ngantuk?"
Omar mengangguk. "Lumayan sih, kalau lo diam pasti keliatan. Cuma kalau lagi ngoceh sama Diandra ya nggak juga."
"Wah wah wah, perhatian juga lo Mar." Diandra menimpali, sedangkan Omar yang tengah memakan buburnya tersedak seketika.
"Apaan sih!"
Tawa Kala dan Diandra kemudian memenuhi warung tenda milik mang Ujang. Minggu paginya sama sekali tidak buruk.
***
Kala yang baru saja memasuki rumah, sudah disuguhi pemandangan yang sangat wajar jika ia berada di rumah terlebih di hari Minggu. Arjuna dan Dhika sedang menonton serial kartun Doraemon, entah darimana kebiasaan itu muncul yang Kala tahu mereka begitu kompak jika hari Minggu sudah tiba. Berbeda dengan Juna, Jiandra sibuk membantu ibunya di dapur. Wangi masakan yang menguar membuat perut Kala menjadi terasa lapar lagi.
"Kak mandi dulu, nanti sarapan bareng." Mama baru saja menegur Kala yang masih terdiam di bawah tangga. Gadis itu mengangguk, kemudian segera beranjak untuk membersihkan diri.
Walaupun sudah memakan satu mangkok bubur ayam, menurut Kala belum makan namanya jika belum menyantap nasi. Jadilah, gadis itu kini tengah duduk di meja makan bersama empat orang anggota keluarganya yang lain. Baru beberapa suap, Kala memperhatikan jika Jiandra merasa ada yang ingin ia katakan. Gelagatnya terlihat ragu, terlebih ketika ia ingin menyuap makanannya. Antara ingin berbicara dahulu atau menyuap makanannya dulu. Sehingga Jian membiarkan denting suara piring dan sendok yang bersahutan, mengambil seluruh atensi milik keluarga ini seutuhnya.