BAB 4 - BROWNIES

2401 Words
BAB 4 – BROWNIES    “Halo?” “Iya, ini gue baru turun dari pesawat.” “aman kok. Ntar gue telpon lagi kalo udah sampe hotel. Bye.”   “Baru juga landing udah dicariin aja sama emaknya.” Aku menoleh ke arah pemilik suara itu. Ben. “Hehe iya nih si Fanny.” Ujarku sambil memasukkan ponsel ke dalam slingbag hitam yang sedang ku kenakan itu. “I know.” Sahut Ben lalu tersenyum lebar.   Setelah mengambil koper, aku dan Ben mengikuti langkah Axel yang sudah berjalan di depan kami untuk menuju lobi di depan dimana supir yang ditugaskan untuk menjemput kami sudah menunggu sejak tiga puluh menit yang lalu.   “Pak Salim ya?” tanya Axel pada lelaki paruh baya berkemeja biru gelap yang sedang duduk sambil asik dengan ponselnya. “Pak Axel ya?” “Iya pak. Sudah lama ya pak?” tanya Axel ramah. “Ah ngga juga pak. Mari pak kita langsung ke mobil aja. Sini kopernya biar saya bantu bawakan.” Ujar pak Salim berusaha ingin meraih koper milik Axel. “Ngga usah pak. Saya bawa sendiri aja. Ah, sama satu lagi, panggil Axel aja, ngga usah pake pak.” “Ah ngga enak pak, masa sama pimpinan manggil nama. Gimana kalo saya panggil mas aja?” “Boleh…boleh.” Sahut Axel setuju. “Mari mas-mas dan mbaknya.” Pak Salim berjalan mendahului kami menuju mobil. Mungkin harusnya kita setuju kalo salah satu budaya yang cukup banyak tersebar di Indonesia ini adalah budaya Jawa. Lihat saja, di Pekanbaru pun kami dipanggil menggunakan sebutan khas Jawa “mas” dan “mbak”.   …   Suasana di mobil saat ini cukup hening, hanya terdengar suara hiruk pikuk kota Pekanbaru yang terdengar dari luar mobil yang sedang melaju menuju hotel tempat kami akan beristirahat. Ben terlihat sedang sibuk dengan ponselnya, kalau aku lihat sepintas sepertinya dia sedang membaca artikel di salah satu portal berita online, entah tentang apa. Aku hanya tidak sengaja melihat sepintas. Aku mengarahkan pandangan ke luar jendela mobil, Pekanbaru kota yang besar dan sibuk.   “Sudah lama kerja di Gama Group pak?” Tiba-tiba terdengar suara Axel memecah keheningan. Axel duduk di kursi depan di samping pak Salim, aku dan Ben di baris kedua. “Sudah hampir delapan tahun pak.” “Wow sudah lama juga ya.” “Awalnya saya kerja jadi OB, setelah itu masuk tahun ketiga pak Rudi merekrut saya untuk jadi supir pribadi beliau.” Terlihat raut wajah pak Salim yang begitu bahagia menceritakan sedikit perjalanan karirnya di Gama Group, dari yang tadinya hanya seorang office boy kini sudah mengalami peningkatan jadi supir pribadi direktur. Tentu pekerjaan pak Salim sekarang juga bisa disebut sebagai karirnya bukan? Kalau tidak setuju coba buka KBBI deh. “Selalu ada berkat lebih untuk orang yang setia sama pekerjaannya pak.” Ujar Axel nampak bijak. “Amin. Betul itu mas.” Kalimat yang keluar dari mulut Axel barusan berhasil membuatku sedikit tersentak. Aku cukup terkejut dengan satu lagi sifat Axel yang hari ini ku ketahui, bijaksana. Selain cuek, dingin dan pendiam, ternyata Axel juga orang yang bijaksan. Kalau dilihat dari kata-katanya sih, ngga tau prakteknya gimana.   “Nah ini dia hotelnya.” Pak Salim memberhentikan mobil di depan pintu utama hotel itu. Hotel yang besar dan mewah, hotel berbintang pastinya. Pak Salim agak kelihatan bingung ingin membukakan pintu yang mana duluan. Tapi Axel sudah keburu membuka pintu mobil sendiri, jadi pak Salim langsung membukakan pintu untukku, dan ya, Ben juga membuka pintu mobil sendiri. Ini kenapa jadi aku yang terlihat seperti bosnya? “Terima kasih pak.” Ucapku berusaha untuk ramah. Kata Fanny selama di kota orang harus ramah, ngga boleh jutek kayak biasanya di kantor Jakarta. Fanny pikir aku ini tidak tau cara bersikap yang baik dan benar apa ya? Gini-gini aku juga masih menjunjung tinggi tata krama dan sopan santun. Tergantung dengan siapa kau berinteraksi juga sih, hehe. “Sama-sama mbak.” Jawab pak Salim lalu segera menuju bagasi mobil untuk mengeluarkan koper kami. Semua koper sudah kami pegang masing-masing. “Pak Salim boleh langsung pulang kok pak, soal hotel kami bisa urus sendiri.” Ujar Axel. “Lho? Ngga apa-apa mas biar saya bantu. Lagian saya sudah ditugaskan pak Rudi untuk menjemput, mengantar dan memastikan mas Axel, mas Ben dan mbak Vanessa sampai ke kamar masing-masing dengan selamat hehe.” “Ngga usah pak, ngga apa-apa. Kami sudah ada kode booking kamarnya kok. Bapak balik aja, sudah hampir maghrib juga.” “Beneran nih mas?” tanya pak Salim tidak yakin. “Iya pak.” Jawab Axel dengan nada suara yang terdengar sangat ramah. Oke, selain bijaksana dia juga ramah. Iya ramah, sama orang-orang tertentu doang kayaknya. “Kalau begitu saya permisi dulu ya mas, nanti saya jemput pas jam makan malam.” “Iya pak, nanti saya hubungi bapak.” “Mari mas Ben, mbak Vanesa. Saya pamit dulu.” “Iya pak.” Jawabku dan Ben hampir bersamaan.   …   From : Stefanny Gimana? Gue sengaja ngga nelpon takut ganggu wkwk   To : Stefanny Apanya yang gimana? Sok-sokan takut ganggu. Biasanya juga lu tukang ngerecokin gue.   From : Stefanny Yeeeee!!! Kali ini kan beda. Masalahnya lu lagi sama dua cogan. Takutnya lagi sibuk menikmati kegantengan bapak Axel dan bapak Ben haha   To : Stefanny Ngga jauh, ngga deket, sama aja pembahasan lu ya. Gue lagi pusing mikirin besok gimana juga -_-     From : Stefanny Urusan besok mah mikirinnya besok aja kali Nes. Untuk malam ini nikmatin aja tuh dulu ketampanan para bujang wkwkwk   Jariku belum sempat menyentuh keyboard di layar ponselku sampai akhirnya terdengar suara ketukan dari pintu kamar hotel yang akan ku huni selama beberapa hari ini.   “Siapa?” tanyaku dengan suara agak nyaring. “Ben.”   Aku buru-buru menuju pintu dan membukanya. “Ya Ben?” “Lagi istirahat ya? Sorry ya jadi ganggu.” “Oh engga kok Ben, emangnya kenapa?” “Mau nemenin nyari kopi ngga? Aku udah pesen taksi sih.” “Berdua doang? Axel?” Aku menoleh ke arah pintu kamar Axel yang berada tepat di sebrang kamarku, sedangkan kamar Ben berada di sebelah kamar Axel. “Kata Axel abis makan malam sama pak Rudi tadi dia agak sedikit pusing. Mungkin kecapean.” “Oh gitu. Ya udah aku siap-siap bentar ya. Kamu mau nunggu di…” “Aku nunggu di sini aja ngga apa-apa.” “Oke sebentar ya.” Aku menutup kembali pintu kamarku dan langsung membuka koperku. Aku mengambil kaos berwarna putih tangan pendek dengan model turtle neck memadukannya dengan celana jeans dan cardigan berbahan wol berwarna cokelat tua. Semoga cukup untuk menghangatkan tubuhku dari udara Pekanbaru yang malam ini terasa lumayan dingin. Sebagai alas kaki aku membawa satu sendal model open toe berwarna hitam dengan beberapa aksen berwarna cokelat, sengaja aku bawa untuk berjaga-jaga kalau perlu digunakan di luar urusan kantor. Seperti ngopi bersama Ben malam ini misalnya. Aku menarik kembali tanganku yang hampir menyentuh gagang pintu. Ada yang kurang. Aku buru-buru mengeluarkan liptint berwarna merah muda dari dalam sling bag-ku dan memoleskan dengan tipis ke bibirku dan langsung memasukkannya kembali. Satu lagi, aku menyisir rambut panjangku menggunakan jari. Ribet banget jadi cewek.   “Ben, sorry lama.” Ujarku sambil mengunci pintu kamarku. “Ah engga kok, taksinya juga barusan banget nyampe. Ngga ada yang ketinggalan?” Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban untuk Ben. “Ya udah yuk.” Aku dan Ben berjalan beriringan.   …   “Kamu tau coffee shop ini dari mana?” “googling hehe.” “Emm.” Aku mengangguk lalu menyeruput hot cappucino dari gelas di tanganku. “Aaa~” Ben menyodorkan potongan brownies kukus yang tertancap pada garpu mini ditangannya. Apa ini Ben? Kok aku jadi cengok gini. “Enak lho, cobain deh.”  Ujar Ben semakin mendekatkan brownies itu ke mulutku. Aku agak ragu untuk memakan brownies itu, bukan karena takut ada racunnya, tapi… ini beneran Ben nyuapin aku nih? “Enak kan? Makanya aku nyuruh kamu nyobain.” Ben mengambil lagi sepotong brownies dan melahapnya. Eskpresi wajahnya sama persis seperti ketika kami makan rawon beberapa waktu yang lalu. Apa mungkin aku bisa membuat kesimpulan bahwa salah satu kebahagiaan Ben hanya sesederhana menikmati makanan enak? Lihat saja wajahnya sekarang, sudah seperti anak kecil yang bahagia karena dibelikan cokelat yang dipajang di meja kasir mini market oleh ibunya. “Kamu suka brownies?” Ben mengangguk, “Banget,” jawabnya singkat lalu kembali mengambil potongan brownies dari piring, “Mau lagi ngga?” tanyanya menyodorkan brownies padaku. Aku menggeleng, “Udah kenyang.” Aku bukan sok-sokan menolak karena gengsi ya. Aku benar-benar sudah kenyang karena beberapa jam yang lalu kami juga sudah sempat makan malam bersama pak Rudi dan istrinya. Biasalah, jamuan makan rekan kerja. Jujur saja selama makan malam bersama tadi aku cukup merasa mati gaya. Bagaimana tidak, aku berada di antara direktur cabang dan istrinya, anak pemilik perusahaan, dan juga keponakan pemilik perusahaan. Sedangkan aku? Siapalah aku ini, cuma seorang junior akunting. Tapi untungnya pak Rudi sangat ramah, ditambah lagi ada Ben yang selalu berusaha mencairkan suasana dengan obrolan-obrolan ringannya yang tidak jarang melibatkan aku dalam percakpannya. Kalau Axel, sudah ketebak kan? Tidak begitu banyak bicara. Kebanyakan sih ngangguk-ngangguk meng-iya-kan ucapan pak Rudi dengan senyum tipisnya. Entahlah, aku juga tidak tau pasti seperti apa sifat Axel yang sebenarnya. Ya iyalah! Baru juga seminggu aku bertemu dengannya, mana mungkin bisa mengenali sifat-sifat aslinya, dan yang terpenting, untuk apa aku tau sifat aslinya? Tidak akan membuat pajak mobilku terbayar untuk sepuluh tahun ke depan. Untung tidak Fanny di sini, kalau tidak sudah habis aku digeplak karena masih sempat-sempatnya kepikiran pajak mobil saat seharusnya aku menikmati momen bersama Ben. Tapi kenapa harus dinikmati? Kan ini cuma ngopi biasa bukan lagi ngedate.     “Balik yuk. Udah mau jam sebelas.” Ajak Ben seraya melihat jam yang tertera di layar ponselnya. “Yuk.”   …   Aku dan Ben berjalan beriringan, dan sekarang kami sudah berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka.   “Emm…” Aku dan Ben bersuara di saat yang bersamaan membuat kami sponan saling menatap. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku. Betul sekali! Aku jadi salah tingkah. Nampaknya Ben juga. “Duluan aja.” Ujar Ben mempersilahkan aku untuk duluan bicara. “Emm kamu duluan aja.” Sahutku yang masih berusaha untuk menghilangkan rasa salah tingkahku. “Emm… ngga sih, Cuma mau bilang thank you ya udah mau nemenin keluar.” “Iya… sama-sama.” jawabku tanpa melihat Ben. “Tadi kamu mau ngomong apa?” “Aku… sama sih, mau bilang makasih juga karena sudah ngajak keluar.” “Iya… sama-sama.” sahut Ben dengan nada bicara sama persis seperti tadi aku menjawab ucapan terima kasihnya. Aku menoleh ke arah Ben yang sudah menahan ketawa karena berhasil mengejekku. “Ih Ben…” Masalahnya aku jadi tambah salah tingkah kalau seperti ini. Huft! “Iya…iya maaf, becanda.” Kami berdua sama-sama tertawa, sampai akhirnya pintu lift terbuka dan kami langsung melangkah masuk. Pintu lift hampir tertutup sampai tiba-tiba seseorang menahannya sehinggu pintu lift kembali terbuka lebar. Axel. “Xel,” Sama halnya seperti aku dan Ben, Axel pun nampak terkejut melihat kami berdua. Sebelum mengucapkan satu kata pun, Axel melangkah masuk lalu menekan tombol sebelas. Kamar kami memang berada di lantai sebelas. Axel melangkah mundur mensejajarkan posisi berdirinya di sebelah Ben. “Dari mana Xel?” tanya Ben melanjutkan. “Apotik.” Jawab Axel singkat sambil menunjukkan paper bag berukuran kecil di tangannya. “Keren juga bungkusannya pake paper bag.” Ujar Ben agak bercanda. “Ngurangin sampah plastik.” Sahut Axel datar. Ben hanya mengangguk tanda mengerti. “Kalian?” Aku melirik dengan ekor mataku tanpa menoleh. Tentu saja aku hanya diam dan mempersilahkan Ben yang menjawab pertanyaan sepupunya itu. “Gue sama Anes habis keluar cari kopi. Tadinya mau ngajak elu, tapi tadi lu bilang lagi pusing.” “Emm gitu.” Lagi-lagi hanya jawaban singkat. “Lu pusing banget sampe beli obat gitu?” “Ngga terlalu sih. Cuma sekalian beli vitamin, gue lupa bawa.” “Oh kirain.”   Suasana kembali hening. Tidak ada lagi yang bersuara. Floor indicator menunjukkan lift sedang bergerak naik menuju lantai tujuh, masih ada beberapa lantai lagi yang harus dilalui dalam keheningan. Aku jadi berpikir, apakah Ben dan Axel bisa mengobrol panjang lebar hanya ketika membahas pekerjaan? Apa mereka tidak sedekat sepupu-sepupu lain di luar sana? Apa mereka tidak pernah sekedar hangout bareng? Futsal bareng? Atau sekedar nongkrong sambil ngopi lalu membicarakan perempuan-perempuan cantik yang kalau mereka mau tinggal tunjuk dan pasti perempuan itu akan takluk pada pesona mereka. Seperti yang dikatakan Fanny bahwa mereka berdua ini tampan dan berkharisma, ditambah lagi, tajir! Pasti sangat mudah untuk menarik perhatian perempuan-perempuan di luar sana. Ngomong-ngomong, pertanyaan sok tau macam apa sih itu, Vanessa Laura. Siapa tau sebenarnya mereka sangat dekat. Cuma saja karena ini sudah larut malam, capek karena harus berada di pesawat selama hampir dua jam, ditambah lagi Axel sedang kurang sehat. Akhirnya kami sampai di lantai sebelas. Axel berjalan mendahului aku dan Ben. Aku bisa melihat dengan jelas punggungnya yang lebar dibalut oleh sweater hitam dan kaki panjangnya yang sedang menggunakan celana jogger berwarna hitam. Penampilannya terlihat sangat santai, tapi entah kenapa auranya tetap mahal. Untung bukan Fanny yang sedang berada di posisiku sekarang, kalau tidak melihat punggung Axel seperti ini saja dia bisa langsung klepek-klepek. Tentang penampilan Ben malam ini, dia sedang mengenakan kaos polos berwarna putih dan jaket jeans juga celana panjang yang berbahan sama dengan jaketnya. Ben mengenakan sepatu converse low cut berwarna hitam dengan beberapa aksen putih. Gaya berpakaian yang sangat simple, gaya berpakaian yang masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Tidak banyak yang berubah dari Ben. Oh iya, aku lupa memberi tau kalau Axel memakai sendal model slip on berwarna hitam. Katanya sih orang yang suka memakai sendal model seperti itu tandanya orang tersebut tidak menyukai hal-hal yang ribet. Alasannya karena tidak membutuhkan usaha yang besar untuk memasukkan kaki ke sendal model slip on. Mau tau aku dapat teori in dari siapa? Tentu saja Fanny.   “Sampai besok.” Ujar Axel sambil membuka kunci pintu kamarnya tanpa menoleh padaku dan Ben dan sekarang sudah tidak terlihat lagi wujudnya. “Sampai besok Nes.” Ujar Ben yang menungguku masuk kamar duluan. “Sampai besok Ben.” Sahutku sebelum akhirnya masuk ke dalam kamarku.   Ngomong-ngomong coffee shop tadi tempatnya sangat nyaman, minuman dan makanannya juga enak. Ben jago juga ya nyari tempat nongkrong lewat Google.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD