Baru saja Tiara menapakkan kaki di parkiran bandara untuk mencari taksi online yang sudah ia pesan lima belas menit yang lalu, ponselnya yang selama ini sepi penelepon, kini telah berdering tanpa henti. Tiara menggeser tampilan layarnya, agar ia bisa membuka aplikasi taksi online dan melihat dimana posisi taksi menjemputnya.
‘Iya, halo kak,” begitu meletakkan bokongnya di jok penumpang, Tiara langsung mengangkat telepon yang daritadi menghubunginya. “Iya kak, tolong dibantu ya kak, saya juga baru sampai Jakarta, kalau sudah ada kejelasan lebih lanjut aku pasti hubungi kakak kok.”
Manager kakaknya dan tim management mereka tanpa henti menghubungi Tiara, tiga hari yang lalu kakaknya yang seorang model dan influencer itu tiba-tiba menghilang. Bukan hanya menghilang, berdasarkan telepon dari ibunya, kakanya membawa sebagian besar perabot rumah yang berharga dan surat-surat penting dari rumah mereka, dan tidak meninggalkan sepeserpun uang untuk hidup sang Ibu. mendengar hal itu dan perintah ibunya, Tiara langusng bertolak dari Jepang dan kembali ke tanah air untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Satu jam perjalanan hingga Tiara sampai di depan rumahnya, rumah kebanggaan ayahnya, rumah yang ia tinggali sejak ia kecil hingga sepuluh tahun lalu memutuskan pergi dari sana, menjauh dari keluarganya, yang rasanya tidak mampu ia sebut keluarga.
“Kenapa kamu nggak langsung pulang sih Ra? Orang management sudah hubungi kamu? Mereka minta-minta kompensasi terus ke mami, mami kasih nomor kamu tadi.” ucap Vanya Alexander, ibu kandungnya yang langsung menyeret Tiara masuk begitu ia membunyikan bel. Penampilan ibunya sungguh berbeda dari apa yang ia lihat terakhir kali dari feed i********:. Ibunya yang berkelas, cantik dan sosialita dengan pakaian bermerk duduk di restoran steak mewah dengan anggun. Kini berpenampilan kacau dengan kaus oversize miliknya tanpa dandanan, bahkan rambutnya seperti belum ia sisir, dari tubuhnya juga menguar bau alkohol yang tajam.
“Kapan terakhir kali kakak ketemu mama?” Tiara mendengus pelan namun ia paham dalam kondisi ini jetlag yang ia rasakan harus diabaikan terlebih dulu, toh dia sudah beristirahat sebentar selama perjalanan kesini tadi.
“Mami ketemu mah bulan lalu, begitu mami pulang dari Surabaya rumah tiba-tiba kosong kayak gini, kamu lihat kan?” Ibunya menunjuk ke arah ruang keluarga yang kosog hanya tersisa meja dan kursi makan, alat-alat elektronik, sofa Italy yang ada di ruang keluarga, lemari bar dan botol-botol anggur mahal yang harusnya ada mendampingi meja makan telah tiada, menyisakan bekas hitam kotor di dinding.
“Tadi aku sudah telepon managernya, dia pun bilang nggak ada masalah apa-apa di kerjaannya, apa mama ada curiga sesuatu?”
“Mami nggak tahuu!!!,” ibunya mendadak menjadi kesal dan melengkingkan suaranya, botol alkohol yang ia pegang dengan sekuat tenaga ia gebrakkan ke meja, Tiara yang melihatnya hanya bisa meringis, takut kalau-kalau botol itu pecah dan pecahannya berhamburan. “Ini semua gara-gara kamuuu!!! Anak egois!!!”
Tiara hanya diam mematung, membiarkan ibunya berteriak dan memakinya, ia tak punya tenaga meladeni ibunya. Dia sudah terlalu tua untuk membalas pernyataan ibunya, atau mempertanyakan alasan menagap sang ibu menyalahkannya atas kejadian ini. Ia butuh tidur sebentar, besok ia harus mulai melakukan apa yang harus ia lakukan, walau ia belum tahu apa yang pertama kali perlu ia lakukan.
“Hubungi Sean!,” perintah Vanya sambil tersengal-sengal karena terlalu lelah memaki putri bungsunya.
“Dia belum tahu?” Tiara bergumam lirih, ia yakin tunangan kakaknya itu sudah tahu lebih dulu tentang kepergian Tania, kenapa ia harus kesana dan memberitahunya.
PRANGG
Gelas kaca melayang dari genggaman ibunya ke wajah Tiara, tak lama cairan merah pekat mengalir dari dahi dan pipi sebelah kiri Tiara.
“Anak g*bl***k!!!,” gumaman Tiara membangkitkan amarah sang Ibu tanpa ia sadari, “jangan sampai pernikahan mereka gagal!!! Kalau gagal kamu mau hidupin kita semua hah??? Mampu kamu????”
Tiara menekan lukanya agar darah tidak mengalir lebih banyak, bisa ia rasakan sisa-sisa pecahan kaca masih tertanam di lukanya. Sambil mengumpulkan pecahan gelas di lantai, mengumpulkannya dengan tangan telanjang, ia mengiyakan perintah ibunya.
“Iya ma, besok pagi aku kesana.”
Sebuah perintah harus dilakukan apapun resikonya, bagaimanapun enggannya, lagipula ini demi keluarga. Mama dan Tania itu keluarga…