BAB 15 – FLASHBACK (THE LAST NIGHT_PART 1)

2432 Words
BAB 15 – FLASHBACK (THE LAST NIGHT_PART 1)   Langit Jakarta tidak begitu cerah, entah karena mendung atau karna tebalnya polusi di udara. Setelah tidak lagi memiliki komunikasi yang baik dengan Marcel, aku lebih sering pergi ke kampus dan tempat kerja menggunakan ojek online, kalau sedang hujan dan punya uang lebih, aku akan naik taksi online. Kalau tidak punya uang? Ya pakai jas hujan yang dibawa driver ojeknya. Kuliahku sudah memasuki semester lima akhir, sebentar lagi ujian, tapi aku juga tetap harus bekerja. Kalau ditanya lelah atau tidak, jawabannya adalah sangat. Apalagi kalau di akhir pekan saat cafe tempatku bekerja sedang ramai pengunjung sedang tuga-tugas yang deadline semakin mepet belum juga selesai ku kerjakan, rasanya ingin menangis dan berteriak. Tapi apa boleh buat, ini pilihanku. Ah bukan, kalau boleh jujur hidup seperti ini bukanlah pilihanku. Memangnya siapa yang mau memilih hidup sulit seperti ini? Mahasiswa mana yang mau dengan sengaja membagi fokusnya untuk sambil bekerja jika bisa hanya fokus pada kuliahnya? Kehidupanlah yang memaksaku untuk memilih jalan seperti. Tapi sudahlah, terus menggerutu pada hidup juga todak akan mengubah apa-apa. Malah hanya akan membuat hatiku semakin lelah.   “Silahkan dinikmati.” Ucapku setelah meletakkan gelas terakhir di meja tempat segerombolan anak muda sedang sibuk dengan beberapa laptop dan buku mereka. Entah mahasiswa atau pelajar SMA, tapi yang jelas mereka seperti sedang kerja kelompok di sini. Aku berlalu sambil melihat sekeliling, memastikan setiap meja telah mendapatkan pesanan mereka. Seperti sudah semua. Aku lalu berjalan ke arah dapur untuk memeriksa apa ada piring atau gelas kotor yang perlu ku cuci.   “Nes,” kak Nina datang menghampiriku yang tengah membuang ke dalam kantong sampah sisa-sisa makanan yang masih tertinggal pada piring-piring kotor. “Iya kak?” aku menoleh ke arah kak Nina yang sekarang sudah berada di sampingku. “Lu ngga pengen ambil cuti beberapa hari aja?” tanyanya dengan wajah yang nampak cemas. “Buat apa?” aku balik bertanya. Tanganku masih sibuk membersihkan piring-piring kotor itu. “Lu lagi ngga baik-baik aja kan?” Aku menghela napas, meletakkan piring yang ku pegang pada wastafel, lalu menatap kak Nina. “Kak, aku itu cuma patah hati, bukan kena demam berdarah, ngapai pake cuti segala sih? I’m okay kak.” Ucapku lalu memberikan senyuman lebar. Kak Nina menatapku dengan prihatin. Mungkin karena dia pernah ada di posisi yang sama denganku sekarang, jadi dia tahu betul apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. “Semangat ya. Gue ke depan dulu.” Aku hanya mengangguk dan kemudian kak Nina berlalu meninggalkanku.   Kak Nina benar, aku sedang tidak baik-baik saja. Kalian yang pernah patah hati pasti tahu bagaimana rasanya. Sedih, marah, kecewa, dan rindu melebur jadi satu. “Untuk apa mencari dia yang tidak mencarimu, untuk apa menangisi dia yang bahkan tidak peduli tentang bagaimana keadaanmu” rasanya sudah berulang kali aku mengucapkan kalimat semacam itu pada diriku sendiri. Tentu saja aku sedang berusaha menguatkan diriku, tapi sayang, hatiku terlalu lemah untuk kembali menangis hampir tiap malam. Kalau tidak bisa menjaga sampai akhir, lalu kenapa berani untuk memulai? Kalaupun memang sudah tidak ada jalan yang bisa kita lewati bersama, kenapa tidak datang dan memberi penjelasan? Kenapa seolah-olah perasaanku tidaklah penting, sampai tega sekali membiarkanku sendirian tanpa kepastian seperti ini? Kemana kamu yang dulu berjanji akan menjagaku setelah kepergian ibu? Kemana kamu yang akan marah jika aku pergi duluan ke kampus tanpa menunggumu menjemputku? Kemana kamu yang yang akan marah besar jika aku lebih memilih untuk pulang naik ojek padah hari sudah tengah malam? Lihat sekarang, bahkan menanyakan apakah aku sudah sampai di rumah atau belum saja tidak. Dasar lemah, air mataku jatuh lagi kan. Piring dan gelas itu harusnya dicuci pakai sabun cuci piring, bukan pakai air mata, Nes. Hapus air matamu dan lanjutkan pekerjaanmu. Kamu harus kuat, hidupmu harus terus berjalan bahkan tanpa dia. …   Alunan instrumental dari bebagai lagu barat yang belakangan sedang hits terdengar mememnuhi ruangan cafe, menemani mereka yang sedang duduk sambil menikmati setiap menu yang telah dipesan. Ada yang sedang tertawa bersama menikmati hal-hal lucu yang menjadi bahan percakapan mereka, adapula yang sedang serius membicarakan sesuatu, terdengar seperti sedang membiacrakan bisnis terbaru mereka, ada seorang lelaki yang sedang asik dengan buku di tangannya, entah novel atau jenis buku apa, namun kopi yang ia pesan nampaknya sudah mulai dingin karena ia terlalu asik dengan bukunya. Semua orang terlihat begitu menikmati momen dalam hidupnya. Lihatlah mereka yang sedang asik tertawa, seperti tidak ada beban yang menggusarkan hati mereka, bahkan lelaki yang sedang asik dengan bukunya tadi terlihat seperti tidak peduli dengan hiruk-pikuk di sekitarnya, ia hanya peduli dengan buku di tangannya, larut dalam setiap kata yang dibacanya. Saat ini aku iri pada mereka. Aku sedang tidak bisa seperti itu, aku sedang tidak bisa menikmati setiap waktu yang berlalu, perasanku terlalu kacau hanya untuk sekadar tersenyum. Kecuali ketika aku terpaksa harus tersenyum pada setiap pelanggan yang datang. Selebihnya, aku lebih banyak diam berusaha mengalihkan semua hal yang ada dipikiran dan perasaanku dengan menyibukkan diri, mengerjakan apa saja yang bisa ku kerjakan.   “Hai Nin.” “Eh elu, dari mana aja lu? Lama ngga ke sini.” “Biasa sibuk hehe. Hot Cappuccino satu ya.” “Snacknya?” “Ngga deh, gue lagi pengen ngopi aja.”   Kata ‘cappuccino’ itu berhasil menyadarkanku dari lamunanku. Aku lalu menoleh ke arah si pemesan. Ben. Setelah beberapa waktu tidak pernah terlihat datang ke cafe ini, akhirnya hari ini dia muncul juga. Kehadirannya tidak begitu menjadi perihal yang penting bagiku, tapi jenis kopi yang dipesannya. Marcellah yang pertama kali membuatku mencicipi cappuccino dan sejak hari itu aku memutuskan bahwa cappuccino adalah jenis kopi favoritku. Cel, apa kamu bahkan ngga punya niat untuk mendatangiku bahkan kalau itu untuk mengatakan bahwa kita harus berakhir? Atau mungkin memang tidak perlu ada kata-kata semacam itu? Apa keadaan saat ini sudah cukup menjadi penjelasan untukku? Apa kamu memang ngga maua ketemu sama aku dan mengatakan semuanya secara langsung? Kalau itu benar, berarti kamu adalah pengecut. Iya, kamu adalah Marcel si pengecut. Beraninya memaksaku untuk jatuh cinta sejak awal, lalu tanpa sepatah katapun kamu meninggalkan aku begitu saja bersama dengan begitu banyak pertanyaan dan perasaan yang belum tuntas.   “Hai, Nes. Apa kabar?” Ben sedikit bergeser sehingga ia bisa berada tepat di depanku dengan meja barista yang menjadi pembatas di antara kami. “Hai, baik.” Jawabku sambil memaksakan senyum di bibirku. “How’s life?” Kenapa tiba-tiba menanyakan perihal kabar kehidupanku? Aku menatapnya sejenak. Bingung mau jawab apa. Tidak mungkin kan aku menjawab bahwa kabar hidupku sedang tidak baik atau bahkan kacau. “It’s fine.” Jawabku mengelabui. “If you need someone to talk with, you have me.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Ben kemudia berlalu menuju satu meja kosong yang berada tidak jauh dari meja barista. Ucapannya barusan berhasil membuatku bertanya-tanya. Kenapa seolah-olah Ben mengetahui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Apa mungkin dia memang mengetahuinya? Apa mungkin kak Nina yang memberitahunya? Aku menoleh pada kak Nina yang sedang sibuk menyiapkan cappuccino untuk Ben, mataku tiba-tiba saja bergantian mengarah pada Ben yang ternyata juga sedang menatapku. Menyadari bahwa tatapan kami saling bertemu, aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain. Keadaan ini membuatku merasa tidak nyaman, jadi aku memutuskan untuk pergi ke toilet.   Setengah jam lebih berlalu. Aku memutuskan untuk tetap berada di dapur belakang, mencuci piring dan gelas kotor, menyapu lantai, mengepel, memasukan sampah-sampah ke kantong sampah yang lebih besar, melap wastafel, membersihkan apa saja yang bisa ku bersihkan. Aku tidak ingin terlihat oleh Ben. Entahlah, aku merasa ingin menangis setelah mendengar kalimat yang ia ucapkan tadi. Hati itu memang aneh, ketika sedang tidak baik-baiknya lalu datang seseorang yang menanyakan kabarnya, ia akan berubah menjadi semakin tidak baik, bahkan terkadang membuat kedua mata menangis, ketika menangis lalu seseorang datang untuk memeluk, hati mengubah tangisan itu menjadi isakan yang semakin tak tertahan. Beberapa waktu ini aku sedang berusaha menghindari hal semacam itu. Jam seudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam, semua pekerjaan di dapur sudah selesai, dan juga sepertinya di depan sudah sepi, tidak ada lagi pengunjung. Karyawan lain juga tidak lagi membawakan gelas dan piring kotor. Setelah selesai merapikan semuanya, aku kembali ke depan, untuk melihat apakah ada hal lain yang perlu ku bantu untuk dibereskan di sana. Ternyata Ben belum pulang, dia masih duduk di tempatnya tadi meskipun meja-meja lain di sekelilingnya telah selesai dirapikan. Aku menghampiri kak Nina yang seperti biasa, sibuk merapikan lembar demi lembar uang di dalam mesin kasir. “Kak, kok Ben belum pulang?” “Hm? Oh, Ben. Katanya nungguin elu.” Jawab kak Nina sambil masih sibuk dengan uang-uang di dalam mesin kasir itu. “Ha? nungguin aku? Ngapain?” Kak Nina meletakan lembaran uang terakhir di tangannya ke dalam mesin kasir, menutup laci mesin kasir itu, lalu menguncinya. Kak Nina memalingkan badannya, menghadap padaku yang masih berdiri di sampingnya dengan raut wajah bingung karena Ben sengaja menungguku selesai bekerja. Untuk apa? Mau ngapain? “Katanya mau ngantering elu pulang.” Jawab ka Nina santai. “Ih ngapain sih? Kan aku bisa pulang sendiri.” Sahutku. “Udah deh. Lu berdua ngga usah mempersulit gue. Yang satu maksa mau nganterin pulang, yang satu ngga mau dianterin pulang. Mendingan lu cepetan ambil barang-barang lu di loker terus pulang, istirahat, karena besok lu ada ujian kan?” “Ta..tapi kak…” Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, kak Nina sudah keburu memutar badanku sambil mendorongku perlahan untuk segera menuju loker dan mengambil barang-barangku. “Udah buruan, ntar kemalaman.” Ujar kak Nina. Aku hanya bisa berjalan pasrah menuju loker dan mengambil barang bawaanku, seperti biasa tas ransel dan tas laptop serta jaket jeansku.   “Ben, Anes dah siap nih.” Ujar kak Nina dengan suara agak nyaring. Aku melihat ke arah Ben yang kini tengah beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri kami. “Udah sana. Lagian di luar juga kayak mau hujan gitu. mendingan dianterin Ben ketimbang naik ojek, ntar diculik abang ojeknya loh.” Ucap kak Nina dengan ekspresi seperti sedang menakutiku. “Kak apaan sih!” Spontan aku menyikut kak Nina. Heran deh, kak Nina suka ada-ada aja kalau bercanda. “Udah selesai, Nes?” tanya Ben. “Udah.” Jawabku. “Yuk.” Ujarnya sambil tersenyum padaku. Aku melirik ke arah kak Nina. “Udah sana pulang.” Ujar kak Nina. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku berjalan menghampiri Ben. aku merasa serba salah. Dengan keadaanku yang seperti ini, aku merasa kurang begitu nyaman jika harus berinteraksi dengan orang lain di luar kewajibanku di tempat kerja. aku takut kalau orang lain menanyakan tentang apa yang terjadi lalu aku harus menjelaskan semuanya pada mereka. Aku terlalu malas untuk menjelaskan tentang diriku, aku hanya tidak bisa. Tapi bagaimanapun juga aku harus menghargai Ben yang sudah rela menungguku menyelesaikan pekerjaanku dan mau mengantarkanku pulang. “Nin, gue sama Anes duluan ya. Dimas beneran ke sini, kan?” “Iya, dua udah on the way, kok.” Jawab kak Nina meyakinkan. “Ya udah kalau gitu duluan ya.” “Iya hati-hati ya. Bye Nes.” Ujar kak Nina sambil melambaikan tangannya padaku. Aku mengangkat tanganku seperti orang tidak bertenaga, “Duluan ya kak.” Ujarku lalu berjalan mengikuti Ben. perihal kak Nina dan kak Dimas, ternyata mereka sudah lama dekat dan mereka jadian beberapa waktu yang lalu. Aku cukup terkejut dan juga senang. Kak Nina orang yang sangat baik, begitu juga kak Dimas. Mereka memang cocok bersama. Aku hanya bisa berdoa semoga hubungan mereka awet dan bisa lebih serius dari sekarang. Semua yang terbaik untuk mereka orang-orang baik yang sudah banyak membantuku, itulah yang selalu aku doakan. Aku berjalan kurang lebih satu meter di belakang Ben. Aku bisa melihat punggungnya yang lebar dibalut dengan jaket denim dengan dalaman kaos hitam polos, wangi parfumnya dengan aroma yang sangat maskulin masih bisa tercium. Ia menahan pintu tetap terbuka sampai aku keluar dari dalam cafe. “Terima kasih.” Ucapku pelan. “My pleasure.” Jawabnya terdengar sangat tulus. Kami berjalan beriringan menuju mobil Ben yang terpakir di halaman cafe. Baru saja beberapa langkah menjauh dari cafe, tiba-tiba sesuatu membuat langkahku terhenti, Ben yang berjalan disampingku pun ikut menghentikan langkahnya. Pandanganku tertuju pada sosok yang tengah berdiri tidak jauh di depanku. Mataku bertemu dengan matanya. Ia menatapkan dengan tatapan yang tidak bisa ku mengerti. Seperti banyak hal yang tersirat di sana untuk disampaikan padaku. Tidak, aku tidak bisa membacanya. Aku tidak bisa memahami tatapan itu, Cel. Beberapa saat aku terpaku, diam, menatapnya yang juga masih terdiam menatapku. Kini tatapnya berganti pada sosok lelaki di sampingku ini. Aku menoleh pada Ben, dan Ben mengalihkan pandangannya padaku. “Take your time. Aku tunggu di mobil.” Ben berbicara dengan suara yang cukup dapat didengar oleh Marcel, membuat Marcel mengerenyitkan dahi, seperti ia merasa ada sesuatu yang salah pada ucapan Ben barusan. Ben berlalu pergi mendahuluiku menuju mobilnya. Aku masih berdiri diam di tempatku. Suasana mendadak berubah hening, seolah tidak ada hal lain yang bisa didengar selaln suara tiupan angin yang menggoyangkan dedaunan kering yang terjatuh ke tanah. Ia berjalan mendekatiku. Sedang aku hanya bisa melihat langkah kakinya yang semakin mendekat padaku. “Nes,” Ia memanggilku dengan suara pelan. Si pengecut ini akhirnya datang juga. “Kita perlu bicara.” Lanjutnya. Aku masih diam tidak memberikan respon. “Kita ngobrol di mobil aja, ya.” Ujarnya lagi seolah meminta persetujuanku namun aku masih tetap diam tidak memberikan jawaban. “Yuk.” Ia masih berbicara dengan suara pelan, lalu ia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di bahu jalan. Entah kenapa dia memarkirkan mobilnya cukup jauh. Saat ini aku tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya. Lagipula ini waktu yang aku tunggu kan? Ini yang aku inginkan kan? Kami perlu memperjelas semuanya. Memperjelas hubungan yang harus berakhir ini. Malam ini semuanya akan menjadi jelas. Ia menungguku, lalu membukakan pintu mobilnya untukku. Tanpa banyak bicara aku langsung masuk ke dalam. Lalu ia mengitari mobilnya, membuka pintu bagian kemudi dan sekarang kami sudah duduk bersebelahan. Setelah sekian waktu, akhirnya temu itu membawa kami kembali dalam satu tempat yang sama, dan mungkin ini akan menjadi kali terakhir. Ia menghela napas dalam-dalam, entah seberapa banyak beban yang ia simpan di dalam hatinya. Aku tidak tahu. Aku bahkan tidak tahu perihal apapun lagi tentangmu, Cel. Bagaimana keadaanmu belakangan ini, apa saja yang sudah kamu lalui, bagaimana sidangmu. “Aku lulus, Nes.” Dan itu jawabannya. Ia telah berhasil melewati satu tahap yang cukup berat dalam hidupnya. "Ada sedikit revisi. Tapi dosen penguji bilang hasilku cukup memuaskan.” Aku mengangguk lalu tersenyum. Bukan hal yang cukup mengejutkan karena selama ini pun dia terkenal sebagai salah satu mahasiswa yang cerdas bukan? Tapi tetap saja, aku bangga padamu. Selamat, Cel.                                
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD