BAB 6 – ADA YANG BERBEDA
Kurang sepuluh menit sebelum jarum panjang menyentuh angka dua belas dan akan menunjukkan pukul delapan malam. Dan aku masih di sini, duduk di ruang meeting bersama tim akuntingnya bu Siska. Pundakku rasanya sudah mau copot. Tidak ada makan malam bersama pak Rudi seperti malam-malam sebelumnya, aku makan malam bersama bu Siska dan timnya di ruang meeting ini. Yup! Pesan makanan melalui ojek online. Axel dan Ben juga nampaknya belum kembali setelah tadi pagi sesampainya di kantor, mereka langsung dibawa pak Rudi ke lokasi pabrik. Kira-kira pulang jam berapa ya?
Kenapa malah mikirin mereka sih? Fokus sama kerjaan, Nes! Aku menyadarkan diriku sendiri.
Aku menggeleng kepala, berusaha mengusir rasa ngantuk dan lelahku. Sampai akhirnya…
Drett…drett
Layar ponselku menyala, menunjukkan satu chat baru yang tertera di sana.
From : Ben
Aku sama Axel langsung diantar balik ke hotel.
Kamu masih di kantor? Masih lama ya?
Aku buru-buru menarik kembali senyum yang sempat mengembang di wajahku sebelum orang-orang di sekitarku menyadari kalau aku sedang tersenyum pada layar ponsel. Bisa jadi mereka akan menganggap aku aneh.
To : Ben
Iya Ben, aku masih di kantor. Kayaknya sebentar lagi deh.
Aku mengalihkan pandangan kepada layar laptop dan memeriksa kembali setiap baris angka pada worksheet excel-ku, memastikan lagi tidak ada data yang salah input.
Drett…drett
From : Ben
Aku jemput ya
Mataku meleber membaca isi chat dari Ben. Dia becanda ya? Ah! Ini pasti cuma basi-basi doang kan? Lagian dia pasti sudah terlalu lelah untuk sekedar menjemputku.
To : Ben
Eh, ngga usah Ben. Ntar aku dianterin sama supirnya bu Siska kok.
Aku menunggu dengan perasaan agak gelisah. Dia ngga serius kan?
From : Ben
Kasih tau bu Siska, aku yang jemput kamu. Aku sudah pesan taxi. Tunggu aja di kantor.
Ini beneran chat dari Ben, kan? Ini aku yang salah cara bacanya apa gimana sih? Ben, yang biasanya sangat santai mendadak isi chat-nya jadi terkesan tegas dan tidak bisa diganggu gugat seperti ini.
“Nes, kayaknya cukup sampe sini dulu aja ya. Kita lanjutkan besok lagi, kasian juga kalau terlalu malam udah pada ngga fokus.” Ujar bu Siska.
“Iya bu, saya juga udah mulai ngga fokus hehe.”
Kami pun segera menutup laptop masing-masing dan merapikan semua dokumen-dokumen yang berserakan di atas meja.
“Kamu saya antarin ke hotel ya, Nes. Kebetulan supir saya sudah nunggu di bawah.” Ujar bu Siska lagi.
“Oh ngga perlu repot-repot bu, saya sudah ada yang jemput juga kok.” Sahutku yang sebenarnya agak sungkan kalau-kalau bu Siska sampai tahu kalau Benlah yang menjemputku.
“Oh ya? Dijemput siapa?”
“Ben, bu.”
“Oh gitu, ya udah ngga apa-apa kalo gitu. Yang penting kamu ada teman pulang.” Ujar bu Siska lalu kembali merapikan dokumennya.
Beberapa orang sudah menghilang duluan, bu Siska masih berada di ruangannya saat aku meminta izin untuk pulang duluan. Langkahku agak lesu saat menyusuri lobi utama gedung kantor ini. Tebak ada siapa di sana? Yup! Itu Ben.
“Harusnya kamu ngga perlu repot-repot jemput aku segala, Ben. Kamu pasti juga capek kan?” ucapku saat berdiri di samping sofa tempat sekarang Ben tengah duduk sambil menyenderkan kepalanya pada senderan sofa.
Lihat, bukankah dia sendiri sudah sangat lelah? Kenapa mesti repot-repot menjemput aku segala sih? Kan jadi aku yang ngga enak gini.
“Udah selesai? Yuk.”
Ben langsung berdiri saat menyadari aku sudah berada di sampingnya. Seketika tangannya langsung menggandeng tanganku, dan aku cukup terkejut dengan hal itu.
Sesampainya di luar, Ben langsung membukakan pintu taxi untukku. Tanpa protes aku langsung masuk, Ben menutup pintunya dengan hati-hati lalu memutari taxi itu dan kini dia sudah berada di sampingku. Taxinya segera melaju menuju hotel.
“Kok kamu ngga jawab sih?”
“Apanya?” Ben malah balik bertanya.
“Kamu ngapain repot-repot jemput aku? Kan bisa dianterin sama supirnya bu Siska. Lagian kamu kan juga capek seharian di pabrik dan perjalanannya kan juga lumayan jauh.”
“Setidaknya aku akan lebih tenang kalau aku sendiri yang jemput kamu.”
Ben menjawab dengan suara agak pelan. Sepertinya dia benar-benar kecapekan. Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pembahasan itu lagi, setidaknya aku harus menghargai Ben yang sudah bersusah payah menjemputku walaupun dia sendiri sedang lelah.
Malam itu jalanan Pekanbaru tidak begitu ramai, kurang lebih dua puluh menit kami sudah sampai di hotel.
“Kembaliannya ambil aja pak. Terima kasih ya.”
Taxi yang mengantarkan kami segera menghilang dari pandangan.
Sekarang kami sudah berada di dalam lift. Aku tidak ingin banyak berbicara pada Ben karena aku tahu dia sedang sangat lelah, dan biasanya orang yang sedang lelah akan malas kalau diajak mengobrol. Itu kalau aku sih.
“Gimana hari ini?” tiba-tiba Ben bertanya.
“Lancar sih, walaupun agak capek,” jawabku dengan senyuman yang sebenarnya terpaksa. Iya, karena pekerjaan sepanjang hari ini cukup menguras pikiran dan tenaga, sampai lembur begini, “Kamu sama Axel gimana?” aku bertanya balik.
“Sama sih, lancar dan melelahkan.” Jawab Ben.
Aku hanya mengangguk mengerti.
“Besok ke pabrik lagi?”
“Kayaknya iya, tapi paginya ke kantor dulu.”
Suara Ben terdangar sangat lesu, bahkan ia berbicara tanpa melihatku. Matanya tertutup dengan kepala yang disandarkannya pada dinding lift. Dia benar-benar kelelahan, dan aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih banyak lagi.
Pintu lift terbuka, aku dan Ben berjalan beriringan tanpa ada sepatah kata lagi di antara kami. Aku juga merasa sangat lelah. Hari ini memang menguras banyak tenaga dan pikiran. Aku kangen Jakarta. Biasanya pekerjaan yang sulitpun tidak terasa terlalu melelahkan kalau mengerjakannya bersama Fanny. Mungkin aku butuh lebih berbaur dengan karyawan di sini, atau aku harus sedikit bersabar sampai waktu pulang tiba.
“Nes,”
Aku menarik kembali tanganku yang hampir menyentuh gagang pintu, lalu memalingkan badan.
“Good night, selamat istirahat ya.”
Ia menutup kalimatnya dengan senyuman yang sangat tulus—aku bisa melihatnya, sebelum akhirnya ia menutup pintu kamarnya.
Cuma perasaanku, atau hari ini Ben memang agak berbeda? Apa benar-benar karena kelelahan? Atau ada hal lain?
…
Hari ini adalah hari ketiga aku, Ben, dan Axel ada di Palembang. Kalau melihat dari banyaknya pekerjaan yang masih harus diselesaikan kemungkinan lusa kami sudah bisa kembali ke Jakarta. Aku jadi rindu rawon langgananku dan Fanny.
Seperti biasa, aku dan kedua lelaki di sampingku ini sampai di kantor dengan diantarkan pak Salim. Hari ini Ben dan Axel akan kembali melakukan peninjauan di pabrik bersama pak Rudi. Sedangkan aku, tetap pada berkas-berkas menumpuk bersama tim akuntingnya bu Siska.
Axel mendahului aku dan Ben masuk ke ruang meeting. Sama seperti beberapa hari sebelumnya, kami akan membahas beberapa hal bersama pak Rudi dan bu Siska. Tapi, siapa perempuan satu itu? Sepertinya aku belum pernah melihatnya di kantor ini.
“Selamat pagi.” Pak Rudi menyapa kami dengan penuh semangat dan senyum lebar mengembang di wajahnya.
Dan ya, seperti biasa, basa-basi berjabat tangan di pagi hari.
“Pagi Ben.”
Perempuan itu berjabat tangan dengan Ben, dan jika dilihat dari gelagatnya, mereka terlihat seperti sudah saling mengenal.
“Windy?”
Ekspresi Ben terlihat agak terkejut ketika melihat perempuan yang ternyata bernama Windy itu. Parasnya cantik, sangat serasi dengan potongan rambutnya yang bermodel segi layer dan berwarna hitam, kulitnya berwana kuning langsat, secara keseluruhan sangat menunjukkan tipe ideal perempuan Indonesia. Tapi, siapa dia sebenarnya?
Kami sudah berada pada posisi duduk masing-masing, dan Ben yang duduk di sampingku sekaligus dudu berhadapan dengan Windy. Dan ya, mata keduanya masih saling menatap.
“Windy baru kembali dari Singapore, dan kebetulan beberapa hari yang lalu ada urusan di Pekanbaru, jadi sekalian mampir ke kantor sini untuk mempelajari sistem baru yang akan dipakai oleh tim finance.” Jelas pak Rudi.
“Iya, kebetulan pak Anton juga yang menugaskan saya untuk mampir dulu ke kantor ini sebelum kembali ke Palembang.” Sahut Windy menambahi.
Aku tahu siapa itu pak Anton, beliau adalah direktur cabang di Palembang. Jadi kalau bisa ku simpulkan, Windy ini salah satu karyawan di kantor Palembang dan sepertinya dia masuk ke dalam tim finance perusahaan. Jujur saja, aku tidak banyak mengenal karyawan dari cabang lain, aku hanya fokus pada pekerjaanku yang ada di kantor Jakarta. Pernah sih beberapa kali berinteraksi dengan staf dari tim akunting yang lain, tapi itu juga hanya sebatas via email, dan aku juga belum pernah bertemu dengan mereka.
“Oh jadi ada urusan pekerjaan juga di sini.” Ujar Ben sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Sekalian nengokin kamu juga Ben.” Tiba-tiba bu Siska bersuara.
Aku cukup terkejut mendengar ucapan bu Siska barusan. Bukankah kalimatnya bisa diartikan bahwa Ben dan Windy memang sangat dekat?
“Ah bu Siska becanda deh.” Sahut Windy agak malu-malu.
Aku bisa melihat Ben dari sudut mataku bahwa dia sempat melirik ke arahku setelah mendengar ucapan bu Siska barusan.
Suasana ruangan pagi ini memang jadi lebih santai dengan pembahasan tentang mengapa Windy ada di sini. Tapi, kenapa justru membuatku jadi kurang nyaman, ya?
“Kalau Axel sendiri, sudah berapa lama kembali ke Indonesia?” tanya Windy yang kini mengalihkan pandangannya kepada Axel.
“Emm…sekitar satu bulanan lah.”
“Aku dengar, mau jadi CEO ya? Congrast ya Xel.”
“Makasih Win, tapi juga belum kok. Masih harus belajar dulu, salah satunya belajar dari pak Rudi.”
“Ah, Axel ini paling bisa ya. Padahal justru saya yang lebih banyak belajar dari dia, wawasannya juga jauh lebih luas dari saya. Ben juga, sangat jago soal observasi keadaan dilapangan. Kalian berdua ini memang keren.” Puji pak Rudi.
Axel dan Ben hanya tersenyum sungkan mendengar pujian dari pak Rudi barusan.
“Oh iya, Win, kenalkan ini Vanesa, biasanya dipanggil Anes. Junior akunting di kantor pusat, dia yang lagi bantuin saya buat meninjau ulang sistem keuangan di Pekanbaru.”
Aku melemparkan senyuman kepada Windy, begitu pula dengan Windy yang langsung membalas dengan senyuman pula.
“Salam kenal ya Nes, saya salah satu staf finance di Palembang.”
“Iya, salam kenal, Windy.”
“Oke deh kalau gitu saya mau nemuin bu Ratna dulu ya. Saya permisi dulu.”
Setelah pak Rudi dan bu Siskan meng-iya-kan pamitan Windy, ia pun segera beranjak dari kursinya dan keluar dari ruang meeting. Bu Ratna merupakan kepala bagian Finance di kantor Pekanbaru. Tadi, sesaat setelah Windy bangkit dari tempat duduknya, aku sempat melihat matanya yang kembali mengarah pada Ben, begitu pula dengan Ben yang juga mengarahkan pandangannya kepada Windy.
…
Siang ini kami makan bersama sebelum pak Rudi, Axel dan Ben pergi ke lokasi pabrik, ada bu Siska yang hari ini juga ikut makan siang bersama kami, dan juga ada Windy. Kami memilih meja dengan enam kursi, jadi pas untuk kami berenam. Bu Siska berada di antara aku dan Windy, aku duduk berhadapan dengan Axel, pak Rudi berhadapan dengan bu Siska, dan sudah pasti Ben berharapan dengan Windy. Entah kenapa selama ada Windy aku jadi banyak bicara, ya walaupun biasanya aku juga tidak terlalu banyak biacara, tapi entah kenapa hari ini jadi lebih tidak ingin banyak bicara. Kalau Axel, jangan ditanya deh, dia kan memang si kaku, cuek dan dingin. Ketika sedang makan bersama seperti ini, dia lebih sering menjadi pendengar yang baik, jarang berkomentar atau membagikan ceritanya, paling hanya sesekali. Daritadi kami lebih banyak mendengarkan pak Rudi dan bu Siska yang saling bergantian menceritakan tentang hal-hal menarik yang ada di kantor mereka. Memangnya apa yang menarik di kantor? Bukannya setiap kantor tidak lebih dari sekedar tempat yang membosankan dengan setumpuk pekerjaan yang memusingkan? Tapi walaupun begitu aku harus tetap pergi ke tempat membosankan itu, karena kalau tidak aku mau makan apa?
Keadaan menjadi hening sejenak, sebelum akhirnya Windy kembali memulai percakapan.
“Ben, kamu inget ngga warung pempek yang dulu sering kita datengin di Palembang?”
“Iya, ingat kok. Kenapa emangnya?”
“Ibu yang punya warung masih sering nanyain kamu lho, katanya kangen sama mas genteng haha.”
Ben ikut menimpali tawa Windy.
“Oh ya? Aku jadi kangen juga deh sama pempeknya ibu itu, di Jakarta belum pernah nemuin yang seenak di tempat langgan kita itu sih.”
“Nanti kalau aku udah balik ke Palembang dan kamu udah di Jakarta aku kirimin deh ya buat kamu.”
“Boleh. Kalau ngga ngerepotin.”
“Nggalah, nanti ya aku kirimin. Buat Axel juga deh, sama…buat Anes juga. Mau kan?”
Windy menoleh ke arahku dan Axel secara bergantian.
“Boleh.” Jawabku dan Axel hampir bersamaan.
Kan ngga mungkin banget aku jawab “ngga mau”, “ngga usah’, atau “ngga perlu”.
“Oke deh, ntar aku kirimin sekalian lewat Ben.”
“Buat mereka doang nih? Buat saya sama pak Rudi engga?” tanya bu Siska yang lebih ke arah becanda.
“Oh tenang aja, buat bu Siska sama pak Rudi juga ntar saya kirimin deh.”
“Terima kasih ya Win, tapi jangan sampai ngerepotin kamu lho ya.” Ujar pak Rudi.
“Ya engga lah pak. Pokoknya nanti saya kabarin ya.”
“Makasih ya Win.” Ucap bu Siska.
Tidak heran kalau Windy terlihat sangat akrab dengan pak Rudi dan juga bu Siska, bahkan dengan beberapa karyawan di kantor tadi pun Windy terlihat sangat mudah berbaur, karena setahuku, perusahaan cabang di Pekanbaru memang lebih banyak berinteraksi dengan perusahaan cabang yang ada di Palembang, karena masih satu pulau. Jadi untuk beberapa pekerjaan mereka masih saling terhubung. Aku semakin bisa mengetahui bahwa Ben dan Windy memang sangat akrab, bahkan mereka punya tempat makan langganan di Palembang. Sejak tadi pagi pun yang awalnya sempat terlihat agak canggung, sekarang mereka berdua sudah terlihat lebih cair, bahkan sekarang pun Windy masih mebahas beberapa hal yang berkaitan dengan masa-masa ketika Ben masih berapa di Palembang. Ingat kan, kalau Ben juga pernah membantu perusahaan cabang yang ada di Palembang. Kurang lebih dua tahun Ben berada di Palembang, dan kembali ke Jakarta karena om Gama yang meminta Ben untuk bisa membantu Axel yag sebentar lagi akan menggantikan posisi om Gama.
Entah kenapa hari ini aku merasa kurang bersemangat, rasanya ingin hari ini cepat berlalu. Aku ingin cepat tidur. Aku ingin cepat pulang ke Jakarta. Aku ingin cepat bertemu si bawel Fanny.