BAB 5 – SI CUEK
Jika masa lalu adalah apa yang harusnya ditinggalkan untuk melanjutkan perjalanan yang masih tersisa, lalu bagaimana dengan masa lalu yang akhirnya ku temui lagi di tengah perjalananku? Masa lalu yang seolah memaksaku untuk membawanya kembali turut serta dalam perjalanan panjang ini, perjalanan menuju akhir.
Pak Salim menghentikan mobil di depan pintu utama gedung kantor cabang Pekanbaru ini, dari luar terlihat satpam sedang berlarian kecil menuju mobil dan langsung membukakan pintu mobil untukku. Sementara dua bujang itu sangat mandiri membuka pintu mobil sendiri. Lagipula setelah beberapa minggu mereka kembali ke kantor di Jakarta, sepertinya Axel dan Ben bukan tipikal cowok bossy yang suka merintah-merintah bawahan. Waktu diperjalanan ke kantor setelah makan siang bareng, Ben pernah bilang kalau dia merasa kurang nyaman dengan predikat keponakan om Gama, karena pasti beberapa orang akan memperlakukannya berbeda, dan Ben tidak suka dengan perlakuan orang-orang yang terlalu mengistimewakannya. Kalau Axel bagaimana ya?
“Halo selamat pagi pak Axel, pak Ben, bu Vanesa. Saya Siska kepala bagian akunting di sini.”
Seorang wanita hampir paruh baya menghampiri kami, kelihatannya bu Siska cukup ramah dan friendly.
“Selamat siang bu Siska.” Ucapku, Ben dan Axel bergantian sambil berjabat tangan dengan beliau.
“Kita langsung ke ruang rapat aja ketemu sama pak Rudi.”
…
Tadi pagi kami sampai di kantor sekitar jam sembilan pagi dan baru selesai rapat dengan pak Rudi dan bu Siska sudah hampir jam dua belas siang. Tentu saja selama di Pekanbaru, aku, Ben dan Axel akan selalu makan siang bersama pak Rudi, mungkin untuk makan malamnya juga.
Setelah perbincangan hampir tiga jam tadi, akhirnya pak Rudi dan bu Siska sudah terbiasa memanggilku dengan nama panggilanku. Aku juga sudah mulai membiasakan diri dengan suasana kantor di Pekanbaru, karena setelah rapat tadi kami juga sempat diajak berkeliling kantor. Staf dan karyawan di sini juga ramah-ramah, tapi apa mungkin mereka ramah hanya karena Axel anak bos dan Ben keponakan bos? Kalau Cuma aku sendiri yang di sini, apa mereka juga akan seramah itu padaku? Duh, Anes, jangan suka negative thinking bisa ngga sih?
Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku, sudah hampir jam tiga sore. Setelah makan siang tadi, aku Ben dan juga Axel kembali ke kantor dan memeriksa beberapa dokumen di ruangan pak Rudi, bersama bu Siska juga tentunya. Beberapa jam bersama bu Siska, aku jadi bisa menyimpulkan untuk sementara ini bu Siska orangnya asik juga, cukup gaul dan easy going. Semoga bisa menjadi partner kerja yang baik untuk beberapa hari ke depan.
“Nanti saya pelajari lebih lanjut dokumennya di hotel, jadi ini saya bawa dulu ya pak.” Ujar Axel sambil merapikan beberapa lembar kertas dan memasukkanya ke dalam map.
Ben juga membawa beberapa dokumen untuk dikerjakan di hotel, tentu saja aku juga membawa bekal untuk pekerjaanku di hotel nanti.
“Nes, kalau ada kesulitan bisa hubungi saya ya.” Ujar bu Siska.
“Oh iya bu, terima kasih.” Sahutku sambil tersenyum lebar.
“Pak Salim sudah nunggu di bawah, mari saya antarkan.”
Pak Rudi bangkit dari sofa temoat ia duduk dan berniat ingin mengantarkan kami ke lobi lantai bawah, tapi Axel keburu menahan pak Rudi. Tentu saja, dia tidak mau diperlakukan sampai sebegitunya di kantor ini. mungkin karena kelamaan tinggal jauh dari orang tua jadinya Axel tumbuh jadi laki-laki yang sangat mandiri. Ya iya lah harus mandiri, memangnya laki-laki macam apa yang mau bergantung hidup dengan orang tua terus-terusan. Kok jadi ngomel sih, Nes?
“Ngga perlu di antar pak, kami bisa ke bawah sendiri kok. Kami permisi dulu ya pak, bu.” Ujar Axel sedikit membungkukkan tubuhnya.
Aku dan Ben mengikuti Axel berjalan ke arah pintu setelah berpamitan pada pak Rudi dan bu Siska.
Hari ini cukup melelahkan, kepalaku juga terasa cukup penuh setelah dicekoki file-file laporan keuangan perusahaan cabang di Pekanbaru ini. Kalau sesuai agenda, besok aku akan berada di kantor mengerjakan tugasku untuk membantu bu Siska dan tim akuntingnya membenahi sistem keuangan, sedangkan Ben dan Axel akan dibawa pak Rudi ke salah satu lokasi proyek tambang minyak. Katanya sih cukup jauh dari kota.
Kelihatannya semua orang di dalam mobil ini sedang sibuk dengan isi kepalanya masing-masing. Ben yang biasanya mengajakku bicara walau hanya sesekali, kali ini hanya terdiam dengan kepala tersandar pada jok mobil dan matanya yang terpejam. Nampaknya ia tidak tidur, hanya sekedar mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Axel, sedang sibuk dengan tabletnya, sekilas terlihat tampilan worksheet excel di layarnya. Apakah aku perlu menambahkan satu lagi daftar sifat Axel yang ku ketahui? Workaholic.
Sepertinya menelpon Fanny untuk menemaniku bekerja malam ini adalah ide yang bagus.
…
“Yee~ ide yang bagus buat lu tapi ide yang jelek buat gue.”
Omel Fanny karena terpaksa dia harus mengakhiri panggilannya dengan Regi karena aku memintanya untuk menemaniku bekerja malam ini.
“Haha ya sorry. Lagian kan elu masih bisa ketemu sama Regi. Lu ngga kangen apa sama gue?”
Aku bisa melihat wajah cemberut Fanny dari layar ponsel.
“Ya udah deh gue matiin deh biar lu bisa telponan sama Regi.”
“Eh! Anjir lu ya! Gue udah bela-belain ngga telponnya Regi eh lu malah mau matiin telponnya?!”
“Ya abisnya lu kayak ngga ikhlas gitu.”
Aku menyalakan laptop dan mulai mengeluarkan dokumen-dokumen yang tadi siang diberikan bu Siska padaku.
“Iya…iya gue temenin dah. Eh by the way Ben sama Axel dimana? Lagi ngapain?”
“Di kamar masing-masing kali, dan ngga tau lagi ngapain?”
“Ngga ada niatan silaturahmi ke kamar mereka? Hahaha.”
“Yeee! Lu kira gue cewek apaan?”
Ini anak emang ngga bisa ya kalau pembahasannya ngga yang aneh-aneh kayak gitu? Heran deh. Heran lagi kenapa aku juga malahan betah banget sahabatan sama ni anak.
“Gimana kerjaan lu hari ini?”
“Aman. Cuma sepi aja sih ngga ada lu, jadi ngga ada yang gue bully haha.”
“k*****t lu.” aku tertawa kecil dengan pandangan masih tertuju pada beberapa lembar kertas yang ku pegang.
“Kantor sana asik ngga Nes?” tanya Fanny yang agak kesulitan berbicara karena sekarang rongga mulutnya sedang dipenuhi dengan martabak telor. Salah satu yang bisa membuatku iri pada Fanny adalah dia tidak mudah gendut walaupun banyak makan.
“Emm belum tau sih Fan, soalnya hari ini gue, Ben sama Axel lebih banyak ngobrolin kerjaan sama pak Rudi dan bu Siska. Belum ada ketemu dan ngobrol sama staf yang lain. Tapi bu Siska kayaknya orangnya asik deh, tipe mama-mama gaul gitu deh.”
“Bagus deh kalau gitu. Jadi lu ngga stres-stres amat di sana,”
Fanny kembali memasukan sepotong martabak telor ke dalam mulutnya sebelum lanjut berbicara.
“Terus kapan balik?”
“Emm mungkin lusa atau…”
Tok..tok..tok
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku.
“Siapa Nes?”
Aku menggelengkan kepala, “Gue liat dulu ya.”
“Oke. Gue pantau dari sini kali-kali orang berniat jahat.”
“Ya elu jangan nakut-nakutin dong.”
“Haha iya kagak. Buruan sana.”
Aku berjalan ke arah pintu. Aku menilik keluar melalui door viewer untuk mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarku.
Ben. Ada perlu apa malam-malam ke kamarku? Belum terlalu malam sih, masih sekitar jam delapan. Aku segera membuka pintu.
“Ben? Ada apa?”
“Hai, sorry ganggu. Lagi kerja ya?”
“Iya, baru mulai sih. Kenapa?”
“Nih.”
Ben menyodorkan sebuah paper bag.
“Ini apa?”
Aku mengambil paper bag itu dan melihat apa isi di dalamnya.
“Kopi? Ada browniesnya juga. Kamu abis dari luar?” tanyaku mengalihkan pandangan ke Ben.
“Engga kok. Aku pesan lewat ojek online hehe. Aku pesanin cappucino kayak yang kamu pesan kemarin. Browniesnya… yang aku suka sih hehe soalnya aku ngga tau kamu suka apa.”
“Ya ampun jadi ngerepotin. Makasih banyak ya Ben.” Ucapku sambil tersenyum sumringah.
“Ya udah aku balik ke kamar lagi ya. Mau lanjut kerja juga.’
Aku mengangguk, “Sekali lagi makasih ya Ben.”
“Iya Nes, sama-sama. Sampai besok ya.”
Ben memalingkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju kamarnya.
“Ben,”
“Ya?”
Ben menghentikan langkahnya dan memalingkan badan ke arahku.
“Semangat.”
Kata itu spontan keluar dari mulutku tanpa dipikirkan dan direncanakan terlebih dahulu.
Vanesa Laura! Apa-apaan sih? Bilang makasih aja udah cukup. Kenapa harus nyemangatin segala sih?
“You too.” Balas Ben dengan senyum lebar mereka diwajahnya.
Kali ini dia benar-benar langsung beranjak kembali menuju kamarnya. Aku menutup pintu saat ku lihat pundak Ben juga mulai menghilang dari balik pintu kamarnya.
“Ugh manisnyaaa.” Ujar Fanny berniat menggodaku.
Aku meletakkan paper bag itu di samping laptop lalu melihat Fanny dengan tatapan datar.
“Lah malah ngeliatin gue. Diminum kopinya, dimakan browniesnya. Kasian mas Ben udah capek-capek beliin. Eh abang ojeknya deng yang beliin haha.’
“Ish! Apaan sih?”
Aku menarik paper bag itu lalu mengeluarkan cup berisi cappucino yang masih panas, juga sekotak brownies. Iya benar, ini brownies yang kemarin dipesan Ben. Yang katanya dia suka banget sama rasanya itu. Ternyata Ben membeli dari coffee shop yang kemarin kami datangi.
“Nes, lu nyadar ngga sih kalo sebenarnya Ben itu masih suka sama lu?”
Aku tertegun mendengar pertanyaan Fanny barusan.
“It was a long time ago, Fan. Ngga mungkin lah.” Aku membuka kotak brownies dari Ben, “enak.” aku melahap sisa potongan brownies di tanganku.
“Ya menurut lu dia pake acara beliin kopi dan brownies gitu karena apa kalo bukan masih suka sama lu?”
Nampaknya Fanny masih kekeuh dengan ucapannya tadi.
“Yaelah Fan, beliin kopi sama brownies doang bukan berarti dia suka sama gue kan?”
“Ah elu mah datar mulu. Ngga peka.”
“Gue bukannya ngga peka, tapi meminimalisir peluang untuk sakit hati.”
Aku kembali melahap browniesnya lalu kemudian menyeruput cappucino panas itu.
Jam di ponselku sudah menunjukkan kul setengah dua pagi. Aku sudah mengakhiri video call dengan Fanny sejak dua jam yang lalu dan melanjutkan pekerjaanku sendirian. Mataku sudah tidak sanggup lagi untuk kantuk, kepalaku juga sudah terasa berat. Jangan sampai besok aku malah tidak bisa ke kantor.
Aku memutuskan untuk menutup laptop dan merapikan kertas-kertas berisi pekerjaanku. Aku akan melanjutkannya besok dan membahasnya dengan bu Siska.
Aku beranjak berdiri lalu merenggenggangkan otot-ototku yang mulai terasa kaku. Aku meraih ponselku di atas meja, sambil menghidupkan layarnya aku menjatuhkan tubuhku ke atas kasur. Nyaman sekali.
From : Ben
Jangan kerja terlalu larut, nanti sakit. Have a nice rest
What?!
Aku tidak menyadari pesan dari Ben yang masuk sekitar sejam yang lalu. Mungkin karena terlalu asik menatap layar laptop sampai ada chat masuk saja aku tidak sadar.
Aku memutuskan untuk tidak membalas chat dari Ben. Ini bukan chat yang wajib untuk dibalas juga kan? Lagipula ini sudah terlalu larut untuk membalas chat. Aku mengatur alarm di ponselku, biar besok tidak kesiangan.
…
Benar saja, akibat begadang sekarang mataku terasa pedih, wajahku juga memanas, rasanya masih belum rela untuk memulai hari ini dengan setumpuk pekerjaan. Aku berjalan agak lesu menuju lobi hotel karena sebentar lagi pak Salim akan menjemput kami. Aku menguap sampai mengeluarkan suara, tidak nyaring, tapi kurasa cukup jelas terdengar oleh kedua telinga Axel yang nampaknya sudah dari tadi duduk di sofa lobi hotel.
Aku buru-buru mendaratkan telapak tanganku untu menutupi mulutku. Gila! Malu banget woi! Ini sih namanya mengawali pagi dengan mempermalukan diri sendiri. Aku pikir, aku akan menjadi orang pertama di antara kami bertiga yang akan duluan sampai di lobi, ternyata laki-laki satu ini lebih tepat waktu dari yang ku perkirakan.
“Masih ngantuk ya?” tanyanya ketika aku ingin duduk di pojok sofa panjang di mana Axel juga duduk di situ.
Aku sengaja memilih sofa yang sama, aku tidak ingin duduk berhadapan dengannya, aku tidak ingin melihat wajahnya. Masih malu. Ditambah lagi Axel bertanya seperti itu, kan aku jadi makin kelihatan tidak siap bekerja.
“Hehe sedikit.” Jawabku agak sungkan.
Wait! Bukankah ini kali pertamanya aku dan Axel berbicara dua arah?
“Sudah sarapan?” tanyanya lagi.
“Sudah.”
Dia hanya mengangguk pelan menanggapi jawabanku dengan mata tertuju pada layar laptop dan jari-jarinya yang sibuk beradu dengan keyboard.
Ben mana ya?
“Morning,”
Itu dia,
Entah kenapa senyumku langsung mekar dan tertuju pada sosok laki-laki yang kini sudah duduk di sampingku, lebih tepatnya di antara aku dan Axel.
“Tadi pagi om Gama nelpon, katanya lu belum respon emailnya om Gama ya?”
“Udah kok, barusan.”
“Emm ok.”
Apa Axel memang dingin ke semua orang ya? Termasuk ke Ben?
Aku belum pernah melihat mereka mengobrol santai layaknya dua orang sepupu yang sudah lama tidak bertemu karena berada di dua negara yang berbeda. Selain ketika mereka mengobrol serius membahas pekerjaan di ruangan om Gama waktu itu. Atau mungkin sebenarnya mereka sangat akrab, cuma aku saja n=yang tidak tahu. Makanya jangan sotoy deh Nes! Huft!
“Itu pak Salim sudah datang.”
Tiba-tiba Axel berdiri dan langsung berjalan menuju pintu utama hotel sambil menenteng tas kerjanya. Aku dan Ben pun mengikuti Axel.
Kalau dilihat-lihat, Axel ini tipikal laki-laki yang agak membosankan ya kalau dijadikan pasangan. Bisa-bisa untuk sekedar bertanya sudah makan atau belum saja dia tidak punya waktu. Kalaupun punya waktu, jangan-jangan dia tidak peduli. Tidak peduli atau tidak peka, atau pura-pura tidak peka. Entahlah, yang jelas amit-amit jangan sampai aku mendapatkan jodoh yang sifatnya kayak dia. Kaku, cuek.
Kalau Ben, tipikal yang bagaimana ya?