BAB 7 - FLASHBACK

2181 Words
BAB 7 - FLASHBACK   “Vanessa,”   Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah pemilik suara yang memanggil namaku itu.   Windy?   “Mau ke mana?” tanyanya seraya berjalan menghampiriku. “Mau ke cafetaria, beli kopi.” Jawabku berusaha seramah mungkin. “Ikut dong, aku juga mau ngopi. Agak ngantuk nih.” “Bo..leh.” aku menjawab agak ragu. Jelas saja, kami baru kenal kemarin, pasti akan menjadi canggung kalau harus ngopi berdua, kan? Tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin juga aku menolak Windy untuk ikut, kan? Kami berjalan beriringan dan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirku maupun dari Windy.   “Kamu, dekat ya sama Ben?” Sampai pertanyaan yang tidak terduga itu keluar dari mulut Windy. “Maksudnya dekat gimana?” aku balik bertanya, pura-pura tidak mengerti dengan tujuan pertanyaan Windy. Jelas saja, zaman sekarang anak SMP pun pasti akan langsung paham dengan maksud dari pertanyaan Windy tadi. “Ya, dekat. Dekat yang kayak lebih dari teman gitu.” Windy memperjelas maksud pertanyaannya. Aku terdiam sejenak, bukan karena memikirkan jawaban yang harus ku berikan pada Windy, lebih tepatnya otakku mendadak jadi kosong setelah mendengar pertanyaan Windy itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Sebentar… kenapa harus tidak tahu? Bukankah sudah jelas aku dan Ben adalah teman sekaligus rekan kerja. Jadi, kenapa harus harus bingung mau jawab apa. “Pertanyaan kamu ada-ada aja deh Win,” Aku berusaha tertawa menutupi kecanggungan yang ku rasakan akibat pertanyaan konyol itu, “Ya, aku sama Ben itu teman sekaligus rekan kerja. Kayak yang kamu lihat, kan?” aku tersenyum lebar dengan maksud ingin menyakinkan Windy. Windy tidak menyahut, dia justruk mengangguk-anggukan kepalanya. Oke, berarti dia sudah menyetujui jawaban yang ku berikan barusan. “Yakin?” Dih, apaan sih ni orang? Kok maksa banget. “Yakin lah, kenapa engga. Hot Cappuchinonya satu ya.” Aku memesan pada pelayan cafetaria yang baru saja memberikan uang kembalian pada karyawan lain yang membayar sarapannya. “Saya caramel latte, ya.” Ujar Windy. Aku berjalan menuju salah satu meja kosong yang berada agak di pojok ruangan. “Jadi kalau Ben sama orang lain, kamu ngga masalah nih?” Pertanyaan konyol apa lagi sih ini? Baru hari kedua kenal, si Windy ini sudah sangat menyebalkan, ya. “Sebentar deh, kamu ngapain sih nanya-nanya kayak begini?” “Ya aku pengen tahu aja.” Lagi-lagi perempuan yang sekarang duduk di depanku ingin menyunggingkan senyuman yang sekarang sudah kuputuskan bahwa aku tidak menyukai senyumannya itu. Kalian pasti paham kan bagaiman penampakan wajah seseorang yang senyumannya tidak tulus, tapi malah menyiratkan sesuatu yang justru membuat kalian merasa tidak nyaman. Ya, itulah yang sedang kulihat di wajah Windy saat ini. Hot Cappuchino dan Caramel Latte pesanan kami datang dan aku langsung mengambil gelasku dan menyeruput isinya. Aku tidak menghiraukan kalimat terakhir yang diucapkan Windy. Lagian kenapa jadi pengen tahu urusan pribadi orang sih? Bukankah itu hal yang tidak sopan? Apalagi baru kenal seperti ini, kan jadi menimbulkan kesan yang kurang baik. Aku kembali meletakkan gelas berisi Hot Cappuchino-ku ke atas meja dan tanpa sengaja mataku bertemu dengan mata Windy. Ternyata sejak tadi dia masih menatapku, tentu saja dengan tatapan yang menginginkan jawaban perihal kedekatanku dengan Ben. “Hhhmm,” aku menghela napas panjang lalu menyenderkan tubuhku pada senderan kursi, kemudian aku melipatkan kedua tanganku di depan d**a, “Sekarang aku tanya deh, apa pentingnya hubungan aku sama Ben buat kamu sampai kamu kayak ngotot banget gini buat nunggu jawaban aku?” sekarang aku benar-benar merasa tidak nyaman berada di dekat Windy. “Kayak yang aku bilang tadi. Aku pengen tahu aja.” Jawabnya santai membuatku benar-benar merasa jemu padanya. “Aku sama Ben ngga lebih dari sekadar rekan kerja.” Jawabku dengan ekspresi datar. Aku bisa melihatnya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu kembali menyeruput isi dari gelas yang dipegangnya. Aku memutuskan untuk segera menuju ruangan bu Siska sebelum aku benar-benar tidak menyukai perempuan ini. aku bangkit dari kursi tempatku duduk. “Aku duluan ya Win.” Ucapku yang tanpa banyak bicara langsung meninggalkan Windy seorang diri di cafetaria.   …   Seperti biasa, selama beberapa hari bekerja di kantor Pekanbaru aku tidak memiliki ruang kerja yang pasti. Kadang di ruangan bu Siska, kadang di ruang meeting, atau kadang di ruangan staff finance. Dan sejak pagi tadi, aku bekerja di ruangan bu Siska.   “Ngga kerasa ya, besok udah hari terakhir kalian di sini.” Ujar bu Siska memecah hening karena sedari tadi kami berdua sama-sama sedang fokus pada layar monitor dan dokumen-dokumen di hadapan kami masing-masing. “Ah, iya ya bu. Ngga kerasa udah hampir seminggu di Pekanbaru.” “Gimana kalo besok malam kita dinner bareng? Setuju ngga? Sama anak-anak yang lain juga.” “Boleh tuh bu.” Jawabku antusias. “Oke deh kalo gitu nanti kita dinner di restoran langganan saya aja ya. Nanti saya atur reservasinya.” Ujar bu Siska yang segera meraih ponselnya di atas meja, sepertinya bu Siska ingin menghubungi restoran yang ia maksud tadi untuk melakukan reservasi. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku. “Halo, Win, besok malam kamu ngga ada acara kan? Ikut dinner bareng yuk.” “Lusa kan Anes, Axel sama Ben balik ke Jakarta. Jadi kita mau dinner bareng sebelum mereka pulang. Gimana? Kamu bisa?”   Windy? Jadi bu Siska bukan mau nelpon restoran yang tadi ia maksud? Bu Siska malah nelpon Windy untuk gabung ke acara dinner kami.   “Oke deh kalo gitu, nanti saya kasih tau alamatnya ya.” “Oke deh Win,  see you.” Bu Siska menutup telponnya.   Salah ngga sih kalau aku merasa kurang senang kalau harus ada Windy?   …   Aku menoleh ke pergelangan tanganku, jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Hari ini kami akan lembur karena hari ini hari terakhir aku membantu pekerjaan di kantor Pekanbaru dan lagi besok hari Sabtu jadi kantor akan libur jadi kami harus memastikan semua pekerjaan selesai dengan baik. Seharusnya besok kami sudah bisa kembali ke Jakarta, tapi pak Rudi mengusulkan agar kami bertiga bisa memiliki waktu istirahat barang sehari, jadi tidak terlalu capek di perjalanan pulang. Walaupun naik pesawat, tapi tetap saja tenaga dan pikiran kami sudah cukup banyak terkuras selama membantu pekerjaan di sini. Apalagi Axel dan Ben yang harus bolak-balik ke lokasi pabrik yang jaraknya lumayan jauh dari perkotaan. Ngomong-ngomong soal Axel dan Ben, mereka sudah makan siang belum ya?   Drett…drett Ada panggilan masuk dan setelah melihat nama kontak yang tertera dilayar dengan antusias aku langsung mengangkat telponnya.   “Halo!” “Hola halo hola halo dari mana aja lu? Kenapa chat gue dari kemaren malam kagak lu balas? Udah dapat sohib baru lu di sana makanya lupa sama gue? Iya?!” suara omelannya terdengar dari sebrang sana. Sudah ketebakan siapa yang menelponku? “Iya sorry abisnya kemaren gue capek banget jadi sampe hotel langsung mandi terus ketiduran deh hehe sorry ya.” “Ngga! Ngga akan gue maafin kecuali lu bawain gue oleh-oleh dari Pekanbaru.” “Iya iya, entah gue bawain deh. Emang lu mau apaan?” “Cogan khas Pekanbaru.” “Heh jangan ngada-ngada deh lu ya lu kira cogan sejenis kue basah yang bisa gue dapetin di pasar tradisional apa? Gue aduin Regi baru tau lu.” “Yee becanda kali. Apa aja lah terserah elu yang penting sesuatu yang lu beli dari Pekanbaru. Sendal jepit juga ngga masalah, yang penting dari Pekanbaru hahaha.” “Hahaha emang dasar gelo lu ya. Iya deh ntar gue cariin oleh-oleh buat lu sama Regi ya. Eh kok jam segini lu udah nelponin gue sih? Ngga kerja lu?” “Hehe gue udah rumah.” “Loh kok bisa?” ”Jadi dari kemaren tuh sebenarnya gue udah kurang enak badan, terus tadi pagi agak naik gitu demamnya jadinya gue ijin kerja setengah hari deh sama mbak Laras. Lagian hari ini kerjaan gue juga lagi ngga terlalu banyak. Jadi amanlah hehe.” “Oh gitu. Terus lu udah minum obat belum?” “Udah kok tenang aja ngga usah khawatir berlebihan gitu sama gue.” “Dih siapa yang khawatir berlebihan sih?” “Ya elu lah. Gue tau lu pasti kangen parah sama gue. Ya kan?” “Iya deh Fan serah lu dah.” “Terus gimana lu sama Ben? Udah ada perkembangan apa selama kerja bareng di sana?” “Perkembangan apaan sih? Orang gue sama dia aja kerjanya misah, dia selalu ke pabrik dan lokasi sama tambang sama Axel, gue kan kerjanya di kantor.” “Ya elah ngga seru banget sih.” “Udah deh Fan ngga usah aneh-aneh deh lu ya. By the way entar lagi ya Fan gue mau nyelesain kerjaan dulu biar lemburnya ngga terlalu malam.” “Oke deh. Baek-baek lu ya di sana, kabarin gue kalo lu ada apa-apa.” “Iya Fanny baweeel. Gue tutup ya. Bye bawel.” “Iyee, Bye batu.” Fanny buru-buru menutup telponnya setelah mengataiku batu. Panggilan macam apa itu? Kenapa aku malah dikatain batu? Dasar si Fanny bawel ngga jelas. Aku kembali fokus kepada pekerjaanku sebelum bu Siska kembali ke ruangan ini dan mendapati aku yang bukannya bekerja malah asik dengan ponselku.   Drett…drett Baru saja aku meletakkannya, kini ponselku sudah bergetar lagi. Ada notifikasi chat baru yang masuk di layar ponseku.   From : Ben Hari ini kamu lembur ya? Nanti aku aja yang jemput.   Ternyata dari Ben. Sejujurnya sejak makan malam bersama pak Rudi, bu Siska dan juga Windy kemarin malam, aku sudah tidak ada berbicara lagi dengan Ben. Sesampai di hotel kami langsung masuk ke kamar masing-masing tanpa membahas hal lain lagi, termasuk pekerjaan. Mungkin karena maisng-masing kami juga sudah terlalu lelah dengan deadline yang harus kami selesaikan di sini sebelum kembali ke Jakarta. Bahkan tadi pagi pun saat kami aku, Ben dan juga Axel bertemu di lobi hotel kami tidak saling berbicara, bahkan tidak saling sapa. Kalau Axel sih sudah tidak heran ya, dia kan si kaku dan cuek. Tapi Ben, dia hanya menyunggingkan senyum tipisnya padaku. Biasanya setidaknya dia menanyakan bagaimana pekerjaanku, apa yang akan ku kerjakan di hari itu, ada kendala apa, entah saat menunggu pak Salim menjemput atau di perjalanan menuju kantor. Tapi pagi ini, tidak ada pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Lalu kenapa tiba-tiba mau menjemputku malam ini?   To : Ben Ngga usah Ben, kayaknya aku lembur sampe malam banget.   Belum sempat kau meletakkan kembali ponselku ke atas meja, chat balasan dari Ben sudah masuk.   From : Ben Justru itu, karena sampe malam banget jadi aku aja yang jemput. Nanti malam aku kabari lagi. Aku lanjut kerja lagi,   Aku tidak membalas chat Ben. Setelah kembali dekat dengan Ben beberapa waktu ini sejujurnya kadang aku agak bingung dan bertanya-tanya, sebenarnya Ben laki-laki yang seperti apa? Kadang dia sangat perhatian, di beberapa waktu dia sangat santai, di beberapa waktu lain sangat serius, sampai-sampai kadang aku tidak berani menegurnya saat berpapasan dengannya di kantor di Jakarta. Pernah beberapa kali aku berpapasan dengan Ben saat dia sedang berbicara dengan seseorang di telpon, ekspresi wajahnya sangat serius dan juga sepertinya sedang membicarakan hal penting soal pekerjaan, aku hanya melewatinya begitu saja tanpa menyapa, karena pikirku untuk apa juga menyapanya, tapi baru beberapa langkah berlalu dia membalikkan badan dan malah memanggilku. Karena merasa namaku dipanggil tentu saja aku langsung menoleh ke arahnya, dan tebak dia bilang apa? Dia cuma bilang “Ngga apa-apa. Semangat ya”. Random banget ngga sih? Ngomong-ngomong, aku jadi malah kepikiran mau membawakan oleh-oleh apa untuk Fanny dan Regi. Mungkin kalian akan bertanya “Kenapa cuma buat Fanny dan Regi? Buat keluarga?”. Ngga ada. Aku ngga punya keluarga. Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tua yang sama-sama sudah tiada. Ayahku meninggal ketika aku berusia tiga belas tahun, waktu itu aku tidak banyak mengerti apa dan bagaimana penyakit ayahku sampai akhirnya beliau meninggal. Yang ku tahu beliau terkena komplikasi, tidak bisa lagi mengurus usaha mebeul keluarga kami yang berujung dengan keluarga kami mengalami kebangkrutan. Mulai saat itu, ibu menjadi satu-satunya yang berjuang untuk kehidupan kami berdua. Sedangkan untuk biaya sekolahku beruntunglah aku bisa mendapatkan beasiswa dari SD bahkan sampai kuliahku selesai. Aku memang masih memiliki beberapa orang keluarga dari pihak ayah maupun ibuku. Tapi ya gitu, namanya juga keluarga jauh, cuma menghubungi sesekali kalau lagi ada perlunya. ada sih bude Nani, kakanya ibu, beliau satu-satunya keluarga yang cukup dekat denganku, setidaknya dua bulan sekali aku menelpon beliau, atau kadang kalau aku terlalu sibuk dan tidak sempat menghubungi beliau duluan yang mencariku. Tapi tetap saja, beliau juga memiliki urusan keluarganya sendiri yang perlu dipikirkan jadi tidak begitu bisa memperhatikanku sebagai keponakannya dan aku sangat bisa memahami hal itu. Sewaktu ibu meninggal bude Nani pernah menawariku untuk tinggal bersama keluarganya di Yogyakarta. Tadinya aku hampir setuju, tapi setelah ku pikir-pikir lagi kalau aku pindah ke Yogyakarta otomatis aku harus berhenti kuliah di kampusku waktu itu dan jelas aku akan kehilangan beasiswa untuk menjadi sarjana karena belum tentu aku bisa mendapatkan beasiswa di Yogyakarta apalagi kalau mengharapkan bude Nani yang membiayai kuliahku, sangat tidak mungkin. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap tinggal di Jakarta seorang diri dan mulai mengambil kerja paruh waktu di salah satu coffee shop untuk membiaya kebutuhan hidupku. Dan ya, di coffee shop itulah untuk pertama kalinya aku mengenal Ben.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD