Ara hampir membanting handphonenya ketika melihat 12 pesan singkat dari nomor yang sama
"Kamu harus jadi pacarku Ra" isinya hanya ini, Ara langsung tahu manusia t***l mana yang berani mengiriminya pesan ngawur itu.
"pasti Troi yang ngasih nomor gue" tanpa sadar ia mengutuk atasannya.
Hari ini Ara sedang mengikuti terjun statis nya yang keenam untuk mendapatkan brevet para dasar, ia harus terjun dengan perlengkapan full loaded seberat 40 kg. Sewaktu istirahat siang, Ara baru sempat mengaktifkan ponselnya dan langsung gemas melihat setumpuk sms dari Nino.
Layar telfon genggamnya berkedip, sebuah panggilan masuk.
"lo mau mati!" Ara tahu siapa yang menelfon, makanya ia tak segan langsung membentak.
"ayo kta pacaran"
"mati aja lu!
"try me"
"stop ganggu gue No"
"kenapa?"
"you annoyed me"
"kenapa?"
Karena kau akan membuatku mati lebih cepat jika aku mengiyakan permintaanmu.
"karena lu annoying"
"well..bukannya aku bodoh"
Mau tak mau Ara tersenyum "ya itu juga"
Nino diseberang tahu Ara sedang tersenyum, membayangkan itu hatinya menghangat.
"so.."
"no, the answer still no"
"kenapa?"
Karena kalaupun aku mau, tapi tetap tidak bisa
"karena gua ga mau main-main"
Ara berpikir kalau saat ini mereka sedang telfon-telfonan dengan kaleng s**u, bukan ponsel.
"aku ngajakin kamu pacaran, bukan main game"
"kenapa?"
Kali ini Ara yang mengucapkan kata sakti Nino
"ya?"
"kenapa lo begitu ngotot pengen kita pacaran?"
Nino terdiam, ia tak menjawab tapi bukan berarti ia tak tahu jawabannya, jawaban itu sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu, tapi sekarang mulutnya terkunci.
Ara menghela nafasnya yang berat "benar kan, lo mau cuma mainin gue, jangan hubungi gue lagi".
Gadis itu menutup telfonnya, lalu meringis merasakan jantungnya diremas tangan tak kasat mata, perih sekali. Ara menertawakan kebodohannya sendiri, seharusnya sedari awal ia tak membukakan pintu agar lelaki itu bisa masuk, seharusnya ia tak menaruh harapan apapun, seharusnya ia tahu perasaannya sia-sia, seandainya ia tahu.....
************
Hari ini setelah pemotretan di Uluwatu, Nino dan rombongannya kembali ke kawasan Nusa Dua tempat mereka menginap sebelum besok harus kembali ke Jakarta. Bali panassss sekali, Nino yang gampang lumer di bawah terik matahari berkali-kali mengusap butiran keringatnya yang sedari tadi meluncur bebas di tubuh dan wajahnya dan membuat laki-laki itu tak nyaman.
Ketika mobil rombongan itu berbelok ke hotel, Nino melihat ada beberapa panser, mobil baracuda dan water canon yang diparkir disepanjang jalan di sekitar kawasan hotel, Nino yang anak tentara hafal dengan situasi ini, kalau ada aparat berjaga, berarti ada konferensi penting yang sedang akan dilangsungkan di Bali, dan jika ada kendaraan anti huru hara berarti ada potensi pertemuan itu akan di protes.
"ike kira ada bom lagi, ih atuuuttt" laki-laki kemayu yang duduk di bangku belakang itu bernama Sony, ia memilih untuk di panggil makeuperr dibanding tukang makeup. Nino tak suka cowok jadi-jadian itu, karena ia terang-terangan menggoda Nino, bahkan untuk acara mereka di Bali ini ia sengaja meminta connecting room dan memaksa Nino menempati kamar disebelahnya.
"biar jij ga takut, ike kan ada, tapi kalau jij ga mau tidur sendiri, ike mau nemenin you bobo, hihihi.." ia mengedipkan sebelah matanya yang keberatan bulu mata palsu.
"f**k Off" suara Nino nyaris sedingin es ketika menyuruh Sony hilang dari hadapannya.
Di sepanjang jalan di kawasan Nusa Dua terpasang ratusan umbul umbul, spanduk, dan billboard selamat datang pada delegasi negara-negara yang akan mengukuti konfrensi tingkat tinggi yang akan membahas masalah pemanasan global.
Memasuki hotel, banyak aparat dari kepolisian dan anggota Brimob yang berjaga-jaga di depan. Sony ketakutan, ketika turun dari mobil ia langsung disambut anjing polisi yang menyalak galak kepadanya.
"hahaha...tu anjing punya radar banci son, hahahaha..." bang Jack yang bertugas di lighting mengejek Sony yang masih syok di salak anjing herder.
Di dalam hotel tak hanya polisi saja yang ada tapi juga banyak orang berpakaian safari, bertubuh tinggi, berbadan tegap, berambut cepak, dan bermuka serius, mungkin Paspamres yang datang satu hari lebih awal untuk mengecek kesiapan sebelum hotel ini didatangi Presiden dan rombongan esok harinya, sedangkan yang berpakaian kantor dengan blazer hitamnya tebak Nino pasti staf dari Kementrian Luar Negri.
"Nino!" seseorang memanggilnya, Nino menoleh dan melihat Troi tersenyum sambil melambaikan tangan. Abangnya itu berpakaian loreng Korpsnya lengkap dengan baret dan sangkur di pinggang.
"Rhum yang bilang kamu disini" Nino balas tersenyum, ia senang sekali melihat kakaknya itu, sejak Troi menikah mereka jarang bertemu.
"Leen oke?" Nino pada awalnya memang tak menyukai Helena, tapi akhir-akhir ini dia jadi menyayangi kakak iparnya itu, apalagi sekarang Leen tengah mengandung calon keponakannya.
"ya, sekarang gampang ngambek nih, bawaan orok katanya aku izin tugas kesini aja sempat-sempatnya ditendang" tapi abangnya itu mengatakan kekejaman istrinya dengan wajah berbinar, Nino geleng-geleng tak percaya, Helena yang manis saja bisa semurka itu kalau hamil, apalagi Ara...hey! kenapa jadi memikirkan perempuan itu?
"kapan kau balik ke Jakarta?"
"besok"
"jadi cuma 2 hari" Nino mengangguk.
Troi didatangi anak buahnya yang menyampaikan sesuatu, abangnya mengangguk lalu menyuruh si Sersan pergi terlebih dahulu.
"ada yang mesti diurus, kalau malam ini ada sedikit waktu, ntar ketemu lagi ya"
Lalu mereka berpisah, menurut Troi ia disana karena harus mengikuti simulasi anti teror di kawasan yang sama sekaligus membantu pengamanan pertemuan internasional itu mewakili pihak TNI.
Berarti kalau Troi disini, Ara bisa saja ada disini juga. Entah kenapa tiba-tiba jantung Nino berdebar memikirkan hal itu, ia kangen Ara, sejak percakapan mereka buntu 2 minggu yang lalu, Nino tak mendengar suara gadis itu lagi.
Tanpa sadar ia berjalan ke bagian outdoor hotel padahal seharusnya ia ke kamar untuk beristirahat. Nino sampai area kolam renangnya yang luas, wajahnya tampak bingung, kenapa aku disini ketika berniat melangkah kembali kedalam ia mendengar suara perempuan mendesah.
"ohh..dikit lagi, yahhh.."
setan! siang-siang begini ada orang c***l melepas syahwat sembarangan Nino jadi teringat Sky.
Nino mencari asal suara dan melihat seorang perempuan cantik, berdandan menor sedang menghadap kearahnya, tubuh bagian bawahnya tertutup tembok tempat di taruhnya kendi-kendi kecil dari gerabah sebagai bagian dari arsitektur landscape taman disekitar kolam renang, dan Nino melihat kedua melon si wanita tampak tak proposional dengan tubuhnya yang kurus.
yeah right, ia sedang keenakan di oral, lihat saja matanya sampai merem melek begitu Nino memandang jijik ke arah pasangan gila itu. Perbuatan mereka cukup beresiko, walaupun disekitar area ini sepi tak ada orang lain kecuali Nino si pasangan m***m.
Nino hendak berbalik ketika tiba-tiba gerakan perempuan itu terhenti dan seseorang tiba-tiba muncul di belakangnya, pasti laki-laki gatal yang tadi memberinya kenikmatan pikir Nino..dasar saru!, laki-laki saru berbaju loreng tentara dan kepalanya botak
WHAT!!
ARA?
Nino membelalakkan matanya yang besar, memandang Ara yang juga terkejut luar biasa melihatnya.
Wanita menor berpayudara besar itu tampak tak menyadari situasi, setelah memperbaiki rok nya ia mengecup pipi Ara "thanks ya sayang hihihi.." lalu pergi begitu saja meninggalkan Nino dan Ara yang masih syok.
Nino mendekatinya tapi raut wajahnya datar, tak berekspresi.
"jadi itu alasannya kau menolakku, kau tak suka pria?"
Ara terkejut dan sedih, laki-laki itu tak tahu kejadian yang sebenarnya, apa yang terjadi sebelum ia mendapati Ara tiba-tiba muncul di belakang seorang perempuan.
Tapi begini lebih baik, semoga Nino salah paham dan tak menganggunya lagi, dengan begini Ara bisa dengan rencananya semula, melupakan Nino dan mengubur semua perasaannya.
Dengan gemetar ia berucap..
"YA"
Nino mendengus lalu kembali tak berekspresi memandang Ara yang gemetar menahan marah dan tangisnya.
"LO TAHU APA YANG PALING GUE BENCI DARI LO? LO GA BISA MARAH! LO GA BISA BAHAGIA! LO GA BISA SEDIH! LO GA PUNYA PERASAAN! LO LEBIH GILA DARI IBU GUE! GUE BENCI LO NINO! BENCI!!
Ara berjalan melewatinya sengaja menyenggol bahu Nino yang sedikit oleng karena kerasnya tumbukan bahu Ara.
Setelah Ara pergi Nino masih berdiri di tempatnya, tak bergerak sedikitpun.