2

1773 Words
"Nggak apa-papa, Neng?" Ara tinggi untuk rata-rata perempuan Indonesia, tapi gadis ini jauuuuuh lebih tinggi. Tapi d**a gue nggak sedatar dia. Ara dengan sengaja memandang bagian depan kaus putih si gadis. Si gadis menyibakkan rambutnya yang sedari tadi menutupi wajahnya, dan ... Wow, cantiknya. Ara hanya bisa terpana melihat makhluk indah di depannya itu, mata besarnya dipayungi bulu mata lentik, wajahnya putih cenderung pucat, bibirnya merah alami, tipis dan juicy, perfect! "Ehm." Entah kenapa ia jadi salah tingkah. Ara mengusap-ngusap tengkuknya untuk menghilangkan rasa gugup. "Rumah lo dimana? mau gue antar?" Si gadis memandangnya lalu mengangguk. "Dimana?" Sekali lagi Ara bertanya, karena ia tak kunjung menjawab. Dengan telunjuknya yang lentik, si gadis menunjuk ke depan. Ara bingung karena di depan mereka hanya ada trotoar yang tak jelas ujungnya.  "Ayolah!" Ara pasrah. Mereka berjalan bersisian, dengan Ara yang bertingkah gentleman dan membiarkan Si Gadis berada di sisi kanannya agar tak disambar kendaraan yang lewat. Ara mengukur tinggi mereka, perempuan cantik itu mungkin sekitar 183-185, lebih tinggi dari Ara yang 173 sentimeter. Ha, padahal gue udah dibilang tiang listrik di kantor, ternyata masih ada emak-emak lain yang hobi ngemil tusuk sate, si cantik ini buktinya. Ara menerka-nerka dalam hati dan sedikit menyayangkan nasibnya. "Lu bisu, Neng, dari tadi nggak bersuara." Si cantik menggeleng. Ara mengangguk mengerti bahwa si cantik ini tak bisu karena ia tak tuli. "Gue Ara, tepatnya Ciarran dan lo ... sorry lu lagi silent treatment, yah?" Si cantik menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. "Oh ... karena lo nggak ngomong apapun, gue jadi berasumsi lo lagi marah sama seseorang dan lu sedang menjalani silent treatment. Lo tahu, metode ini biasanya dilakukan pasangan menikah yang sudah mulai saling bosan di usia ke-enam bulan perkawinan mereka." Di temaram lampu jalan, sebuah senyum terlukis di bibir Si Cantik. "Lo tahu video klipnya "Said  I Love You But I Lie "-nya Michael Bolton? Dua dari lima orang sangat menyukai model video itu yang hanya memakai carik waktu dia menunggang kuda, tapi gue justru nggak suka." "Kenapa?" Si Cantik mengangguk, Ara yang bersuara. "Karena gue lebih tertarik dengan bulu dadanya si Michael, coba lo bayangin kalau suatu hari nanti domba di dunia punah, produksi wol bisa dilanjutkan dengan memakai bulu dadanya si Bolton, hahaha ... i'm a truly visioner." Senyum terus berkembang di bibir Si Cantik, namun Ara tak tahu. "Waktu gue kelas lima SD, gue nggak pernah benar soal baris berbaris, lu tahu kenapa?" Si cantik mengangkat bahunya. "Karena gua sering bingung mana yang kanan mana yang kiri. Jadi, sebelum aba-aba di mulai, gue selalu berusaha untuk mengingat mana tangan yang biasa gue pakai buat makan, dan mana tangan cebok gue, eh, itu pun sering salah karena gue sering cebok pakai tangan gue yang buat makan, habis gue kan nggak kidal, hahaha." Tawa Ara yang kencang ditiup angin, membuat pengendara sepeda motor yang lewat langsung tancap gas, mereka mengira penunggu pohon yang tumbuh di sepanjang trotoar sedang beranak. Si cantik tak berhenti tersenyum. "Kemarena gue ke toko bangunan, disana ada seorang bapak-bapak sedang berdebat dengan si pemilik toko. Masalahnya sepele, si bapak pengen beli cat dengan menyebutkan satu merk, si pemilik toko memberikan merk yang salah." Ara pun bercerita. Pak ada cat duluk? Adalah, Dulax kan? Bukan pak, duluk, duluk. Iya, Pak, bacanya bukan duluk tapi Dulax Gue maunya duluk bukan Dulax, ente pe'a juga yah, ane cari tempat yang laen dah, assalamualaikum! "Pak haji pergi bersungut-sungut sambil bilang 'duluk' berkali-kali sedangkan si pemilik toko hanya mengurut dadanya yang tak berbulu seperti si Bolton." Ara tertawa-tawa sendiri setelah selesai bercerita. "Orang Indonesia rata-rata memang begitu, asal bacot, salah benar itu urusan belakangan, padahal zaman sekarang sudah edan, salah sebut sedikit, bisa rugi dunia akhirat." Ada nada sinis dalam suaranya. Si cantik mengerinyitkan dahi, tampak sedang menahan tawa. "Gue selalu bersyukur iklan orebon tak menggunakan anak laki-laki sebagai bintangnya." "Kenapa?" Ara yang mewakili suara si cantik "Karena jargon iklannya bisa berkonotasi negatif, kalau diputer sih nggak masalah, tapi yang dijilat dan dicelupin itu lho, seandainya si bapak yang baru pulang kerja itu ternyata penyuka cara rear entry, pasti biskuit yang dimaksud anaknya bisa di gambarkan lain, eh ... tahu-tahu si anak jadi rainbow warrior pas udah gede, hahaha." Cerita-cerita absurd Ara terus menemani mereka di sepanjang trotoar Tak terasa mereka sudah berbelok di persimpangan. Ara merasa heran, karena Si Cantik beralamat di kompleks perumahan tentara, dimana batalyon tempat Ara mengabdi ada di seberangnya. Mereka sampai di depan sebuah rumah berlantai dua yang tampak asri oleh berbagai macam tanaman, lampu taman membiaskan cahaya keemasan dan membuat beberapa rumpun bunga tampak misterius. Ara semakin heran saat tahu pemilik rumah itu. "Ini rumah lo?" si cantik mengangguk mengiyakan. Ara tampak mengagumi kehangatan dari bangunan di depannya dan juga ada sedikit raut heran. "Sertu Cia?" Ara menoleh ke sumber suara, lalu tangannya bergerak otomatis memberikan hormat kepada Kapten Kivlan Troian Panjaitan yang tengah berdiri di teras rumah Si Cantik "Si Sialan ternyata, pala lu makin abstrak aja." Sebuah kepala muncul dari bahu Kapten Troian. Ara melebarkan matanya, berusaha menerka wajah yang familiar di benaknya. "Sky? Sky Si c***l?" Mendengar gadis itu menyebut namanya, Sky tertawa. Jadi ini rumah sikembar, berarti di dalam ada si Edgar, lalu ... S.H.I.T Mereka berempat, dengan Si Bungsu yang berwajah ... cantik. Ara menoleh ke samping, memandang Si Cantik yang sedari tadi terus menatapnya. Dengan telunjuk, Ara menekan d**a di depanya ... yang datar. Ara t***l!  Si Cantik ini bukannya berdada rata, tapi dimana-mana yang namanya laki-laki tak punya p******a. Wajah Ara memerah menahan marah. "ELO NINO??? TERNYATA LO LEBIH GILA DARI IBU GUE!!! ******** "kalian ketemu Ciarran? wow, udah punya rambut belum? Ed menghentikan suapannya ketika Troi bercerita tentang pertemuannya dengan teman masa kecil mereka. "yep! tu anak mah keturunan tuyul, kagak bisa punya rambut dia" "siapa Troi?" Helena mengusap perutnya yang buncit ketika Sky menyebut kata tuyul, amit-amit jabang bayi. "temen" Troi menjawab kalem sambil mengelus perut Helena, tempat buah cinta mereka sedang tumbuh. "temen? bukan mah, tu anak yang terus ngintilin kita kemana-mana, padahal udah gue ikat di pohon randu, gue cemplungin ke dalam sumur, gue umpanin ke buaya, masihhhh aja ngekorin kita bah!" Sky dan Ed tertawa mengingat masa-masa kelam mereka dikuntit Ciarran. Gadis itu menjadi anak baru ketika mereka berempat duduk di kelas tiga, Ara yang botak dan cuek itu langsung membetot perhatian. Penamplan Ara yang anti mainstream dan mulutnya yang ceplas ceplos membuat anak-anak cepat mengenalinya. tapi bagi Ara sendiri, kembar empat bermuka nyaris sama itu yang palin menarik minatnya, apalagi ada kesamaan diantara mereka, young, wild and free. Jadilah Ara kembar kelima mereka, walaupun tak punya hak secara de facto ataupun de jure, gadis itu bisa dikatakan babu apalagi buat Sky dan Ed. Pernah suatu hari, layar tv mereka berubah menjadi semut marah, Sky dengan licik menyuruh Ara ke atas genteng memperbaikinya "Nino mau nonton barbie Ra" itu alasan Sky membujuk Ara padahal Nino paling benci warna pink. "udah belom!" "belom dikit lagi!" "sekarang?" "ke kiri Ra!" "gini?" "ke kiri dikiiiiiiiit lagi" "gimana?" "eh salah kekanan" Begitu terus berulang-ulang, mereka tertawa senang membiarkan Ara terpanggang sinar matahari, sedangkan Sky dan Ed menonton animasi Jepang kesukaan mereka tanpa perlu takut layar bergoyang, karena ada Ara yang jadi pawang antena di atas. Mereka tak tahu Nino marah, karena adik bungsu mereka itu memang tak bisa menunjukkan ekspresi apapun. Nino keluar dan naik keatas genteng, lalu memayungi Ara dan memberinya minum, mereka bertahan sampai Sky berteriak dari bawah. "oke Ra udah bersih ni!" Ara mengikuti terus kemana mereka pergi, ke lapangan bermain layangan, kepasar ikan menakuti cumi mati, bermain di sungai sampai-sampai ketika Nino hendak ke toilet Ara menemaninya dan menirukan cara Nino membuang urine nya. "serrrrrrrr....Ara ga punya selang yang kayak Nino padahal Nino lebih cantik dari Ara, hihihi.." Troi, Sky dan Ed akhirnya mengalah, dan membiarkan Ara masuk ke kelompok kecil mereka, dengan alasan agar Nino bisa mempunyai teman yang berkelamin sama. Sebenarnya Ara tak mau dekat-dekat dengan Nino, karena setiap kali ia berada di samping bocah cantik itu, semua orang akan keliru tentang jenis kelamin mereka, hampir semua orang menyangka ia yang laki-laki. Tapi disisi lain, Nino tak pernah bersikap buruk padanya berbeda dengan Sky dan Ed yang selalu usil, jadi gadis itu bertahan dengan Nino walaupun jantungnya sering berdebar tak karuan waktu kulit mereka bersentuhan atau ketika Nino menatapnya dengan matanya yang besar. "kok lu ga bilang dia bawahan lu di kantor?" "lupa gue, lagian kita jarang ketemu kan?" Ed manggut mendengar penjelasan singkat Troi yang kini berbisik mesra ke telinga istrinya, dan ntah apa yang ia janjikan Helena terkikik manja, Ed mendengus jijik. "masih ingat  ga, waktu Ara dan Nino jadi penganten-pengantenan, hahaha..Ara yang di kasih kumis dari arang, Nino malah yang dipakein lipstik, huwahahaha..." Sky lagi-lagi tertawa. Sky memang seperti itu menganggpa Ara enak dijadikan mainan, namanya pun dipelesetkan seenaknya, Ciarran menjadi Sialan, Sky berdalih C memang dibacanya S, dan ia mengaku cadel, R menjadi L. Sedangkan Ara memanggilnya si Saru, karena sedari kecil Sky sudah menunjukkan bakatnya menjadi manusia c***l. Pernah Ara mengisengi Sky yang sedang terpana memandang dua melon Kak Siti yang bergelantungan di dadanya, Ara jijik tapi Sky terlihat kagum padahal bocah itu baru kelas tiga SD. "Kak, Sky pingin menyusu ke s**u kakak" Kak Siti yang sedang menghitung laba warungnya mendelik, lalu melempar Sky dengan pulpennya, Ara terbahak melihat muka Sky yang memerah menahan malu. Nino yang duduk berselonjor di sofa tak ikut pembicaraan ketiga kakaknya di meja makan, karena sedari tadi ia melamunkan seseorang, seorang gadis yang sedari dulu selalu menguasai benaknya. Sebenarnya waktu itu ia tak tersesat, ia tahu jalan pulang kerumahnya karena sudah biasa ia lalui bertahun-tahun dan dengan otaknya yang cerdas Nino hafal setiap sudut kota, tapi ketika pulang sekolah ia melihat Ara yang tak tentu arah, Nino mengikutinya. Ketika Ara menyadari ada bocah perempuan cantik di belakangnya ia membiarkan saja, mereka menyusuri trotoar bersisian. Sejak itu Nino merasakan hal yang lain, tapi ia tak tahu apa itu, yang ia tahu ia ingin terus disisi Ara yang unik dan aneh, sama seperti dirinya, Ara cuek ga ketulungan tapi bisa care di saat yang bersamaan. Nino sering memandang Ara dalam diam dan tak melepaskan pandangannya walaupun Ara balas memelototinya. Meskipun botak Ara cantik, matanya agak sipit dan ketika ia tertawa mata itu hanya menyisakan garis lurus, kulitnya kecoklatan eksotis dan yang paling menarik perhatian Nino adalah bibirnya, tebal, ranum dan merah. Nino mengerang dalam lamunannya, tadi malam ia ingin sekali memeluk Ara dan melumat bibir gadis itu, tapi ia sedang sial, Ara sama sekali tak mengenalnya dan yang paling membuatnya kesal adalah Ara dengan mudah mengingat Sky. Pria cantik itu bangkit dan berjalan ke kamarnya dan tak mengabaikan seruan Eva yang menyuruhnya makan. Ia harus menemui perempuan itu. **************
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD