Durasi Bodoh & Patah Hati

1358 Words
Sean bisa melihat dengan jelas wanita yang berjalan beriringan dengan William, salah satu karyawan legal perusahaannya, pria itu membawa berkas-berkas kontrak perjanjian di tangan kirinya, sementara ia berbicara dengan penuh senyum ke arah wanita berbaju biru yang nampak mungil mengingat tinggi William sekitar 190 cm lebih, sedikit lebih tinggi darinya. Wanita itu sangat mirip dengan tunangannya yang pergi meninggalkannya beberapa hari lalu, bedanya wanita yang nampak di layar monitor cctv itu lebih kurus, berkulit lebih gelap dan ekspresi sedih yang sepertinya selalu terpasang di wajahnya. Kalau saja ia lebih genit dan ceria, mereka berdua benar-benar mirip, cantik. “Pagi pak, ini kontrak yang Bapak minta,” ucap William sambil meletakkan map yang ia bawa di atas meja Sean. “Mengenai kontrak kita dengan PT ….,” Sean harus mengalihkan perhatiannya pada pekerjaannya sejenak meski sesekali ia melirik ke arah monitor cctv dan mendapati Tiara masih duduk di sana menunggunya. “Oke kalau begitu aku bicarakan ke tim,” jawab William menyimpulkan pembahasan mereka hari ini, ia beranjak dari kursinya untuk kembali ke ruangannya. Namun sebelum melangkah ke pintu ia teringat sesuatu dan berbalik menghadap ke atasannya sekaligus kawan lamanya. “Kayaknya kamu ada tamu!?” Sean sedikit terkejut mendengar ucapan William, sedikit banyak temannya itu pasti sudah mendengar soal perginya Tania. Dan jika mengenal Tiara cukup lama, ia pasti menyadari kemiripan di antara keduanya. Mencoba menutupi keengganannya bertemu Tiara, Sean hanya mengangguk pelan. Terlihat dari layar William menyapa Tiara sebentar lalu pergi, sementara Tiara kembali duduk dan menunggu. Kadang ia duduk sambil melihat-lihat interior ruangan itu, sesekali ia juga menulis-nulis sesuatu di notes kertas kecil yang Sean tahu pasti selalu ia bawa di dalam tasnya, sesekali ia mengecek sesuatu di ponselnya. Hal itu berlangsung selama hampir dua jam sejak William meninggalkan ruangannya. Jam digital di meja Sean menunjukkan pukul 12.51, pria itu berdecak kesal. Berapa lama Tiara akan setia menunggu disana, bukannya ini sudah waktunya makan siang? Sean kembali menatap layar ponselnya hanya untuk meng-scroll hal-hal tak penting di i********:, namun tak lama ia berhenti. Tiara tidak pernah sarapan seumur hidupnya, makan sebelum jam 12 selalu membuatnya kram perut. Biasanya ia hanya banyak minum air putih saja, lalu makan makanan ringan di jam 12 setelah itu makan besar di jam 3, seringnya ia tak makan apapun lagi sehari itu sampai esok hari lagi. Itu kebiasaan yang dulu sering Sean protes saat mereka masih dekat satu sama lain di Tokyo, lima tahun yang lalu. Sean sekali lagi berdecak, bukan lagi karena terganggu akan sosok Tiara yang masih tampak di layar dihadapannya. Buru-buru ia menekan ekstension telepon di meja sekretarisnya lalu memerintahkan karyawannya itu untuk mengantarkan Tiara masuk. Setelah menutup gagang teleponnya, untuk kesekian kalinya Sean kembali berdecak, menyesali tindakan impulsifnya mengundang Tiara hanya karena ia ingat kebiasaan makannya. “Hai kak Sean,” wanita itu menyapa pelan, Sean bisa mendengar rasa enggan, perasaan bersalah dan malu disana. Tiara juga mengumbar senyum berat sambil melangkah kearahnya. Kak,,,imbuhan yang selalu ia dengar dari banyak rekan yang berusia lebih muda darinya, tapi tidak pernah dari wanita ini. Sedari lama mereka hanya memanggil nama, kadang nama lain hanya untuk mereka berdua, tanpa imbuhan penghormatan. Sean berhenti menatap wajah Tiara lalu menyenderkan tubuhnya ke dudukan kursi, ia harus ingat tunangannya sudah seminggu pergi sepertinya dengan laki-laki yang sejak lama ia curigai. “Apa kabar?” jujur ia tidak tahu harus berkata apa, karena ia tak menduga Tiara mendatanginya. Jika ini Tante Vanya yang datang dan memohon padanya, mudah saja Sean melancarkan makian dan kekesalannya. “Sangat nggak baik,” jawab jujur Tiara, ya kakaknya menghilang sampai-sampai dia harus kembali ke Jakarta, pastinya tidak baik-baik saja. “Jadi dimana Tania?” walau terpisah jarak dan negara mana mungkin seorang adik tidak tahu kabar kakaknya bukan? “Aku juga masih mencari, kamu punya petunjuk untuk menemukan dia?” Bohong, wanita ini sudah banyak membohongi Sean, dan sekarang kakaknya juga melakukan hal yang lebih fatal, padahal mereka sangat berbeda, tapi pada akhirnya Sean yang selalu ditipu. “Bagaimana aku tahu?” Sean tertawa getir setelah menjawab, teringat saat terakhir kali ia bertengkar dengan Tania saat mendapati wanita itu pergi dengan seorang atlet terkenal yang rupanya adalah teman sekampus Tania. Sejak saat itu hubungan mereka menegang sampai akhirnya Tania kabur. “Kamu tunangannya,” jawaban Tiara menohok relung hati Sean, bagian yang berapa lama ini merasakan luka, serasa ditusuk lagi dengan belati dengan brutal. Tiara benar, orang yang seharusnya paling tahu dimana Tania bagaimana kabarnya, keadaan fisiknya adalah dirinya sendiri. Untuk seseorang yang baru saja kembali dari luar negeri setelah belasan tahun tinggal disana, tentu saja itu benar. “Dia pergi dengan pria lain,” jawab Sean, ia yakin apa yang terjadi belakangan ini sesuai dengan skenario yang ia bayangkan. Semua yang mengenal dirinya dan Tania juga sudah menduga, ibunya bahkan sudah meramalkan hal ini sejak lama. Dan jika hubungan pertemanannya dengan Tiara tidak terputus lima tahun lalu, mereka pasti sedang minum bersama meratapi kebodohan Sean saat ini. “Aku bener-bener nggak tahu apa yang ada dipikiran Tania, dan alasannya menghilang. Aku baru aja sampai Jakarta, as you know…aku nggak pernah tahu gimana keluargaku kak,” raut ketakutan memancar dari wajah Tiara, Sean benci rasa bersalah yang terlambat datang, harusnya dari dulu Tiara mengurus urusan keluarganya, bukannya merantau ke Jepang dan begitu masalah ini muncul dia kembali. “Kamu nggak tahu apa-apa dan muncul disini,” Sean mengungkapkan kekesalannya, “masih berpikir soal saham kalian yang akan kembali?” “Aku janji akan bawa pulang Tania, dan dia tidak bersama lelaki lain,” Tiara meyakinkan. “Kalau Tania kabur, seharusnya kalian malu dan memberi kompensasi, untuk apa memohon perpanjangan waktu? Bukannya dia pergi bersama pria lain? Atau kalian masih berharap perusahaan kalian dikembalikan? Lalu apa? Kalau hancur lagi kalian akan melakukan hal yang sama dengan pria lain?” Emosi Sean memuncak mengingat janji yang ia buat pada kekasihnya setahun lalu saat mereka merencanakan pernikahan. Janji itu juga yang membuat hubungan mereka terasa semakin romantis dan penuh warna. Seandainya ia tidak berjanji, mudah saja menyingkirkan keluarga Alexander dari kehidupannya. Patah hati-nya pasti bisa sembuh seiring berjalannya waktu. “Saya bahkan nggak tahu sama sekali perjanjian kalian,” alasan yang dilontarkan Tiara benar-benar tidak masuk akal, sekarang dia sudah tahu perjanjian itu bukan? Dan tanpa malu datang ke hadapannya. “Ya aku tahu kamu kabur ke Tokyo sejak saat itu,” Sean merendahkan suaranya, terakhir kali mereka bertemu gadis di depannya ini juga kabur ke Tokyo dan sekalipun belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta. “Dan sekarang tiba-tiba kamu muncul dan terjadi masalah.” Sean tahu betul dalam masalah ini Tiara bukan penyebab-nya. Mana mungkin dia menyuruh Tania kabur, kecuali, “Saya tidak mengerti maksud anda, yang pasti saya akan bawa kayak saya sebelum hari pernikahan.” Sean tidak memedulikan jawaban Tiara, “saya permisi.” Bisa jadi Tiara mendukung perselingkuhan kakaknya bukan? Batin Sean. Muncul sebersit kenangan lama akar dari pertengkarannya dengan Tiara, gadis yang manipulatif itu menahan informasi yang seharusnya ia tahu sejak lama. Gadis itu adalah gadis ambisius dan keras kepala yang rela melakukan apa saja demi sesuatu yang menurutnya baik. Gadis di hadapannya adalah orang yang sama sekali tidak dapat diduga. Gadis ini juga sudah menipunya lebih lama dibanding sejak Tania diduga berselingkuh. “Atau kamu mencoba menggantikan kakakmu, Yara?” sebersit kesimpulan muncul dikepala Sean, dan rasanya tawaran itu cukup untuk mengoyahkan Tiara. Kalau Tiara sudah mendapatkan apa yang ia inginkan cepat atau lambat Tania akan muncul bukan? “Ayo kita menikah.” Sean tidak bisa melihat ekspresi yang dibuat Tiara yang tengah memunggunginya itu, namun ia tahu ucapannya cukup mengejutkan sampai-sampai Tiara berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Mari kita biarkan keluarga Alexander berpikir dan jatuh dalam perangkap yang ia buat, batin Sean sambil tersenyum puas. Begitu Tiara keluar dari ruangannya mata Sean otomatis tertuju pada layar cctv dan mengamati gerak gerik Tiara sampai masuk ke dalam lift, seraya tangannya sibuk mencari kontak di ponselnya. “Halo Han, gue ada job buat lo!” Sean menelepon salah satu temannya, “ tolong ikutin cewek ini, detailnya gue w******p ya.” tak lama setelah sambungan telepon putus, Sean sibuk mengetik pesan untuk Reyhan, teman wibu sekaligus detektif dadakannya. Kita boleh patah hati, tapi jangan bodoh selamanya…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD