Dasha di tarik oleh Laura sampai ke dapur, tangan perempuan itu terasa dingin dan berkeringat, wajahnya juga tampak pucat pasi.
"Laura, kau kenapa?" tanya Dasha heran. Laura seperti baru saja melihat sesuatu yang seram.
"Kau!" Laura memegang kedua pundak Dasha. "Kenapa kau bisa bersamanya, Dasha?!" Matanya melebar.
Dasha mengernyit, kedua tangannya menghempaskan pelan kedua tangan Laura yang mencengkram pundaknya.
"Dia tamu utama dalam seminar dua hari ini--"
"What the hell!" Laura mengusap wajahnya kasar. "Lalu, lalu kenapa dia bisa bersamamu sekarang?" tanyanya dengan mimik serius.
"Lututku terluka." Dasha menunjuk ke arah lututnya. "Dia menolongku dengan mengantarku pulang, aku juga tidak tahu kalau ternyata dia mengikutiku sampai di sini."
Laura mengangkat tangannya sembari memejamkan mata. "Tunggu, lututmu terluka? Aku tahu kau tidak seceroboh itu untuk terus-terusan jatuh." Matanya lalu terbuka. "Ada seseorang yang menjadi dalang di balik ini?" sambungnya menunjuk ke lutut Dasha.
"Menurutmu siapa?" tanya Dasha kembali, ia yakin Laura sudah tahu siapa karena Dasha sudah banyak cerita tentang Yuna.
"Oh dia ...." wajah Laura tampak kaku. "Tidak apa, beberapa bulan lagi kau akan tamat."
Dasha mengangguk, tahu jika Laura akan mengatakan hal itu jika sudah tahu siapa orang di balik kejadian yang di alami Dasha. Padahal Dasha ingin sekali saja Laura juga mendukungnya untuk ke luar dari sekolah itu.
"Oh ya, bagaimana dengan Damian? Dia masih di luar, tidak sopan di tinggal begitu saja, 'kan, Laura?"
Laura meringis. "Yah ...," lirihnya. Ia bertanya-tanya apakah Damian mengingatnya atau tidak, tapi rasa-rasanya tidak, tidak mungkin 'kan seseorang sepertinya menempel di pikiran seseorang seperti Damian?
"Dan juga, bagaimana kau bisa mengenalnya, Laura?"
Laura menatap Dasha. "Memangnya kau tidak tahu?" tanyanya dengan nada seolah Dasha tidak tahu bendera negaranya seperti apa.
"Aku tahu dia setelah seminar," jawab Dasha jujur.
Laura menipiskan bibirnya. "Dia adalah CEO sekaligus pemilik dari perusahaan cukup ternama, D&Dco, kau tidak tahu?"
Dasha menggeleng dengan santai, ia tak mengikuti dan menolak untuk mengetahui lebih dalam tentang dunia perbisnisan. Ia juga orang yang cukup malas berseluncur di dunia media sosial jika tidak ada yang penting.
"Jadi, bagaimana dengannya?" tanya Dasha hati-hati. Bagaimanapun membiarkan Damian di luar saja setelah menolongnya terasa tidak sopan.
Laura mengangkat jempol tangannya. "Serahkan padaku, dan kau ... ganti bajumu."
***
Ketika Dasha masuk ke dalam kamarnya, Laura tidak langsung ke luar menghampiri Damian, karena ada dua hal yang bersarang di kepalanya saat ini.
Pertama, kenapa Damian mengikuti Dasha? Dan juga mengantarnya pulang bahkan mereka baru kenal satu sama lain?
Masalah rupa, Laura memang sangat mengakui kecantikan Dasha, banyak pria terpesona, namun jika Damian yang terpikat, ia jelas akan ... ya, ia setuju!
Kedua, apa yang ia harus lakukan? Meminta maaf atau berpura-pura lupa seolah tak ada yang pernah terjadi antara ia dengan Damian. Tapi, bagaimana jika Damian masih mengingatnya? Karena hari itu belum lama.
"Tapi, apa dia masih di sana?" gumam Laura berjalan pelan ke arah pintu, dan tepat selangkah lagi ia sampai, terdengar suara pintu yang di ketuk, membuatnya terkejut hingga hampir berteriak jika tak segera menutup mulutnya.
Oh God, dia masih disana! Batin Laura.
Laura menghela nafas panjang, yang harus ia lakukan pertama kali adalah meminta maaf, ingat tak ingat, Damian-walau sedikit pasti mengingatnya.
Laura kemudian memutar handle pintu, ia keluar lalu berhadapan dengan Damian dan sedikit menundukkan kepalanya.
Auranya sangat ... terasa.
"Atas kejadian kemarin, a--"
"Di mana Dasha?"
"Eh?" Laura terkejut dan tanpa sadar kepalanya mendongak.
Damian menatap Laura dengan senyum kecil di bibirnya. "Kau siapanya Dasha?"
"Oh, mm aku memang tidak punya hubungan darah dengannya tapi kami sudah seperti kelurga, maksudku kakak dan adik," jawab Laura dengan gaya bicara yang cukup kaku.
Tidak punya hubungan darah? Tapi tinggal seapartemen, di mana keluarganya Dasha? Hal itu cukup menyita perhatian Damian.
Laura menatap Damian yang terdiam cukup lama. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk meminta maaf. "Aku juga ingin meminta maaf--"
"Kau masih butuh pekerjaan?" Potong Damian. "Aku mengingatmu. Maaf atas sikap resipsionis di perusahaanku."
Laura tampak berbinar sesaat. Namun, binar itu sirna ketika ia teringat dengan orang di telepon kemarin malam, membuatnya harus menelan pil kecewa.
"Tidak lagi, Damian. Tapi, terima kasih."
"Oh, baik."
"Ah bolehkah aku meminta padamu satu hal?" Pinta Laura yang langsung mendapat anggukan dari Damian. "Tolong jangan beritahu Dasha jika kemarin aku ke kantormu lalu meminta pekerjaan dengan cara yang sangat memalukan. Bisa, kah?"
Ya, Damian sudah menduga hal ini sedetik setelah Laura berkata kalau ada hal yang ingin ia pinta.
"Tenang saja."
Laura tampak senang, dan juga, Damian ternyata tidak semenakutkan itu, ia adalah pria yang pembawaannya sungguh keren. Laura saja merasa nyaman dan tidak gugup di dekatnya, sangat berbanding terbalik dengan ekspetasinya waktu itu.
"Dan, boleh aku bertanya satu hal?" tanya Damian, lalu Laura mengangguk kuat. "Di mana keluarganya Dasha?" Damian memperhatikan bagaimana ekspresi Laura yang tadinya bercahaya jadi murung.
"Dia tidak punya orang tua." Ya, hanya hal itu yang bisa di katakan Laura, ia tak mau menjawab lebih panjang karena bagaimanapun, Damian adalah orang asing dan ini adalah privasi Dasha.
Sedangkan Damian, ia diam sebagai respon. Sedikit tak puas dengan jawaban itu sebenarnya.
"Oh ya, terimakasih atas pertolonganmu ke Dasha, dia sangat benci lututnya terluka. Jika kau tidak memberi tumpangan, mungkin sore hari baru ia sampai di sini," ujar Laura dengan mimik ceria kembali. Tapi itu benar, Laura tidak mengada-ada, Dasha akan banyak berhenti untuk waktu yang cukup lama selama perjalanan karena kakinya yang sakit.
"Tidak masalah," sahut Damian.
Laura mengangguk-angguk. "Kau ingin masuk?" tanyanya acak, tapi Damian malah diam. "Ah haha, ya sudah ayo masuk, maafkan apartemen kami sedikit berantakan," sambungnya dan membukakan pintu dan Damian masuk lebih dulu.
Sebenarnya, bukan sedikit berantakan, melainkan sangat berantakan. Barang-barang yang berserakan kemarin belum selesai dirapikan.
Laura membawa Damian duduk di sebuah sofa yang masih bagus, hanya saja ada cap sepatu di sana, lebih tepatnya sepatu seorang debt collector yang kemarin menendang sofa itu.
Damian memperhatikan seluruh ruangan, ia juga sadar ada beberapa cap sepatu yang menempel pada beberapa barang. Dari situ, ia bisa meyakini satu hal, perempuan ini terlilit hutang. Ia bisa paham cap sepatu itu khas milik siapa.
Pantas saja dia memohon sebuah pekerjaan. Batin Damian.
"Laura, Damian sudah pergi?" Dasha keluar dari kamarnya dengan tangan sibuk menguncir rambutnya di belakang, wajahnya menunduk tidak melihat ke depan.
Dan posisi Damian yang duduk membelakangi dinding kamar Dasha juga membuat Dasha tidak bisa melihat Damian dari posisinya berdiri, ia hanya bisa melihat Laura yang duduk kaku di sofa di depan Damian.
"Mm itu dia, Dasha," tunjuk Laura ke arah depan.
Dasha meringis pelan, ia maju selangkah. "Maaf, Damian. Aku tidak melihatmu."
Damian baru saja ingin menjawab ketika Dasha tiba-tiba berseru.
"Ah aku lupa airnya! M--maaf Damian, Laura, aku ke dapur sebentar," pamitnya lalu berbalik dan berjalan pelan ke arah dapur karena kakinya yang masih sakit.
Dasha sedang memanaskan air, membuat segelas s**u dingin rasanya menyegarkan di siang yang cukup terik.
Sedangkan Damian, ia melihat ke arah Dasha dengan pandangan serius. Sejak dari sekolah sampai ia duduk di sini, jantungnya tak berhenti berdegup kuat, melihat Dasha yang cekatan di dapur membuatnya membayangkan bagaimana jika perempuan itu berada di dapur rumahnya.
Oh sh*t
Laura sendiri asik memperhatikan tatapan Damian ke Dasha, antara senang dan juga masih tak percaya, tapi sepertinya Laura mengetahui satu hal.
Hm, Dasha memang beruntung dan layak mendapatkannya.
Tiba-tiba sebuah pemikiran hinggap di kepala Laura, membuatnya terdiam dengan pandangan kosong dalam sesaat. Ia kemudian menghela nafas, tangannya mengepal, matanya mengerjap beberapa kali seolah ada binatang masuk di sana, entahlah tapi Laura merasa mungkin ini yang terbaik.
Ya, aku harus mencobanya dan memberitahu Dasha!
***