BAB 8 – MAKAN SIANG KEDUA

2467 Words
BAB 8 – MAKAN SIANG KEDUA   Jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Tenaga dan pikiranku rasanya sudah terkuras habis, mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi bahkan aku sudah tidak bisa fokus menyimak apa yang dikatakan oleh pak Rudi dan bu Siska. Setelah pulang dari pabrik pak Rudi langsung bergabung dengan tim finance untuk memastikan hasil pekerjaan kami selama beberapa hari ini. Supaya tidak ada yang ketinggalan dikerjakan setelah aku kembali ke Jakarta nanti.   Drett…drett   From : Ben Aku nunggu di lobi.   Aku tahu Ben juga pasti sangat lelah, makanya aku kurang senang jika dia memaksakan diri untuk menjemputku seperti ini. Aku tidak suka merepotkan orang lain, aku tidak suka kalau orang lain harus mengorbankan sesuatu untukku. Aku tidak membalas chat dari Ben, aku hanya berusaha utuk tetap fokus pada pembahasan terakhir malam ini. Aku harus memastikan bahwa pekerjaanku selama beberapa hari di sini benar-benar tuntas. Jangan sampai aku kembali ke Jakarta dengan masih meninggalkan permasalahan pekerjaan di sini.   “Bagaimana bu Siska? Apa masih ada yang perlu dikerjakan?” tanya pak Rudi sambil membolak-balik lembaran laporan yang sudah dijadikan satu menggunakan binder clip. “Saya rasa sudah selesai sih pak, semua laporan juga sudah dicetak dan sudah diperiksa ulang.” Jawab bu Siska yakin. “Oke deh kalau begitu pekerjaan malam ini sudah bisa diakhiri.” Ucapan pak Rudi barusan berhasil membuat para staf bernapas lega karena akhirnya lembur malam ini berakhir. Begitu pula dengan aku, akhirnya aku akan segera kembali ke Jakarta. Kami segera merapikan dokumen-dokumen di atas meja, memasukkan ke dalam map, semua dokumen ini akan diletakkan di ruang kerja bu Siska. “Setelah ini kalian semua bisa langsung pulang ya, dan jangan lupa besok kita ada makan malam bersama dengan pak Axel, pak Ben dan juga bu Vanessa,”  Ujar bu Siska yang kemudian di-iya-kan oleh para staf, “Nes, kamu pulang bareng saya aja ya. Supir saya sudah nunggu di bawah.” Bu Siska menawarkan. “Ah, ngga usah bu. Saya sudah dijemput juga kok.” “Oh ya? Dijemput siapa? Pak Salim?” Kasian amat sih si Ben dikira pak Salim. “Emm bukan bu. Saya dijemput sama Ben.” Jawabku agak canggung. “Oohh dijemput Ben.” Bu Siska mengangguk-anggukkan kepalanya, namun ekspresi wajahnya seperti sedang menerka-nerka sesuatu ketika aku menyebutkan nama Ben barusah, “Kamu memang sedekat itu ya sama Ben?” “Ng…engga juga sih bu. Kenapa ya bu?” “Ngga apa-apa sih, soalnya saya lihat beberapa kali memang Ben suka jemput kamu ya kalau lembur. Di Jakarta juga begitu ya?” Sebentar. Ini kenapa bu Siska jadi mendadak kepo gini ya? Mungkin karena aku orang yang agak tertutup jadi jujur saja pertanyaan bu Siska barusan sedikit menggangguku. Tapi biar bagaimanapun aku tetap harus menjawab pertanyaan bu Siska barusan. Mana mungkin aku menjawab dengan kalimat “Ibu kenapa kepo sih?” atau “Bukan urusan ibu” atau mungkin jawaban-jawaban ketus lainnya. “Engga kok bu. Justru Ben ngga pernah jemput saya kalau lembur di Jakarta. Mungkin karena lagi di Pekanbaru aja sih dan saya juga kan belum pernah ke sini makanya Ben mau jemput saya.” “Benar juga sih, apalagi kalian kan bisa dibilang satu tim kerja jadi harus saling memperhatikan ya.” “Hehe iya bu.” Jawabku singkat. “Ya sudah Nes, kamu duluan aja. Saya mau ngantar berkas ini ke ruangan saya dulu. Sampai ketemu besok malam ya.” “Iya bu, saya duluan ya.” Aku berpamitan dengan yang lain termasuk pak Rudi yang juga sudah bersiap ingin pulang. Aku berjalan keluar ruangan menuju lift dengan langkah kecil dan lambat. Maaf ya Ben, aku tidak bisa berjalan terlalu cepat malam ini, karena heels yang kupakai seharian ini juga sudah cukup menyiksa kakiku. Kakiku bisa jadi lecet kalau ku paksa berjalan terlalu cepat.   Pintu lift terbuka dan kini aku sudah berada di lantai dasar gedung kantor ini dan kemudian aku berjalan menuju lobi, tempat Ben sedang menungguku. “Hai.” Sapaku setelah berada tepat di samping sofa yang sedang diduduki lelaki yang sedang menggunakan hoodie hitam, celana jogger berwarna abu-abu tua dan sneakers berwarna hitam dengan beberapa aksen leres putih. Ia terlihat sedang memainkan ponselnya dengan kepala yang ditopangkan pada satu tangan lainnya yang ia sandarkan pada sandaran sofa. Ia terlihat cukup terkejut dengan kehadiranku. “Hei,” Ben menoleh ke arahku. “Sorry ya lama.” “Ngga apa-apa kok. Namanya juga kerja.” Sahutnya kemudian yang kini tela berdiri di depanku. “Ngga ada yang ketinggalan, kan?” Aku menggelengka kepala. “Ya udah, yuk.” Ben tiba-tiba mengambil tas laptop yang sedang kupegang lalu menjinjingnya sambil berjalan pelan mendahuluiku yang sesaat terdiam. Aku kemudian berjalan berusaha mensejajarkan  langkahku dengannya. Kalau ku perhatikan lagi, Ben ini tipikal lelaki yang perhatian dengan hal-hal kecil tapi bisa membuat orang lain terkesan. Contoh kecil seperti yang barusan ia lakukan, membantu mengurangi bebanku dengan membawakan tas laptopku. Aku rasa semua perempuan akan merasa terkesan jika diperlakukan seperti itu. Seperti biasa, Ben membukakan pintu mobil untukku. Siapa yang tidak tambah terkesan kalau diperlakukan seperti ini? Hal kecil yang bisa membuat orang lain merasa diperhatikan dan dihargai. Jadi, apa aku terkesan dengan perlakuan Ben? Sepertinya iya. Yang jelas aku senang hehe.   “Maaf dan terima kasih ya, Ben.” “Buat?” “Maaf sudah ngerepotin dan terima kasih sudah mau direpotin.” “Ngerepotin? Direpotin? Aku ngga ngerasa begitu kok. Kan emang aku yang mau jemput kamu.” Ucap Ben lalu menyunggingkan senyuman di bibirnya berusaha menyakinkanku bahwa aku memang tidak merepotkan dirinya. “Gimana kerjaan kalian?” tanyaku. “Emm beres sih. Keadaan di lapangan ngga ada yang gimana-gimana banget. Cuma perjalanannya aja sih yang bikin agak capek. Kayaknya sampai di Jakarta aku mau pijet refleksi deh. Temenin ya.” “Em? Temenin apa?” “Ya temenin ke tempat pijetnya lah, apa sih namanya? Tempat spa? Massage? Ya itu lah pokoknya.” “Bisa sih. Emang biasanya kamu langganan dimana?” “Engga punya tempat langganan. Lagian kan aku juga baru balik ke Jakarta, jadi belum begitu tau tempat-tempat baru yang bagus buat pijet refleksi segala macam gitu. Makanya aku minta ditemenin sama kamu, siapa tau kamu ada rekomendasi.” “Emm oke deh nanti ya.” Ben mengangguk setuju. Suasana mulai hening, kami mulai kehabisan bahan obrolan, ditambah lagi karena aku dan Ben sama-sama lelah bekerja seharian dan aku yakin Ben pun sebenarnya sudah mengantuk karena sekarang ia sudah menyenderkan kepalanya ke kursi mobil dan menutup kedua matanya. Jadi biarkan sisa perjalanan menuju hotel ini menjadi saat tenang.   …   Jam di layar ponselku hampir menunjukkan pukul sebelas siang ketika aku baru saja selesai mandi. Aku masih menggunakan bath robe yang disediakan oleh pihak hotel sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, aku berjalan menuju meja kecil di samping tempat tidur lalu mengambil ponselku yang ku letakkan di sana. ada dua panggilan tak terjawab dari Ben. Tanpa pikir panjang aku langsung menelpon balik Ben. Aku menunggu sesaat setelah kemudian terdengar suara seseorang dari balik telpon menjawab panggilanku. “Halo Ben, sorry ngga keangkat, aku baru selesai mandi. Kenapa Ben?” “Kamu ngga ada kegiatan apa-apa lagi kan?” “Ngga ada sih. Kenapa emangnya?” “Makan siang yuk. Sekalian ada yang mau aku beli.” “Berdua doang? Atau sama Axel.” “Tadi udah aku ajak, tapi katanya mau istirahat di hotel aja.’ “Oh gitu. Ya udah tunggu sebentar ya, aku siap-siap dulu.” “Oke deh, aku tunggu di lobi bawah ya, sekalian mau pesan taksi.” “Oke ntar aku langsung ke lobi.” Aku menutup telpon dari Ben dan lansung siap-siap, jangan sampai Ben kelamaan menungguku. Lagipula perutku mulai terasa lapar, karena tadi pagi aku melewatkan sarapan karena bangun kesiangan.   … “Kamu mau makan apa?” tanya Ben sambil membolak-balik daftar menu. “Aku mau sup tunjang aja deh, sama nasi putih dan es jeruk.” Ujarku lalu mengembalikan daftar menu yang ku pegang kepada pelayan restoran. “Saya juga deh, samain aja ya mbak.” Ujar Ben yang malah jadi menyamakan pesanannya denganku. “Ditunggu sebentar ya mas, mbak.” Ujar pelayanan itu kemudian berlalu. “Kok kamu malah nyamain pesanannya kayak punyaku sih?” “Lagi malas mikir mau makan apa, lagian aku percaya sama selera kamu kok. Kayak rawon di Jakarta waktu itu.” Jawabnya lalu tertawa iseng. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Ben barusan. “O iya, terus Axel makan siang dimana?” “Mungkin makan siang di hotel atau pesan online.” Aku mengangguk mengerti. Tak lama kemudian makanan yang kami pesan datang. Aku dan Ben menikmati makan siang kami. Siang ini kami makan sup tunjang dengan nasi putih dan es jeruk. Sup tunjang adalah makanan khas Pekanbaru, aku pernah menonton acara memasak di televisi dan waktu itu menu yang diolah adalah sup tunjang, di dalamnya ada daging dan iga sapi. Sama seperti yang lalu, kali ini Ben juga menyamakan menu makanannya dengan milikku.   …   Selesai makan siang Ben mengajakku ke salah satu toko yang menjual berbagai macam cenderamata khas Pekanbaru. Aku memilih kain batik Bono khas Riau sebagai oleh-oleh untuk Fanny dan Regi. Selain itu aku juga membeli beberapa jajanan ringan khas Pekanbaru. Ada salah satu jajanan yang menurutku sangat unik, dan aku akan memaksa Fanny untuk mencobanya. Peyek Jangkrik. Yup! Benar. Peyek Jangkrik, katanya sih camilan khas Pekanbaru. Aku penasaran, jadinya aku beli saja dua bungkus untuk dicoba Bersama Fanny di Jakarta, yang pasti sih dia bakalan kesal abis gara-gara aku membawakan makanan tak lazim ini hehe. Ben sampe geleng-geleng kepala melihat keusilanku membeli peyek jangkrik ini untuk Fanny. Aku melirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul dua siang. Sepertinya sudah waktunya untuk kembali ke hotel dan beristirahat karena nanti malam kami harus keluar lagi untuk makan malam bersama pak Rudi, bu Siska dan juga staf finance di kantor Pekanbaru. Akhirnya, besok kami akan kembali ke Jakarta. Aku sudah rindu berat dengan kamarku yang tidak terlalu besar itu, bergaya minimalis dengan seluruh tembok dicat putih dan Sebagian besar perabotan di dalamnya terbuat dari kayu, sederhana tapi aku sangat suka berada di sana, bahkan tidak masalah bagiku untuk berdiam selama seminggu di dalam kamar, yang jelas sih selama masih ada makanan dan koneksi internet hehe. Ben sudah memesan taksi untuk mengantarkan kami kembali ke hotel. Hari ini Ben mentraktirku makan, membayar taksi, bahkan dia ingin membayarkan semua belanjaan oleh-olehku. Tentu saja aku menolak, Namanya juga oleh-oleh dariku harus aku yang bayar dong, kalua Ben yang bayar jadinya oleh-oleh dari Ben. Dan sekarang taksi yang kami tumpangi telah berhenti di depan sebuah coffee shop yang aku dan Ben kunjungi di hari pertama kami sampai di Pekanbaru. Hari itu aku sempat berpikir “Ini orang ngga ada capeknya, ya? Baru juga sampe udah keluyuran aja nyari coffee shop” jujur saja waktu itu sebenarnya aku cukup lelah untuk sekadar jalan-jalan di hari pertama, tapi karena Ben sudah keburu mengetuk pintu kamarku ya sudah mau tidak mau aku ikut. Tapi pada akhirnya aku juga menikmati suasana di malam itu, terlebih tentang segala percakapan singkat di antara kami. Setidaknya, aku bisa mengenal Ben lebih banyak. Penyesalanku tentang pernah menyiakan kesempatan untuk mengenalnya kini perl;ahan-lahan mulai terbayar. Oh ya, dan tebak untuk apa kami ke sini? Ben membeli lima kotak brownies yang ia pesan waktu itu. Katanya mau dibawa ke Jakarta. Ben suka sekali dengam brownies di coffee shop ini. Ben membeli tiga kotak brownies berukuran besar dan dua lagi berukuran sedang. Kebetulan brownies di coffee shop ini tahan disimpan untuk beberapa waktu, entah bagaimana mereka mengolahnya, yang jelas aku tidak mungkin bisa membuat kue semacam itu. Ingat kan brownies yang pernah ku buat bersama Fanny saat dia menginap di rumahku? Ingat kan hasilnya seperti apa? Yup betul sekali! Bantat. Sudahlah, aku memang tidak pernah berbakat dalam hal baking maupun memasak.   …   Kami baru saja menyelesaikan makan malam kami, sekarang waktunya untuk sedikit berbincang-bincang, tentu saja tentang pekerjaan dan diselingi dengan percakapan ringan lainnya. Kebanyakan pak Rudi dan bu Siska yang berbicara dan kami mendengarkan. Sesekali Axel menimpali pembicaraan itu, begitu pula dengan Ben. Sementara aku, sudah jelas cuma senyam-senyum sambil sesekali menyahut “iya”. Selain pak Rudi dan bu Siska, ada satu orang lagi yang cukup banyak bicara mala mini. Windy. Aku semakin bisa menyimpulkan bahwa Windy memang memiliki hubungan yang baik dengan pak Rudi dan bu Siska, buktinya hampir semua yang diceritakan pak Rudi maupun bu Siska juga diketahui oleh Windy.   Sudah hampir jam sebelas malam, semua staf yang tadi ikut bergabung sudah pulang. Kini hanya tersisa pak Rudi, bu Siska, Axel, Ben, aku dan juga Windy. “Besok aku ikut nganterin ke bandara ya.” Tiba-tiba ucapan itu tambah mengangguku. “Boleh.” Axel mengiyakan, spontan aku menoleh ke arah Axel dan tanpa terduga Axel juga langsung menoleh ke arahku. Axel menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku pahami. Tatapannya seolah sedang menanyakan sesuatu atau mungkin sedang menyampaikan sesuatu. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain. Perlukah aku mengambil cuti setelah kembali ke Jakarta? Aku rasa selama berada di Pekanbaru perasaanku menjadi campur aduk. Siang bahagia, malam jadi kesal. Bisakah kembali ke hotel sekarang juga? Aku ingin cepat tidur dan bangun besok pagi kembali ke Jakarta.   …   “Terima kasih pak Salim.” Ucapku sambil meraih koperku yang baru saja diturunkan pak Salim dari bagasi mobil. “Sama-sama mbak. Hati-hati dan semoga sampai Jakarta dengan selamat.” Ucap pak Salim dengan wajah sumringahnya. “Amin.” Balasku sambil tersenyum pada pak Salim. “Jangan lupa kabarin kalau sudah sampai ya, Ben.” Ujar Windy yang sesuai dengan ucapannya tadi malam ingin ikut mengantarkan kami ke bandara. Entahlah, ikut mengantar kami atau hanya sekadar ingin mengantarkan Ben. “Iya Win, nanti aku kabarin.” Sahut Ben. Tiba-tiba saja Windy memeluk Ben sambil menempelkan pipinya dengan pipi Ben, “See you.” Ucapnya kemudian. Jujur saja pemandangan barusan membuat suasana menjadi awkward. Tapi nampaknya perempuan satu ini tidak peduli akan hal itu. Bahkan Ben seperti sedang menahan rasa malunya. Aku membuang pandanganku ke arah lain. “Ah Nes, hati-hati di jalannya. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Ujar bu Siska sambil memelukku, “Sampai ketemu juga ya, Xel.” ujar bu Siska sembari berjabat tangan dengan Axel. “Terima kasih bu Siska untuk sambutan dan bantuannya selam beberapa hari ini.” Ucap Axel. “Justru saya yang berterimakasih sama kalian semua karena sudah bersedia membantu perusahaan di sini.” “Iya sama-sama bu. Titip salam dan ucapan terima kasih kami untuk pak Rudi juga ya bu, saya akan hubungi beliau kalau sudah sampai di Jakarta.” “Iya pasti saya sampaikan.” Setelah berpamitan sekali lagi kami pun masuk ke dalam bandara untuk segera melakukan check in. Sesaat aku bisa melihat Windy mengamatiku yang berjalan di antara Axel dan Ben. Kenapa harus bertemu dengan orang semenyebalkan Windy sih?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD