1
Ara menoleh kesamping melihat anak perempuan disebelahnya yang diam memandangi jalan. Mereka duduk di trotoar yang sibuk di sore hari, seragam merah putih keduanya kotor oleh debu dan keringat.
"Kenapa kau pakai celana? bukannya cuma anak laki-laki yang pakai celana, ibumu gila ya?" Gadis cilik itu menyeringai jijik.
"Tidak, bukannya anak perempuan berambut panjang, kenapa kau botak, ibumu gila ya?" Si Cantik itu membalasnya.
Ara mengangkat bahunya santai. "Ya, ibuku gila."
"Apa menyenangkan punya ibu gila?"
"Ya! aku tak perlu belajar, tak perlu pergi mengaji ke surau, kerjaku seharian hanya bermain, kadang-kadang mengejar rombongan soang sampai mereka berhamburan ketakutan, kadang menyembunyikan terompah Wak Haji Karim di bawah langgar, kadang mengambil soda di warung Upik Si Pekak, dan hanya kadang-kadang saja aku dimarahi."
"Kenapa?"
"Karena mereka takut dengan ibuku yang gila."
"Kenapa?"
"Ibuku suka bawa pisau kemana-mana."
"Kenapa?"
"Karena kalau kau tanya lagi kenapa, akupun akan menghantammu dengan batu."
"Oke." Anak perempuan itu manggut-manggut, Ara kembali melayangkan pandangannya ke jalan.
Kota ini kota kecil, tak sibuk seperti kota tempat presiden tinggal. Ara tahu itu karena ia sering menumpang nonton di warung bu Halimah, sembari menonton ia juga diajari main kartu oleh bapak-bapak berbau cerutu dan bernafas bau.
"Kalau kau besar ingin jadi apa?"
"Entahlah." Anak cantik itu hanya menjawab pelan.
"Kau bodoh sekali, kata Uwakku, setiap orang harus punya cita-cita."
"Kenapa?"
"Karena setelah besar nanti kita butuh uang, untuk dapat uang kau harus punya cita-cita." Ara tampak yakin.
"Kenapa?"
"Karena kalau orang bodoh sepertimu tak punya cita-cita, alamat kau bakal dikubur lebih cepat."
"Kenapa?"
"Kalau kau tanya lagi kenapa, berarti kau minta dikubur."
"Oke." Lagi-lagi ia hanya mengangguk.
Perempuan pemalas, Ara gemas sekali.
"Aku besok ingin jadi tentara."
"Kenapa?"
"Karena tentara boleh pegang senjata."
"Kenapa?"
"Karena kalau aku boleh pegang bedil, orang pertama yang akan kutembak adalah bapakku."
"Kenapa?"
"Kalau kau tanya kenapa lagi, kau akan kudorong ke jalan biar kau digilas ambulans."
"Oke, aku tak punya ayah soalnya." Anak cantik itu tak lagi manggut-manggut, ia menunduk memandang ujung sepatunya, Ara merasa bersalah.
"Kalau kau mau aku bisa jadi ayahmu dan kau bisa jadi adik perempuanku."
Kali ini Ara tak berkutik, anak perempuan itu memandangnya dengan matanya yang besar dan indah, bulu matanya lentik, alisnya tipis, wajahnya putih, ia anak perempuan paling cantik yang pernah dilihatnya. Ara jatuh cinta.
"Kenapa." mata indah itu mengerjap, Ara terkesiap.
"Kau seperti Tuk Layau waktu dia mati diseruduk kerbaunya yang marahl"
"Kenapa?"
"Mukanya pucat, kau juga."
"Kenapa?"
"Walau kau pucat kau cantik."
"Kenapa?"
"Kalau kau tanya kenapa lagi, kau mau kucium?"
Ara menggigit ujung bibirnya, mukanya memerah dan tiba tiba...
Cup!
Anak perempuan itu mengecup pipinya, Ara terdiam lalu tersenyum, dielus-elusnya kepalanya yang botak, ia malu sekali, sedangkan anak cantik itu menatapnya dengan pandangan aneh.
"Hei nak, kenapa kalian disini?"
Mereka berdua terkejut, seorang polisi berperut gendut berdiri didekat mereka.
"Kami lupa jalan pulang pak." Ara menggagahkan sikapnya, ia suka polisi tapi lebih suka tentara.
"Kenapa sampai lupa?"
"Aku baru disini, dan dia bodoh." Ara menempeleng kepala anak perempuan yang berdiri kaku di sebelahnya.
"Ayo, ikut kekantor." Polisi itu menyuruh mereka mengikutinya. Ara berjalan tegap seperti mau menaikkan bendera pusaka, anak perempuan di belakangnya berjalan pelan, tangannya yang putih memegang erat tali tasnya.
Sesampai di Kantor Polisi mereka disuruh duduk di teras depan, lalu diberi minum.
"Nama kalian siapa?"
Seorang polisi yang lain dan lebih kurus datang dari dalam dan menanyai mereka.
"Saya Ara dan dia..siapa nama kau?"
"Nino." Anak itu menjawab pelan.
"Nina pak!" Suara Ara yang lantang membuat Si Polisi tertawa.
"Kelas berapa kau?"
"Aku kelas 3, dia juga padahal ia bodoh."
Lagi-lagi polisi itu tertawa, ia geleng-geleng kepala melihat Ara yang santai, sedangkan teman di sebelahnya tak berekspresi sama sekali.
"Sebutkan nomor telpon rumah, nanti kutelepon orangtua kalian supaya dijemput."
Ara tampak bingung, kemudian ia menyikut anak cantik itu.
"Aku tak punya telepon, kau saja."
Nino menyebutkan nomor telepon tempat ibunya bekerja, polisi itu mencatatnya di secarik kertas dan beranjak masuk ke dalam kantornya.
Tak berapa lama seorang perempuan muda tampak tergopoh-gopoh memasuki halaman Kantor Polisi, ia tampak cemas, namun ketika melihat bocah cantik di samping Ara, ia kelihatan lega.
"Nino, aduh nak, mama cemas sekali, kamu kemana saja?" Perempuan itu mendekap anaknya ke pelukannya yang hangat. Ara juga ingin dipeluk, ia tak pernah didekap ibunya sedangkan Uwaknya selalu sibuk menjemur pandan atau mencari kayu di hutan, wanita renta itu bahkan tak pernah mengusap kepalanya.
"Putri ibu laki-laki?" si polisi tiba-tiba bertanya.
Eva heran dengan pertanyaan itu. "Kan jelas pak, dia pakai celana"
"Waduh saya kira si botak ini yang laki-laki, saya tadi menyangka mereka bertukar bawahan." Lagi-lagi si polisi geleng-geleng takjub.
Ara lebih kaget lagi, ia menunjuk si cantik yang sedari tadi ia sangka perempuan.
"KAU LAKI-LAKI?? KAU TERNYATA LEBIH GILA DARI IBUKU!"
**************
Ciarran menjentik ujung rokoknya yang terbakar, rintik api itu terbang dan hilang dalam sedetik, kembali diisapnya rokok yang tinggal setengah, dirapatkannya jaket ke dagu untuk menghalau udara dingin, sore tadi kota ini dibilas hujan.
Ara merokok sejak kelas satu SMA, Kang Saef, preman pasar tempat uwaknya berjualan yang memberi rokok pertamanya, sejak saat itulah Ara menjadi pecandu benda nikmat namun membunuh itu. Kang Saef yang mantan narapidana masuk penjara lagi, terakhir Ara menengoknya sebelum ia masuk pendidikan di Lembang, setelah itu tak ada kabar berita, tapi legacy si preman masih bertahan sampai hari ini.
Jalanan masih basah, malam tampak semakin kelam karena awan hitam menggelayut berat diatas sana. Jarum jam menunjukkan angka 10, tapi Ara masih belum mau kembali ke mess tempat ia tinggal, ia masih ingin disini dulu, duduk menumpang di undakan depan minimarket tempat tadi ia membeli sebungkus rokok.
Semakin malam, denyut jantung kota baru terpompa, beragam penjaja makanan kaki lima beradu cepat mencari pelanggan dengan gerobak mereka yang warna-warni. Jalan di depan minimarket ini bukanlah jalan utama, tapi jalan kecil yang hanya ada satu jalur, akibatnya bunyi klakson kendaraan bermotor dimana-mana, sumpah serapah manusia bertebaran di udara saling berteriak siapa yang terlebih dahulu melewati jalan.
Ara tertawa menyaksikan manusia-manusia di hadapannya, makhluk Tuhan yang kadang-kadang tak menggunakan logika jika amarah sudah menguasai tubuh mereka. Ara contohnya, jika ia murka ia takkan segan melukai siapapun yang menghalanginya, ia memang temperamental, darahnya cepat menggelegak jika berhadapan dengan apa pun yang tak disukainya.
Seperti sekarang, diseberang jalan ia melihat beberapa orang preman tengah mengelilingi seorang gadis jangkung, wajahnya tak kelihatan karena ia membelakangi Ara, hanya rambut panjangnya yang terurai di punggungnya yang kurus.
Ara menginjak puntung rokoknya, memasukkan kedua tangan ke saku jaket dan berjalan keseberang, ia senang sekali karena tangannya sedari tadi sudah gatal ingin memukul seseorang dan asal tahu Ara hidup dengan moto i'm living for giving the devil his due.
"Hoi, ngapain lu, nyet?"
Empat kepala berputar ke arahnya, pria-pria itu tampak waspada sedangkan si gadis yang digoda menundukkan wajahnya.
"Apa lu bilang, njing? lu manggil kita apa?" Sgondrong busuk di depannya tampak marah, gigi kuningnya membuat Ara jijik.
"Gue bilang, monyet kampung kayak kalian ngapain di sini? lebih baik lu pergi dah, kalau nggak, siap-siap aja gue karungin!"
"Huahahahahahaha." Gerombolan Si Berat tambah Si Ceking tertawa mendengar prempuan botak yang mereka sangka lelaki berbicara penuh tantangan.
Woi, lu udah sunat belom? Kenapa suara lu mirip anak cewek?"
"Bijinya aje mungkin yang dipotong Pak Mantri cuy, hahahahaha."
Mereka berempat tertawa puas, Ara makin panas, dengan sekali putaran kaki, gadis itu langsung menghantam dua kepala sekaligus dan membuat mereka terhuyung kebelakang dengan p****t terlebih dahulu mencium trotoar. Melihat dua temannya tumbang, yang lain langsung kalap, tapi mereka kalah karena hanya tahu mengayunkan tinju tapi tak tepat sasaran. Pukulan Ara bersarang di ulu hati dan di perut keduanya.
"Lari, njing!"
Para preman itu lari tunggang langgang, Ara tertawa kesenangan, menepuk nyamuk sekali empat membuatnya berpuas diri.
************************************************