Gosip Tetangga

2023 Words
Berita kematian Minah, ternyata tidak mereda seiring jenazah yang sudah terkubur di liang lahat pemakaman. Hampir semua warga Mekarjaya, masih membicarakan perihal penyebab kematian Minah, sang pembantu keluarga Sudibyo.  Salah satu tempat dengan kelompok warga yang masih membicarakan topik hangat tersebut adalah, warung kopi milik Pak Sa'id.  Warung kopi yang selalu buka dari pagi sampai hampir tengah malam hari tersebut, sering kali dijadikan tempat berkumpulnya para warga untuk membicarakan hal apa saja yang dirasa seru dan viral.  Seperti minggu sore hari itu, misalnya. Satu hari setelah kematian Minah, beberapa para lelaki dewasa sedang berkumpul menikmati kopi panas buatan Pak Sa'id dengan aneka gorengan sebagai pendamping.  "Si Ridho sama Herman, enggak sengaja denger suara jeritan waktu keliling ronda pas lewat rumah Pak Sudibyo. Mereka sangat yakin itu suara si Minah." Pak Dadi mengawali cerita sore itu.  Semua bapak-bapak yang ada di sana, tampak serius menyimak.  "Tapi kalo jeritan, apa mungkin Minah dibunuh. Seandainya dibunuh sama siapa? Kok enggak ada bekas pemukulan atau apa pun juga." Pak Ali menimpali.  "Ya, mana kita tahu 'kan, Pak. Lagian enggak ada satu pun dari warga kita yang membantu mengurusi jenazah. Dari mandi, mengkafani sampai memakamkan, semua diurus oleh pihak keluarga Pak Sudibyo. Kita cuma kebagian menyolatkan saja. Jadi, enggak ada yang tahu dengan keadaan si jenazah." Tak ada satu pun yang bisa membantah ucapan Pak Dadi. Karena semua yang dikatakan lelaki paruh baya tersebut, benar adanya.  "Kelihatan juga para pembantu yang lain kaya tertekan gitu. Mereka lebih banyak diam dan enggan bertemu para warga. Padahal yang kita tahu selama ini, para karyawan di sana semuanya ramah dan senang ngobrol sama tetangga." "Ya, Pak Dadi benar. Tapi, kita enggak bisa langsung menuduh kalau Minah dibunuh. Selain enggak berdasar, enggak ada satu pun dari mereka yang melaporkan. Namanya kasus pembunuhan, enggak mungkin mereka akan diam saja, apalagi kalau ada yang lihat dengan mata kepala sendiri." Pak Andi mencoba mematahkan ucapan tetangganya itu.  "Bagaimana kalau yang membunuh bukan salah satu anggota keluarga dan juga memang enggak ada yang melihat kejadian itu?" Pak Dadi masih bersikukuh.  "Maksudnya Pak Dadi?" tanya Pak Ali.  "Ya ... saya sendiri cuma feeling aja, bukan mau nuduh juga. Tapi, kita cukup ingat dengan kejadian yang sebelumnya menimpa Mega anak bungsu Pak Sudibyo, beberapa bulan lalu. Bukankah kejadiannya persis sama dengan kejadian Minah? Sempat ada jeritan sebelum akhirnya Mega diberitakan meninggal besok paginya. Mirisnya, kedua orang tuanya datang pagi-pagi sekali entah dari mana, ketika anaknya sudah tidak ada." "Ya, saya juga masih ingat. Tapi, apa hubungannya juga, Pak?" "Tidak saling berhubungan, cuma kejadiannya sama persis." "Pak Dadi ini muter-muter, sebetulnya mau bilang apa?" tanya Pak Ali tersenyum.  "Ya ... beberapa warga ada yang menduga kalau Pak Sudibyo itu punya pesugihan dan Minah adalah salah satu korban yang ditumbalkan. Ada kemungkinan, Mega adalah korban pertama." "Hus! Jangan asal menuduh begitu, Pak Dadi. Enggak baik," sahut Pak Andi.  "Hehe, saya cuma menyampaikan apa yang dibicarakan oleh yang lain, Pak Andi." "Tapi 'kan, kalau Pak Dadi ikut menyampaikan apa yang belum jelas kebenarannya, jatuhnya malah fitnah." "Ya, maaf. Saya enggak bermaksud begitu. Sudah, sudah yah, enggak usah dianggap omongan saya. Saya jadi merasa enggak enak." Ada tawa canggung yang menghias wajah Pak Dadi ketika mencoba mengklarifikasi ucapannya.  Ya, itulah topik yang masih hangat dibicarakan di beberapa sudut tempat di daerah Mekarjaya. Bukan tidak mungkin, gosip itu akhirnya sampai juga ke telinga Vita, anak paling besar Pak Sudibyo.  "Jar, apa kamu tidak mendengar isu yang kembali membicarakan keluarga kita?" tanya Vita pada adik lelakinya, Fajar.  "Isu apa, Mbak?" tanya Fajar terlihat cuek, memilih serius bermain game di ponselnya.  "Isu yang mengatakan kalau keluarga kita punya pesugihan!" jelas Vita, sedikit bergidik ketika membicarakannya.  Sesaat Fajar menghentikan keasikannya dan menatap sang kakak, yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya.  "Mbak, itu 'kan berita lama. Dulu juga waktu Mega meninggal, tiba-tiba seluruh warga membicarakan keluarga kita. Sekarang pas Minah meninggal, lagi-lagi kita dibicarakan. Memang apa bukti mereka menuduh keluarga kita seperti itu?" seru Fajar, terlihat kesal.  "Ya, Mbak juga enggak tahu pasti. Para warga membicarakan kita karena —!" "Karena keluarga kita yang sekarang jadi kaya gitu? Dari yang cuma keluarga pemulung, sekarang bisa jadi orang terkaya di sini." "Ya, begitulah yang Mbak dengar. Tapi Jar, apa kamu sendiri enggak merasa begitu?" "Merasa apa, Mbak? Merasa kalau ayah dan ibu melakukan pesugihan, iya?" Vita mengangguk.  "Mbak, kita 'kan udah denger sendiri dari ayah waktu itu kalau ada teman ayah yang udah lama enggak ketemu, ngasih proyek kerjaan yang ternyata menghasilkan. Nah, dari situ temannya ayah terus ngasih proyek-proyek itu ke ayah." "Ya, Mbak juga masih ingat penjelasan ayah waktu itu. Tapi 'kan proyek yang seperti apa, kita sendiri enggak tahu persis, Jar." Fajar yang sudah fokus dengan permainannya, kembali menatap sang kakak dengan pandangan sedikit kesal.  "Mbak, udahlah enggak usah dipikirin juga. Sekarang gini deh, apa Mbak enggak senang dengan perubahan hidup keluarga kita sekarang?" "Ya ... senang. Tapi —?" "Mbak, segitu juga udah cukup kok. Buat apa kita mikirin omongan orang lain, yang jelas-jelas enggak ngerasain susahnya kita dulu."  Ya, keluarga Sudibyo memang sudah terlampau kenyang mengalami kesusahan dan juga hidup penghinaan dari orang-orang sekitar.  Dulu ketika mereka hanya tinggal di gubuk dengan ketiga anak yang masih kecil, acap kali pak Sudibyo dan bu Ranti harus menahan malu demi untuk mendapatkan sesuap nasi atau utangan beras di warung. Tak ada warga yang peduli dengan kehidupan mereka, hanya tetangga dekat kanan kiri saja yang kadang perhatian dengan memberi mereka makanan jika memiliki rejeki lebih. Selebihnya, mereka hanya bersimpati tanpa berempati.  Namun, satu yang membuat Vita si sulung merasa bersyukur, kedua orang tuanya masih memikirkan pendidikan anak-anaknya meski keterbatasan biaya yang mereka miliki.  "Walau pun kita hidup susah, Ayah dan ibu enggak mau kalian berhenti sekolah." Itulah kalimat Pak Sudibyo yang masih Vita ingat, hingga akhirnya ia bisa menamatkan sekolah SMA-nya.  "Nanti kalau Ayah dan ibu ada rejeki lagi, kamu bisa melanjutkan ke jenjang kuliah, Vit!" ucap Pak Sudibyo, ketika putrinya lulus sekolah. "Sekarang, mungkin dengan berbekal ijazah SMA, kamu bisa mencari pekerjaan dulu," lanjutnya.  "Iya, Yah." Dan inilah Vita sekarang. Masih bekerja di sebuah pabrik dengan gaji standar UMK kota, selama kurang lebih dua tahun sampai sekarang, ketika hidupnya sudah bergelimang harta, gadis dua puluh tahun itu masih enggan keluar kerja dan mengikuti kemauan sang ayah untuk kuliah.  "Nanti saja, Yah. Kalau Vita mau, Vita akan kuliah. Vita sudah terlanjur senang bekerja saat ini, ketika bisa menghasilkan uang sendiri.  Ayahnya, Pak Sudibyo memang tidak memaksa. Keinginan putrinya yang enggan keluar kerja dari pabrik, tak membuat lelaki paruh baya tersebut marah. Baginya, asal putra-putrinya senang, tak masalah.  "Mbak, kamu kok tumben di rumah, enggak kerja?" tanya Fajar tiba-tiba, membuyarkan lamunannya.  "Eh, ini 'kan hari sabtu, Jar. Mbak cuma kerja setengah hari aja." "Mbak, emang kamu enggak bosen apa kerja di pabrik tiap hari begitu? Mending ikutin kemauan ayah buat kuliah. Mbak itu 'kan pinter, sayang kalau punya ijazah sampai SMA doang." "Enggak ah, Jar. Mbak masih belum kepikiran kuliah. Masih menikmati mencari uang dan bisa menikmati menghabiskannya tanpa beban, sebab uang sendiri." "Mbak 'tuh aneh deh. Padahal dulu ngebet banget pingin kuliah. Kenapa sekarang jadi males?" "Dulu Mbak 'kan kuliah karena dapat beasiswa, Jar, jelas aja Mbak ngebet. Tapi, ayah dan ibu 'kan angkat tangan untuk biaya sehari-hari Mbak, dari ongkos dan tugas harian kampus, yang pastinya enggak ditanggung beasiswa." "Emang apa bedanya dengan sekarang, Mbak? Ayah dan ibu 'kan udah mampu biayain semuanya. Eh, Mbak Vita-nya yang enggak mau." "Aku udah ngerasain enaknya cari duit dan ngehabisinnya, Jar, tadi 'kan udah Mbak bilangin." "Tahu ah! Enggak ngerti." Fajar kembali berkelana di game-nya.  Remaja itu tidak tahu, apa alasan sebenarnya yang membuat Vita tidak mau jika kuliahnya dibiayai oleh ayahnya sendiri —Pak Sudibyo. Isu yang mengatakan jika sang ayah memiliki perjanjian dengan jin alias pesugihan, membuat Vita tak ingin memakai uang yang dikeluarkan oleh ayah dan ibunya. Gadis itu sedikit percaya akan tuduhan para warga padanya dan keluarga. Namun, tak mungkin jika Vita menceritakan hal itu kepada Fajar Remaja itu kadung bahagia atas perubahan ekonomi keluarganya, yang membuat ia bangga akan statusnya dan mengatakannya kepada orang lain.  Ponsel Vita bergetar, ada sebuah notifikasi pesan yang masuk dari salah satu temannya, yang kerja di pabrik.  "Nanti malam kita main, yuk!" Begitu isi pesan yang masuk, membuat Vita sedikit menyunggingkan senyumnya.  "Ok!" balas Vita.  "Eh, mau ke mana, Mbak?" tanya Fajar, yang melihat kakaknya beranjak dari tempat tidur dan hendak pergi keluar dari kamarnya.  "Ke kamar Mbaklah, kenapa?" tanya Vita balik.  "Enggak kenapa-kenapa, jangan lupa tutup lagi pintunya." Terkekeh Fajar, setelah berhasil menggoda sang kakak. "Dasar!" Vita terlihat keki, begitu mudahnya sang adik menggodanya.  Gadis itu pun keluar kamar sang adik dan pergi menuju kamarnya sendiri.  Kamar Vita yang bersebelahan dengan kamar Fajar, berada di pinggir ujung ruangan lantai dua, membuat Vita sedikit berjalan lebih jauh begitu keluar kamar sang adik. Ketika hampir mendekati kamarnya, matanya tak sengaja menengok ke arah sebuah kamar yang ada di seberang kamarnya, terhalang oleh tangga rumah yang lebar, yang memang tak terjangkau olehnya. "Entah kenapa, aku selalu saja merasa jika kamar itu berisi sesuatu yang ayah dan ibu rahasiakan." Vita berkata pada dirinya sendiri. Ya, sejak rumah dua lantai itu dibangun, kamar itu sengaja dibuat oleh Pak Sudibyo dan istrinya, entah untuk apa. Awal Vita dan Fajar bertanya, Pak Sudibyo hanya mengatakan jika itu adalah kamar pribadi yang dipakai untuk mereka bekerja. Sejak itu Fajar tak pernah lagi bertanya, remaja itu menganggap itu adalah hak pribadi kedua orang tuanya, yang ingin memiliki ruangan privasi selain kamar tidurnya. Namun, tidak bagi Vita. Gadis itu menganggap jika alasan kedua orang tuanya terlalu mengada-ada. "Kita ini keluarga, untuk apalagi ada hal yang disembunyikan di antara mereka meskipun itu adalah urusan kedua orang tuanya." Begitulah batinnya selalu bertanya. Melupakan semua hal aneh yang terjadi, Vita memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, dan mencoba untuk tidak peduli akan adanya sebuah kamar yang masih ia anggap misteri hingga detik ini. Baru pukul empat sore, ketika Vita masuk ke dalam kamarnya yang kini lebih besar dari gubuk mereka dulu. Memandang seluruh ruangan, dengan pikiran yang entah ke mana. Kematian Minah, jujur saja membuat ia shock. Di malam sebelum Minah meninggal, ia dan yang lainnya masih mengobrol dengan santai di ruang televisi. Lantas setelah itu, para penghuni rumah, entah mengapa tiba-tiba merasakan kantuk yang amat sangat, termasuk dirinya sendiri. Mereka semua akhirnya bubar satu demi satu, untuk pergi ke kamar masing-masing. Begitu pagi menjelang, lebih tepatnya di waktu subuh, Desi, teman satu kamar Minah, sudah mendapati gadis itu dalam keadaan tak bernyawa. Bagaimana Desi bisa tahu jika Minah, temannya itu sudah meninggal? Ketika itu Desi hendak membangunkan Minah di waktu subuh, Desi melihat Minah sudah dalam kondisi yang mengenaskan, kedua mata melotot seperti orang ketakutan. "Bagaimana bisa Fajar tidak merasa ada kejanggalan atas kematian Minah?" gumam Vita, di dalam kamarnya. Adiknya hanya mengatakan jika Minah mungkin tersedak sesuatu sampai ia kehabisan napas, tetapi tidak ada orang yang melihat dan menolongnya. Nah, itulah keanehan yang lain. Di malam kematian Minah, semua orang benar-benar terlelap seolah habis minum obat tidur, sehingga tidak ada satu orang pun yang menyadari jika tengah terjadi sesuatu pada sang asisten rumah tersebut. "Jika aku selalu memikirkan masalah ini, yang ada aku hanya stres sendirian." Gadis itu pun beranjak dari tidurannya, kemudian berjalan menuju ke dalam kamar mandi untuk bersuci. Ia hendak melakukan salat ashar. Begitu sajadah telah dihampar dan mukena telah ia kenakan, Vita pun memulai ibadah salat wajibnya itu. Namun, baru saja mengangkat kedua tangannya untuk melakukan takbiratul ihram, tiba-tiba terdengar suara desisan ular yang begitu jelas di telinganya. Sebetulnya, peristiwa itu tidak hanya sekali terjadi, setiap Vita hendak melakukan salat, selalu ada saja suara-suara yang mengganggu konsentrasinya. Baik itu suara berisik di luar kamar, yang ketika gadis itu periksa ternyata tidak ada apa-apa. Atau suara-suara hewan melata yang ada di dalam ruangan kamarnya yang luas, seperti suara di sore hari itu, yang selalu hadir di setiap Vita hendak melakukan salat atau pun mengaji Al-Qur'an. Berhubung peristiwa itu acap kali terjadi, Vita memilih untuk tidak peduli, dan meneruskan ibadahnya. Sungguh berani gadis itu. Mungkin begitu pikirnya. Tapi, bukan itu yang sebetulnya terjadi. Vita hanya memberanikan diri sendiri, sebab saking seringnya suara itu menganggu gadis itu jika tengah menghabiskan waktu khususnya untuk Sang Pencipta. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD