BAB 10 – TEARS

3267 Words
BAB 10 – TEARS   Hari ini coffee shop tempatku bekerja tidak terlalu banyak pelanggan, mungkin karena di luar juga sedang hujan orang-orang jadi malas untuk keluar rumah. Kalau cuaca sedang seperti ini diam di rumah memang akan menjadi pilihan yang tepat. Tapi tidak berlaku untukku, di saat mahasiswi lain sedang asik bersantai atau mengerjakan tugas kuliah mereka di rumah, aku malah harus berada di salah satu sudut pojok coffee shop ini bersama laptop di hadapanku, aku sibuk mengerjakan tugas akuntansi setelah meminta ijin pada kak Nina untuk meninggalkan pekerjaanku sebentar. Untungnya kak Dimas dan teman-teman kerjaku di sini sangat baik dan mengerti keadaanku yang harus kuliah sambil bekerja. Jadi kalau ada waktu senggang seperti ini aku akan memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahku.   Drett..drett Ponselku bergetar, satu chat baru masuk tertera di layer ponselku.   From : Marcel Nes, maaf banget malam ini aku ngga bisa jemput kamu. Mendadak harus anterin mami ke Bandung karena kakaknya mamiku masuk rumah sakit.   Dengan cepat aku membuka chat dari Marcel dan mulai mengetik balasan.   To : Marcel Iya Cel, ngga apa-apa kok. Aku bisa pulang sendiri. Hati-hati di jalan ya.   Setelah itu tidak ada lagi balasan dari Marcel. Mungkin dia dan maminya sudah dalam perjalanan menuju Bandung, biasanya dia akan mengabari setelah sampai di tempat tujuan. Kalau Marcel tidak bisa menjemputku berarti aku harus pulang sendiri, semoga hujannya tidak sampai malam, jadi aku bisa pulang naik ojek online. Oh iya, ngomong-ngomong soal Marcel, sebenarnya dia itu kakak tingkatku di kampus. Dia saat ini dia sudah berada di tingkat tujuh, yang berarti sebentar lagi dia akan lulus. Aku yakin dia pasti lulus tepat waktu tanpa harus mengambil semester tambahan untuk menyelesaikan skripsinya, karena dia mahasiswa yang cerdas. Siapa yang tidak kenal Marcel Sanjaya, salah satu mahasiswa unggulan dari Fakultas Hukum kampus yang sudah menyumbangkan banyak piala, piagam dan penghargaan dari banyaknya lomba-lomba yang dia ikuti. Si andalan kampus saat ada perlombaan debat, si andalan yang selalu dikirim oleh kampus untuk mengikuti seminar-seminar. Walaupun bukan hanya dia tapi dari sekian banyak mahasiswa yang diikut sertakan pasti akan selal ada Marcel. Bahkan setelah memasuk semester akhir pun Marcel tetap aktif mengikuti kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), ngga aktif-aktif banget sih, tapi dia masih sering mendampingin adik-adik tingkat di kampus. Tentang Marcel dengan semua kelebihan yang ia miliki, jika dibandingkan dengan diriku tentu sangat berbanding serratus delapan puluh derajat. Orang-orang bilang aku pintar, tapi tentu tidak sepintar Marcel. Aku juga tidak memiliki keberanian untuk tampil di depan umum, mengikuti lomba-lomba, dan aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan seperti yang dilakukan oleh Marcel. Bagiku, yang penting aku fokus dengan nilai akademikku agar nilaiku tetap baik dan beasiswaku tidak dicabut. Aku tidak perlu dikenal sebagai mahasiswi andalan kampus, aku tidak seambisius itu, yang penting aku bisa menyelesaikan kuliahku dan menjadi sarjana seperti harapan kedua orang tuaku. Aku dan Marcel berpacaran sudah hamper sebulan. Tentu saja tidak mudah bagiku untuk setuju ketika Marcel memintaku untuk jadi pacarnya. Pertemuan kami berawal ketika aku masih ebrada di tingkat satu, saat itu aku sedang mengerjakan tugas kuliahku di perpustakaan kampus. Berbeda dengan kebanyakan teman-temanku yang pergi ke cafe atau tempat nongkrong lainnya untuk mengerjakan tugas, aku lebih memilih perpustakaan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas, entah di sela-sela jam kosong atau setelah selesai kelas. Alasannya tentu saja karena aku tidak memiliki uang saku yang lebih untuk membeli makanan dan minuman di cafe. Lagi pula kalau niatnya memang ingin mengerjakan tugas tidak harus ke tempat-tempat seperti itu kan? Di perpustakaan jauh lebih tenang dan aku jadi bisa lebih fokus mengerjakan tugasku. Seperti biasa, aku memilih tempat duduk yang berada sedikit agak ke pojok, mulai membuka laptop yang dibelikan ibu dari tabungan hasil menjahit dan juga buku catatanku. Jariku mulai beradu dengan keyboard laptop, aku harus segera menyelesaikan tugasku supaya ketika pulang aku bisa fokus membantu ibu menyelesaikan orderan jahitannya. Aku masih asik dengan tugas-tugasku sampai akhirnya seseorang menghampiriku.   “Hai, Vanessa ya?” tanyanya saat itu. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya ia sudah langsung duduk di bangku yang berada di depanku. Sementara aku masih menatapnya dengan tatapan bingung, kini ia malah menyodorkan sebuah gelas kepadaku. Terlihat gelas yang terbuat dari plastik itu mengeluarkan embun yang kemudian berubah menjadi tetes-tetes air pada bagian luar gelas itu. Bisa ku pastikan isinya adalah minuman dingin yang diberi es batu. Tapi kenapa lelaki di hadapanku ini menyodorkannya padaku? Siapa dia? Tanyaku saat itu. “Kenalin, namaku Marcel.” Sekarang giliran tangannya yang disodorkannya padaku. Aku masih menatapnya heran dan menghiraukan tangannya yang masing menggantung di udara menunggu tanganku menyambutnya. Lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Marcel itu menaikkan kedua alisnya sambil mengarahkan pandangan ke tangannya yang masih belum ku berikan respon itu. Dari tampilannya aku tahu bahwa dia pasti kakak tingkat, akhirnya karena merasa tidak enak dan takut dianggap tidak sopan dengan kakak tingkat akupun menjabat tangannya. “Ada keperluan apa ya kak?” tanyaku to the point, “Terus ini apa?” tanyaku lagi sambil menunjuk gelas di hadapanku. “Pertama, keperluanku datang ke sini adalah mau ngerjakan tugas. Kedua, gelas itu isinya iced cappuccino sebagai tanpa permintaan ijin ke kamu supaya aku bisa ngerjain tugas di meja ini juga.” Aku mengerenyitkan dahi, ucapannya barusan membuatku semakin bingung. Apa maksudnya meja ini adalah meja yang selalu dipakainya kalau mengerjakan tugas di perpustakaan ini? Memangnya ada peraturan yang membolehkan mahasiswa mengakuisisi satu area di kampus menjadi milik pribadinya sehingga tidak ada orang lain yang boleh memakainya. Tapi aku tidak mau memperpanjang persoalan ini, lagipula dia kakak tingkat, aku tidak mau mencari masalah dengannya. “Oh ini tempat kakak ngerjakan tugas ya? Maaf kak saya ngga tau, saya pikir boleh duduk di mana aja. Ngga perlu minta ijin kok kak, saya bisa pindah meja kok.” Jawabku sambil mendorong gelas di depanku mendekat kepadanya. Lalu aku bangkit dari kursi tempatku duduk. Aku baru ingin mengangkat laptopku saat kemudian lelaki di depanku itu berusaha mencegahku. “Eh tungguh, tunggu. Maksud aku bukan gitu. Ini bukan meja tempat aku biasa ngerjain tugas atau apalah itu, aku juga ngga bermaksud buat nyuruh kamu pergi dari sini.” “Terus?” tanyaku makin bingung. “Ya, maksud aku, aku mau ngeerjain tugas di sini barengan sama kamu.” Aku masih menatapnya bingung tanpa sepatah kata pun. Aku belum pernah mengenal lelaki ini sebelumnya, dan aku rasa dia juga belum mengenalku. Jadi, bagaimana bisa dia ingin duduk dan megerjakan tugasnya di satu meja yang sama denganku. Bukankah ada meja-meja dan tempat duduk yang lain. Lagi pula meja yang ku tempati sekarang ini memang hanya cukup untuk dua orang, kalau mejanya lebih lebar seperti meja di sebelah kanan sana sih tidak jadi masalah, karena masih tersisa banyak jarak di antara kami. Kalau seperti ini? Kesannya seperti kami dua orang teman yang sudah sangat akrab. “Udah duduk lagi.” Ia melambaikan-lambaikan tangannya sebagai isyarat untuk aku kembali duduk di kursiku tadi. Tanpa sadar aku menuruti perintahnya dan kembali duduk. Ia lalu mengembalikan gelas yang tadi dibawanya ke posisi semula, yaitu di hadapnku. “Oke, biar aku ralat. Iced cappuccino ini bukan sebagai permintaan ijin untuk aku duduk di sini. Tapi sebagai tanda perkenalan kita. Gimana?” “Kita? Kenalan?” “Iya. Oke biar aku perkenalkan diriku sekali lagi,” ia lalu mengulurkan tangannya lagi dan dengan agak ragu akupun menjabar tangannya, “Namaku Marcel Sanjaya, kamu bisa panggil aku Marcel. Aku anak semester tujuh dari Fakultas Hukum.” Ia mengakhiri perkenalannya dengan senyum lebar yang merekah di wajahnya. Tunggu. Marcel Sanjaya? Sepertinya tidak asing, ya memang sih kami satu kampus tapi aku rasa aku pernah tau nama itu sebelumnya. Setelah beberapa saat mengingar akhirnya aku tau dimana pertama kali aku mendengar nama Marcel Sanjaya. Dia adalah kakak tingkat yang beberapa waktu lalu dibicarakan anak-anak di kelasku karena berhasil memenangkan lomba debat tingkat nasional terkait kasus korupsi yang masih saja marak terjadi Indonesia. Oh~ jadi ini orangnya. “Eh iya kak.” Sahutku lalu menarik kembali tanganku, “Sebenarnya kakak ada perlu apa ya sama saya?” “Kan aku udah bilang keperluanku aku. Aku cuma mau kenalan sama kamu terus ngerjain tugas di sini, bareng sama kamu. Boleh kan?” “Emm boleh sih. Tapi… agak aneh aja gitu tiba-tiba kakak ngajak aku kenalan dan mau ngerjain tugas di sini juga.” “Oh iya  by the way ngga usah manggil kakak deh, panggil Marcel aja, dan ngga usah pake saya, pake aku aja. Jangan kayak lagi ngomong sama asdos gitu deh. Formal banget haha.” Sekarang dia malah menertawakan aku. Orang ini kayaknya benar-benar aneh deh. “Eh diminum dong iced cappuccinonya.” Ujarnya lalu menyedot air dari dalam gelas yang dipegangnya. Aku tidak tahu apakah isinya sama dengan punyaku, tapi sekali lagi karena sungkan menolak lagi dan takut disangka tidak sopan akhirnya aku mengambil gelas di depanku itu lalu menyedot isinya. Aku benar-benar jarang minum kopi, apalagi kopi-kopi dari cafe mauun coffee shop seperti ini. Tapi cappuccino yang dibawakan Marcel ini aku akui enak. “Suka ngga?” tanyanya. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawabanku. “Kamu mahasiswa baru kan?” “Iya kak.” “Dari Fakultas Ekonomi?” “Iya kak.” “Jurusan Manajemen, kan?” Oke untuk kali ini aku patut curiga. Dari mana dia bisa tahu sampai ke jurusan yang ku ambil? Apa dia sudah mencari tahu lebih dulu? “Kakak tahu dari mana ya?” aku balik bertanya. “Kamu masuk lima besar nilai terbaik waktu ujian masuk kampus, kan?” What?! Dia bahkan tahu tentang hal itu? Maksudku, di kampus ini masih lebih banyak orang-orang yang jauh lebih pintar dan berprestasi, jadi kalau kalian pikir dengan masuk lima besar nilai terbaik saat ujian masuk kampus akan dikenal banyak orang, kalian salah. Justru karena tidak sedikit yang iri, bisa-bisa kalian akan sengaja diabaikan dan prestasi sekecil itu akan dilupakan dalam sekejap. Apalagi setelah memasuki dunia perkuliahan yang sesungguhnya, prestasi seperti itu tidak akan lagi dilihat. Yang terpenting adalah kemampuan kalian saat mengikuti perkuliahan hari demi hari, semester demi semester sampai kalian lulus nanti. “Kok kakak tahu?” “Iya dong.” Sahutnya dengan senyum sumringah. Namun kemudian wajahnya berubah datar, sekarang gentian ia yang mengerenyitkan dahi. “Kan aku sudah bilang panggil Marcel aja jangan pake kakak.” Ujarnya dengan nada bicara seperti orang sedang kesal. “Tapi kakak kan senior.” “Justru itu aku ngga mau kamu nganggap aku sebagai senior, aku maunya kamu nganggap aku sebagai teman.” “Tapi ngga enak kak, terkesan ngga sopan.” “Yaelah santai aja lagi. Lagian kan aku yang minta buat dipanggil nama. Pokoknya mulai sekarang panggil Marcel. Oke?” ia mengacungkan jempolnya. Sementara aku lagi-lagi hanya mengangguk setuju.   Semenjak hari itu, Marcel si kakak tingkat yang tidak mau dipanggil kakak itu jadi lebih sering menemuiku di perpustakaan kampus. Walaupun tidak selalu saat aku belajar atau mengerjakan tugas di perpustakaan tapi setidak dalam seminggu dia pasti datang untuk sama-sama mengerjakan tugas atau sekadar menemaniku. Awalnya aku merasa agak kurang nyaman saat Marcel sering menemuiku. Aku takut dikira sengaja mendekati kakak tingkat, apalagi kakak tingkatnya seperti Marcel. Aku rasa tidak ada mahasiswa di kampusku yang tidak tahu tentang Marcel. Paling tidak pernah mendengar namanya. Dia mahasiswa yang berprestasi di kampus, sering memenangkan berbagai kompetisi tingkat universitas, dan tentu saja wajahnya yang tampan dan tubuh atletisnya menjadi daya tarik utama di kalangan para mahasiswa dari berbagai fakultas. Semenjak aku berteman dengan Marcel, tidak jarang ada sepasang mata yang saling bergantian melihat ke arahku, sesekali aku pernah mendengar bahkan mereka terang-terangan mempertanyakan kenapa aku bisa jadi dekat dengan Marcel, yang bahkan akupun tidak mengerti kenapa Marcel memilih berteman denganku. Sampai suatu hari di perpustakaan kampus…   “Nes, nanti malam sibuk ngga?’ tanya Marcel sambil membolak-balik novel berjudul Les Misarable karya Victor Hugo. Marcel bilang novelnya bercerita tentang seorang narapidana atas kasus pencurian roti , dia bilang kisahnya asik dan penuh teka-teki. Dia sempat menawariku untuk membaca novel itu, tapi aku menolak. Sudah cukup pusing dengan tugas-tugas kuliah dan persoalan hidup yang menumpuk, pake acara disuruh mikir teka-teki di novel itu pula. Tidak akan. “Ngga sih kayaknya. Kenapa?” tanyaku dengan jari-jariku masih beradu dengan keyboard laptop. “Dinner, yuk.” Aku menarik tanganku dari atas keyboard, lalu menoleh ke arahnya. “Kenapa?” tanyanya. “Ngga ah.” Sahutku lalu kembali fokus pada tugas kuliahku. “Kenapa?” tanyanya sambil menutup novel di tangannya kemudian mendekatkan wajahnya padaku. “Ih kenapa dekat-dekat sih?” aku mendorong pundaknya agar ia kembali ke posisi awalnya, “Ya ngga mau aja.” Lanjutku. “Ya udah aku jemput jam setengah tujuh biar pulangnya ngga kemalaman. Nanti aku yang ijinin sama ibu. Oke? Bentar lagi aku ad akelas, aku duluan ya. See you.” Ia beranjak dari tempat duduknya, mengacak-acak rambutku lalu pergi begitu saja. Lihatlah si pendebat ulung itu, memutuskan sepihak tanpa meminta persetujuanku terlebih dulu. Padahal sudah jelas-jelas aku menolak ajakannya, tapi malah seenaknya memutuskan untuk tetap pergi. Pake acara mau minta ijin ke ibu segala lagi.   Malam itu kami tetap pergi makan malam berdua setelah si pendebat yang tidak suka dibantah itu meminta ijin kepada ibu untuk mengajakku pergi bersamanya, dan malam itu pula untuk pertama kalinya Marcel memintaku untuk jadi pacarnya. Kenapa aku bilang pertama kali? Karena perlu tiga kali untuk Marcel memintaku menjadi pacarnya sampai akhirnya aku menerimanya. Kalian mungkin berpikir aku sengaja jual mahal, sebenarnya tidak. Ada hal yang jauh lebih penting dari jual mahal, aku lebih mempertimbangkan tentang semua perbedaan di antara kami. Seperti yang kalian tahu, Marcel itu mahasiswa popular di kampus, prestasinya sudah tidak perlu diragukan lagi, wajahnya juga tampan, banyak yang bilang Marcel Sanjaya adalah sebuah definisi dari paket komplit. Sedangkan aku? Mahasiswi jalur beasiswa, tidak ada yang special dari diriku selain IPK-ku yang tidak pernah berada di bawah angka 3,85 itu. Namun begitu tentu saja masih banyak perempuan yang lebih layak mendapatkan Marcel ketimbang diriku, yang jelas yang sepadan dengan dirinya. Hatiku luluh ketika pada akhirnya Marcel bisa meyakinkanku bahwa tentang ‘siapa aku’ dan ‘siapa sia’ tidak menjadi halangan untuk kami bisa bersama. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pacar seorang Marcel Sanjaya, dia sempat marah besar padaku karena aku tidak memberitahunya tentang ibu yang sakit ginjal dan akhirnya meninggal. Di masa-masa ibu kritis aku memang lumayan berjarak dengan Marcel, aku jadi jarang belajar ke perpustakaan, selesai kelas aku akan langsung ke rumah sakit untuk merawat ibu, sampai akhirnya ibu meninggal pun aku terpaksa harus ijin dari perkuliahan selama dua minggu untuk mengurus segala hal. Marcel mengetahui semuanya setelah bertanya pada Mia, teman sekelasku.   “Bisa-bisanya kamu ngga cerita sama aku masalah seserius ini, Nes. Apa kamu benar-benar ngga nganggap aku? Kamu bisa tetap cerita sama aku sebagai teman kan Nes? Kenapa harus sembunyiin semuanya bahkan sampai ibu kamu udah ngga ada kayak gini sih, Nes? Kenapa?!” intonasi suaranya malam itu terdengar lebih nyaring dari biasanya, aku bahkan belum pernah melihat wajahnya memerah seperti malam itu. Sejak ia datang secara tiba-tiba ke rumahku sampai entah sudah berapa puluh menit berlalu dengan ocehannya itu aku masih belum juga memberikan respon apa-apa. Aku hanya terdiam dengan kedua tangan terlipat di d**a sambil memandangi lantai berkeramik warna putih itu. “Nes, jawab Nes. Kenapa kamu ngga cerita ke aku sih?” Aku masih belum memberikan respon apapun. Marcel menghela napas dengan kasar. Ia yang tadinya berdiri di hadapanku mengubah posisinya menjadi berlutut. Ia mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya dengan erat. “Nes,” ucapnya dengan suara pelan, “Aku minta maaf kalau aku marah-marah sama kamu padahal kamu masih dalam keadaan berduka kayak gini. Tapi, maksud aku ngga seharusnya kamu sembunyiin ini semua dari aku, Nes. Kamu ngerti kan maksud aku? Aku ngga maksud buat…” “Ya udahlah, Cel. Mau diapain juga sih? Toh ibu aku juga udah ngga ada. Apalagi yang perlu aku certain? Kamu juga udah tau semuanya kan?” aku memotong ucapannya. Air mata itu menetes lagi dari mata sembabku yang mungkin sudah terlalu lelah untuk menangis. Marcel menundukkan kepalanya, ia menghela napasnya dalam-dalam. Ia lalu duduk di sampingku, mengambil tubuhku ke dalam pelukannya, dan aku menangis sejadinya setelah beberapa hari ini aku berusaha untuk terlihat kuat di depan bude Nani agar beliau tidak kepikiran dengan keadaanku, di depan beberapa keluarga mendiang ayah yang menyempatkan diri untuk hadir di pemakaman ibu. Aku berusaha terlihat menjadi anak yang kuat, aku menyembunyikan isak tangisku sampai dadaku terasa sangat sesak, seperti aku hampir ingin mati menahannya. Tapi malam itu semanya tumpah dalam pelukan Marcel. Semua sesak di dadaku, perasaan kecewa pa Tuhan karena mengambil kedua orang tuaku saat aku masih sangat memerlukan mereka di dunia ini, perasaan takut tentang bagaimana aku akan melanjutkan hidup setelah tidak memiliki siapa-apa lagi, semua perasaan yang bahkan tidak bisa aku jelaskan, semuanya ku lampiaskan dalam tangis pilu malam itu. Air mataku membasahi kaos hitam yang dikenakan Marcel, dan kedua tangannya masih memelukku erat. Berkali-kali aku mendengar ia mengucapkan “you have me here”. Aku merasa sedikit lega dan lebih tenang. Entah mengapa aku bisa merasa aman saat Marcel memelukku, aku bisa merasakan ketulusannya saat ia mengatakan bahwa aku tidak perlu takut sendirian karena dia bersamaku. Semoga perasaan ini benar, semoga aku benar-benar yakin.   …   Hampir tiga bulan berlalu setelah kepergian ibu. Aku sudah merasa lebih tenang dari sebelumnya. Masih sedih dan rindu itu pasti, bahkan sangat. Tapi aku sudah belajar untuk ikhlas, aku yakin Tuhan mengijinkan semua ini terjadi padaku, Ia juga pasti memberikan kekuatan-Nya padaku. Aku sudah mulai bisa menjalani hariku dengan normal kembali, seminggu sekali aku mengunjungi makam ibu, kadang bisa lebih.   “Pagi sayangku.” Sapa Marcel dengan senyum sumringah menghiasi wajah tampannya yang terkena percikan sinar matahari pagi. Seperti biasa, setiap pagi Marcel menjemputku untuk pergi ke kampus bersama. Awalnya aku menolak dan lebih memilih untuk naik angkutan umum, jelas saja karena aku malu kalau harus jadi objek yang dipandangi hampir seluruh warga kampus setelah mengetahui bahwa kami telah resmi berpacaran. Akhirnya aku menerima lelaki ini juga jadi pacar pertamaku. Untuk ketiga kalinya Marcel menyatakan perasaannya padak ketika kami sedang makan nasi goreng yang dibawakannya ke rumah saat aku sedang tidak enak badan. Malam itu dia memintaku untuk menjadi pacarnya dengan di saksikan oleh dua piring nasi goreng di depan kami. Tenang saja, kami tidak aneh-aneh kok, tidak ada adegan ciuman dan sebagainya seperti di drama-drama kore aitu. Kami duduk dan makan di ruang tamu yang waktu itu pintunya terbuka sangat lebar. Aku selalu membuka pintu lebar-lebar kalau Marcel mau main ke rumah, kadang kalau sudah terlalu malam aku tidak mengijinkannya untuk datang. Untungnya dia mau mengeerti akan hal itu. Sungguh acara menyatakan perasaan yang jauh dari kata romantis, tapi entah kenapa malam itu aku merasa sangat Bahagia, makanya ku terima hehe. “Ish jangan nyaring-nyaring ah, malu di dengar tetangga.” Ujarku sambil mengancing helm yang diberikan Marcel. “Dih kenapa sih? Lagian tetangga kamu mana ada yang peduli? Liat aja tuh pintunya pada ketutup rapat semua.” “Ya siapa tau ngintip dari jendela.” Sahutku lagi yang kini sudah berada di jok belakang motor. “Kayak ibu-ibu tukang gosip di sinetron dong.” “Ih udah ah kenapa jadi ngomongin ibu-ibu gosip sih? Ayo jalan nanti aku telat, pagi ini ada tes harian tau.” “Iya sayang, iya. Pegangan ya.” Ujarnya lalu menggas motornya perlahan. Aku malah jadi senyum-senyum kesem-sem. Jujur saja, aku masih belum teriasa dipanggil ‘sayang’ seperti. Aku saja masih memanggil Marcel dengan sebutan namanya, walaupun kadang dia protes, maunya dipanggil pakai panggilan sayang juga, tapi gimana dong, aku kan jadi suka malu sendiri. Namun perlu ku akui, semenjak kehadiran Marcel hidupku jadi lebih berwarna, terlebih setelah kepergian ibu, tentu saja Marcel menjadi penghibur yang selalu setia menemaniku.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD