See You, Laura.

1243 Words
Itu semua bohong. Ya, masalah tutupnya Cosmic Latte memang benar, namun mereka berbohong tentang semua karyawan yang terpaksa di pulangkan. Mereka? Ya, mereka telah bekerja sama walaupun Sunny yang meminta karena wanita itu ingin menggantikan Dasha dengan orang lain. Tapi tetap saja, garis besarnya ialah mereka bersekongkol untuk mengelabui Dasha. "Hei, Medvedev, kau benar-benar serius melakukan ini?" Sunny melihat ke arah Joy dan mengangguk pasti. "Ya, aku--kau tahu, aku tak bisa mengeluarkannya begitu saja. Jadi aku meminta bantuan kalian." Joy diam, ia merasa mengkhianati Dasha, bahkan tadi perempuan itu menyemangatinya yang padahal Joy lah yang patut melakukannya padanya. "Apa alasanmu hanya karena dia masih seorang siswa? Hanya karena tak bisa bekerja full time?" tanya Joy penasaran. Sunny menggaruk keningnya pelan. "Begini, Joy, aku ingin memaksimalkan seluruh usahaku, termasuk pekerjanya. Selain part time, Dasha juga kurang profesional, terkadang dia terlambat dengan alasan yang aneh atau pulang lebih dulu begitu saja seperti kemarin, 'kan? Itu sangat tidak masuk ke dalam kategori pekerja profesional versiku, Joy." Joy paham. Semua hal itu memang tak bisa Joy sanggah, Dasha memang melakukannya. Tapi, perasaan bersalah itu masih bercokol di dalam hatinya. "Tapi, kau tahu bukan bagaimana dia? Maksudku ...." "Ya ya, aku tahu, Joy. Tapi ini bukan hanya tentangnya. Jika dia tahu hal ini pun mungkin ia akan memilih mengundurkan diri karena aku mempertahankannya di sini hanya karena kasihan," ujar Sunny tersenyum kecil. "Sudah dulu ya, aku harus melihat ke belakang," sambungnya dan melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Joy. Joy merasa perkataan Sunny tadi menyakitinya juga, entah kenapa ia merasa Sunny mengejek orang-orang di bawahnya. Ah tapi, mungkin hanya perasaanku saja. Batin Joy. Cosmic Latte memang tutup di tempat itu, ada banyak alasan mengapa, dan salah satunya ialah pengunjung yang semakin berkurang. Maka dari itu, Sunny akan mengganti Cosmic Latte menjadi càfe yang lebih fresh dengan tempat yang lebih fresh juga. *** Hujan turun di tengah tangisan Dasha, ia tak peduli jika bajunya harus basah, tak peduli kalau ponselnya akan beresiko rusak karena air yang masuk, ia juga tak peduli jika ada orang-orang di bawah sana melihatnya dan menganggapnya bodoh karena tak berlindung di saat hujan seperti ini. Ia hanya ingin tak peduli lagi dengan semuanya. Namun, tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang meletakkan jas tebal ke area tubuh belakang Dasha dan membuat perempuan itu terkejut, di tambah lagi dengan tetesan hujan yang tidak menerpanya lagi. "I just want you to with me," bisikan itu terasa dekat sekali dengan telinga Dasha, membuat perempuan itu merinding. Di dorong rasa penasaran, Dasha menolehkan kepalanya lalu mendongak mengikuti kaki panjang yang di balut celana berwarna hitam itu lalu ke kemeja putihnya dan kemudian wajahnya. "Damian?" lirih Dasha cukup tercengang, namun ia kemudian memalingkan wajah. "Pergilah, aku ingin sendiri." Damian menghela nafas dan terkekeh, ia lalu menunduk melihat rambut Dasha. "Laura menunggumu, Dasha, dia akan pergi," ujar Damian. "Pergi?" Dasha berdiri dari duduknya, baju dan celananya basah. "Pergi ke mana?" tanyanya menghadap ke Damian dan keluar dari naungan payung hitam itu. Damian mendekat dan menaungi tubuh Dasha dengan payung itu lagi. "Kau tentu tahu dia hendak ke mana, 'kan?" Dasha tentu tahu, tapi bukannya dia bilang dua atau tiga hari lagi? Kenapa secepat ini?! Dasha melepaskan jas yang masih melekat di tubuhnya lalu memberinya ke d**a Damian. "Terima kasih," ucapnya lalu berlari pergi dari sana, meninggalkan Damian yang terdiam. Dasha sendiri terus berlari, hujan juga semakin reda membuat pandangannya tidak terlalu buram. Ia terus berlari bahkan ketika menaiki anak tangga. Sampai di depan pintu apartemennya, Dasha buru-buru membukanya dan ia langsung melihat ada Laura dan seorang perempuan berpenampilan seperti berandal sedang duduk berhadapan di sana. "Dasha?" Laura segera berdiri dan berjalan ke arah Dasha. "Kenapa kau basah seperti ini? Bukannya Damian menjemputmu?" "Kau menyuruhnya?" tanya Dasha kembali. "Ya, tadi dia ke sini, dia akan ke Moskow sebentar lagi," ujar Laura dengan lirihan di akhir. Dasha diam, ia merasa sangat marah namun tak bisa mengungkapkannya. Dia juga melihat barang-barangnya yang sudah di kemas dalam kopernya, begitupun milik Laura. "Kemarilah, Dasha," ajak Laura menarik Dasha paksa ke dalam kamar. Perempuan tadi melirik Laura dan Dasha sebelum bola matanya berputar dan ia berdecak kesal. "Drama. Memuakkan." Sedangkan di dalam kamar, Laura yang sudah feeling kalau Dasha pulang akan basah seperti ini, menyiapkan satu summer dress sebagai gantinya. "Kenapa cepat sekali?" tanya Dasha lirih. "Bukankah kau sudah bilang kalau dua atau tiga hari lagi?" Dasha tak menyembunyikan perasaan sedihnya sama sekali. Laura menjawab dengan summer dress yang masih di genggamannya. "Bukankah aku sudah bilang kalau aku belum bisa memastikan--" "Kau tidak ada berbicara seperti itu!" Dasha menyela, ia berteriak tanpa sadar. "Oh benarkah? Kalau begitu, maaf. Mereka meminta aku datang lebih cepat, aku sangat minta maaf, Dasha." Dasha tak mau menjawab, ini terlalu jahat baginya. "Ini, cepat ganti di kamar mandi," ujar Laura menyerahkan dress itu. Namun, Dasha tak mau mengambilnya. "Dasha, please, kau akan pergi bersama Damian, dan aku akan pergi bersama perempuan tadi. Kita berdua akan baik-baik saja." Mata Dasha panas, menatap Laura dengan pandangan benar-benar sakit. Ia kemudian mengambil dress itu lalu masuk ke dalam kamar mandi dengan pintu yang di tutup sangat pelan. Laura terduduk di pinggir tempat tidur, ia melihat ke sekeliling kamar Dasha, pada akhirnya mereka akan meninggalkan tempat bersejarah ini dan harus berpisah satu sama lain. Sejujurnya, Laura juga tak bisa menjamin pasti apa ia akan baik-baik saja di sana, hanya saja itulah satu-satunya cara selain membayar nominal uang yang sungguh fantastis, lagipula ia sudah menyetujuinya. Laura melirik ke arah kamar mandi, lama sekali Dasha di dalam. Sampai beberapa menit kemudian, Dasha ke luar dengan dressnya dan rambutnya yang masih basah, serta matanya yang memerah. Ia menangis di dalam sana. Laura begitu menyayangi Dasha, ia tak main-main menyuruhnya bersama Damian karena dia tahu pasti bagaimana sosok pria itu. "Kau bisa, Dasha, suatu saat kita akan bersama lagi," ujar Laura memeluk Dasha. Laura ingin menangis, namun ia tak bisa dan tak mau. Jika ia menangis maka Dasha akan menangis juga, ia hanya merasa kalau sebuah perpisahan harus di lalui dengan bahagia walaupun sebenarnya di dalam hati sangat menyakitkan. Di luar, perempuan berpenampilan berandal itu masih duduk dengan sebelah kaki bertumpu di kaki satunya sembari merokok ketika Damian membuka pintu dan masuk ke dalam. Perempuan itu membuang puntung rokoknya sembarangan lalu melihat ke arah Damian dengan mata s*nsual. Tapi Damian sama sekali tak membalas tatapannya, karena Damian membenci para j*lang. Pintu kamar kemudian terbuka, Laura keluar lebih dulu di susul Dasha, pandangan Dasha tak sengaja bertubrukan dengan Damian namun ia segera memalingkan wajah. "Laura," panggil Dasha. "Bagaimana dengan sekolahku?" tanyanya yang berharap setidaknya dengan alasan ini, Laura akan membatalkan seluruh rencananya. Sedangkan Laura, ia tersenyum kecil, sekuat apapun Dasha meminta untuk keluar, nyatanya ia masih sangat menyukai sekolah. "Aku sudah mengurusnya." Damian yang menjawab, membuat Dasha terdiam. Laura menarik nafas lalu tertawa pelan. "Baiklah, kita berpisah disini." Air mata sudah kembali menggenang di pelupuk mata Dasha, dan Laura segera memeluknya dan menepuk punggungnya. "It's ok, we through it together, someday we'll meet again," bisik Laura lalu mengecup kepala Dasha sebagai bentuk rasa sayangnya. Laura kemudian menatap Damian, hanya menatap dan Damian mengangguk paham. "Sudah, cepatlah!" Perempuan asing itu berseru tak sabar. Laura menarik kopernya dengan sangat berat hati, ia kemudian mendongak dan menatap Dasha yang ternyata sudah menangis. "Aku pergi dulu, baik-baik lah agar aku merasa tenang." Laura kemudian menatap Damian. "Aku sangat menghargai bantuanmu, Damian." Melihat Laura yang hendak melangkah, membuat Dasha buru-buru memeluknya dan berbisik pelan. "See you, Laura." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD