BAB 13 – FLASHBACK (WHO IS SHE?)

2516 Words
BAB 13 – FLASHBACK (WHO IS SHE?)   Sinar matahari pagi menyeruak melalui jendela kamar yang lupa ku tutup tadi malam. Kemarin malam cafe tempatku bekerja ramai pengunjung, bahkan kami hampir tidak memiliki waktu istirahat karena sibuk melayani pelanggan yang datang. Alhasil sesampainya di rumah aku langsung mandi dan ketiduran. Mataku belum sepenuhnya terbuka, begitu pula dengan kesadaranku yang belum sepenuhnya terkumpul, tapi sayang sekali suara beriik alarm dari ponsel seolah memaksaku untuk segera bangun dan mematikannya. Masih dengan posisi duduk di atas kasur aku merentangkan kedua tanganku seperti sedang melepaskan semua penat di tubuhku. Hari ini aku tidak ada kelas di kampus, hanya saja aku perlu ke kampus untuk menyerahkan tugasku kepada dosen. Setelah itu aku mejutuskan untuk langsung pergi ke Eighteen Cafe. Iya, aku mengambil shift tambahan karena ada satu orang yang sedang ijin, lumayan buat tambahan. Aku kembali mengecek ponselku, sudah lewat dua puluh empat jam, bahkan aku sudah tidak menghitung lewat berapa, tapi masih belum ada kabar dari Marcel si menyebalkan. Kalau begini ceritanya sih, bukan hilang kabar karena sibuk, tapi memang sengaja menghilang. Entah apa alas an yang akan diberikannya nanti kalau kami bertemu. Aku tidak ingin memberikan energi negatif pada diriku sendiri dengan terus-terusan menggalaui Marcel. Aku segera beranjak dari Kasur dan menuju kamar mandi.   Hari ini aku mengenakan kemeja berwarna soft pink yang dimasukan ke celana distress jeans. Seperti biasa aku lebih senang memakai pakaian dengan model casual dan simpel. Aku menyisir rambutku yang kini panjangnya sedikit di bawah bahu. Aku menguncir satu rambutku. “Selesai.” Ucapku setelah selesai membubuhkan sedikit liptint berwarna pink pada bibirku. Aku tersenyum pada pantulan diriku di cermin, “Semangat, Nes.” Ucapku lagi memberi semangat pada diriku sendiri. Aku mulai menerapkan kebiasaan ini sejak beberapa hari lalu. Aku sempat membaca di salah satu artikel bahwa mengucapkan hal-hal positif untuk diri sendiri sebelum memulai aktivitas akan memberikan energi baik untuk menjalani kegiatan sepanjang hari. Maka dari itu aku mencoba untuk melakukannya. Aku segera beranjak ke ruang tengah, duduk di sofa lalu memasang sepatu converse hitamku. Dan tiba-tiba ponselku berdering, sebuah panggilan masuk. Dengan tergesa-gesa aku berusaha merogoh isi dalam tasku dan berusaha menemukan ponselku. Aku harap itu…   “Mia,” gumamku agak kecewa, “Halo Mi?” “Nes, lu dimana? Gue udah mau otw kampus nih.” “Oh iya iya Mi, ini gue juga udah mau jalan. Ntar kalo sampe duluan kabarin aja ya.” Aku masih sambil sibuk mengikat tali sepatuku, jadi aku menjepit ponselku di antara telinga dan pundakku. “Oh oke ntar gue kabarin deh ya. See you Nes.” “See you Mi.”   Mungkin ada baiknya untuk tidak menaruh ekspektasi apapun, bahkan untuk hal sekecil kabar darinya sekalipun. Aku meraih ranselku lalu beranjak keluar rumah. Driver ojek online yang tadi ku pesan mengatakan bahwa posisinya sudah dekat dengan rumahku. Jadi ada baiknya aku menunggu di luar saja.   …   “Thank you banget ya Mi, udah mau ngerjain lebih banyak dari gue.” Aku menyampaikan ucapan terima kasihku kepada Mia yang sudah berbaik hati mengambil bagian lebih banyak untuk tugas kelompok kami kali ini karena aku tidak memiliki banyak waktu luang untuk mengerjakan tugas. “It’s okay. Santai aja lagi. Selama gue punya waktu, gue ngga keberatan kok buat ngerjain lebih banyak, lagian lu kan kerja bukannya karena malas ngerjain.” “Hehe iya juga sih. Beberapa hari ini lagi lumayan rame sih, makanya gue ngga punya banyak waktu santai.” “Emm gitu. Tapi kerjaan di sana lancar kan?” “Lancar kok. Temen-temen di sana juga pada baik-baik. Gue betah kok.” “Syukur deh kalo gitu. Eh Nes, itu cowok lu.” Aku mengikuti arah pandangan Mia yang tertuju pada seseorang yang sedang berlarian kecil menuju ke arah kami. “Kalo gitu gue duluan ya, Nes. Bye.” “Oh iya. Hati-hati ya Mi.” Mia melambaikan tangannya padaku lalu segera beranjak pergi meninggalkanku yang kini hanya bisa terpaku menunggu Marcel yang tinggal beberapa langkah lagi sampai di depanku.   “Nes,” ia menyebut namaku dengan napas sedikit terengah-engah, “Untung kamu masih di sini.” Ia berusaha mengatur napasnya. Aku tidak menjawab apa-apa. Aku membuang pandanganku ke arah lain. Mari kita lihat alas an apa yang akan diberikannya setelah hampir dua hari tidak memberi kabar. “Nes, kamu marah ya sama aku? Maaf ya Nes. Kemarin tuh keadaannya hectic banget. Tante aku lukanya agak serius dan mami juga panik banget, jadi aku harus selalu ada di dekat mami buat nenangin mami. Makanya aku jadi ngga bisa terus-terusan megang hp.” Jelasnya panjang lebar. “Ngga bisa terus-terusan pegang hp berarti sebenarnya bisa walau sebentar kan?” “Iya sih. Tapi masalahnya…” “Setidaknya bisa ngasih tau kalau sudah sampai di Bandung. Bahkan balik ke Jakarta aja ngga ngasih kabar kan.” Aku memotong ucapannya. “Nes, bukan maksud aku ngga mau ngasih kabar tapi keadaannnya bener-bener lagi kacau aja Nes. Selain tanteku yang kecelakaan ada masalah keluarga lain yang harus diselesain.” Aku mengangguk, berusaha memahami dan menyetujui semua alasan yang diberikan oleh Marcel. Bukankah terlalu egois jika harus marah karena ia sibuk mengurusi keluarganya? Toh selama ini dia selalu berusaha ada untukku. Mungkin tidak perlu diperbesar jika memang itu alasannya. “Hhmm… ya sudah kalau emang kayak gitu alasannya. Aku mau ke tempat kerja dulu.” “Loh, kamu ngga ada kelas.” “Ngga ada. Dosen hari ini berhalangan hadir semua.” “Ya udah kalau gitu aku antarin kamu, yuk.” Marcel berusaha menarik tanganku, mungkin maksudnya ingin membawaku ke tempatmobilnya diparkir dan ingin mengantarku bekerja. “Ngga usah Cel, aku bisa pergi sendiri kok. Lagian sebentar lagi kamu ada seminar kan?” “I..iya sih. Tapi masih empat puluh menitan lagi kok. Masih keburu kok, Nes.” Aku menggelengkan kepalaku. “Aku bisa pergi sendiri, Cel. Aku udah pesan ojek kok.” Tak lama kemudian ponselku berdering. “Nih driver-nya nelpon. Kayaknya udah di depan.” Marcel memasang tampang menyesalnya karena tidak bisa mengantarkanku. Mungkin ia juga masih merasa bersalah padaku. “Aku duluan ya.” Aku melambaikan tanganku sambil memberikannya senyuman agar ia tidak lagi merasa bersalah padaku. Akupun melangkahkan kakiku meninggalkan Marcel yang masih berdiri di tempatnya. “Nanti pulangnya aku jemput ya, Nes.” Ujarnya dengan suara agak nyaring. Tanpa menoleh ke arahnya aku menganggukkan kepalaku. Setelah mendengarkan alasan yang diberikan Marcel tadi aku berusaha untuk memahaminya lagi situasi yang di alaminya kemarin. Mungkin benar kondisinya sangat hectic sampai-sampai ia tidak sempat mengabariku. Apalagi tadi ia juga mengatakan ada masalah keluarga lain yang harus diselesaikan. Meskipun aku tidak tahu apa masalahnya dan bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya sekarang, apalagi kami masih berada di lingkungan kampus. Jangan sampai kami jadi malah berdebat di sini. Bisa jadi bahan gosip satu kampus lagi. Aku berusaha memberitahu diriku sendiri bahwa Marcel itu masih punya orang tua dan keluarga yang untuh, ia masih memiliki tanggung jawab terhadap mereka, ia tidak bisa menaruh semua perhatiannya hanya kepadaku. Banyak hal yang juga harus ia perhatikan. Aku tidak boleh marah dan egois. Maka dari itu aku lebih memilih untuk segera pergi ke tempatku bekerja untuk menghindari perdebatan yang lebih panjang.   …   Jam menunjukkan pukul setengah dua siang, sejak tadi pagi Eighteen Cafe sudah ramai dikunjungi oleh pelanggan. Entah berapa kali aku mondar-mandir, menghampiri pelanggan yang baru datang sampai bolak-balik mengantarkan pesanan mereka. Kak Nina masih belum datang karena minggu ini dia kebagian shift malam. Mungkin sebentar lagi dia akan datang.   “Permisi kak, ini pesanannya.” Ucapku sambil meletakkan gelas minuman dan piring makanan ke atas meja. “Lu Vanessa ‘kan?” tiba-tiba salah seorang dari segerombolan perempuan itu menegurku. Aku mengangkat kepalaku menoleh ke arah perempuan itu. “I..iya saya Vanessa. Kakak siapa ya? Tau dari mana nama saya?” “Gue Nadine, kakak tingkat lu di kampus.” “Oh gitu. Halo kak.” Aku sedikit menundukkan kepala sebagai tanda menghormati kakak tingkat. Ya walaupun aku sendiri tidak mengenalinya. Bahkan belum pernah melihat wajahnya di kampus. Tapi yang jelas dia cantik. “Jadi pacarnya Marcel kerja di cafe toh.” Apa maksud dari ucapan Nadine barusan? Kenapa aku mendengar ucapannya itu seperti sebuah sindiran bahkan terdengar seperti mengejekku. Ditambah lagi ia mengakhiri ucapannya sambil tersenyum sinis. “Bisa-bisanya wakil ketua BEM kalah saing sama pelayan cafe. Gimana sih lu Nad?” ucap salah seorang daro teman-teman Nadine kemudian mereka tertawa. “Atau lu ngelamar jadi pelayan aja di cafe ini Nad, biar bisa sebanding sama dia.” Seorang yang lain ikut menimpali dan lagi, mereka tertawa atas kalimat yang mungkin bagi mereka lucu namun sangat menyakitkan bagiku. Rasanya baru kali ini aku mendengar ada orang yang secara terang-terangab menghinaku. “Nes!” Seseorang memanggilku membuatku langsung menoleh ke arah pemilik suara itu. “Udah kelar kan ngantar pesanannya?” Ternyata itu kak Nina yang berdiri tidak jauh dari tempatku berdiri mematung seperti orang bodoh dan membiarkan diriku diejek oleh Nadine dan teman-temannya. “Udah kan? Ayo ke belakang. Bantuin gue.” Ujar kak Nina lalu dengan raut wajah kesalnya ia berjalan menjauh. Aku memutar kembali badanku, Nadine masih memandangiku dengan tatapan sinisnya. “Permisi kak.” Ucapku dengan suara pelan, mungkin hampir tidak terdengar oleh mereka, lalu akupun beranjak menyusul kak Nina.   Aku menuju dapur belakang tempat kak Nina sekarang berada. “Kak…” “Mereka siapa?” “Kakak tingkat di kampus kak.” “Terus kenapa mereka ngata-ngatain lu kayak gitu? Lu ada masalah apa sama mereka?” “Ngga ada kak. Cuma salah satu di antara mereka kayaknya pernah dekat sama Marcel dan dia marah sama aku karena sekarang malah aku yang jadian sama Marcel.” “Asli gue sih kesel banget ngeliat dia ngomong kayak gitu ke lu. Untung lagi di tempat kerja, kalau engga udah gue jambak tu cewek, Lagian kenapa lu diam aja sih?” “Kan kaka sendiri yang bilang kita lagi di tempat kerja. Masa mau bikin keributan di sini. Lagian tamu kan adalah raja kak.” “Iya juga sih. Tapi dia tadi tuh keterlaluan banget tau Nes.” “Ya terus aku bisa apa? Lagian dia juga bener kok, aku cuma pelayan cafe ngga ada apa-apanya dibandingkan dia.” “Kalau gitu lu kasih tau tuh si Marcel biar dia yang ngomong langsung ke cewek itu.” Aku hanya terdiam mendengar omelan kak Nina. “Marcel pernah cerita tentang dia ngga?” tanya kak Nina lagi. Aku menggelengkan kepala. “Ck, pokoknya lu harus kasih tau Marcel, biar itu cewek dan teman-temannya ngga gangguin lu lagi. Jangan sampai ntar kalau ketemu di kampus lu dibully lagi sama mereka.”   …   Jam hampir menunjukkan pukul dua belas malam, suasana cafe yang tadinya ramai kini berubah sepia, hanya tersisa kami para karyawan cafe. Eighteen Cafe memang hanya buka dari jam sepuluh pagi sampai jam dua belas malam. Semua orang mulai sibuk bebenah, merapikan meja dan kursi, menyapu dan mengepel lantai. Malam ini aku kebagian tugas mengepel, mulai dari depan pintu masuk sampai ke dapur, kata kak Dimas, bagian-bagian yang tidak terlihat oleh pelanggan juga tetap harus dijaga kebersihannya. Sementara kak Nina, ia sedang sibuk menghitung uang pemasukan hari ini di mesin kasir. “Ah akhirnya selesai.” Ucapku sambil menepis keringat yang membasahi dahiku. Aku kemudian membawa peralatan pel ke toilet, membersihkannya dan meletakkan kembali ke tempat semula. Lalu aku berjalan menuju loker tempat aku menyimpan tasku. Biasanya aku juga menyimpan laptop dan buku-buku kuliahku di lokerku, tapi hari ini tidak karena aku tidak berkuliah. Rasanya sedikit enteng pulang bekerja hanya membawa sat utas saja, tidak seperti biasanya. Sudah lelah bekerja seharian ditambah lagi harus membawa tentengan yang banyak. Tapi tidak apa-apa, aku kan kuat hehe. Aku menghampiri kak Nina yang kelihatannya sudah selesai menghitung uang di mesin kasir. “Udah kak?” “Udah nih. Eh, udah di jemput tuh.” Ujar kak Nina melihat ke luar pintu yang terbuat dari kaca itu. Aku mengikuti pandangan kak Nina. Marcel. Ternyata benar dia menjemputku malam ini. “Udah balik sana. Gue juga abis ini ngambil tas terus balik.” “Ya udah deh, aku duluan ya.” “Eh, jangan lupa kasih tau Marcel soal cewek tadi siang.” Aku hanya mengangguk kemudian berlalu meninggalkan kak Nina yang masih sibuk merapikan uang-uang di dalam mesir kasir itu. Aku juga tidak tahu apa aku harus menceritakan pada Marcel soal Nadine atau aku harus diam saja. Aku takut kalau aku menceritakan pada Marcel bisa menimbulkan masalah lain. Bagaimana kalau Marcel menegur Nadine lalu Nadine semakin murka padaku kemudian aku semakin tidak disukai oleh teman-teman Nadin. Parahnya, bagaimana kalau mereka menghasut kakak tingkat yang lain untuk tidak menyukaiku? Apa sebaiknya aku diam saja?   “Udah lama ya?” tanyaku saat tida di depan Marcel yang sedang menyandarkan tubuhnya pada tepi pintu. “Eh, engga kok,” Jawabnya agak terkejut, “Udah beres semua?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. “Ya udah, yuk.” Ia memberikan tangannya untuk ku raih. Ia meminta untuk menggandeng tanganku. Aku agak ragu, sejenak aku melihat ke arah tangan itu. Bergandengan di tempat umum? “Udah ayok.” Nampaknya ia tidak sabaran, jadi ia langsung mengambil tanganku lalu menggandengku menuju mobilnya.   Suasana di dalam mobil cukup hening, kami tidak saling bicara, pun tidak ada musik yang diputar, hanya beberapa suara kendaran dari luar yang samar-samar terdengar sampai ke dalam mobil. “Nes, kamu marah ya?” tanya Marcel memecah keheningan di antara kamu. “Engga kok.” Jawabku datar dengan tatapan lurus ke depan. “Bener? Kalau kamu mau marah-marah ke aku ngga apa-apa kok Nes, marah aja. Dari pada kamu diam memendam sendiri.” Aku menghela napas lalu mengarahkan pandanganku kepadanya. “Engga Marcel, aku ngga marah kok. Lagian kan kamu juga udah jelasin ke aku. Jadi buat apa aku marah.” “Ya siapa tahu aja kamu masih belum puas sama penjelasanku tadi pagi.” “Engga kok, Aku cuma lagi agak capek aja.” ”Hmm oke deh kalau gitu.”   Tiba-tiba tangan kirinya meraih tangan kananku. Sambil menyetir, ia menggenggam tanganku, ibu jarinya memusut punggung tanganku dengan perlahan. “Semangat ya.” Ucapnya beberapa saat menoleh ke arahku lalu kembali fokus melihat jalan di depan. “Iya, makasih.” Jawabku dengan tulus.   Kami terdiam menikmati suasana hening di dalam mobil, mengabaikan berisiknya lalu Lalang kendaraan di luar sana, tentu saja, ini Jakarta, tidak peduli mau jam berapa Jakarta tetaplah kota sibuk yang tidak pernah tidur. Aku dan Marcel tenggelam dalam pikiran kami masing-masing, walau aku tidak tahu apa yang sedang ada di pikirannya, tapi yang jelas saat ini aku sedang memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan, menyampaikan kepada Marcel soal Nadine, atau mengabaikannya. Lagipula sekarang Marcel sudah bersamaku, perihal dia dengan Nadine, kalaupun mereka pernah memiliki hubungan lebih dari sekadar teman toh itu sudah berlalu. Untuk apa juga aku membahas hal-hal yang sudah berlalu. Lebih baik aku fokus pada apa yang hari ini dan besok akan kami jalani. Entahlah, dalam hidup ini aku terlalu banyak pertimbangan. Untuk melakukan suatu hal, aku harus memastikan banyak hal lainnya baik-baik saja. Aku harus berhati-hati dalam mengambil tindakan, sekecil apapun itu. Aku hanya tidak ingin menyusahkan diriku sendiri atas kecerobohan yang ku buat.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD