All Are End

1688 Words
Dasha menuangkan gula dengan gerakan lambat, bahkan ia mencoba mentakarnya seolah ia adalah seseorang yang profesional hingga mengurangi dan menambahkan gula berkali-kali. Hal ini membuat Dasha sangat lama di dapur, tapi ia sengaja, entahlah tapi ia tak ingin bergabung dengan Laura dan Damian yang saat ini berbincang entah apa. Tiba-tiba terdengar deringan dari sebuah ponsel, Dasha mengintip dan ternyata ponsel Damian yang berbunyi. Dasha tidak bisa mendengar karena Damian berbicara dengan pelan. Ia lalu melirik Laura dan kaget ternyata wanita itu sedang melotot padanya. Dasha buru-buru memalingkan muka, biarlah Laura kesal padanya nanti, asal ia tidak berhadapan dengan Damian lagi. Kemudian, terdengar kaki sofa yang berderit dan Dasha kembali mengintip, terlihat Damian yang berdiri sembari berkata ke Laura kalau ia harus segera pergi. Dengan tak sengaja, Dasha menyenggol sendok dan jatuh, ia pun berjongkok mengambilnya. Itu sangat tepat karena bertepatan dengan Damian yang berjalan ke arah pintu. Dasha lega. Akhirnya ia tak bertatap muka lagi dengan Damian. "Dasha." Panggilan itu membuat Dasha mengurungkan kelegaannya, ia pun berdiri lalu menghadap ke Damian. "Iya ... Damian?" Damian diam sesaat sembari melihat Dasha dengan cermat. "Sampai jumpa," ujarnya dengan senyum kecil sebelum kembali melangkah dan keluar dari apartemen mereka. "Dasha!" Laura berdiri setelah Damian menghilang di balik pintu dan melangkah kesal menuju dapur. "Kau sengaja, 'kan? Kau ini ...," geramnya. Sedangkan Dasha hanya tertawa, tidak bisa beralasan apapun karena ia memang sengaja menghindari. "Oh ya." Laura bersuara lagi, namun kali ini berubah serius. "Ada yang ingin aku katakan, ayo duduk di ruang tamu," lanjutnya dan berjalan lebih dulu. Dasha meletakkan gelas yang masih terisi gula itu ke atas meja, ia lalu mengikuti Laura dari belakang. Kalau Laura sudah bersuara dengan nada yang pelan dan di dukung dengan wajah yang serius, maka Dasha harus segera menurut karena Laura akan membicarakan sesuatu yang sangat penting. "Ada apa?" tanya Dasha cepat, ia penasaran sekaligus berdebar. "Dalam hal ini, aku minta kau jangan marah dulu, dan dengarkan," ujar Laura yang membuat Dasha berpikir kalau hal yang akan dibicarakan adalah tentang dirinya. "Iya, ok." Laura menarik nafas. "Jadi, terkait masalah hutang, mereka tak memberi waktu lagi, aku harus segera melunasinya." Dasha mengangguk kaku, ia masih diam, seperti yang diperintahkan Laura. "Tetapi ada tawaran lain, yaitu aku harus menjadi pembantu mereka untuk beberapa bulan ke depan. Membantu ini bukan hanya mengerjakan pekerjaan rumah, melainkan semuanya." "Jangan bilang--" "No! Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi bukan, Dasha. Kau bisa tenang," ujar Laura lalu terkekeh. "Dan aku sudah bilang, 'kan kalau kau diam dulu," sambungnya dengan kesal. "Iya iya maaf, aku hanya refleks. Kalau begitu, lanjutkan." Laura mengangguk. "Dan itu berarti aku akan meninggalkanmu, jad--" "Apa? Kenapa aku tidak ikut bersamamu saja?!" Dasha kembali menyela. "Aku tidak mau sendirian, Laura." Laura menggeleng. "Tidak bisa, Dasha. Mereka hanya memintaku, tidak boleh yang lain. Kalau kau berpikir buruk, hilangkan, karena aku bisa jamin kalau aku akan baik-baik saja di sana." Dasha diam. "Sekarang, bicaralah." Laura mempersilahkan. "Jadi, aku akan sendirian? Berapa lama kau di sana?" "Mungkin empat atau lima bulan, namun tergantung mereka juga, bisa lebih cepat atau lebih lama," ujar Laura. "Aku mengerti. Tidak apa, pergilah tapi janji jangan terluka, aku bisa sendiri di sini," ujar Dasha walau berat. "Tidak." "Huh? Tidak apa maksudmu?" tanya Dasha heran. "Kau tidak akan sendirian, Dasha." Laura menunduk sesaat. "Kau akan bersama Damian." Dasha mengernyit, merasa ia salah dengar. "Kau bilang apa, Laura? Kau salah sebut nama?" "Tidak, aku sama sekali tidak salah sebut, kau memang harus bersamanya." Laura berkata dengan tegas. Dasha terkekeh. "Kau gila? Dengannya yang seperti apa? Tinggal di rumahnya? Laura, mungkin kepalamu sedang bermasalah? Aku tidak akan melakukan itu." Laura menangkupkan kedua tangannya. "Dia menyukaimu, aku tahu dia bisa menjagamu. Tinggal lah bersamanya, kau akan terbiasa. Aku sama sekali tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Dasha." Inilah sesuatu yang tadi merasuk ke pikiran Laura. Sudah berulang kali ia berpikir akan apa yang ia harus lakukan agar Dasha tidak sendirian, dan inilah jawabannya, jawaban satu-satunya. "Laura ...." "Dasha, tolong. Kejahatan di mana-mana, biaya hidup juga besar, kau tak akan bisa menghidupi dirimu sendiri, tidak dengan pendapatan yang sangat kecil dari càfe itu," ujar Laura mengeluarkan beban pikirannya. "Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, jadi tolong ...." "Kalau begitu kau tak usah pergi," sahut Dasha dengan mimik datar. Ingin rasanya Laura berteriak karena kefrustasiannya, berteriak jika Dasha harus menuruti permintaannya karena itu jugalah yang terbaik untuk dirinya. Namun, ia tak bisa, ia akan egois. "Harusnya kau mengerti, Dasha ...," lirih Laura. "Kau akan aman bersamanya, percayalah. Tadi aku berbincang tentang ini dengannya dan tanpa berkomentar apapun, ia langsung mengiyakan." Dasha tersenyum miring. "Kau tidak takut jika aku keluar dari rumah itu sudah--" "Tidak akan ada hal buruk yang terjadi!" Laura berseru. "Hilangkan pemikiran negatifmu itu, tak semua hal bisa kau anggap buruk dalam sekali pandang, Dasha." Dasha terdiam, baru kali ini rasanya melihat Laura bergitu frustasi dengan emosi yang tertahan. Namun, ia juga tak bisa menuruti permintaan anehnya begitu saja. "Kau pergilah, aku bisa hidup sendiri," ujar Dasha berdiri, mengambil ponselnya lalu keluar dari apartemen. Laura melirik kepergian Dasha sembari menghela nafas kasar, kepalanya ia sandarkan ke kepala sofa dan sebelah tangannya menutupi matanya. "Kau tak akan bisa, Dasha ...." *** Tempat yang Dasha tuju tidak ada, ia hanya berjalan-jalan saja di trotoar, lagipula matahari sudah menghilang di balik awan yang mulai menggelap. "Apa-apaan dia? Menyuruhku tinggal bersama orang asing? Dia mungkin sudah gila," gumam Dasha masih merasa jengkel. Tiba-tiba ponsel Dasha berdering, melihat nama pemanggilnya dan ternyata Joy. Tanpa banyak pikir, Dasha menerimanya. "Dasha." Belum juga Dasha menyapa, Joy sudah lebih dulu memanggilnya. "Ada apa, Joy?" "Kemarilah sebentar, ke càfe, karena ada hal penting yang ingin di sampaikan Sunny." "Oh ok, aku akan segera kesana," sahut Dasha sebelum Joy memutuskan sambungan telepon. Sunny adalah pemilik dari Cosmic Latte, tempatnya bekerja. Terkadang, Sunny memang mengumpulkan seluruh karyawannya jika ingin mengumumkan informasi penting. Dengan cepat, Dasha berjalan ke tempat di mana tempat kerjanya itu berada. Beberapa menit kemudian, ia sampai dan melihat semua orang sudah berkumpul di dalam càfe. Joy lah yang orang yang langsung menghampirinya. "Ada apa ini, Joy?" tanya Dasha berbisik pelan. "Aku juga tidak tahu," jawab Joy sama pelannya. "Kita dengarkan saja." "Hm, semua pelanggan sudah tidak ada di sini," gumam Dasha melirik ke sekelilingnya. "Jelas saja, càfe sudah tutup dari jam sebelas tadi," sahut Joy dan di balas anggukan paham dari Dasha. Tak lama kemudian, Sunny muncul dengan keanggunannya, membuat semua orang bersiap, termasuk Dasha. "Apa yang ingin kau katakan, Sunny?" tanya seseorang yang menjadi pusat perhatian. "Diamlah, bung, kau tak sopan," bisik seseorang di sampingnya dan hanya mendapatkan lirikan serta deheman pelan. "Ok guys, maaf menganggu waktu kalian, tapi ada yang ingin aku katakan dan mungkin ini cukup ... membuat kalian tidak terima," ujar Sunny menunduk sesaat, wajahnya tampak murung. "Càfe ini akan di tutup, maaf ...," lirihnya dan membuat semuanya terheran-heran. "Aku memiliki masalah pribadi yang tidak bisa aku jelaskan ke kalian. Tapi intinya, càfe ini akan berhenti beroperasi, sekali lagi maaf, gaji terakhir kalian akan tetap aku transfer, terimakasih." Sunny hendak berbalik, namun seseorang yang tadi berseru kembali. "Tapi kenapa, Sunny? Kami juga mempunyai kebutuhan yang harus di penuhi, kalau tak bekerja, bagaimana kami hidup?" Sunny melipat bibirnya. "Maaf...." Lalu ia berbalik dan pergi menghilang di balik dapur. Keadaan jadi kacau! Ada yang terlihat kecewa, frustasi ataupun terdiam, mungkin berpikir pekerjaan apa yang harus ia cari setelah ini. Dasha melirik ke arah Joy yang terdiam di sebelahnya, ia tahu kalau hal ini berat untuk Joy mengingat perempuan itu memiliki dua adik yang harus dipenuhi kebutuhannya, sedangkan orang tuanya bercerai dan tidak peduli ke mereka. "Joy," panggil Dasha. "Tak apa, kita bisa mencari pekerjaan lain," sambungnya mencoba menyemangati Joy yang masih terkelu. Dentingan pelan dari ponsel Dasha membuatnya melirik ponselnya dan terdapat sebuah pesan dari Laura. Dasha, cepat pulang, ada seseorang yang mencarimu. Bibir Dasha menipis, ia kemudian menyimpan ponselnya di dalam saku celananya. Ia lalu melirik Joy dan menepuk pundaknya. "Aku pulang dulu, Joy," ucapnya lalu keluar dari càfe itu. Mungkin Dasha terlihat biasa ketika di dalam càfe. Namun, sebenarnya ia kecewa, kenapa harus sekarang? Waktunya sangat tidak tepat atau ini memang takdirnya? Dasha tidak bisa menjawab. Mencari pekerjaan tidak mudah, apalagi yang bisa part time karena waktunya terbagi dengan sekolah, hampir tidak ada yang menerima, bahkan Dasha di terima di sana karena sedikit bermain nepotisme. Sekarang, apa yang akan ia lakukan? Tidak tahu adalah jawabannya. Ia merasa putus asa, Laura pasti akan semakin memaksa jika tahu kalau ia sudah tak bekerja lagi. Memang benar, penghasilan Dasha hanya mampu membayar 25% dari total biaya apartemen mereka, selebihnya dari pendapatan Laura. Memang benar jika Dasha tak akan mampu hidup sendirian, kemungkinan terburuk ia akan terlantar. Jadi, apa ia harus tinggal bersama Damian? Dasha memejamkan matanya yang terasa panas, mataya berkaca, kenapa hidupnya seperti ini? Ia bahagia bersama Laura, hanya saja uang adalah penentu segalanya dan kini memisahkan mereka. Tiba-tiba Dasha berhenti berjalan, ia mendongak melihat sebuah bangunan yang menjulang tinggi dengan rooftop yang terlihat cantik dari bawah. Dengan penuh percaya diri, Dasha masuk lalu masuk ke dalam lift dan menekan angka sepuluh, setelah sampai di lantai teratas, ia mencari tangga yang terhubung ke rooftop. Di atas, Dasha hanya duduk dengan memeluk kakinya, melihat para pengendara dan pejalan kaki di pinggir rooftop yang tak berpagar. Dasha memang seperti ini jika ia mempunyai masalah, mencari suatu tempat yang tenang dengan semilir angin yang menerpa wajahnya cukup membuat dirinya segar walau sesaat. Dasha kemudian melihat ke bawah, sangat tinggi, ya. Mungkin, jika ia menjatuhkan dirinya, semua masalah akan hilang dan ia akan tenang untuk selamanya. Namun tidak, ia tidak sebodoh itu untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tidak keren. Aku yakin suatu saat akan ada hari di mana aku akan bahagia untuk selamanya. Ini hanya ujian hidup, jadi aku harus bersabar dan berusaha, lalu setelahnya, hanya kebahagiaan yang tersisa. Itu adalah kalimat yang selalu di ucapkan Dasha di dalam hatinya ketika masalah kembali menghampirinya. Kalimat itu cukup mampu membuatnya kembali semangat, namun sepertinya saat ini berbeda, karena mata Dasha malah semakin basah. "Aku tak bisa ... aku tak bisa, Laura!!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD