Selama sesi pemotretan Nino tak bisa berkonsentrasi, tapi dengan modal wajah datarnya, sang fotografer tak melihat cela dalam setiap posenya. Hari ini ia menerima tawaran untuk menjadi model terbaru seorang desainer muda yang sedang naik daun, pakaian semi casual itu sedari tadi berganti-ganti menutupi tubuhnya. Tema dari rancangan itu sendiri adalah "lost in new york" dengan desain maskulin, cape dan blazer yang dipakai Nino didominasi warna black, grey, plum dan maroon.
Setelah mendapatkan respek dari masyarakat dengan desain Haute Couture yang eksklusif, bulan depan si desainer akan meluncurkan line ready to wear terbaru miliknya. Nino mendapatkan kesempatan untuk menjadi ambasador untuk produk terbaru itu, si desainer memilih Nino karena ia menganggap Nino bisa merepresentasikan gaya urban di ibukota. Sweater cashmere beraneka warna juga menjadi bagian dari sesi pemotretan, ada warna magenta, taupe, navy, deep claret, dark green dan ruby membuat Nino agak sedikit kagum dengan kejeniusan si desainer.
Pemotretan berlangsung lama, karena ddisertai dengan sesi wawancara dengan sebuah majalah mode. Nino sebenarnya ingin langsung menemui Ara tapi ia juga tak bisa menolak permintaan wawancara itu.
Pukul 3 sore Nino sudah duduk manis di sebuah kedai kopi. Beragam kopi lokal tersedia disini, biji kopi Arabica dari Gayo, Toraja bahkan Wamena tersedia.
Nino bukan penggemar kopi hitam, Troi does, tapi semenjak Sky merekomendasikan warung kopi ini, Nino penasaran. Ia pada awalnya enggan memesan menu andalan tapi mencoba apa salahnya, permulaan memang pahit sekali, tapi selayaknya proses organik Nino tak berhenti sampai teguk terakhir.
Ara belum datang, Nino memesan cangkir kedua bisa melek seharian kalau begini tapi ia tak peduli, ia butuh kesadaran penuh untuk menghadapi Ara yang berjanji akan memukulnya jika mereka bersua kembali.
Perempuan itu datang, kali ini memakai kaus oblong abu-abu tua, dan jeans yang kedodoran, ia seperti gembel disebelah Nino yang bergaya.
"gue belum mau jadi kriminal, jadi sebaiknya kita nyari tempat sepi buat membantai lu" kata-kata Ara meluncur cepat ketika ia duduk di hadapan Nino.
"lebaran haji masih lama" Nino menjawab Ara yang menggebu dengan santai.
Ara mendengus, matanya menyapu seluruh ruangan, dengan interior minimalis dan ornamen-ornamen khas Indonesia yang memenuhi sudut dan dinding cafe, Ara bisa memberi nilai 7,5 untuk warung kopi ini, mungkin saja bertambah jika kopi yang disajikan bisa membuatnya berseru kekaguman.
"pesan luwak tapi minta di sajikan dalam minuman esspresso" Nino menyarankan Ara yang tampak bingung memilih berbagai macam jenis kopi.
Ara mencibir tapi tetap memesan sesuai dengan saran pria itu.
"mmm...ga pahit yah, enak!" Ara mengangguk setuju setelah menyesap pesanannya yang baru datang.
"dicium dulu aromanya, efeknya beda" Nino lagi-lagi menyarankan sesuatu.
"diam lo! lo pikir ini bunga tai ayam pakai dicium-cium segala" Ara melototkan mata sipitnya, Nino berdebar tak karuan.
"apa mau lo?" Ara paling benci berbasa basi
Nino juga, ia pelit dengan kata "ayo kita pacaran!"
Ara tergelak, barista yang sedang sibuk dengan pesananya mendongkak melihat kekacauan itu.
"lo mau mati!"
"tidak"
"lalu lo ingin gue bunuh?"
"tidak"
"pingin gue seret pakai mobil!"
"hmmm.." Nino menggeleng
"ya ya..terserah lo pingin mati dengan cara apa, yang penting sekarang apa maksud lo manggil gue seenaknya kesini, emang gue dedemit lo panggil-panggil!"
"ayo kita pacaran!"
Ara geleng-geleng kepala "lo kenapa masih bodoh sih, apa waktu tak berbaik hati pada lo?"
Gadis itu bangkit, meletakkan selembar 50 ribuan diatas meja dan beranjak pergi meninggalkan Nino yang sedang meminum kopinya dengan ekspresi datar.
Tapi tahukah kau yang sebenarnya terjadi setelah itu.....
Ara melaju diatas motornya dengan wajah yang bersimbah air mata.
Nino menutup matanya dengan tangannya yang gemetar.
Keduanya tahu mereka mengharapkan hal yang sama, yaitu meminta pengakuan akan perasaan masing-masing.
Walaupun Nino tak yakin Ara punya perasaan yang sama dengannya, perasaan yang di pendamnya sejak mereka pertama kali bertemu. Gadis itu tak pernah manis terhadapnya, selalu mengatai dirinya si cantik yang bodoh.
Ara tahu permintaan Nino tak mungkin baginya, karena Ara yakin Nino hanya mempermainkannya. Nino tak pernah tersenyum kepada Ara selama mereka dulu bersama, tak pernah mengomentari hidupnya yang gila, tak pernah menunjukkan tanda-tanda ia merasakan kehadiran Ara.
FUCK!
Ciarran Ong, begitu nama lengkapnya, matanya sipit, kepalanya botak dan kulitnya kecoklatan, agak aneh memang, karena di negri ini jika kau bermata sipit, kulitmu seharusnya putih pucat.
Ciarran punya ibu gila, selain wanita itu ia tak punya lagi orang yang dianggapnya keluarga. Ada Wak Naima, perempuan tua pemarah dan bermuka masam yang memberinya makan, menyekolahkannya dan merawat ibunya. Konon, uwaknya itu mantan g***o dan ibunya yang gila adalah pelacurnya.
Ara tak tahu apa itu g***o ataupun p*****r yang ia tahu Wak Naima selalu marah jika orang-orang disekitar sudah mengusik ibunya dan mengatai Ara kecil sebagai anak jadah. Tapi Ara bukan bocah naif, hidup miskin dengan ibu yang gila dan uwak pemarah membuatnya sering bertanya dan mencari tahu kenapa hidupnya tak normal seperti anak-anak lain.
Bu Halimah pemilik warung tempat orang-orang kampung berjudi dan minum sampai mabuk, pernah menanyai uwaknya yang sering menumpang nonton di warung sembari merokok daun yang diisi tembakau. Menurut cerita wanita tua itu, ibunya yang sedang hamil besar dipungut uwak di terminal lalu di bawa pulang, tak lama sehabis melahirkan, uwak Naima, ibu dan bayi yang masih merah itu berpindah-pindah tempat tinggal, sampai akhirnya sampai di kota ini, namun uwak Naima enggan bercerita lebih lanjut kenapa ibunda Ara sampai hamil tanpa didampingi seorang suami.
Nah, karena bu Halimah pemilik warung haram, ceritapun berkembang tanpa disekat, dilepas begitu saja, apakah sesuai dengan cerita aslinya atau sudah ditambahi, tak ada yang peduli. Jadi ya, Ara adalah haram anak seorang p*****r dan dibesarkan oleh mantan g***o. Begitulah...lagipula apa yang kau dapatkan dari hidup di kampung yang ujung-ujung jalannya saling bertemu, saking kecilnya sampai-sampai kau menepuk nyamuk di keningmupun orang sekampung langsung tahu.
Ibunya cantik, walaupun hanya tinggal bekas di wajahnya yang tak terawat, namanya Camelia.
Camelia sehari-harinya hanya duduk di bangku bambu di bawah pohon pinang didepan rumah mereka, sebelum berangkat sekolah Ara menyempatkan diri membasuh tubuh ibunya, menyisir rambutnya yang kasar dan menyuapkan sarapan pagi, nanti setelah pulang sekolah begitu lagi, membantu ibunya yang tiba-tiba buang hajat lalu memandikan, menyuapkan makan malam, menyisir rambutnya yang kusut, setelah itu Ara terbang kemanapun ia suka.
Ibunya tak menyukai banyak hal, kalau mendengar suara klakson mobil, ia akan berguling di tanah, berteriak-teriak dan mencengkram rambutnya kuat-kuat, jika sudah seperti itu, Ara akan berteriak minta tolong untuk membantunya menenangkan sang ibu. Camelia juga pernah kalap, ia berjalan seperti orang kesurupan kejalanan sambil mengacung-acungkan pisau dapur, butuh 3 orang pria dewasa untuk menghadangnya agar tak melukai orang lain.
Anehnya Ara tak pernah menangis melihat keadaan ibunya, ia selalu tenang, karena jika ia menangis ibunya akan semakin menderita. Tubuh beliau kurus, kulitnya menipis dan kering, kedua bola matanya seperti mau copot saking cekungnya. Mata itu tak bernyawa, kosong dan tak bersinar.
Pernah Ara ingin pergi saja meninggalkan ibunya sendiri, toh ibunya takkan mencari karena Camelia sendiri tak tahu kalau ia punya anak, Ara hilangpun ia takkan peduli. Tapi di satu titik di hatinya, ada perih yang amat sangat jika ia sampai hati meninggalkan ibundanya, walau Camelia takkan pernah bisa menjadi seorang ibu, tapi ia tetap ibu bagi Ciarran, wanita yang melahirkannya dan Ara tak mau punya ibu lain.
Ibunya meninggal saat ia kelas 2 sekolah menengah atas, Ara yang sewaktu itu pulang sekolah mendapati ibunya terbujur kaku di ruang tengah, tak bergerak ketika Ara memanggil, menahan air mata yang mulai tumpah, Ara berlari ke rumah Teh Yuki, tetangga sebelah rumahnya.
"teh, ibu mati teh, mati"
Teh Yuki yang sedang menidurkan anaknya, hanya bisa terbengong sebentar, lalu tergopoh-gopoh menyusul Ara yang telah lebih dulu kembali kerumahnya. Yuki tersedu melihat Ara menangis tak bersuara di samping jasad sang ibu.
Uwak menyusul setahun kemudian, meninggalkan Ara sendirian. Tak ada apa-apa yang ditinggalkan ibu dan uwaknya, setelah menamatkan sekolah gadis itu langsung mendaftar ke bintara Kowad dan diterima, sejak saat itu Ara hanya pulang sekali setahun untuk membersihkan makam Camelia dan uwak Naima yang dikubur berdampingan.