BAB 12 – FLASHBACK (BAD DAY)
Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke kampus naik ojek online karena sampai pagi ini masih belum ada kabar dari Marcel. Aku rasa dia tidak mungkin pulang hari ini karena kemarin dia bilang tantenya kecelakaan. Tapi apa separah itu sampai tidak bisa memberiku kabar.
Aku melirik jam di tanganku, sudah lima belas menit yang lalu aku memesan ojek tapi belum juga datang. Bisa-bisa aku telat masuk kelas kalau begini caranya. Aku mengambil ponselku dari dalam tas dan mulai mencari nomor driver ojek yang tadi ku pesan.
Sial! Nomornya tidak bisa dihubungi. Kalau tidak bisa kan sebaiknya bilang saja, biar aku bisa memesan dari driver yang lain. Sudah dipastikan aku akan telat kalau harus menunggu driver yang tidak jelas kepastiannya ini. Aku jadi mulai kesal. Aku berusaha mencari driver lain melalui aplikasi ojek online yangs sering ku gunakan. Sampai akhirnya tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahku. Aku hanya melihatnya sekilas lalu kembali tak acuh, palingan cuma orang numpang parkir. Aku masih berusaha mencari driver ojek yang bisa menjemputku.
“Hai Nes.”
Aku mengangkat kepalaku menoleh ke arah si pemilik suara yang memanggil namaku itu.
“Loh, Ben. Kok bisa ke sini? Ada apa?”
“Ini aku mau balikin barang kamu tadi malam ketinggalan di mobilku.”
Ben menyerahkan map plastik yang ia pegang lalu aku mengambilnya.
“Ya ampun in ikan lembar tugasku. Perasaan aku masukan ke dalam tas laptopku deh.” Akupun segera memeriksa isi dari tas laptopku.
Benar saja, map plastik tempatku menyimpan lembar tugasku tidak ada di dalamnya. Sepertinya aku lupa memasukannya ke dalam tas laptopku, aku hanya meletakkan di atasnya begitu saja dan memangkunya selama aku berada di dalam mobil Ben tadi malam. Dan sepertinya terjatuh ketika aku ingin keluar dari mobil.
“Makasih banyak ya kak, eh maksudnya Ben.”
“Iya sama-sama. Diperiksa dulu aja kali aja masih ada yang ketinggalan.”
Akupun mengikuti saran dari Ben, aku jadi mengecek kembali isi di dalam map plastikku dan isinya masih lengkap dengan tugasku yang harus ku kumpulkan siang ini.
“Sekali lagi makasih banget ya, tugas ini harus aku kumpulin siang ini. Maaf juga jadinya ngerespotin kamu harus nganterin ke sini segala.” Ucapku yang menjadi merasa tidak enak karena merepotkan Ben lagi, apalagi kali ini karena kecerobohanku sendiri.
“It’s okay, Nes. Lagian aku sekalian mau berangkat kerja juga kok jadi sekalian mampir. O iya, kamu berangkat kuliah jam berapa?”
“Harusnya sih sekarang, tapi ojek online yang aku pesan malah ngga ada kabarnya dari tadi.”
“Oh kalau gitu barengan sama aku aja. Gimana?”
Masa pagi-pagi gini udah dua kali ngerepotin orang yang sama sih? Tapi kalau aku harus nunggu driver ojek lain menjemputku pasti akan memerlukan waktu lebih lama lagi.
“Em.. emangnya ngga ngerepotin ya?”
“Nggalah. Apanya yang ngerepotin? Daripada ntar kamu telat.”
“Emm oke deh.”
“Ya udah, yuk.”
Lalu aku mengikuti Ben yang berjalan di depanku, sesampainya di mobil Ben membukakan pintunya untukku dan akupun masuk ke dalamnya. Kalau dipikir-pikir ada hikmahnya juga driver ojek online itu tidak jadi menjemputku. Kalau saja aku sudah pergi ke kampus sejak tadi, pasti aku tidak akan bertemu dengan Ben yang membawakan map tugasku yang ketinggalan ini, sudah pasti aku tidak bisa mengumpulkan tugas dan tidak mendapat nilai. Ternyata benar ya, selalu ada hal baik yang terselip di setiap hal buruk yang terjadi. Tergantung dari sisi mana kita mau melihatnya.
Di sepanjang perjalanan Ben lebih banyak bertanya tentang kampusku, jurusan yang ku ambil dan bagaimana aku menjalani perkuliahanku. Baru beberapa hari mengenal Ben, aku bisa merasa kalau Ben adalah orang yang komunikatif. Dia pandai mencari topik pembicaraan, dan yang lebih penting dia juga pandai membawa suasana percakapan menjadi santai dan tidak membosankan. Buktinya aku, si susah bergaul ini, baru beberapa menit duduk di samping kursi pengemudi ini sudah mulai terbiasa dan santai mengobrol dengan Ben.
“Oke sudah sampai,” Ben menghentikan mobilnya di depan pagar kampusku, “Yakin ngga mau dianterin sampe ke dalam?” tanyanya.
“Yakin. Sampai sini aja. Aku bisa masuk sendiri kok. Sekali lagi makasih banyak ya. Udah mau nagnterin tugas aku dan udah mau nganterin aku ke kampus. Kalo ngga pasti aku bakalan telat.”
“Dengan senang hati bisa membantu Vanessa Laura.”
Aku terkejut saat Ben menyebutkan nama lengkapku. Dari mana dia bisa tahu nama lengkapku? Apa mungkin kak Nina yang memberitahunya.
“Udah ngga usah kaget kayak gitu. Buruan gih masuk kelas, ntar telat loh. Jangan lupa tugasnya dikumpulin, ntar ngga dapat nilai.” Ben tertawa kecil dengan maksud mengejekku.
Bukan ejekan dengan maksud sebenarnya, dia hanya bermaksud bercanda.
“I..iya. Aku masuk dulu. Thanks.” Ucapku yang mulai merasa salah tingkah.
“Have a nice day, Nes.”
Aku yang sudah hampir turun dari mobil jadi harus kembali memalingkan badan ketika Ben mengucapkan kalimat terakhir itu.
“You too.” Jawabku lalu buru-buru keluar dari mobil.
Dengan langkah cepat aku beranjak meninggalkan mobil Ben, bahkan aku tidak tahu apakah sekarang dia sudah pergi atau belum. Aku langsung berjalan menuju kelasku. Lagi pula tidak mungkin aku diantarkan oleh Ben sampai masuk ke dalam area kampus. Hampir semua penghuni kampus ini sudah mengetahui hubunganku dengan Marcel, apa jadinya kalau mereka melihat aku diantar oleh orang lain ke kampus dan tidak ada Marcel bersama-sama denganku. Bisa-bisa akan jadi gosip, terutama mereka yang semenjak aku berpacaran dengan Marcel jadi malah kurang menyukaiku. Tentu saja mereka adalah cewek-cewek popular di kampus ini yang mengingkan untuk bisa dekat dengan Marcel. Hal-hal seperti inilah yang ku hindari kalau aku memiliki hubungan dengan Marcel, makanya aku membutuhkan waktu lebih lama untuk meyakinkan diriku sendiri untuk menerima Marcel menjadi bagian dari hidupku.
Sebenarnya aku sangat merasa tidak nyaman ada di posisi seperti sekarang ini. Jadi lebih banyak orang yang memperhatikanku saat aku berjalan atau melakukan sesuatu. Tentu saja semuanya tidak lepas dari hubunganku dengan Marcel. Aku sudah pernah menyampaikan hal ini padanya, tapi Marcel selalu berkata padaku ‘everything will be fine’ selama aku dan dia saling menjaga. Yang penting kita yakin dengan perasaan yang kita miliki, begitu katanya.
…
Tidak seperti biasanya, langit Jakarta siang ini nampak lebih cerah, sinar mataharinya pun cukup terik. Hari ini kelasku berakhir pukul dua siang. Lebih cepat dari biasanya, jadi aku juga bisa pergi ke tempat bekerja lebih awal. Aku sudah mengabari kak Nina kalau hari ini aku akan datang lebih awal karena biasanya aku akan sampai di tempatku bekerja sekitar jam setengan empat sore.
Aku berjalan keluar pagar kampus, menengok ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ada kendaraan umum yang lewat jadi aku tidak perlu memesan ojek online dan menunggu drivernya datang lagi, oh iya, soal driver ojek tadi pagi, ia ada mengabariku ketika jam perkuliahan sedang berlangsung. Katanya ban motornya bocor dan ia kehabisan kuota internet, jadi tidak bisa mengabariku. Ia berulang kali meminta maaf padaku, aku bilang tidak jadi masalah, aku bisa memahaminya. Katanya ia takut aku akan memberikan rating jelek. Aku menyakinkan abang drivernya kalau hal itu tidak akan aku lakukan. Aku tidak mungkin melakukan hal semacam itu kalau kendalanya memang seperti itu. Namanya juga hidup dan pekerjaan, selalu ada hal-hal yang terjadi di luar kendali kita. Jadi ya sudah, tidak apa-apa.
Sebuah mobil berhenti tepat di depanku dan aku mengenali mobil itu. Pemiliknya keluar. Aku menyipitkan mataku, melihat ke arahnya dengan tatapan bingung sekaligus silau karena sinar matahari. Ada apa lagi dia mendatangiku ke kampus?
“Mau ke Eighteen, kan?” tebaknya sambil berjalan mendekatiku.
“Iya. Kok kamu ada di sini?”
“Mau nganteri kamu.” Jawabnya dengan penuh percaya diri,
Aku bahkan tidak memintanya untuk menjemputku dan bagaimana bisa dia tahu kalau aku sudah selesai kuliah dan akan langsung pergi bekerja,
“Ha? Tapi aku kan ngga ada ngasih tau.”
“Tapi kan aku tau.”
Tiba-tiba aku jadi teringat Marcel, si tukang debat yang selalu punya jawaban untuk menyahuti omonganku itu, yang bahkan sampai sekarang masih belum memberiku kabar.
“Maksudku kenapa repot-repot mau anterin aku segala?”
“Hari ini kerjaanku lagi agak longgar, jadi bisa keluar sebentar buat ngopi. Jadi ya sudah, sekalian aja aku jemput mbak yang biasa nganterin kopi buatku ini.”
Aku tertawa heran mendengar jawabannya barusan. Lama-lama lelaki ini jadi penuh dengan kejutan juga, ya.
“Jadi mau sampai kapan berdiri di bawah matahari seperti ini? Nanti lama-lama rambut kita jadi bau seperti anak-anak yang main layangan seharian lho.”
Sekarang aku malah tertawa mendengar ucapannya barusan. Kenapa sih ada-adanya yang diucapkan? Receh banget ini orang.
Tanpa lebih banyak basa-basi ia langsung membukakan pintu mobilnya untukku, dan tanpa banyak protes aku langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu mengitari bagian depan mobilnya dan kini ia sudah duduk di sampingku, menyalakan menjalankan mobilnya yang tadi sengaja tidak ia matikan mesinnya.
Kadang aku masih bertanya kepada Tuhan, bagaimana orang-orang baik ini bisa datang kepadaku di waktu yang bersamaa. Marcel yang selalu menemaniku di masa-masa sulitku ketika kehilangan ibu, bahkan ia menyayangiku apa adanya saat ia bisa saja dengan mudahnya mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dariku. Kak Nina, yang sudah banyak membantuku di pekerjaan, mengajariku banyak hal, memberiku banyak nasihat, dan terkadang jadi teman curhatku. Dan sekarang Ben, walau kadang aku masih menganggapnya aneh dengan cara-caranya memulai interaksi denganku sampai saat ini ketika ia tiba-tiba muncul dan ingin mengantarkanku pergi ke tempat kerja. Perlahan-lahan aku mulai kembali mensyukuri hidup dan hal-hal kecil yang ku miliki.
…
“Ciee ada yang udah mulai mendua nih.”
Kak Nina menyenggolku dengan bagunya.
“Mendua apaan sih kak?” tanyaku sambil sibuk mengelap gelas dan menatanya kembali ke tempatnya.
“Hhmm pura-pura ngga tau lagi. Udah dianterin ngampus, terus pulangnya dijemput, dianterin ke tempat kerja, eh sampe ditungguin lagi. Sweet banget sih.” Ucap kak Nina lalu mengedip-ngedipkan matanya.
Kak Nina ini memang paling jago kalo sudah soal meledekku seperti ini.
“Soal tadi pagi dia ngga sengaja ke rumah aku karena map tugasku ketinggalan di mobilnya, terus kalo soal dia jemput aku pas pulang kuliah tadi… pasti kakak kan yang ngasih tau dia?”
“Hehe… ya abisnya dia yang nanya lu masuk kerja jam berapa, jadi ya udah gue kasih tau aja kalau hari ini lu datangnya lebih awal. Eh mana gue tau kalau dia malah jemput lu di kampus.”
Aku membuang napas kasar. Sudah ku duga. Siapa lagi kalau bukan kak Nina, bahkan soal nama lengkapku pasti Ben juga mencari tahu dari kak Nina. Tapi setelah ku pikir-pikir apa Ben memiliki keperluan tertentu padaku. Ah, aku bukannya ge-er. Maksudku orang yang sudah lama berteman saja belum tentu hafal nama lengkap temannya, sedangkan Ben baru beberapa minggu mengenalku dia sudah mencari tahu sampai ke nama lengkapku. Apa mungkin sebenarnya hal seperti itu wajar-wajar saja ya? Mungkin aku saja yang berpikir berlebihan.
Suasana hatiku sedang tidak baik, kalian pasti tahu karena apa. Marcel yang sampai sekarang belum juga membalas chat-ku. Sesibuk itu ya sampai tidak sempat mengabari. Sudah hampir dua puluh empat jam masa tidak ada memegang ponsel sama sekali.
“Heh, kenapa ngelamun?”
Kak Nina mengejutkanku, membuatku spontan menoleh ke arahnya.
“Hm?”
“Tuh ada yang mau bayar.” Ujarnya lagi.
Kebetulan aku sudah mulai bisa membantu di bagian kasir. Jadi aku juga bisa melayani pelanggan yang ingin melakukan pembayaran.
“Iya mas?”
Aku menoleh ke orang di depanku. Sial, ternyata Ben yang ingin membayar.
“Mau bayar mbak.” Sahutnya dengan mimic muka seperti sedang mengekku.
Dia pasti sempat melihat wajah cengok-ku yang sedang melamun menggalaui Marcel si menyebalkan itu. Iya, hari ini aku kan memberinya gelar ‘Si Menyebalkan’ karena dia tidak memberi kabar dan mengabaikanku.
Aku pun mengecek kembali bon pesanan Ben tadi.
“Totalnya tujuh puluh lima ribu.”
Ia lalu mengeluarkan selembar uang seratu ribu dari dalam dompetnya.
“Kembaliannya biarin aja deh, aku buru-buru soalnya. See you, Nes. Nin gue duluan ya.”
“Oh iya Ben, hati-hati ya.” Sahut kak Nina setengah berteriak karena Ben sudah beranjak pergi meninggalkan cafe ini.
Aku masih memegang uang yang tadi diberi oleh Ben. Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya ada orang yang meninggalkan dua puluh lima ribunya begitu saja hanya karena sedang bur-buru. Lain halnya kalau itu uangku, lebih baik terlambat daripada kehilangan uang yang bisa ku pakai untuk sekali makan, bahkan bisa dua kali kalau aku sedang irit-iritnya. Memang beda ceritanya kalau orang kaya. butuh waktu bekerja beberapa jam untukku bisa mendapatkan dua puluh lima ribu. Sedangkan untuk Ben, dua puluh lima ribu mungkin hanya seperti uang receh lima ratus perak.
“Marcel udah ngasih kabar, Nes?”
“Hhmm belum kak.”
Untuk sejenak kami sama-sama terdiam. Aku menyibukan diri dengan merapikan uang-uang di dalam mesin kasir, sedang kak Nina sibuk memandangi beberapa orang pelanggan di dalam cafe. Ada seorang lelaki muda di salah satu pojok cafe sedang sibuk dengan laptopnya, sementara di meja yang letaknya agak ke tengah ruangan ini ada sepasang kekasih yang sedang asik bertukar cerita, sesekali mereka terlihat tertawa bersama, yang perempuan akan memukul tangan si lelaki ketika lelaki itu berhasil mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengundang tawa si perempuan. Kemudian mereka akan kembali larut dalam percapakan mereka. Di sudut lain ada seorang perempuan muda yang nampak sibuk dengan ponselnya, bahkan chocolate milkshake dan kentang goreng yang dipesannya sejak beberapa menit lalu belum juga tersentuh, mungkin ada seseorang yang sedang ia tunggu. Tidak jauh dari tempat perempuan itu berada, segerembolan anak muda—tiga orang lelaki dan dua orang perempuan, mereka nampak sedang asik membicarakan sesuatu, sepintas terdengar mereka sedang membicara perkembangan investasi saham mereka masing-masing. Keren juga anak-anak muda jaman sekarang, sudah ngerti investasi saham. Sementara aku, yang mungkin usianya tidak jauh beda dengan mereka boro-boro mikirin investasi saham, mikirin makan buat besok aja aku harus hati-hati membagi uangnya. Jangan sampai karena besok aku boros, lusanya jadi tidak makan. Marcel pernah beberapa kali menawarkan untuk memberiku uang bulanan supaya aku tidak perlu terlalu berhemat, tapi dengan tegas aku menolak. Bukan berarti karena memiliki pacar yang punya banyak uang aku jadi bisa seenak itu dibiayai olehnya. Sekalipun dia yang menawarkan diri, tetap saja aku tidak mau. Aku masih bisa bekerja sendiri.
“Lu beneran sayang ya sama Marcel?” tanya kak Nina memecah keheningan di antara kami berdua.
“Kok kakak nanya kayak gitu? Emangnya kenapa?” aku balik bertanya.
“Ya engga apa-apa sih. Cuma lu harus bisa bedain aja antara perasaan yang benar-benar sayang sama sekadar merasa nyaman.”
“Maksudnya?”
“Ya gitu deh pokoknya.” Bukannya menjelaskan kak Nina malah memberi jawaban menggantung seperti itu. Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud pertanyaan kak Nina barusan. Kenapa juga tiba-tiba menanyakan hal seperti itu.
Sekarang aku jadi kepikiran dengan perkataan kak Nina tadi, harus bisa membedakan rasa sayang beneran atau cuma sekadar nyaman. Iya ya, apa selama ini aku cuma merasa nyaman karena Marcel yang selalu ada untukku ketika aku sedang berada di masa sulit. Hari ini mood-ku benar-benar kurang baik, apalagi setelah mendengar ucapan kak Nina tadi. Marcel si menyebalkan itu juga belum memberiku kabar, bahkan beberapa kali aku mengecek ponsel chat terakhirku pun belum dibaca. Awas saja kalau ketemu nanti.