BAB 14 – FLASHBACK (ANOTHER PAIN)
I'll never be your mother's favorite
Uh, your daddy can't even look me in the eye
Sepenggal lirik lagu dari Bruno Mars yang tengah memenuhi isi ruangan cafe ini seolah benar-benar menggambarkan diriku saat ini. Setahun berlalu sejak pertama kali aku bekerja di Eighteen Cafe, dan setahu pula sudah berlalu sejak aku mempercayakan hatiku pada Marcel, dan sepanjang waktu itu baru dua bulan yang lalu aku mengetahui bahwa orang tua Marcel tidak menyukai kehadiranku di kehidupan anaknya. Apa lagi kalau bukan alasan klasik para orang tua kaya yang tidak menyetujui anaknya berhubungan dengan orang biasa yang status sosialnya jauh berada di bawah mereka.
Bukan Marcel yang mengatakannya secara langsung kepadaku, tebak siapa? Ibunya, yang biasa Marcel panggil dengan sebutan mami. Aku memanggilnya tante Liana. Hari itu tante Liana mendatangiku ke cafe tempatku bekerja ini.
…
Hari itu…
Seorang wanita hampir paruh baya memasuki ruang cafe, tampilannya terlihat begitu elegan dan berwibawa. Dari cara berjalannya, caranya dengan percaya diri mengangkat kepala ketika berjalan sudah cukup mendeskripsikan bahwa ia bukanlah orang biasa. Pasti orang kaya, mungkin seperti itu pikiran orang-orang yang pertama kali melihatnya. Nampaknya wanita itu baru pertama kali datang ke sini, karena aku belum pernah melihatnya sebelumnya.
Tidak seperti pelanggan yang lain yang akan langsung memilih satu meja dan duduk di sana sambil menunggu salah satu dari kami membawakan list menu, wanita itu justru langsung mendatangi meja barista. Beberapa pasang mata memperhatikan langkahnya sampai ia tiba di tempat yang ingin ia tuju.
“Selamat siang bu, mau pesan apa?” Sapa Adit, slaah seorang karyawan di sini.
“Saya ngga mau pesan apa-apa sih mas. Saya cuma mau ketemu sama yang namanya Vanessa.”
Semua orang terkejut mendengarnya, terlebih aku yang saat itu sedang membelakangi mereka karena sedang membersihkan peralatan mesin kopi. Aku langsung membalikkan badan ketika mendengar namaku disebut oleh wanita itu. Dengan langkah agak ragu aku berjalan mendekat.
“Saya Vanessa bu. Ada apa ya bu?” tanyaku dengan hati-hati.
Beberapa saat dia menatapku, seperti sedang memperhatikan setiap senti dari penampilanku.
“Saya ada sedikit keperluan sama kamu. Bisa kita bicara sebentar?” tanyanya dengan suara yang terdengar dingin namun diwaktu yang bersamaan juga terdengar tegas.
Aku melirik ke teman-teman kerjaku yang lain. Tatap mata mereka seolah mengisyaratkan bahwa mereka memberiku ijin untuk meninggalkan pekerjaanku sebentar.
“Benta ya, Dit.” Ucapku pada Adit sembari memberikan lap yang ku gunakan untuk membersihkan mesin kopi tadi.
Jujur saja, aku gugup dan cukup panik. Aku tidak tahu masalah apa yang sudah ku buat dengan wanita yang tengah berjalan di belakangku ini sehingga ia mencariku sampai ke tempat kerjaku. Aku memilih meja paling pojok agar tidak terlalu menarik perhatian orang-orang.
“Silahkan bu.” Ujarku sembari menarikkan kursi untuk wanita itu duduk.
Aku duduk di hadapannya.
“Jadi, ibu ada keperluan apa dengan saya?” tanyaku masih dengan hati-hati.
“Saya maminya Marcel.” Sahutnya dengan suara datar.
Aku melebarkan mataku. Jadi yang ada dihadapanku saat ini adalah maminya Marcel? Aku memang belum pernah bertemu dengan keluarga Marcel. Aku hanya mengetahui nama papinya, Handoko Sanjaya dan maminya Liana Sanjaya. Jadi ini tante Liana.
Aku masih bergeming saking gugupnya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku takut salah bicara.
“Mugkin sedikit banyak kamu sudah mendengar tentang keluarga kami dari Marcel. Begitu juga dengan kami yang sudah sedikit mendengar tentang kamu. Saya juga tahu selama setahu belakangan ini anak saya menjalin hubungan dengan kamu. Kamu adik tingkatnya di kampus kan?”
Aku mengangkat kepalaku, melihat ke arah tante Liana yang menatapku dengan tatapan dinginnya.
“Iya, benar tante.”
“Kamu mahasiswi jalur beasiswa prestasi akademik kan?” tanyanya lagi,
“Iya tante. Kuliah saya full dari beasiswa.” Jawabku dengan suara rendah, entah kenapa tatapan tante Liana begitu mengintimidasiku.
“Saya tau kamu perempuan yang pintar dan pekerja keras. Tapi Vanessa, dua hal itu saja tidak cukup untuk menjadi pendamping anak saya.”
Seketika dadaku terasa sesak, detak jantungku seketika memburu. Aku mengerti betul maksud dari kalimat yang diucapkan tante Liana barusan. Ia pasti ingin mengatakan bahwa aku tidak pantas untuk Marcel. Begitu kan?
“Sejak awal saya sudah memberi tahu Marcel untuk mengakhiri hubungan kalian sebelum terlalu jauh dan akan menyakiti kamu. Tapi rupanya Marcel memang keras kepala, dia bahkan memilih untuk tetap memacari kamu ketimbang mendengarkan saya.”
Ucapnya terjeda beberapa saat. Entah tante Liana menunggu responku atau apa. Yang jelas aku tidak bisa memberikan respon apa-apa dengan setiap kalimat yang tente Liana ucapkan. Hanya bisa mendengarkan dan mencernanya dengan baik.
“Vanessa, kamu tahu kan sebentar lagi Marcel akan lulus?”
“Iya tante, saya tahu.” Jawabku dengan kepala tentunduk.
“Marcel akan melanjutkan sekolah hukumnya di Inggris.”
Aku mengangkat kepalaku menatap ke arah tante Liana.
“Dia belum memberi tahu kamu kan?”
Seolah mengetahui jawabanku yang bahkan belum ku sampaikan tante Liana langsung melanjutkan bicaranya.
“Karena menyekolahkan Marcel sampai sejauh itu bukanlah hal yang mudah, jadi saya tidak mau kamu menjadi penghalang untuk kepergian Marcel. Lagipula saya yakin, Marcel dan kamu akan mendapatkan orang yang lebih baik dan sepadan sesuai ukuran kalian masing-masing.”
Ucapannya itu mungkin terdengar bijaksana, tapi aku merasa seperti ada maksud lain yang tersirat. Seperti tante Liana ingin mengatakan bahwa aku ini hanya perempuan miskin yang sama sekali tidak sepadan dengan anaknya.
Aku masih terdiam, kembali menunduk, aku tidak tahu harus bagaimana, tidak tahu harus mengatakan apa. Yang aku tahu dengan pasti adalah setelah ini aku benar-benar harus mengakhiri hubunganku dengan Marcel.
“Saya tidak punya banyak waktu. Saya rasa kamu sudah mengerti denga napa yang saya sampaikan ini. Saya terpaksa harus mengatakannya langsung ke kamu karena kalau saya suruh Marcel pasti dia tidak akan mau memberitahu kamu.”
“Iya tante saya ngerti.” Jawabku,
“Kalau gitu terima kasih sudah meluangkan waktu kerjamu. Saya permisi.”
Tante Liana bangkit dari kursi tempat ia duduk kemudian beranjak pergi meninggalkanku yang masih duduk terdiam dan berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi padaku. Aku pikir drama semacam ini hanya ada di novel dan film. Tapi kali ini benar-benar terjadi pada diriku sendiri. Seorang wanita telah menghampiriku dan memintaku untuk menjauhi anaknya karena aku hanya perempuan bisa yang dianggap tidak pantas untuk bersanding dengan anaknya yang berasal dari keluarga kaya raya.
Ini memang salahku. Harusnya sejak awal aku sudah tahu siapa aku dan siapa dia. Harusnya dari awal aku menyadari bahwa kami memang berbeda. Tante Liana benar, Marcel berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari aku, seseorang yang sepadan dengannya, seseorang yang tidak akan menghalangi mimpinya yang terlampau tinggi untuk aku yang jauh berada di bawahnya. Seharusnya dari awal aku sadar akan semua hal itu. Harusnya dari awal aku tidak membiarkan perasaan-perasaan bodoh ini mengelabui kenyataan yang ada. Iya, harusnya memangnya tidak sampai sejauh ini.
“Tante Liana.”
Aku menoleh ke arah pintu cafe. Di sana sudah ada kak Nina yang sedang berdiri di ambang pintu. Seperti kak Nina baru saja ingin masuk namun terhalang oleh tante Liana yang ingin keluar meninggalkan cafe.
“Ah ternyata kamu juga kerja di sini?” tanya tante Liana yang kemudian mengalihkan pandangannya kepadaku lalu bergantian kembali ke kak Nina, “Kebetulan sekali ya.” Ucapnya dengan nada sinis, “Ya sudah kalau gitu saya permisi dulu.” Lanjutnya sambil beranjak pergi melalui kak Nina yang kini tatapannya mengikuti arah perginya tante Liana.
“Nes!” kak Nina berlari ke arahku, “Maminya Marcel habis nemuin lu ya?” tanya kak Nina.
“Kok kakak tau itu tadi maminya Marcel?” tanyaku heran karena aku belum pernah menceritakan perihal keluarga Marcel, bahkan aku saja baru pertama kali bertemu dengan tante Liana. Lalu bagaimana kak Nina bisa mengenali maminya Marcel.
“Panjang ceritanya. Ya udah kita ke belakang dulu yuk. Ngga enak diliatin yang lain.”
Kak Nina lalu menarik tanganku untuk mengikutinya.
“Maminya Marcel ngapain ke sini, Nes?” tanya kak Nina dengan raut wajah cemas seperti sangat ingin mengetahui apa yang baru saja terjadi antara aku dan tante Liana.
“Tante Liana minta aku buat putus sama Marcel.” Jawabku datar.
“Ha?! Seriusan Nes?”
“Ya masa aku bercanda kak. Menurut kakak buat apalagi maminya Marcel sampe ke sini?”
“Parah banget sih. Ternyata keluarga mereka ngga berubah-berubah ya.”
“Maksudnya?” tanyaku yang semakin bingung dengan ucapan kak Nina. Kak Nina seperti sudah mengenal keluarga Marcel sejak lama sampai-sampai ia bisa berkata seperti itu.
Kak Nina membuang napas kasar. Ia seperti sedang mengatur emosinya agar bisa menceritakan semuanya kepadaku.
“Lu tau William kakaknya Marcel kan?”
“Iya tau.”
“Gue dulu pernah satu SMA sama William. Sama kayak lu, waktu itu gue juga anak beasiswa. Cuma bedanya gue ngga ngelanjutin sampe kuliah, karena gue juga ngga sepintar itu buat dapetin beasiswa di universitas. Selama SMA gue pacarana sama William, dan ketika kami lulus dan orang tuanya tau kalau gue ngga lanjut kuliah karena gue ngga punya cukup biaya, maminya nyuruh William buat mutusin gue.”
“Ha?! Jadi kakak udah lebih dulu kenal sama keluarganya Marcel?”
“Bisa dibilang gitu. Tapi Marcel ngga begitu mengenali gue, karena kejadian itu juga udah beberapa tahun yang lalu dan waktu itu gue juga ngga pernah ke rumah mereka dan ketemu sama keluarganya. Alasanny sama, karena takut orang tuanya ngga setuju. Dan gue ngga nyangka kalau akhirnya bakal kejadian juga sama lu, Nes.” Jelas kak Nina lalu memegang pundakku seperti berusaha menguatkanku.
Bukankah ini suatu kebetulan yang menyedihkan? Bagaimana bisa aku bertemu dan berteman dengan seseorang yang juga ditolak oleh keluarga yang sekarang juga menolakku? Bercandaan macam apa lagi yang sedang diberikan kehidupan ini padaku?
“Berarti dari awal kakak udah tahu kalau keluarga Marcel mungkin ngga akan setuju sama hubungan kami?”
Kaka Nina mengangguk perlahan.
“Terus kenapa kakak ngga cerita dan ngasih tahu aku?”
“Nes, awalnya gue juga mau cerita sama lu. Makanya beberapa kali gue nanya apa lu bener-bener saya atau merasa nyaman sama Marcel dan apa lu benar-benar merasa Marcel juga tulus sayang sama lu. Tapi makin hari gue liat kalian makin lengket, Marcel juga seolah meyakinkan elu kalau kalian bisa terus sama-sama, dan gue ngeliat lu bisa bahagia lagi setelah kepergian ibu lu semenjak ada Marcel. Gue ngga tega kalau harus ngasih tau ke elu Nes. Lu ngerti kan maksud gue?”
Kak Nina benar. Selama ini aku merasa bahagia dengan kehadiran Marcel. Aku merasa Marcel bisa mengembalikan warna-warna itu dalam hidupku. Aku merasa Marcel bisa membuatku kembali bersemangat menjalani hari-hariku. Dan ya, salahku adalah menggantungkan semua kebahagiaan itu padanya.
“It’s okay kak. Kak Nina ngga salah kok dengan ngga ngasih tau aku. Cuma aja aku dan Marcel memang ngga ditakdirkan untuk bersama.”
“Sabar ya Nes, gue juga pernah ada di posisi lu sekarang. Gue tau rasanya gimana.”
Kak Nina lalu memelukku dan tanpa terasa air mataku jatuh, air mata yang sedari tadi ku tahan sekuat tenaga agar tidak terjatuh di hadapan tante Liana.
…
Dua bulan berlalu sejak tante Liana mendatangiku dan memintaku untuk mengakhiri hubungan dengan Marcel, anaknya. Dan selama dua bulan itu pula aku belum bertemu dengan Marcel. Aku tahu ia sedang sangat sibuk mempersiapkan sidang kelulusannya akhir minggu ini. Kami memang belum putus secara resmi, tapi entah tante Liana juga sudah menyampaikannya pada Marcel atau belum yang jelas selama dua bulan ini kami bahkan hanya sesekali mengirim kabar lewat chat. Marcel tidak menelpon apalagi mengantar jemputku seperti dulu. Aku juga tidak pernah lagi melihatnya di kampus. Aku tahu mempersiapkan sidang kelulusan memang tidak semudah itu dan membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan pikirn, tapi entah kenapa aku merasa seolah ia ingin mulai membiasakan diriku tanpa dirinya.
Sedih? tentu saja. Entah sudah berapa banyak air mata yang ku keluarkan setiap malam di rumah. Hatiku benar-benar lebih kelam dari langit mendung. Rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku tahu betul bahwa aku memang harus mengakhiri hubunganku dengan Marcel tapi di sisi lain aku tidak bisa menahan perasaanku yang sangat merindukannya. Setiap hari aku bertanya, apakah dia juga merindukanku? Atau justru tidak sama sekali? Ia bahkan tahan tidak bertemu denganku selama dua bulan ini. Apa ia sengaja tidak memberiku kesempatan untuk memiliki kenangan-kenangan terakhir bersamanya? Atau justru lebih baik seperti ini? Berpisah tanpa meninggalkan kenangan-kenangan untuk terakhir kalinya? Aku tidak memiliki cukup keberanian untuk menghubunginya duluan. Aku terlalu takut dengan kenyataan-kenyataan yang akan terjadi. Aku hanya berpura-pura menjadi baik-baik saja, karena aku harus tetap melanjutkan hidupku. Bahkan ketika nanti Marcel datang dan mengatakan untuk mengakhiri semuanya, toh hidupku akan terus berjalan kan?
Hari-hari akan tetap berganti. Entah patah pada hati itu akan sembuh dengan cepat atau lambat, hidup akan terus berjalan, ia tidak akan menungguku sampai hatiku kembali sembuh. Tidak, sama sekali tidak. Hidup akan terus melanjutkan perjalanannya, tidak peduli kau mau menghadapinya atau tidak ia akan tetap berjalan ke depan.
Terima kasih semesta, karena aku harus merasakan sakit itu sekali lagi. Setelah ayah, lalu ibu, dan sekarang aku kembali terluka karena harus melepaskan kekasihku.