Ara sedang melipat baju dan memasukkannya kedalam koper ketika Nino muncul di belakangnya, Ia berbalik dan menatap Nino yang berdiri kaku di depan pintu yang balas menatapnya. Ara tak kuasa, bahunya bergetar, air mata mulai turun, ia cemas Nino tak pulang-pulang sejak ia bangun tadi pagi, khawatir terjadi apa-apa dengan lelaki itu, khawatir Nino meninggalkannya seorang diri. "Aku pikir kau sudah di sampai di Jakarta" suaranya gemetar, ia mencoba bertahan untuk tak berlari memeluk Nino. "Aku takkan pernah meninggalkanmu, kau tahu itu". Ara mengangguk, dipaksakannya untuk tersenyum "kau kemana saja?" "Jalan-jalan". "Oke". Ia menangis tak bersuara, tatapan dingin Nino membuatnya tersiksa. "Maafkan aku, maaf....maaf sudah membuatmu kcewa dengan tingkahku, maaf karena menjadi tak sempurn

