Arkana Jiandra Putra tidak pernah memiliki keraguan disetiap keputusan maupun tentang hal-hal yang akan ia bicarakan. Namun, belakangan setelah ia memahami situasi yang terjadi di rumah ini, rasanya Jian tidak bisa egois lagi. Ia adalah satu-satunya anak di keluarga Dhika yang memiliki kelebihan atau biasa ia sebut sebagai keistimewaan. Sedari dulu, Jian sudah berhasil membanggakan nama keluarga mereka hingga ke kancah internasional. Ia juga berhasil masuk dalam program akselerasi di SMP. Medali serta piala yang didapat pun sudah menghiasi sebagian ruangan.
Akan tetapi, Jian tidak tahu jika dibalik semua keistimewaan ada saudara-saudaranya yang selalu saja menjadi bahan perbandingan. Jian tidak pernah merasa jika keistimewaannya adalah sebuah kesalahan, sebelum kali terakhir ia mengikuti lomba matematika berskala nasional ternyata mamanya terlalu sibuk membandingkan nilai-nilainya dengan Kala. Anak lelaki itu tidak dekat dengan Kala, tetapi ia cukup tahu dijadikan bahan untuk selalu dibanding-bandingkan itu tidaklah mudah.
"Juna, gimana sekolahnya? Sudah ada rencana mau lanjut kemana?" tanya Ariana ketika ia terlebih dahulu menyelesaikan makanannya.
"Aman, Ma. Tapi Juna harus selesaikan masa bakti OSIS Juna dua bulan lagi, jadi mungkin bakal lebih sibuk dari sebelumnya." Ariana mengangguk, ia tidak pernah meragukan Juna sedikit pun.
"Jadi mau coba kedokteran?"
Juna mengangguk pasti. "Iya Ma, nanti kalau memang nggak lolos Juna pikirin buat tawaran Papa ngelanjutin perusahaan." Dhika hanya tersenyum, kemudian mengelus puncak kepala anaknya yang kebetulan berada tepat di sebelah kirinya.
"Kejar cita-citamu, Jun. Masalah perusahaan Papa masih bisa handle."
Juna yang pembawaannya tenang dan penuh perhitungan tidak pernah mengecewakan orang tuanya. Ada gemuruh yang selalu Kala rasakan ketika ia harus dihadapkan oleh keadaan seperti ini. Gadis itu, tidak pernah mendapatkan medali emas, tidak pernah membawa piala untuk dipajang pada lemari kaca yang berada di sudut ruang tamu, juga tidak pernah berada dalam deretan siswa berperingkat terbaik. Ia hanya gadis biasa, yang kesehariannya hanya berkutat dengan gawai juga buku pelajaran jika ia butuhkan.
"Kala?" tanya Ariana, gadis yang dipanggil namanya hanya mengangguk. Walaupun ia sangat paham dengan apa yang akan Mamanya katakan selanjutnya. "Mama dengar kamu kena remidial pelajaran Fisika, ya?"
Kala mengangguk, ia bukan Juna maupun Jian yang selalu dekat dekat Ariana. Sampai hari ini, Kala selalu merasa Ariana adalah orang asing yang masuk ke dalam hidupnya secara tiba-tiba. Ia berkali-kali mencoba untuk menerima, namun hatinya selalu menolak. "Maaf, Ma." Lirihnya kemudian.
"Coba kamu belajar lebih rajin lagi, contoh Kakak dan Adikmu ini. Mereka punya kesibukan diluar sekolah tapi tetap bisa mempertahankan nilai-nilai akademik. Tidak pernah remidi, tidak pernah dapat nilai pas-pasan."
"Ma-" Dhika berusaha mencegah Ariana untuk berbicara yang lebih menyakitkan lagi bagi putrinya.
"Mas, aku bicara begini juga supaya Kala bisa jadi orang yang lebih baik lagi. Supaya dia bisa mencapai apa yang dia mau. Sampai sekarang, semua jalannya selalu kita bantu. Aku mau Kala bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dan punya rasa tanggung jawab terhadap apa yang sudah ia lakukan."
Dhika memperhatikan Kala yang menunduk dalam, istrinya akhir-akhir ini selalu berambisi agar Kala menjadi seseorang yang mirip seperti Jian maupun Juna. "Iya, Papa ngerti maksud Mama. Tapi, itu juga namanya memaksakan kehendak Ma. Ada baiknya kita lihat potensi Kala ada dimana."
Mata yang sudah berkaca milik Kala itu memperhatikan Dhika dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Kepalanya terangkat, kini ia berani menatap mata milik Mamanya. "Maaf, Ma. Kala akan belajar lebih giat lagi."
"Iya, minimal nggak perlu remidi ya Kala. Kan capek banget belajarnya malah berkali-kali."
"Iya, Ma."
Akhirnya, Jian mengurungkan niatnya untuk meberitahukan keluarganya jika sebenarnya ia terpilih dalam lomba sains internasional yang kali ini seorang Jian akan bersaing dengan siswa siswi Asia Tenggara yang terpilih.
"Jangan sekarang." batinnya berkata setelah melihat perdebatan kecil antara Mama dan Kakaknya.
***
Waktu masih menunjukkan pukul dua siang, wajarnya dihari Minggu waktu siang seperti ini akan digunakan untuk bersantai maupun tidur. Tapi tidak berlaku bagi Arjuna. Lelaki itu sudah berada di depan laptop sejak tiga jam yang lalu. Membuka beberapa dokumen yang ia butuhkan untuk segera menyusun laporan pertanggungjawaban kegiatan. Ponselnya hanya sesekali ia perhatikan, ketika membutuhkan orang lain untuk membantunya menyelesaikan hal ini.
Tubuhnya terasa kaku dan matanya panas, rasanya Juna ingin segera mengistirahatkan tubuh dan otaknya sejenak. Tapi, Juna selalu bereaksi sebaliknya dari apa yang ia pikirkan. Ia mengambil bank soal setelah lima menit yang lalu mematikan laptopnya.
"Biologi sudah, Fisika sudah, matematika..." ia membolak-balik halaman buku, memperhatikan tanda terakhir yang ia tinggalkan untuk membatasi soal-soal yang sudah selesai dibahas. "Oh iya, ini baru sepuluh nomor."
Dengan tekun Juna mempelajari setiap isi, dan mengupas tuntas setiap soal. Ia mencatat kemudian menjawabnya. Ketika tengah asyik bergelung dengan soal, kepalanya terasa berdenyut kemudian cairan merah kental terjatuh di bukunya. Setetes, dua tetes. Juna dengan cepat mendongakkan kepalanya, kemudian ia mencari tisu yang berada di sudut meja.
"Ah, s**l! Lagi belajar, sering banget begini."
Beberapa kali ia mencoba menghentikan mimisannya. Menjauh dari meja dan merebahkan dirinya. Pikirannya jauh melayang.
"Ini gue yang terlalu keras, atau emang gue yang nggak mampu sih? Please gue pengen ngerasain jadi Jian yang selalu bisa bikin Mama sama Papa bangga."
Arjuna tidak pernah merasa utuh, ia selalu merasa iri ketika melihat Jian. Ada banyak hal yang selalu ia bandingkan, hidupnya dengan Jian. Hidup dalam bayang-bayang Jian yang selalu berada jauh di atasnya, membuat Juna tidak bisa hidup dengan tenang. Ia hanya merasa kurang dan selalu ingin menjadi yang terbaik.
"Gue nggak boleh lemah!" ucapnya lantas mengambil kembali buku bank soal melupakan kepalanya yang pening dan melanjutkan niatnya untuk belajar.
***
Kala Senja mungkin satu-satunya orang di rumah ini yang begitu muak dengan buku pelajaran. Selama ini ia hanya menurut perkataan orang tuanya. Mengambil jurusan di sekolah yang jauh dari keinginannya.
Gadis itu, mengambil sepasang pointe shoes miliknya. Ukuran kakinya sudah tidak muat untuk sepatu yang ia pegang. Memorinya teringat saat pertama kali mengenakan sepatu itu, di acara perpisahan ketika ia masih Taman Kanak-kanak. Kala berdiri dan mencoba untuk mengingat beberapa gerakan yang masih ia ingat.
"Kala bisa berdiri sendiri, Ma. Tapi di jalan yang Kala mau. Bukan di jalan berduri yang sekarang sedang Kala lalui."
Ia menghela napas berat, sembari memandangi ujung kakinya. Matanya menatap gelisah beberapa ruam kebiruan yang baru Kala sadari keberadaannya. Ia mendudukkan dirinya di kursi belajar, kemudian menekan salah satu ruam yang berada di kaki kanannya. Nyeri, satu hal yang Kala rasakan setelah menekannya beberapa saat.
Tapi ia tidak berhenti, Kala mencari musik klasik kemudian memutarnya. Ia sambungkan dengan speaker dan Kala mulai menari, gerakannya teratur sembari ia mengingat-ingat langkah dan tariannya tidak berhenti. Melompat seakan ia akan menuju awan, matanya terpejam menikmati musik yang mengalun. Kala menjadi dirinya sendiri kali ini di dalam ruang kedap suara yang kerap kali ia sebut sebagai tempat kebahagiaan. Kamarnya sendiri.