Lari

1812 Words
Tiara mematut dirinya di cermin, tubuh kurusnya nampak semakin kecil didalam balutan kaos anime oversize warna biru langit. Jika biasanya ia memadankan dengan celana oversize dan sepatu kets vintage dan nampak seperti pemuda Tokyo kebanyakan. Kini ia memilih memakai rok mini warna putih yang ia temukan di lemari kakaknya, sedikit baju yang tersisa yang sepertinya memang tidak akan dipakai Tania, mengingat kualitas bahannya yang tidak terlalu bagus. Ia juga sudah membalut luka di pelipis dan pipinya dengan kasa dan plester, berharap tidak banyak yang sadar luka itu cukup besar dan membuatnya seolah menarik perhatian. Sekali lagi ia menatap penampilannya di cermin, jujur saja, sbeenarnya ia sangat mirip dengan sang kakak, Tania. Hanya saja warna kulitnya memang jauh lebih gelap dan tubuhnya lebih tinggi dari sang kakak. Kalau ia tidak memilih berjuang menjadi illustrator, apakah ia juga bisa menjadi terkenal seperti kakaknya? Tiara menghela nafas, buru-buru ia menampar pipinya lalu mengerang kecil karena tamparan itu nyaris mengenai lukanya dan menimbulkan perih. Tiara tidak pantas iri dan berandai-andai menjadi Tania. Harusnya dia sadar, dia bukan Tania, bahkan orang tuanya tidak menginginkannya. “Ma, aku berangkat dulu,” Tiara menggantungkan shoulder bag di bahu kirinya, dan mengambil kunci mobil yang tergantung. --- Tiara Alexander masih terpesona dengan pemandangan gedung pencakar langit di sekelilingnya yang menjulang tinggi seakan menembus langit, pemandangan yang tidak pernah ia lihat selama di Tokyo. Ia berdiri di depan pintu lobby yang cukup familiar baginya, meski sudah lama tidak mengunjungi kota ia dibesarkan, namun ia ingat ketika masa sekolah ia harus menjemput ayahnya sepulang kerja. Ia memantapkan langkahnya, kenangan wajah ayahnya yang telah tiada beberapa taun yang lalu buyar dengan bayangan sosok yang harus ditemuinya hari ini. Rasa enggan tiba-tiba membuncah di d**a-nya sampai-sampai ia merasa sesak dan pergelangan kakinya terasa lemas. Entah apakah usahnya untuk bertemu dengan tunangan kakaknya itu berhasil, namun jika ia berhasil menemui-nya, apa yang harus ia hadapi nanti? “Cari siapa bu?” tak sadar telah cukup lama mematung, sekuriti yang berjaga di depan pintu menegurnya, mungkin karena ia terlihat seperti orang kebingungan. “Maaf pak, sudah lama nggak kesini, saya sudah buat janji kok,” Tiara langsung melangkah masuk ke dalam lobby, ia berbohong soal janji tadi. Ia bahkan kemari hanya berbekal ingatan-nya di masa lalu lantai tempat Sean bekerja. Tiara memang bisa saja menanyakan hal itu pada resepsionis, namun itu artinya kedatangannya akan diketahui lebih dulu oleh Sean, dan Tiara tidak yakin pria itu sudi menerimanya. Bersikap seolah begitu mengenal gedung tersebut setelah mengambil kartu akses visitor Tiara langsung menaiki lift. Rasa gugup yang tadi ia rasakan kini makin bertambah, tak bisa ia tutupi lagi, ujung-ujung jarinya merasakan dingin sampai ia perlu menggosokkan kedua telapak tangannya. Bagi orang lain yang melihatnya saat ini pasti merasa tingkahnya aneh. Ting! Pintu lift terbuka dan ruangan bersekat kaca nampak di sisi kanan dan kiri lift, terlihat jelas beberapa orang tengah bekerja di hadapan komputer masing-masing, dan yang lain berdiskusi sambil menunjuk dokumen-dokumen yang mereka pegang. Seingat Tiara lantai yang ia tuju harusnya hanya berisi ruangan para eksekutif perusahaan ini, yang artinya lebih sepi dan tenang. Masih di depan lift dengan tenang Tiara mencari seseorang yang sedang tidak terlalu sibuk. Kebetulan tak lama nampak seorang pria keluar dari ruangan di pojok menuju lift sambil membawa beberapa dokumen di tangannya. “Selamat pagi pak, maaf ini betul PT. ******* **************, untuk kantor Direktur sudah pindah lantai ya pak?” Tiara bertanya sopan. “Oh mau ketemu Direktur apa bu?” jawab pria itu sambil tersenyum, kalau dilihat dari wajahnya Tiara yakin pria itu seumuran atau lebih muda tidak jauh dari usianya. “Pak Sean Lancester, bapak tahu di lantai berapa?,” Tiara tidak tahu saat ini Sean menjabat sebagai apa di perusahaan ayahnya ini, ia hanya berharap pria itu tahu nama yang ia sebut. “Ah pak Sean,” pria itu terhenti sebentar dan mengamati Tiara, pasti bertanya dalam hati kepentingan dan urusan apa seseorang yang terlihat casual muncul di jam kerja dan mencari ruangan seorang eksekutif. “Saya kebetulan mau kesana, kita bisa bareng.” “Terimakasih,” Tiara tersenyum, pria itu segera menekan tombol lift, masih dengan wajah bertanya-tanya. Tiara paham kebingungan pria itu, jadi agar tak menimbulkan kecurigaan, toh, pria itu membantunya, ia menjelaskan, “saya sepupunya, baru datang ke Jakarta. Terakhir kesini kayaknya masih di lantai ini makanya aku nggak tanya lagi.” “Aah,” pria itu mengangguk-angguk, “ruangan eksekutif dipindah empat tahun lalu.” “Ohh, sayang sekali,” Tiara menoleh ke belakang, tempat ini dulunya sering ia datangi sedari kecil saat ia mengunjungi ayahnya, kini telah begitu berbeda. Betapa sedihnya menyadari ia tidak bisa lagi bernostalgia tentang ayahnya. Kenangannya yang hanya sedikit dan sebagian besar ada di lantai ini, semuanya telah hilang tak berjejak. “Sepertinya dulu sering kesini!?” pria disebelahnya mengagetkan Tiara, seolah sadar kesedihan di raut wajahnya. “Iya, sering banget,” Tiara tersenyum malu, kalau saja pria ini tahu bahwa ia putri dari pendiri perusahaan. --- Tiga jam, Tiara sudah duduk di ruang meeting tempatnya menunggu sampai Sean mau menemuinya, pria yang tadi mengantarkannya ke lantai ini sudah selesai melapor lebih dari dua jam yang lalu dan sejak pria itu keluar tak ada tamu lain yang masuk. Tandanya memang Sean tidak mau menerima kehadirannya. “Kalau misal pak Sean tanya, tolong bilang saya masih menunggu, tapi nggak perlu reminder lagi ya mba,” pinta Tiara, merasa tidak enak karena masih duduk di tempatnya dan tak menyerah menunggu Sean. “Baik mba, tadi pak Sean bilang hari ini jangan diganggu dulu. Tapi kalau mba mau tunggu, silakan, karena belum ada perintah lain,” ucap sang sekretaris sopan. Tiara mengangguk, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, dan Sean bahkan tidak beranjak dari ruangannya. Kring! Suara telepon di meja sekretaris berdering, perempuan cantik dengan rambut tersanggul rapi itu buru-buru mengangkat gagang telepon. Dari posisinya Tiara bisa melihat gestur sang sekretaris yang seolah membicarakan keberadaannya. Tak lama setelah menutup telepon wanita itu menghampiri Tiara. “Mba Tiara, kata Bapak silakan masuk.” Tiara bangkit dari kursinya, perasaan lega sekaligus takut kembali menjalar di sekujur tubuhnya. Langkah demi langkah dari posisinya menuju pintu jati besar dihadapannya serasa begitu cepat, begitu pintu ruangan itu dibuka menguar wangi citrus yang begitu ia kenali. Di ruangan dengan nuansa monokrom abu abu dan hitam itu Tiara bisa melihat sesosok pria yang telah lama tidak ia temui, setidaknya sejak lima tahun belakangan ini. “Hai kak Sean,” Tiara berusaha menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Sean yang awalnya sibuk dengan ponselnya langsung menatap tajam tepat ke pupil mata Tiara, lalu menyenderkan punggungnya ke kursi kerjanya, memberi gestur malas sekaligus intimidatif. Tiara yakin pria itu sudah tahu apa yang mau ia sampaikan. “Apa kabar?” “Sangat nggak baik,” jawab Tiara mengambil posisi duduk di kursi depan meja menghadap Sean Lancester, pria itu tersenyum pahit. “Jadi dimana Tania?,” “Aku juga masih mencari, kamu punya petunjuk untuk menemukan dia?” “Bagaimana aku tahu?” jawab Sean diiringi tawa mengejek “Kamu tunangannya,” jawab Tiara hati-hati. Sean terkekeh, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Tiara, meneliti setiap ekspresi di wajah Tiara. “Dia pergi dengan pria lain.” Tiara tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan kakak-nya dan hubungannya dengan pacarnya ini. Selama ini yang bisa ia tahu lewat media sosial adalah mereka terlihat bahagia dan bertunangan awal tahun ini. Yang ia tahu pria dihadapannya benar-benar mencintai Tania sepenuh hati dan melakukan banyak hal untuk kakaknya itu, dan dia iri. “Aku bener-bener nggak tahu apa yang ada dipikiran Tania, dan alasannya menghilang. Aku baru aja sampai Jakarta, as you know…aku nggak pernah tahu gimana keluargaku kak,” Tiara menjawab pelan. Jika ibunya tidak meneleponnya beberapa hari yang lalu, ia tak pernah tahu kalau ada suatu perjanjian tentang Sean mengakuisisi perusahaan ayahnya dan pertunangannya dengan Tania. Perusahaan itu merugi dan memperburuk kesehatan ayahnya hingga ia meninggal dunia, karena tak ada satupun anak dari keluarga Alexander dilibatkan dalam berjalannya perusahaan maka Sean dengan rela hati dan karena rasa cintanya pada Tania memutuskan membereskan masalahnya. Tiara tahu akan hal itu, yang ia tak pernah tahu adalah hutang bisnis ayahnya dan perjanjian pengembalian saham perusahaan jika Tania menikah dengan Sean. Dan itu yang selalu ibunya camkan beberapa hari ini, Sean harus menikah dengan Tania. Apapun caranya Tania harus kembali dan menikah, mari kita anggap ini hanya pertengkaran kekasih biasa. “Kamu nggak tahu apa-apa dan muncul disini,” ucap Sean menohok, “masih berpikir soal saham kalian yang akan kembali?” Tiara tidak dalam posisi yang bisa menjawab tuduhan Sean, berada di ruangan ini artinya Tiara berharap Sean tidak marah dan tetap menikahi Tania jika ia bisa menemukannya. Kesimpulannya ia mengharap bagiannya diperusahaan itu. Tak mau dipermalukan lebih lama, ia berdiri, toh ia tak bisa menemukan jalan tengah dengan berbicara. “Aku janji akan bawa pulang Tania, dan dia tidak bersama lelaki lain,” Tiara meyakinkan. Tania mencintai Sean dan sebaliknya, saat Tania kembali semua akan kembali pada posisinya. Sean mencintai Tania, Sean akan menerimanya lagi, Sean mencintai Tania…Sean…Tania terus merapalkan kata-kata itu dalam hatinya, meski hatinya sangat sakit saat mengatakan nahwa pria di hadapannya sangat-sangat mencintai kakaknya. “Kalau Tania kabur, seharusnya kalian malu dan memberi kompensasi, untuk apa memohon perpanjangan waktu? Bukannya dia pergi bersama pria lain? Atau kalian masih berharap perusahaan kalian dikembalikan? Lalu apa? Kalau hancur lagi kalian akan melakukan hal yang sama dengan pria lain?” hina Sean “Saya bahkan nggak tahu sama sekali perjanjian kalian,” Tiara menjelaskan berharap pria tinggi di hadapannya mengerti situasinya. “Ya aku tahu kamu kabur ke Tokyo sejak saat itu,” Sean merendahkan suaranya, terlihat di benaknya ia mengenang peristiwa yang telah lama terjadi. “Dan sekarang tiba-tiba kamu muncul dan terjadi masalah.” Tubuh Tiara hampir saja kehilangan keseimbangan jika saja ia tidak bergeser mendekat ke arah meja kerja besar di hadapannya, ia tidak ingin pria tampan di hadapannya melihat ia terhuyung karena ingatan masa itu. Rasa sakit yang telah lama terlupa, rupanya belum benar-benar sembuh, hanya dengan sedikit sentuhan saja lukanya kembali menganga lebar. “Saya tidak mengerti maksud anda,” gadis itu berusaha menekankan bahwa apa yang ada di benak Sean hanyalah prasangkanya sendiri. “Yang pasti saya akan bawa kayak saya sebelum hari pernikahan.” “Saya permisi,” Tiara membalikkan tubuh setelah sedikit membungkuk memberi salam perpisahan. Ia sadar betul untuk secepatnya pergi dari tempat itu dan sama sekali tidak berurusan dengan keluarga Lancaster sedikit pun. Bagaimana pun caranya ia harus membawa kembali Tania, biang masalahnya selama ini, dan pernikahan antara Sean dan Tania harus segera berlangsung. Kalau tidak, sekali lagi, ia akan menjadi orang paling jahat di hadapan mereka yang sangat Tiara cintai. “Atau kamu mencoba menggantikan kakakmu, Yara?” suara dingin Sean terdengar jelas memenuhi ruangan itu, Tiara sempat menghentikan langkahnya. Namun jeritan batinnya segera menyadarkannya untuk cepat-cepat melangkah keluar. “Ayo kita menikah.” Lari Tiara, Lari….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD