BAB 9 – FLASHBACK (THE FIRST TIME I MET YOU)
Hari ini tepat seminggu aku bekerja di Eighteen Café. Tentu saja bukan sebagai barista, aku sama sekali belum memiliki keahlian di bidang meracik kopi. Tugasku baru sebatas melayani setiap pengunjung yang datang, memberikan daftar pesanan kepada yang bertugas meracik kopinya, atau kepada yang memasak makanan. Sebenarnya aku juga bisa kalau hanya sekadar membuat minuman-minuman yang simpel, seperti es teh atau es jeruk misalnya. Kalau sedang tidak ada pengunjung yang perlu dilayani lagi biasanya aku akan pergi ke belakang untuk mencuci piring, membersihkan meja yang habis digunakan oleh pengunjung, atau apa saja yang bisa ku kerjakan sebisa mungkin kerja tanpa harus disuruh terlebih dahulu.
Dua minggu yang lalu aku bertanya pada Mia—teman sekelasku di kampus, aku menanyakan tentang lowongan pekerjaan paruh waktu. Aku memang sengaja bertanya kepada Mia, karena setahuku dia memiliki banyak teman dan kenalan, di kampus maupun di luar kampus. Jadi aku pikir siapa tahu Mia memiliki informasi tentang lowongan pekerjaan untukku. Barulah seminggu kemudian Mia mengabariku kalau teman dari kakak perempuannya sedang membutuhkan karyawan tambahan di café miliknya ini. Kak Dimas namanya. Untunglah kak Dimas bersedia memberiku shift sore sampai malam, karena paginya aku harus tetap berkuliah.
Aku harus bekerja supaya bisa tetap melanjutkan hidup. Semenjak ibu meninggal empat bulan yang lalu, aku harus menerima kenyataan bahwa sekarang hanya diriku sendirilah alasan kenapa aku harus bertahan. Ayahku sudah lebih dulu meninggalkan aku dan ibu sejak usiaku masih tiga belas tahun. Sejak saat itu, aku dan ibu hidup dari hasil ibu bekerja menjadi tukang jahit. Untunglah ibu memiliki keahlian menjahit, tabungan yang ditinggalkan ayah sebagian ibu pakai untuk membeli mesin jahit baru dan sebagai modal untuk usaha menjahitnya. Sisanya lagi tetap ibu tabung, kalau-kalau suatu saat diperlukan. Sementara untuk biaya sekolah sampai kuliahku, aku mengandalkan beasiswa. Aku bersyukur Tuhan menganugerahkan kecerdasan untukku sehingga aku tidak perlu merepotkan ibu terkait urusan biaya pendidikan. Sisa tabungan yang ditinggalkan ayah akhirnya terpakai juga olehku. Ya, aku pakai segala keperluan pengobatan ibu di hari-hari terakhirnya, aku pakai untuk segala biaya pemakaman ibu, ada sedikit sisa yang bisa aku pakai untuk biaya kebutuhan sehari-hariku.
Kalau ditanya seperti apa rasanya hari itu, entahlah tidak ada satu kalimatpun yang bisa ku pakai untuk menjelaskan bagaimana perasaanku hari itu. Seolah mengulang kembali perasaan ketika ayah pergi meninggalkan kami tapi hari itu rasanya menjadi dua kali lipat. kalau dulu masih ada ibu untuk saling menguatkan, maka di hari ibu meninggal tidak ada yang bisa meyakinkanku bahwa aku kuat dan aku bisa melewati semuanya. Beberapa hari sebelum ibu meninggal, aku menghubungi bude Nani, kakak dari ibuku. Kebetulan ibuku hanya dua bersaudara dengan bude Nani. Jadi sampai hari kepergian ibu pun hanya bude Nani yang menemaniku. Sejujurnya, aku bersyukur masih ada bude Nani saat itu, walau rasanya tetap saja seperti aku ingin ikut ibu ke dalam liang kubur. Hari itu akhirnya aku merasakan yang sering orang-orang katakan, “seperti bumi terasa mau runtuh”. Bude Nani hanya seminggu menemaniku di Jakarta, beliau harus kembali ke Yogyakarta, tentu saja untuk mengurus keluarganya di sana. Bude Nani sempat bersikeras ingin membawaku pindah ke Yogyakarta dan tentu saja kalau aku pindah maka aku akan kehilangan beasiswaku, aku akan putus kuliah. Aku tidak mau hal itu terjadi, aku ingin mewujudkan cita-cita ayah dan ibu bahwa aku harus jadi sarjana.
Beberapa kali bude Nani menelponku, menanyakan tentang kabarku, dan aku selalu menjawab bahwa aku baik-baik saja dan sudah mendapatkan pekerjaan paruh waktu di bioskop besar di mall Jakarta. Tentu saja aku berbohong, saat itu aku belum mendapatkan pekerjaan. Aku tidak ingin membebani keluarga bude Nani.
“Anes.”
Seseorang memanggilku.
“Iya kak?” aku menoleh ke arah suara yang memanggilku.
“Tolong dong anterin ini ke meja yang di pojokan itu. Gue kebelet banget pengen ke toilet.” Kak Nina menyodorkan nampan berisi segelas hot americano dan sepiring sandwiches.
Aku mengambil nampan itu dari tangan kak Nina lalu berjalan ke arah meja dimana pemesan menu yang sedang ku bawa sudah menunggu.
“Selamat sore kak, ini hot americano dan sandwichesnya.”
Aku meletakkan gelas dan piring ke atas meja dengan hati-hati.
“Terima kasih.” Ucapnya ramah.
“Sama-sama kak. Selamat menikmati.”
Aku memalingkan badan dan beranjak pergi sebelum si pemesan tadi kembali memanggilku.
“Eh tungggu sebentar.”
Aku memutar badan kembali menoleh ke arahnya.
“Iya kak? Ada apa?” tanyaku bingung. Dari pada bingung aku lebih merasakan takut, kalau-kalau aku salah mengantarkan pesanan atau mungkin ada yang kurang sesuai dengan yang diinginkan oleh pelanggan satu ini.
“Kamu karyawan baru ya?” tanyanya dengan nada bicara yang santai.
Meskipun begitu tetap saja aku merasa gugup. Pertanyaannya barusan membuatku merasa terintimidasi. Apakah aku sudah melakukan kesalahan?
“I..Iya kak. Ada apa ya kak? Apa ada pesanan yang kurang atau salah kak?”
“Oh ngga..ngga kok. Kamu kerja part time?”
“Iya kak. Saya kerjanya shift sore sampe malam. Ada apa ya kak?”
“Oh ngga apa-apa. Pantesan saya belum pernah lihat kamu sebelumnya.”
“Oh gitu,” apa orang ini memanggilku cuma untuk menanyakan hal tidak penting semacam itu, “Apa ada lagi yang bisa saya bantu kak?”
“Ngga ada lagi. Sorry ya jadi ganggu jam kerjanya. Thank you.” Ucapnya ramah.
Aku hanya melemparkan senyuman awkward lalu kembali ke meja barista yang langsung jadi satu dengan meja kasir.
“Cie diajak ngobrol apa tuh sama Ben?” tanya kak Nina yang rupanya sudah kembali dari toilet.
“Ben siapa kak?” tanyaku bingung.
“Lah itu tadi yang ngajak lu ngobrol.”
“Oh kakak yang di pojokan itu?” tanyaku memastikan.
“Iyalah. Siapa lagi coba yang gue maksud kalo bukan dia.”
“Oh.. namanya Ben,” gumamku, “Dia cuma nanyain aku karyawan baru bukan.”
“Terus?” tanya kak Nina yang terlihat antusias.
“Ya aku jawab aja iya.”
“Terus?”
“Terus dia nanya aku part time apa bukan.”
“Terus?”
“Aku jawab iya, kerjanya shift sore sampe malam.”
“Terus?”
“Ngga ada lagi.”
“Gitu doang?”
“Iya.”
“Ah elah gue kirain langsung minta nomor. Payah nih si Ben.”
“Nomor? Maksudnya? Nomor apa kak?” tanyaku yang tidak mengerti dengan maksud perkataan kak Nina barusan.
“Ha? Apanya? Nomor? Emm itu~ maksud gue… Eh itu ada yang baru datang, gue samperin dulu ya. Lu tolong bawain ini ke belakang deh ya hehe makasih.”
Bukannya menjawab pertanyaanku, kak Nina malah meletakkan gelas dan piring kotor ke atas nampan yang masih ku pegang. Aku yang masih belum mengerti pun memutuskan untuk tidak memikirkan perkataan kak Nina barusan dan langsung beranjak ke dapur untuk mencuci gelas dan piring kotor yang mungkin saja sudah mulai menumpuk di belakang sana.
…
“Hi Nes, gimana today?”
Aku baru saja keluar selesai berganti pakaian—dari pakaian kampus ke seragam kerja lengkap dengan apron berwarna cokelat tua dengan logo Eighteen, saat kak Nina menyapaku.
“Apanya kak?” aku balik bertanya sambil melap meja barista yang terkena percikan-percikan air.
“Ya kuliah lu lah.”
“Oh, biasa aja sih kak.”
“Cowok lu gimana?”
“Cowok?” sekali lagi aku malah balik bertanya pada kak Nina, karena jujur saja akua gak bingung dengan’cowok’ yang dimaksud oleh kak Nina barusan.
“Jangan lu kira gue ngga tau ya kemarin lu pulang dijemput sama cowok lu kan? Hayo ngaku lu.” Goda kak Nina sambil menyikutku pelan.
“Ooohh.. emm itu bukan cowokku kok kak.” Jawabku agak terbata.
“Yaelah NEs pake acara ngibulin gue lagi lu. Terus apa dong namanya kalo bukan cowok lu, secara nih y ague liat-liat selama hamper dua minggu lu kerja di sini udah beberapa kali tu cowok anter jemput lu. Ngaku ngga lu?”
“Ish kak jangan nyaring-nyaring ngomongnya.”
Kak Nina ini memang terkenal paling ‘brisik’ di antara semua karyawan disini, tapi meski begitu sebenarnya kak Nina orang yang sangat baik. Dari hari pertama aku bekerja di coffee shop ini. Kak Ninalah orsng yang paling bersemangat mengajariku berbagai hal. Aku merasa sangat terbantu dengan adanya kak Nina, karena jujur saja aku sangat sulit untuk bergaul dan memiliki teman baru. Akan tetapi, setelah aku hidup sendirian aku jadi semakin bertekad untuk mengubah hal itu. Aku harus belajar semakin terbuka dengan kehidupan social dan lingkungan di sekitarku. Aku harus pintar-pintar mencari koneksi, untuk apa lagi kalua bukan untuk bertahan hidup dengan kondisi hidupku yang serba sulit seperti ini.
“Makanya kasih tau gue itu cowok lu apa bukan?”
“Bukan,” jawabku yang agak ngambek karena kak Nina memaksaku untuk memberitahu tentang ‘cowok’ yang dimaksud kak Nina itu.
“Oh gue tau, gebetan ya? Baru PDKT gitu kan?” godanya lagi.
“Ish apaan sih kak? Dia itu cuma kakak tingkat di kampus.”
“Nah itu dia! Mana mungkin cuma sekadar kakak tingkat tapi mau anter jemput. Pasti lu lagi PDKT sama dia kan? Hayo ngaku.”
“Ssstt.” Dengan ekspresi agak gemas aku meletakkan telunjuk di bibir sebagai isyarat agar kak Nina memelankan suaranya yang cukup nyaring. Jangan sampai didengar oelh karyawan yang lain.
“Oke,,oke.. jadi lu beneran lagi PDKT sama dia?” sekarang kak Nina malah bertanya sambil berbisik padaku.
“Kenapa sih kak kepo amat?” kini aku malah jadi ikut bicara sambil berbisik pada kak Nina.
“Gue tuh bukannya kepo, cuma kalo misalnya lu ada apa-apa sama itu cowok kan gue juga bisa tau. Gitu loh, gimana sih lu. Diperhatiin malah berburuk sangka sama gue.” Kak Nina masih bicara dengan suara berbisik.
“Ya udah sih, liat aja nanti.”
“Ini kita kenapa jadi ngomongnya bisik-bisik gini sih?” kak Nina mengembalikan suaranya ke volume normal.
“Ya tau kakak yang bisik-bisik.”
“Kan elu yang nyuruh gue jangan nyaring-nyaring. Emang bener-bener y ani bocah nyebelin banget.”
“Ya ngga bisik-bisik juga kali.” Sahutku tidak mau kalah.
“Ngejawab mulu lu. Gue strap juga lu anak baru.”
“Hehe ampun kak, becanda.”
“Ish, ya udah sana gih lu tanyain Ben mau pesan apa.” Kak Nina mengangkat dagunya menunjuk kea rah orang yang ia maksud.
Spontan aku menoleh ke arah orang yang dimaksud oleh kak Nina. Itu adalah lelaki yang beberapa hari lalu sempat menanya-nanyai tentangku. Kenapa harus aku sih? Harusnya kak Nina saja yang melayani dia, lagipula kak Nina juga cukup akrab dengan pelanggan satu itu kan?
“Kakak aja deh kak, aku cuci piring aja di belakang ya.” Ujarku buru-buru memutar badan hendak menuju dapur.
“Eits,”
Tapi sayang, kak Nina lebih dulu menahanku dengan memegang pundaku mau tidak mau aku harus kembali memutar badan.
“Mulai sekarang kalau ada Ben ke sini, musti elu yang ngelayanin.”
“Ha? Kok gitu?”
“Ya ngga tau. Lu tanya aja sendiri sama orangnya kenapa dia maunya begitu?”
“Ha?”
“Ha he ha he udah kayak mainan keong deh lu. Udah buruan sana.”
Kak Nina mendorong pelan tubuhku.
Walau sebenarnya agak terpaksa tapi aku harus tetap bersikap ramah pada semua pelanggan yang datang. Bukan karena aku benci dengan Ben, tapi aku lebih merasa tidak nyaman semenjak dia menanya-nanyaiku beberapa waktu lalu. Sebenarnya aku adalah orang yang mudah terintimidasi jika ada orang baru yang terlalu ingin tahu tentang diriku. Begitu juga waktu awal-awal berkenalan dengan kak Nina, tapi karena setiap hari aku bertemu dengannya aku jadi terbiasa. Tapi kalau soal Ben, lagi pula kenapa harus aku yang melayaninya setiap kali dia ke sini? Apa dia benar-benar meminta seperti itu? Atau cuma akal-akalan kak Nina saja?
“Selamat sore kak, mau pesan apa?” tanyaku yang berusaha untuk tetap ramah dan tersenyum pada Ben seraya meletakkan daftar menu di hadapan Ben.
“Emm.. menurut kamu yang enak apa?”
“Em? Gimana kak?” aku balik bertanya.
“Saya bingung mau pesan apa, jadi menurut kamu yang enak apa?”
Aku ingat kak Dimas pernah bilang, kalau ada pelanggan yang bertanya-tanya soal menu kami sebagai pelayan tidak boleh menjawab ‘tidak tahu’ kami harus tahu tentang apa saja terkait coffee shop ini termasuk menu-menunya. Ya iyalah masa kamu kerja di sini tapi ngga tahu apa-apa tentang coffee shop ini, kurang lebih seperti itu maksudnya. Termasuk pertanyaan Ben barusan, kita juga harus bisa menjawab kalau ada pelanggan yang minta saran tentang menu apa yang sebaiknya mereka pesan. Tidak jarang kan ada orang yang datang ke coffee shop tapi sebenarnya tidak tahu mau pesan apa. Sering kali kita juga begitu kan, belum tahu mau apa dan bagaimana, yang terpenting jalan terus sampai ke tujuan. Jadi, menu apa yang harus ku sarankan? Duh! Kenapa jadi bikin aku harus mikir gini sih pelanggan satu ini.
“Emm.. karena cuaca sore ini lagi panas, gimana kalau iced cappuccino sama lava brownies, kak?” saranku dengan antusias.
“Ah boleh tu, ya udah itu aja.” Ujarnya sambil mengembalikan daftar menu yang dipegangnya padaku.
“Oke tunggu sebentar ya kak.”
Aku segera berlalu menuju meja barista membawa catatan pesanan Ben tadi.
“Ben pesan apa, Nes?” tanya kak Nina.
“iced cappuccino sama lava brownies.”
“Tumben nih si Ben pesan cappuccino, biasanya selalu pesan yang pahit-pahit kayak americano gitu.”
“O ya?” aku agak kaget saat kak Nina mengatakan bahwa Ben selalu memesan kopi dengan rasa yang cenderung pahit.
“Dia ngga begitu suka yang manis-manis, biasanya kalau ngga americano dia pesan espresso.”
What?! Dia ngga suka yang manis-manis? Sementara gue nyaranin cappuccino sama lava brownies? Lagian kenapa dia setuju-setuju aja sih? Kan harusnya bisa bilang kalau ngga suka manis. Bukannya apa sih, dimana-mana namanya jualan suatu produk kita harus mengutamakan kepuasan pelanggan kan. Itu kata dosen mata kuliah marketing di kampusku sih.
Setelah menunggu beberapa saat sampai semua pesanan Ben selesai dibuat, akupun segera membawa nampan berisi segelas iced cappuccino dan lava brownies itu ke meja tempat Ben berada. Seperti biasa, meja yang terletak agak pojok yang mengarah langsung ke pemandangan luari, karena bagian depan coffee shop ini hamper seluruhnya terbuat dari kaca sehingga kita bisa dengan jelas melihat ke luar.
“Ini pesanannya kak.”
Aku meletakkan tatakan gelas, gelas dan piringnya dengan perlahan.
“Kamu suka cappuccino ya?” tanya Ben tiba-tiba.
“Em?” dia cenayang ya? Kok bisa tahu aku suka cappuccino sih?, “I-iya kak. Kok tau?” aku balik bertanya.
“Karena kalau seseorang dimintain saran tentang makanan atau minuman yang sebaiknya kita pesan atau makan, orang itu cenderung akan menyarankan kita makanan atau minuman favorit mereka, karena mereka sudah tahu kalau rasanya pasti enak.”
Kok dia bisa kepikiran kayak gitu sih? Tapi emang bener sih logika yang Ben bilang barusan. Aku masih berdiri terdiam berusaha mencerna apa yang dikatakan Ben barusan.
“Sekarang aku jadi tahu deh kopi favorit kamu.” Ucapnya lagi sambil tersenyum lebar.
Raut wajahnya seperti mengekspresikan orang yang baru saja berhasil menyelesaikan soal ujian dan mendapat nilai serratus. Apa dia senang karena mengetahui kopo favoritku? Memang apa pentingnya aku suka minum apa.
Aku tersenyum tipis, “Kalau gitu saya kembali kerja lagi ya, kak. Permisi.”
Aku kemudian kembali melanjutkan pekerjaanku, menyambut dan melayani pelanggan-pelanggan lain yang datang, mencuci gelas dan piring kotor, membantu karyawan lain yang kewalahan dengan pekerjaan mereka. Seperti biasa, aku harus mengerjakan apa saja yang bisa ku kerjakan. Aku harus bekerja dengan baik karena tentu saja aku membutuhkan pekerjaan ini.