Tiara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia tak peduli luka di pelipisnya makin terasa sakit karena tekanan dari tangannya. Ia masih berjongkok di basement parkir kantor Sean, menghadapi hinaan Sean benar-benar menguras energinya, belum lagi pesan-pesan laporan dari tim management Tania menambah beban Tiara. Sementara tubuhnya masih lelah karena perjalanan dan luka dari kemarahan ibunya makin memperparah kondisinya.
“Tiara,” panggil seseorang dari belakangnya, suara pria yang cukup asing namun familiar, Tiara secepat kilat langsung berdiri dan membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara.
Tiara mengernyitkan alisnya, sosok dihadapannya adalah pria yang beberapa jam lalu mengantarkannya ke ruangan Sean. Bagaimana pria itu bisa tahu namanya, sepertinya mereka belum berkenalan tadi, atau memang Tiara yang tidak mengingatnya. “H-hei,,,” Tiara berusaha mengingat nama pria itu, sambil tersenyum canggung.
“William, if you forgot,” jawab pria itu mengingatkan.
“William, hey,” Tiara menengok ke kanan kiri karena situasi yang canggung, kepergok berjongkok sambil menutup wajah dan tampak tidak baik baik saja rasanya memalukan.
“Lukamu?” William menunjuk ke wajah Tiara dengan raut khawatir, Tiara panik otomatis mundur selangkah, ia benar-benar malu terlihat berantakan di hadapan orang yang baru saja ia temui.
“Sorry,” raut khawatir belum hilang dari wajah William terlihat sedikit bimbang namun ia tetap melanjutkan perkataannya. “Ayo aku bantu.”
Dan kini Tiara sedang duduk di ranjang salah satu klinik kecantikan setelah luka di pelipisnya di jahit dan ditutup dengan perban. Paper bag berisi obat-obatan telah tersedia di sisinya, sementara William sedang mengurus admnistrasi, setelah perdebatan panjang karena Tiara mau membayar sendiri, namun William yang memaksa bertanggung jawab.
Jika boleh bilang jujur, ia bersyukur karena biaya berobatnya ditanggung William, mengingat tabungan yang ia punya mungkin hanya cukup untuk membiayai kehidupannya selama beberapa bulan. Belum termasuk menutup biaya rumah besar milik keluarganya, dan hidup ibunya. tabungan yang ia punya hanya dapat memenuhi kehidupan sederhana di Tokyo untuk beberapa bulan. Tak banyyak yang tahu sejak ia lulus SMA keluarganya hanya membayar biaya kuliah saja, sisanya Tiara memenuhinyay sendiri dengan bekerja paruh waktu.
“Aku jadi nggak enak ngerepotin kamu gini,” kata Tiara saat William masuk ke kamar itu.
“No problem,” William tersenyum, tanpa sadar Tiara menghela nafas, sudah lama ia tak melihat senyum yang terasa teduh di hati. Padahal mereka baru saja bertemu, tapi Tiara merasa seakan William sudah jauh mengenalnya.
“Terimakasih,” sekali lagi Tiara mengucapannya, “gimana caranya aku balas kebaikanmu?”
“Be friends?” William menjawab ragu sambil menggaruk lehernya, “and dinner sound good.”
Tiara tersenyum mendengar jawaban William, dia hanya punya sedikit kenalan di Jakarta, ide yang bagus menambah beberapa teman sampai masalahnya selesai. Tiara mengangguk yakin, “boleh, kapan? aku minta nomor kamu kalau gitu”
Tiara memberikan ponselnya ke William, pria itu menekan serangkaian angka lalu tak lama dering dari ponsel di sakunya terdengar. Wiliam terdiam sejenak, “hari ini kamu ada janji?”
Siang itu Tiara berjanji untuk menemui manager kakaknya untuk mendengar cerita lebih detail yang belum ibunyay sampaikan. sejak tiga hari lalu menghilang,pihak keluarga Tania juga belum ada yang menghubungi langsung pihak management Tania dan sebagai wujud kesopanan Tiara harus segera bertemu mereka.
“Sorry, hari ini aku ada janji, aku nggak tahu sampai jam berapa tapi kalau sore sudah selesai aku hubungi kamu.” Jawab Tiara sambil bangkit dari duduknya dan memasukkan obat-obatnya ke dalam tas bersiap pergi. “Maaf ya, aku sangat berterimakasih, tapi ini benar-benar urusan penting. Nggak apa apa kan?”
William mengangguk mengerti, Tiara berpamitan, gadis itu memilih naik taksi untuk kembali ke gedung kantor tempat mobilnya terparkir tadi.
“Tiara!,” William buru-buru memanggil saat ia baru saja mau keluar dari kamar rawatnya, “mau aku antar ke segala urusanmu hari ini?”
—
Duduk berhadapan di sebuah restoran franchise yang banyayk tersebar di setiap mall di Jakarta dan sekitarnyya. Tiara dan William hanya memesan menu paling umum disana sesuai rekomendasi sang pramusaji. Tiara menatap William penuh tanda tanya, di dalam mobil tadi mereka sama sekali tidak bicara karena suasana yyang canggung. Tiara ingin menyyerbu William dengan banyak pertanyaan namun pria itu sudah banyak membantu hari ini, padahal mereka baru kenal.
“Jadi, kamu teman kak Sean?” tanya Tiara mmbuka pembicaraan.
William mengangguk. Pelan sambil tersenyum padanya, “saat pertama kali bertemu tadi aku kira kamu orang yang kukenal.”
“Kamu kenal Tania?”
“ya tunangan Sean”
“Dia kakakku,”
“Ya aku tahu,” jawab William, “tadi aku nggak tahu kalau kamu adiknya, tapi setelah aku pikir-pikir lagi terus ketemu kamu di parkiran aku akhirnyya sadar kamu adiknya Tania.”
Tiara mengernyitkan dahinya, tanda ia tak puas dengan penjelasan William. Ada motif apa pria yyang baru saja temui bersikap baik dan banyyak menolongnya. apa memang karakter William sebaik itu, atau ini perintah Sean. Mana mungkin.
“Sedikit banyak aku tahu soal kakakmu yang tiba-tiba menghilang, kemarin lusa juga ibumu datang dan kebetulan Sean tidak ada.” Tambah William. “Maaf aku bukan mau ikut campur, aku cuma merasa kamu pasti stres. Apalagi kamu sudah lama nggak di Indo.”
Sebanyak apa yang William tahu tentangnya? Apakah ia ada di pihak Sean dan akan menyudutkan dirinya juga sama seperti Sean? apakah ia tahu perjanjian keluarganya dan keluarga Sean? Apakah dia bisa memberi petunjuk untuk menemukan Tania? Semua pertanyaan ini berkecamuk di pikiran Tiara hingga ia tidak terlalu memperhatikan jawaban pria itu dengan benar.
“Kalau kamu pikir aku tahu banyak, kamu salah. Sean cuma teman biasa, dia lebih dekat sama kakakku.” William seakan tahu kecurigaan Tiara. “aku tahu soal kamu juga cuma dari cerita tongkrongan biasa, ngga sedetail itu. Tadi aku cuma pikir kamu cantik saja makanya sepertinya aku lancang dan jadi terlalu jauh seperti ini.”
Tiara terkejut dengan pujian William, ia yakin pipinya memerah karena pujian pria di hadapannya ini. Untuk saat ini Tiara hanya bisa menerima penjelasan William dan mencoba berprasangka baik, kurang sopan menolak bantuan William, kelihatannya dia juga tulus. Kalau dia ada di pihak Sean, mana mungkin pria itu terus menolongnya sedari tadi, repot-repot membawa Tiara ke klinik, dan berniat menemaninya sepanjang hari.
“Yah, terimakasih sudah terus menolongku dari tadi, maaf sudah curiga yang gimana-gimana tadi,” jawab Tiara.
‘aku yang minta maaf, wajar kamu curiga, aku kelihatan mau ikut campur memang,” William menunduk malu, “aku cuma pikir kalau kamu adikku, aku pasti melakukan hal yang sama.”
Tiara terkekeh mendengar permintaan maaf William, ia jadi sadar betapa jelek ekspresinya saat berjongkok di parkiran tadi, pasti gara-gara itu William bersimpati padanya. Tiara berharap ini pertanda baik, dia menemukan teman baru yang baik di awal pencarian Tania. Lagipula sudah cukup lama Tiara tidak bertemu kawan baru.
—
Erika, manager Tania duduk dihadapan Tiara menjelaskan list kontrak kerja yang terpampang di layar Ipad-nya. Secara garis besar Tania sudah mengerjakan pekerjaannya sampai tiga bulan kedepan. Meski bulan ini ada beberapa janji pemotretan dan talkshow yang perlu kehadiran Tania namun tim sedang menghandle absennya Tania. Management berharap Tania menghilang tidak lebih dari tiga bulan, karena beberapa kontak kerjasama dan pemotretan harus dilakukan, sisanya management akan mengusahakan mengajukan penundaan atau pembatalan.
“Kontrak yang harus dikerjakan empat bulan lagi kita coba batalkan atau pending, kami usahakan nggak ada penalti kak,” ucap Erika, “Kalau secara pribadi sih saya paham kak Tiara memang nggak pernah tahu apa-apa, tapi masalahnya kan ada perjanjiannya kak.”
Tiara mengangguk, sebelumnya ia sudah menjelaskan tentang dirinya yang tidak tahu menahu sama sekali soal kepergian Tania di depan atasan dan manager serta beberapa orang lain. Erika dan beberapa orang tampaknya paham kondisinya, mereka yang paham sepertinya memang orang-orang yang berhubungan dekat dengan Tania sehari-hari. Entah apa yang Tania ceritakan soal dirinya, Tiara kurang begitu peduli, yang terpenting adalah solusi menemukan Tania.
Pada intinya melalui penjelasan Erika, pihak management Tania akan mengusahakan agar kontrak kerjasama yang sudah ditandatangani bisa ditunda atau dibatalkan tanpa terkena penalti. Sementara tiga bulan ini mereka akan menggunakan konten-konten yang sudah dibuat oleh Tania di bulan-bulan sebelumnya. Jadwal pemotretan, talkshow secara live dalam kurun waktu tiga bulan ini juga terpaksa akan dibatalkan, namun perusahaan menuntut pihak keluarga untuk menemukan Tania secepatnya.
“Kayaknya kamu bilang Tania memang sengaja selesaikan pekerjaannya tiga bulan ini dan mau cakum, apa nggak ada tanda dia mau pergi mba?” tanya Tiara.
“Ya kita kira karena kak Tania mau menikah kak,” jawab Erika
“Mba, apa nggak ada clue lain Tania pergi kemana dan sama siapa?” tanya Tiara lagi, “mungkin ada gosip-gosip Tania punya pria lain?”
Erika terdiam, ia menunduk seolah ingin menyembunyikan suatu hal yang tak boleh diketahui orang lain, “Mba Erika, pleasee!”
“Kalau maslah pribadi, bisa nggak kita ketemu nggak di kantor aja kak?” Erika akhirnya bicara sedikit berbisik, “aku nggak enak bicarainnya disini.”
Tiara menggigit bibir bawahnya, omongan Sean benar, kalau Tania didapati kabur bersama pria lain, segalanya akan sia-sia. Doanya yang tak henti-henti ia panjatkan dalam hati, semoga bisa memanuver keadaan.
Tania tolong jangan lakukan ini lagi…Tolong!